Polda Sulsel Amankan 4,3 Ton Pupuk Oplosan di Gowa

Konferensi Pers Polda Sulsel Pengungkapan Praktik Peredaran Pupuk Oplosan
Konferensi Pers Polda Sulsel Pengungkapan Praktik Peredaran Pupuk Oplosan

Makassar, KABAROKE — Polda Sulawesi Selatan merilis pengungkapan 4,3 ton pupuk non subsidi yang diduga oplosan di Kabupaten Gowa. Adapun jenis pupuk yang diamankan sebagai barang bukti itu yakni pupuk padat merk Poppro dan Super Kompos.

“Pupuk ini merupakan pupuk oplosan. Pelaku mencampur produk mereka ini dengan batu kapur, kemudian dicampur ke dalam ember, lalu dimaksukkan pupuk bersubsidi. Kemudian mereka berikan pewarna makanan, aduk, campur lalu dikemas,” kata Wakapolda Sulsel Brigjen Pol Gatot Eddy Pramono dalam keterangan persnya, di Rumah Toko Usaha Dagang Harapan Tani, Gowa, Rabu, 19 April 2017.

Eddy menjelaskan, pengungkapan 4,3 ton pupuk oplosan tersebut setelah penyidik Direktorat Reskrimsus Polda Sulsel melakukan penyeledikan menindaklantuji laporan masyarakat. Sebanyak dua orang diamankan, yakni pemilik toko, inisial SL (51 tahun) dan satu orang yang diketahui sebagai produsen pupuk berinisial MB.

“Keduanya belum kami tetapkan sebagai tersangka, karena saat ini kami masih melakukan penyelidikan. Tapi setelah hasil laboratorium sudah keluar, statusnya akan kami naikkan menjadi penyidikan,” kata Eddy.

Menurutnya, terhadap produsen pupuk tersebut, pihaknya telah menyegel pabrik pupuk milik MB. Dugaannya, kata dia, pupuk yang diproduksi itu tidak sesuai dengan komposisi ataupun mutu yang telah dianjurkan dinas pertanian.

“Pupuk ini kemudian diedarkan oleh pedagang SL di Kabupaten Gowa kepada masyarakat atau kelompok tani,” ucapnya.

Barang Bukti Pupuk Oplosan di Gowa
Barang Bukti Pupuk Oplosan di Gowa

Jumlah barang bukti, Eddy menyebut, pupuk merk Poppro ada sebanyak 2,7 ton dan merk Super Kompos sebanyak 1,6 ton. Untuk merk Poppro, SL menjualnya seharga Rp30.000 per kardus sedangkan untuk Super Kompos seharga Rp17.500 per 16 kilo gram.

Sementara itu, Kepala Seksi Pupuk dan Pestisida Dinas Pertanian Sulsel, Uvan Shagir menjelaskan, dari hasil uji sampel, pupuk tersebut sangat tidak dianjurkan untuk diedarkan. Zat kandungannya, kata Uvan, tidak sesuai dengan anjuran dari dinas pertanian.

“Kalau pakai pupuk ini, petani malah rugi. Bukannya hasil panen banyak, melainkan malah mengurangi hasil panen,” kata Uvan.

Menurutnya, produk pupuk tersebut juga tidak memiliki izin produksi sejak tahun 2006 lalu. Menurut Uvan, seharusnya produsen melakukan pembaharuan izin dalam waktu lima tahun sekali.

“Selama 11 tahun terakhir tidak pernah daftar ulang. Pupuknya palsu atau tidak nanti kita uji kandungannya. Hasil yang kami dapatkan di gudang ternyata dia campur dengan kapur, pewarna makanan, urea subsidi, merusak hara tanah bisa juga karena kandungannya,” jelasnya. (Yasir)

Related posts

Leave a Comment