Runtuhnya Kejayaan Media Cetak di Amerika Serikat (2-Selesai)

Sukriansyah S Latief [dok net]

Sukriansyah S Latief [dok net]

Jakarta, KABAROKE — Media cetak di Amerika kini sedang diuji. Masa-masa sulit harus dihadapi, dan entah kapan akan berakhir. Iklan sebagai ‘gizi’ terbitnya media cetak, kini semakin berkurang, sementara biaya cetak dan operasional meningkat.

Media cetak pun makin kurus alias menipis, atau bahkan mengecil. Setiap minggu, ada saja media yang memberhentikan karyawannya, atau kalau tetap mau bertahan, mesti siap menerima pengurangan gaji. Berbagai kiat dilakukan media cetak untuk bisa bertahan terbit, mesti tidak menjamin akan tetap terbit.

Kondisi ini tentunya sangat ironis, bila kita melihat betapa jayanya media cetak Amerika, beberapa tahun lampau. Coba kita lihat saja apa yang dialami Koran St Louis Post-Dispatch, yang terbit di Saint Louis, Texas. Koran yang ada sejak 1878 itu, dalam 3 bulan ini saja telah kehilangan 60 karyawan, baik yang dikeluarkan atau yang mengundurkan diri. ”Mereka itu ada yang wartawan dan staf,” kata Jeremy Kohler, 36 tahun, yang 15 tahun menjadi wartawan, dan 10 tahun bekerja di St. LP-D.

Saat ini, di koran yang beroplah 275.000 pada hari biasa dan 475.000 pada hari Minggu itu, ada sekitar 400 karyawan, di antaranya 60 wartawan lapangan dan 20 redaktur. Oplah yang ada saat ini jauh lebih kurang dibanding oplah tahun lalu, dan kini terbit kadang hanya 28 atau 32 halaman pada hari Senin-Sabtu, walau pada hari Minggu bisa 2 kali lipat.

Sukriansyah S Latief [dok net]

Sukriansyah S Latief [dok net]

Menghadap krisis ini, lanjut Jeremy, pihaknya mengurangi jumlah kantor perwakilan di daerah, mengurangi biaya langganan jaringan networking, dan juga biaya-biaya perjalanan. ”Ya, termasuk tentunya biaya investigative reporting. Jadinya yang penting-penting dan besar saja,” kata Jeremy yang telah sekiatr 5 tahun menjadi jurnalis investigator.

Dia juga tercatat sebagai anggota Investigative Reporters and Editors, Inc (IRE) dan Society of Professional Journalists (SPJ). Rekan Jeremy yang lain, Patrick Gauen, 58 tahun, menambahkan, pihaknya kini terus mengembangkan media online St LP-D yang sudah hampir berusia 10 tahun. Saat ini, kata Gauen, media online semakin mendapat tempat di masyarakat yang semakin modern.

”Penghasilan dari online sekitar 8 persen dari jumlah penghasilan Saint Louis” jelas Gauen, tanpa mau menyebut nilainya. Menurut wartawan yang telah bekerja 24 tahun di St LP-D itu, dulunya mereka juga punya televisi, tapi telah dijual sekitar 15 atau 20 tahun lalu. Sama dengan St LP-D, Harian The San Fransisco Chronicle (The Chronicle), di San Fransisco, California, juga mengalami hal yang serupa. Menurut John Wildermuth, staf writer yang juga wartawan senior di The Chronicle, sejumlah biro di daerah kini telah ditutup, seperti di Sakramento.

”Jumlah karyawan juga dikurangi, ada yang diberhentikan, ada juga yang dipensiun secara dini,” kata Wildermuth. ”Yang tinggal, ada yang dikurangi gajinya, tapi sebelumnya harus dengan negosiasi melalui serikat pekerja,” tambah jurnalis yang telah berumur 57 tahun ini. Untuk mengurangi biaya operasional, pihaknya juga melakukan seleksi terhadap kasus-kasus yang akan diinvestigasi.

