BI Sulsel Prediksi Tekanan Inflasi Mei-Juni Menguat

Bank Indonesia
Bank Indonesia

Makassar, KABAROKE — Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan Wiwiek Sisto Widayat mengungkapkan pihaknya telah menyiapkan langkah strategis guna mengendalikan tekanan inflasi pada Mei-Juni mendatang. BI tengah memperkuat koordinasi dan mendorong peran Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dalam menjaga tingkat inflasi di Sulsel.

“BI dan pemangku kebijakan terus memperkuat koordinasi untuk pengendalian inflasi di Sulsel,” kata Wiwiek di Makassar, Senin (24/4/2017).

Tekanan inflasi Mei-Juni diyakini cukup besar lantaran bertepatan dengan momentum maupun rangkaian Hari Raya Idul Fitri. Sudah menjadi fenomena tiap tahunnya, peningkatan konsumsi masyarakat mengalami lonjakan pada komoditas tertentu, khususnya pangan dan sandang. Situasi tersebut kerap berimbas pada meningkatnya harga komoditas yang diburu masyarakat. Ujungnya, inflasi menjadi terkerek. Karena itu, Wiwiek menegaskan langkah antisipasi perlu dilakukan.

“Mei dan Juni itu akan ada inflasi karena memasuki puasa dan lebaran. Sebenarnya heran juga, puasa kok jadinya pengeluaran bertambah, misalnya untuk makanan yang menjadi bertambah besar. Tapi, seperti itulah seasonal-nya bahwa setiap momentum puasa dan lebaran maupun hari-hari besar keagamaan lainnya, tekanan inflasi menguat,” papar Wiwiek.

Guna mengendalikan tingkat inflasi di Sulsel, Wiwiek menegaskan pihaknya bersama TPID setidaknya telah menyiapkan sejumlah langkah di antaranya penerapan program kerja TPID yang telah disusun dan mengintensifkan kinerja desk TPID. BI juga mendorong kerja sama antar-daerah, khususnya dalam hal perdagangan komoditas utama penyumbang inflasi.

“Kami juga mengintensifkan kegiatan pemantauan harga, khususnya melalui Sistem Informasi Harga Pangan (Sigap). Termasuk melakukan sidak dan operasi pasar jika dibutuhkan. Sebelumnya, juga telah dilaksanakan penyusunan roadmap TPID level zona,” jelas Wiwiek.

BI bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel tengah berupaya mempertahankan torehan deflasi yang dicatatkan pada Maret lalu. Sulsel diketahui mengalami deflasi 0,18 persen setelah pada Januari-Februari mengalami inflasi yang cukup tinggi. Deflasi Sulsel pada Maret sendiri terbilang mengejutkan lantaran BI mulanya masih memperkirakan adanya inflasi dalam kisaran rendah.

“Yang lalu itu (deflasi) cukup surprise. Tapi, ya Alhamdullilah bahwa deflasi datang lebih cepat. Sekarang tugas bersama adalah menjaga agar tekanan inflasi bisa dikontrol pada Mei-Juni karena itu waktu-waktu yang krusial. Kami sudah menyiapkan berbagai cara, termasuk nantinya melakukan high level meeting,” tutur dia.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Sulsel mencatat deflasi 0,18 persen dengan IHK sebesar 127,84. Deflasi disebabkan penurunan harga pada dua kelompok pengeluaran yakni kelompok bahan makanan sebesar 1,49 persen dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,28 persen.

“Dari lima kota IHK di Sulsel, semuanya mengalami deflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Parepare mencapai 0,45 persen dengan IHK 122,84. Sedang, deflasi terendah berlangsung di Makassar dan Bulukumba, masing-masing sebesar 0,16 persen dengan IHK 128,69 dan 132,34,” kata Kepala BPS Sulsel Nursam Salam. (***)

Related posts

Leave a Comment