”Dulu wartawan investigasi ada 5, sekarang tinggal 2, biayanya besar sekali,” katanya, lalu menambahkan, dulunya mereka juga mempunyai televisi, namun telah dijual pada 2000. Untuk mengurangi biaya cetak, kata Wildermuth, jumlah halaman juga dikurangi bila pada hari itu iklan kurang. Pada hari Senin, Selasa, dan Sabtu, halaman dikurangi, tapi pada hari Rabu, Kamis, Jumat Minggu, bisa sampai 42 ditambah beberapa halaman ukuran kecil. Tapi untuk lebih efisien, pencetakan koran akan diberikan kepada perusahaan lain, sementara mesin cetaknya akan dijual.

”Karena ini kan mengurangi biaya, bila memakai percetakan outsourcing,” kata Wildermuth. Hal ini akan dilakukan sekitar 4 bulan lagi, dengan melakukan kerjasama percetakan dari Kanada. Dulunya, mereka mempunyai 4 mesin cetak, tapi kini tinggal satu, itu pun mau dijual. Menurut Steve Proctor, Managing Editor The Chronicle, tirasnya kini turun hingga 20 persen, dan kini sisa 325 ribu eksemplar. Kerugian tiap tahun sekitar 50 juta dolar setahun, yang sudah berlangsung hampir empat tahun. Jumlah karyawan dikurangi, dulunya sekitar 500, kini tinggal 300-an, di redaksi misalnya, dulu penyunting 50 orang, kini sisa 40 orang. ”Tidak ada orang yang kerja di media cetak di Amerika saat ini yang merasa aman,” ungkap Proctor.

Sukriansyah S Latief [dok net]

Sukriansyah S Latief [dok net]

Turunnya jumlah tiras juga dialami The Texan Daily, koran kampus Univeristas Texas yang beredar umum di kota Austin. Menurut Leah Finnegan, Pemimpin Redaksi, yang didampingi Vikram, Redaktur Pelaksana, kini tirasnya tinggal 15 ribu, yang dulunya 20 ribu eksemplar. Koran yang terbit Senin sampai Jumat itu dibagi gratis ke mahasiswa dan umum di kota Austin, Texas. Koran yang dibiayai dari iklan dan mahasiswa melalui pungutan dalam uang kuliah, itu sudah ada sejak tahun 1900. Namun biaya operasional dan cetak yang semakin besar, kata Leah, pihaknya akan menjual mesin cetaknya.

”Kami akan mencetak di luar saja, lebih murah. Kami mau outsourcing,” aku Leah, 21 tahun, yang Mei nanti akan diwisuda dan berarti berakhir pula masa jabatan Pemrednya. Hal sama terjadi pada Koran The Columbia Missourian, koran kampus Universitas Missouri yang terbit di Missouri. Koran yang ada sejak 1908 dan terbit selama 6 hari selama seminggu itu rugi ratusan ribu dolar per bulan.

Menurut Profesor Fritz Cropp, koran kampus ini dijadikan tempat belajar bagi mahasiswa sehingga tidak masalah bila rugi. Memang, Universitas Missouri adalah universitas jurnalistik yang tertua di dunia. Soal turunnya tiras koran, pihaknya kini sedang meneliti tentang kurangnya minat baca koran di kalangan generasi muda. Tekanan ekonomi terhadap media juga dirasakan Ray Hartmann, CEO St Louis Magazine. Menurutnya, masa depan media cetak tidak jelas, tergantung bagaimana media cetak bisa menghadapi online dan televisi. ”Orang kini lebih suka pasang iklan jual mobil atau rumah di online,” kata Hartmann. Namun begitu, dia tetap yakin media cetak tetap akan eksis sepanjang dia bisa mengikuti perkembangan teknologi.

”Penurunan oplah itu tidak hanya di Amerika, tapi juga di negara lain, di Inggris misalnya,” kata Hartmann. Namun begitu, bagi perusahaannya, media cetak majalah kota dan gaya hidup tidaklah terlalu merasakan masa sulit saat ini. Kiera Butler, asisten editor dari Mother Jones Magazine di San Fransisco, juga mengaku tidak terlalu terpengaruh dengan krisis, karena penerbitan majalah dwibulanan itu dibiaya oleh yayasan progres nasional. Majalah dengan tiras 240 ribu itu banyak melakukan investiasi reporting dan tidak mencari untung, dengan memfokuskan diri menulis untuk kepentingan masyarakat.

”Tapi kita tetap harus efisien,” tambah Hartmann, yang hanya mempunyai 6 wartawan, di media yang punya 42 ribu langganan itu. Sebenarnya, di televisi juga merasakan dampak resesi ekonomi ini, tapi tidak sebesar media cetak. Hal ini diakui Kathy Hadlock, Special Projects Producer, di KVUE Austin TV, Texas.

Menurutnya, karena krisis ekonomi ini pendapatan iklan ikut berkurang, termasuk iklan mobil. Untuk itu, biaya operasional dikurangi, termasuk untuk biaya investigative reporting,” akunya. Ditambahkan, saat ini kalau ada karyawan yang keluar, maka pihaknya tidak akan mengganti atau menambah karyawan lagi. ”Sekarang m esti lebih hemat dan efisien, harus dikerjakan oleh karyawan yang ada saja,” kata Hadlock. KVUE TV yang merupakan TV lokal itu mengudara selama 24 jam, dengan jumlah awak redaksi sebanyak 47 orang.

”Saya punya dua anak, dan saya minta keduanya jangan jadi wartawan, masa depannya suram,” katanya bercanda. Sekaratnya bisnis media cetak di Amerika yang juga berarti liputan-liputan investigasi semakin berkurang, membuat seorang Sandler, pengusaha simpan pinjam, membentuk semacam Lembaga Kantor Berita untuk Liputan-liputan Investigasi yang dimuat di Webb Online dan bisa diakses media cetak maupun elektronik tanpa harus meminta izin untuk memuatnya.

Sukriansyah S Latief [dok net]

Sukriansyah S Latief [dok net]

Dana yang disiapkan untuk “Pro Publica’ yang berada di New York itu sekitar 10 juta dolar setahun, dengan mempekerjakan 28 wartawan dan redaktur dan 7 staf administrasi, mereka merupakan orang pilihan dari 1000 orang yang melamar. Menurut Mike, Humas Pro Publica, sejak krisis keuangan di Amerika, sekitar 20 ribu lapangan pekerjaan dikurangi. Hal ini juga melanda media di Amerika, termasuk media cetak.

”Akibatnya semakin kurang berita-berita investigasi. Makanya kami hadir untuk memberikan laporan-laporan investigasi, seperti kasus penyiksaan tahanan di Guantanamo,” jelas Mike, yang lulusan Universitas Ohio ini. Sebelum Pro Publica, sebelumnya telah ada Freedom Forum dan Center for Public Integrity, yang telah lebih dulu mengembangkan kebebasan pers dan berita-berita investigative reporting. Agaknya, masih ada harapan bagi jurnalis investigator di Amerika, meski media cetak tak lagi memberi banyak harapan.

Penulis : Sukriansyah S Latief (Wartawan Senior)

Runtuhnya Kejayaan Media Cetak di Amerika Serikat (1)

Sukriansyah S Latief [dok net]

Sukriansyah S Latief [dok net]

Jakarta, KABAROKE — Masa jaya media cetak di Amerika kini tinggal kenangan. Sekitar tahun 80-an, boleh dibilang ‘booming’ media cetak di Amerika Serikat, di hampir semua negara bagian. Penghasilan media cetak sangat besar dari iklan, karena roda perekonomian Amerika begitu kencang berputar. Budaya konsumtif masyarakat sejak 6 dasawarsa lalu mendorong naiknya omzet iklan dan keuntungan bagi media cetak di Negeri Paman Sam itu. Namun, di akhir tahun 1990, keadaan berbalik, ekonomi mulai guncang, dan kian terasa dalam 5 tahun terakhir ini. Kini, satu per satu, media cetak di Amerika meradang. Setiap minggu, ada saja media cetak yang memutuskan hubungan kerja dengan karyawanya, dengan alasan efisiensi.

Menurut Profesor Robert Jensen Ph.D, staf pengajar dari Universitas Texas di Austin, salah satu penyebab runtuhnya media cetak di Amerika adalah berkurangnya pemasangan iklan di media akibat perekonomian yang keropos. Sejak 6 dasawarsa Amerika telah menikmati masa jaya dengan tingkat perekonomian masyarakat yang sangat tinggi. Tapi hal ini membuat rakyat Amerika menjadi konsumtif. Mobil mesti diganti tiap tahun, dengan model yang terbaru dan mahal. Demikian juga rumah, dan semua hal-hal yang berbau konsumtif. Akibatnya, beberapa puluh tahun kemudian terjadi krisis ekonomi, yang salah satunya disebabkan kredit macet. Banyak perusahaan yang biasanya memasang iklan bangkrut, media pun menerima dampaknya.

”Selain itu, juga karena bangkrutnya Amerika akibat harus mengeluarkan banyak uang untuk membiayai perang di Irak dan Afghanistan,” jelas Jensen, yang mempersalahkan mantan Presiden Amerika Serikat George W. Bush, yang dalam masa pemerintahannya melakukan perang di kedua negara tersebut.

”Kejayaan Amerika telah lewat. Ekonomi dan budaya Amerika sudah mati. Ini karena Amerika selalu mau spektakuler, mengisolasi diri dan mau hidup terpisah dengan negara lain,” kata Jensen sembari beberapa kali memukulkan kepalan tangannya di meja. Ia memang dikenal sebagai profesor yang sangat kritis di Texas, bahkan di Amerika sekalipun.

”Amerika sekarang lemah, inilah saatnya kalau Anda mau menjajah Amerika,” tambahnya. Namun begitu, dia juga mempersalahkan media, yang tidak kritis dalam masa kepemimpinan Bush. Setelah peristiwa besar perang Vietnam dan kasus ‘Watergate’, dia melihat tidak ada lagi media yang sangat kritis dan melakukan laporan investigasi mendalam untuk memperbaiki pemerintahan Bush.

”Ini tentu mahal. karena harus melakukan investigative reporting,” jelas Jensen, yang juga mengungkapkan bahwa penyebab lain ‘terjun’-nya oplah media cetak karena perkembangan media elektronik yang sangat cepat, dalam hal ini online dan televisi. ”Iklan baris di media cetak, banyak yang lari ke online,” katanya.

Hal sama juga disampaikan Steve Proctor, Managing Editor Harian The San Fransisco Chronicle (The Chronicle), di San Fransisco, California. Menurutnya, masa jaya media cetak Amerika telah tiada. Ketika ‘booming’, media cetak menghasilkan keuntungan yang sangat besar. Perusahaan bertumbuh, menerima karyawan sebanyak-banyaknya, membuka biro di mana-mana, menulis berita perjalanan yang biayanya besar. ”Itu karena penghasilan media sangat besar dari iklan. Tapi sejak akhir tahun 1990 keadaan berbalik, dan 5 tahun terakhir ini sudah terasa sulitnya bisnis media cetak,” kata Proctor yang bergabung dengan ‘The Chronicle’ sejak 2003.

Sukriansyah S Latief [dok net]

Sukriansyah S Latief [dok net]

Selain faktor Bush, menurut Proctor, hal ini lebih karena pengaruh krisis keuangan (subprime mortgage) yang menyebabkan banyak perusahaan pemasang iklan tutup. Selain itu, perkembangan teknologi dengan adanya online, juga membawa kerugian besar bagi media cetak. Media online berhasil menarik banyak iklan baris yang selama ini merupakan salah satu penghasil uang dari media cetak.

Hal ini membuat media cetak mesti konsolidasi, dilakukanlah efisiensi, dari sisi jumlah karyawan, dan juga pengeluaran operasional. Proctor tak ingin menyebut media cetak di Amerika di ambang kebangkrutan, ”Tapi kita kehilangan banyak uang,” jelasnya. Menurut Wally Dean, Broadcast Director dari Committee of Concerned Journalists (CCJ), di Washington DC, runtuhnya media cetak di Amerika lebih karena perkembangan teknologi. Orang lebih mudah dan murah membaca berita di online.

”Lahirlah generasi Backpecker, yang lebih mudah membaca berita melalui laptop,” kata Dean yang pernah bergabung selama 14 tahun di CBS News. Alumnus Universitas Nebraska Lincoln itu melihat perkembangan teknologi telah mengubah gaya hidup, termasuk dalam menyikapi media.

Dia mengambil contoh di Afrika, yang melakukan lompatan teknologi. Di Afrika, orang tidak lagi menggunakan laptop, tapi langsung memakai telepon selular untuk membaca berita melalui online. Shane Hensinger, seorang blogger dari Institute of International Education di San Fransisco, mengaku salah satu penyebab turunnya pembaca media cetak karena adanya blog-blog yang dimiliki para blogger.

”Tapi ini kecil pengaruhnya,” kata lulusan New York University. Alasan yang membuat orang berpaling dari media cetak ke blog, menurut Hensinger, karena berita-berita di blog lebih cepat dan terbuka. Sementara di media cetak di Amerika, sejak dipimpin Bush ditekan untuk tidak memuat berita-berita yang mengkritisi pemerintah, seperti kasus korupsi di Irak, atau kecurangan pemungutan suara di Ohio.

”Soal ini blogger lebih cepat dan berani memuatnya,” katanya. Jadi dengan blog, pembaca mempunyai alternatif sumber berita, karena selama Bush terjadi konglomerasi media menjadi milik 5 perusahaan besar di Amerika. ”Ini bukan monopoli tapi kebijakan Bush melalui Komisi Komunikasi menyebabkan lahirnya konglomerasi media,” kata Hensinger. Soal ini dipertegas Heidi Blobaum, Web Producer & Editor Link TV di San Fransisco.

Sukriansyah S Latief [dok net]

Sukriansyah S Latief [dok net]

Menurutnya, media di Amerika ada yang beraliran kanan atau konservatif , yang condong menyuarakan Partai Republik. Ini misalnya bisa dilihat di Fox News, Wall Street Journal, Washington Times, atau New York Post. Sementara yang beraliran kiri atau liberal, sering menyuarakan Partai Demokrat, seperti MSN BC, PBS TV, Washington Post, New York Times, atau LA Times. ”Sementara kami di Link TV mencoba menyuarakan kedua-duanya,” kata Blobaum. Sementara itu, menurut Ray Hartmann, CEO St Louis Magazine, di Missouri, salah satu penyebab banyaknya media yang merugi di Amerika karena krisis keuangan yang melanda negeri itu.

Selain itu, juga karena berkembangnya media online, yang menarik banyak iklan, khususnya iklan baris, dari media cetak. Hal lain, lanjut Hartmann, adalah kepemimpinan Bush yang membuat negara itu kehilangan banyak uang, karena adanya perang Irak. ”Banyak orang Amerika muak dengan Bush. Tidak ada hak Amerika masuk ke Irak. Irak tidak pernah menyerang Amerika. Saya tidak takut,” tegas Hartmann soal pernyataannya itu. Dia memang sering mengecam kebijakan Bush, bahkan sampai di salah satu acara televisi publik, PBS TV, yang diasuhnya.

Menurut Hartmann, sebenarnya sudah lama orang Amerika tidak menyukai Bush. Kemenangan Bush melawan John Kerry pada Pemilu Presiden yang lalu, hanyalah karena Bush menakuti-nakuti rakyat Amerika bahwa bila bukan dia yang berkuasa, maka Amerika akan diserang negara lain dan secara ekonomi akan mundur. Dan meski Bush terpilih, tapi ia hanya menang tipis mengalahkan Kerry. ”Seandainya waktu itu lawannya Obama, maka 70 persen akan memilih Obama,” kata Hartmann. ”Saya sangat malu dengan kasus Guantanamo,” tambahnya.

Hal sama dikatakan Jerry dari Pusat Keadilan Sosial dan Perdamaian di Syracuse. Dia bersama beberapa temannya dari LSM itu akan berdemo ke New York City pada Maret, dan ke Washington DC pda bulan April, untuk menentang perang dengan tuntutan Amerika mesti menarik pasukan dari Irak dan menutup Guantanamo. Saking tidak sukanya mereka pada Bush, Jerry dan beberapa LSM lainnya membuat PIN berwarna hitam bertuliskan: ‘Jail Bush: Treason, Fraud, Corruption, Murder’. Sementara Barrie H. Gewanter, Chapter Director dari New York Civil Liberties Union (NYCLU) di Syracuse, yang bekerja untuk melindungi demokrasi mengatakan, dalam masa pemerintahan Bush, informasi publik sering dihambat.

”Tidak ada kebebasan informasi,” jelas Gewanter, makanya dia tetap berjuang dengan alasan: ‘Because freedom can’t protect itself’. Sedangkan Obama, bagi dia, cukup terbuka dalam memberi informasi publik. Soal media cetak, Hartmann yang juga sebagai pemilik majalah bulanan ‘St Louis Magazine’ beroplah 55 ribu, itu mengaku tidak tahu sampai kapan akan terpuruk. ”Saya tidak tahu bagaimana masa depan media cetak nantinya, tapi ini amat bergantung pada perkembangan media elektronik, online,” katanya.

Sama dengan Hartmann, Proctor juga tak tahu sampai kapan krisis yang dialami media cetak ini akan berakhir. ”Tidak ada orang yang kerja di media cetak di Amerika saat ini yang merasa aman,” ungkap Proctor. Bagaimana sesungguhnya kondisi media cetak lainnya di Amerika Serikat? Ikuti bagian kedua laporan ini.

Penulis : Sukriansyah S Latief (Wartawan Senior)

Presiden Ajak Insan Pesantren Turut Serta Jaga Keberagaman

Presiden Jokowi Bersama Santri Pesantren di Jember

Presiden Jokowi Bersama Santri Pesantren di Jember

Jember, KABAROKE — Pondok Pesantren kedua yang dikunjungi Presiden Joko Widodo di Kabupaten Jember adalah Pondok Pesantren Al Amien yang berada di Dusun Kebonsari, Desa Sabrang, Kecamatan Ambulu, Sabtu 12 Agustus 2017.

Tiba di pondok pesantren, Presiden disambut Pimpinan Pondok Pesantren KH Ahmad Sadid Jauhari.

Saat menyampaikan pesan kepada para santri, Presiden mengajak untuk bersama-sama menjaga dan merawat keberagaman dan keharmonisan yang merupakan anugerah Allah SWT.

“Kita harapkan ke depan semakin tenteram, adem, ayem, masyarakatnya semakin harmonis, saling menghargai, menghormati. Tidak ada yang mencela, menjelekkan dan meyalahkan karena kita sesungguhnya saudara sebangsa dan setanah air,” ucap Presiden.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden seperti biasa memberikan kuis berhadiah sepeda. Seorang santriwati, yang bernama Listia Sari Hanani atau Tia, terharu saat tampil ke depan untuk menjawab pertanyaan.

“Enggak usah nangis, saya nanti ikut nagis lagi,” ucap Presiden:

Presiden meminta Tia untuk menyebutkan 7 suku yang ada di Indonesia. Tia menjawabnya dengan baik dan menyebut suku Jawa, Madura, Batak, Sunda, Dayak, Betawi, Bone.

“Pak Kiai, santrinya pintar-pintar,” tutur Presiden.

Turut mendampingi Presiden dalam acara tersebut di antaranya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki dan Gubernur Jawa Timur Soekarwo. (rls)

Periksa Kesehatan Gratis, Stand Tika Care Diserbu Warga

Stand Cicu Diserbu Warga yang Ingin Periksa Kesehatan Gratis

Stand Cicu Diserbu Warga yang Ingin Periksa Kesehatan Gratis

Makassar, KABAROKE — Kelompok anak muda yang tergabung dalam komunitas yang diberi nama “Tika Care” gelar kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis di Car Free Day jalan Boulevard Makassar, Minggu, 13 Agustus 2017.

Komunitas yang terbentuk dari sekelompok anak muda yang mengidolakan Wakil Ketua DPRD sulsel, Andi Rachmatika Dewi ini menjadi patron dan cerminan positif bagi anak muda Makassar yang akhir akhir ini diberitakan sarat dengan kekerasan.

“Tika Care ini kami bentuk, terinspirasi dari Ibu Rachmatika dengan kesantunan dan kepedulian beliau terhadap masyarakat sehingga terbentuklah komunitas ini, mudah mudahan kehadiran kami bisa membantu dan bermanfaat bagi masyarakat, ” terang Ketua Tika Care, Irham.

Dalam kegiatan yang mereka laksanakan setidaknya ada ratusan warga yang melakukan pemeriksaan kesehatan. Tidak hanya itu, warga sangat berharap kegiatan yang mereka lakukan tersebut berkelanjutan.

“Alhamdulillah warga merespon kami dengan baik banyak warga yang meminta kami untuk rutin melakukan pemeriksaan gratis ini, hal ini membuat kami semakin semangat untuk berbuat, insya Allah kegiatan kami ini akan terus berlanjut,” jelas Irham.

Di tempat terpisah, Rachmatika Dewi yang dihubungi via telepon merasa bangga ada kelompok anak muda di Makassar yang mau terjun langsung membantu masyarakat, terlebih lagi kelompok tersebut dibentuk terinspirasi dari dirinya.

“Alhamdulillah kalau sudah ada yang menjadikan saya sebagai inspirasi, saya sangat bangga ada anak muda yang mau peduli dan mau terjun langsung membantu masyarakat, ini membuktikan bahwa anak muda Makassar punya kreatifitas yang nyata dan langsung dirasakan masyarakat, ” ujar Rachmatika, politisi yang juga ketua NasDem Makassar.

“Insya Allah nanti saya akan terjun langsung di lapangan dan menjadi bagian dari kegiatan teman teman Tika Care, ” tambahnya.⁠⁠⁠⁠ (Mawan)

Pemilik First Travel Ajukan Penangguhan, Polri: Itu Kewenangan Penyidik

Polisi Tangkap Pimpinan First Travel [dok net]

Polisi Tangkap Pimpinan First Travel [dok net]

Jakarta, KABAROKE – Pemilik First Travel, Andhika dan Anniesa berencana mengajukan permohonan penangguhan penahanan kepada kepolisian, untuk itu Polri mengatakan penangguhan penahanan merupakan kewenangan penyidik.

Kepala Divisi (Kadiv) Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto mengatakan, tersangka diperbolehkan mengajukan penangguhan penahanan. Nantinya penyidik yang akan menyetujui, atau tidaknya penangguhan tersebut.

“Mengajukan nggak apa-apa, nanti penyidik yang akan menilai alasan yang disampaikan itu tepat atau tidak. Pasti dikaji dulu,” kata Setyo, Sabtu (12/8).

Setyo menjelaskan penahanan tersangka dilakukan untuk mempercepat penyidikan. Tersangka ditahan agar tidak mengulangi perbuatan atau menghilangkan barang bukti. Apalagi polisi juga masih menelusuri aliran dana dan aset-aset First Travel.

“Ya itu, makanya, kalau dia di luar, kan kemungkinan bisa mengalihkan aset, bisa mengubah-ubah barang bukti, sementara penyidik masih bekerja, kan,” ujar Setyo.

Sebelumnya, Deski selaku kuasa hukum Andhika dan Anniesa, akan mengajukan permohonan penangguhan penahanan. Anniesa dan Andika merasa tidak melakukan penipuan.

“Pak Andika sendiri harus minum obat dan masih batuk-batuk lagi. Kalau Ibu Anniesa, beliau masih menyusui anaknya yang berusia tiga minggu,” ujar Deski.

Atas dasar kondisi itu, kuasa hukum meminta penangguhan penahanan. Deski mengaku pihaknya juga sudah memberikan surat kepada Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim.⁠⁠⁠⁠ (Iqbal)

Pengacara First Travel Sebut Kemenag Munafik

Diskusi Soal Kasus Penipuan First Travel

Diskusi Soal Kasus Penipuan First Travel

Jakarta, KABAROKE – Usai pencabutan izin terhadap First Travel selaku penyelenggara haji dan umroh, Eggi Sudjana selaku kuasa hukum sebut Kementerian Agama (Kemenag) sebagai penyelenggara yang munafik.

“Ini soal proses (first travel), best konteks kita itu hukum tidak bisa dengan itu (pencabutan izin), kalau dalam bahasa agama kalian (Kemenag) ini munafik,” ujarnya di Warung Daun Cikini, Menteng, Jakarta, Sabtu (12/8).

Pencabutan izin oleh Kemenag dinilai Eggi tidak sesuai, sebagaimana proses yang hukum yang tengah berlangsung dimana adanya kesepakatan sebelumnya oleh Kemenag dan Otoritas Jaksa Keuangan (OJK) dimana First Travel masih diberikan kesempatan untuk memberangkatkan jamaah dan memberikan refund kepada jamaah.

“Saya mengingatkan ada kesepakatan untuk memberangkatkan 5 ribu sampai 7 ribu, boleh refund dalam 90 hari kerja, bahwa ini dalam hukum perdata ini undang-undang,” papar Eggi.

Tidak hanya menyebut Kemenag munafik, bahkan Eggi juga menyebutkan bahwa dirinya mencurigai Kemenag memiliki ‘kongkalikong’ bisnis terselubung.

“Kalau nggak ditutup, bagaimana suruh jamaah dialihkan ke travel lain. Ini bisnis terselurung kalian,” tandasnya.⁠⁠⁠⁠ (Iqbal)

Sisir Pasar Tradisional, Ini yang Dilakukan Relawan Cicu

Relawan Cicu Menyambangi Pasar Tradisional

Relawan Cicu Menyambangi Pasar Tradisional

Makassar, KABAROKE — Relawan anak muda yang tergabung dalam komunitas “Tika Care” gencar sosialisasikan bakal calon Walikota Makassar, Andi Rachmatika Dewi.

Hari ini, Sabtu, 12 Agustus 2017 tampak beberapa orang anggota Tika Care yang memasuki area pasar tradisional Pabaeng baeng, Sukaria, Senggol, dan pasar Terong untuk mensosialisasikan Wakil Ketua DPRD Sulsel tersebut kepada warga dan para pedagang.

“Kami mensosialisasikan Ibu Cicu (sapaan Rachmatika) dengan membagikan selebaran berisi profil singkat beliau, Alhamdulillah penerimaan masyarakat sangat baik,” jelas Ketua Tika Care, Irham.

Tidak hanya itu, selain mensosialisasikan Cicu sebagai calon walikota yang layak memimpin Makassar diperiode mendatang, mereka juga menyampaikan kepada warga bahwa Tika Care akan melaksanakan pemeriksaan kesehatan gratis untuk warga, Minggu, 13 Agustus 2017 di Kecamatan Panakukang.

“Selain sosialisasi kami juga menyampaikan informasi pelaksanaan kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis yang akan kami laksanakan besok di Panakukang, ” terang Irham.

Terpisah, Cicu yang saat ini mengikuti Bimtek Full Day School bersama anggota DPRD Sulsel di Jakarta, melalui via telepon ia menyampaikan bahwa, kegiatan tersebut adalah inisiatif anggota Tika Care.

“Itu inisiatif teman teman Tika Care, kemarin malam baru mereka hubungi saya. Alhamdulillah laporan dari teman teman semuanya berjalan lancar, mudah mudahan kegiatan pemeriksaan gratisnya juga sukses, kita memang perlu berbuat sesuatu yang langsung dirasakan masyarakat,” ujar politisi cantik dari Partai NasDem ini.⁠⁠⁠⁠ (Mawan)

Presiden : Penguatan Pendidikan Karakter Penting untuk Generasi Milenial

Presiden Jokowi Saat Peluncuran Program Penguatan Pendidikan Pancasila di Istana Kepresidenan Bogor

Presiden Jokowi Saat Peluncuran Program Penguatan Pendidikan Pancasila di Istana Kepresidenan Bogor

Jakarta, KABAROKE — Saat ini dunia berubah dengan sangat cepat dan tentunya perubahan ini harus diantisipasi. Lima hingga sepuluh tahun lagi, generasi Y akan mempengaruhi lanskap politik, ekonomi dan sosial. Hal ini disampaikan Presiden Joko Widodo ketika memberikan sambutan pada Peluncuran Program Penguatan Pendidikan Pancasila di Istana Kepresidenan Bogor, Sabtu 12 Agustus 2017.

“Semuanya akan berubah,” ucap Presiden.

Agar perubahan yang terjadi tidak memberikan pengaruh buruk perlu dilakukan penguatan nilai-nilai karakter bangsa dan keagamaan. Karena terjangan, pertarungan ideologi, infiltrasi ideologi tengah terjadi dan dilakukan antara lain melalui media sosial. “Sekarang hati-hati, jangan sampai nilai-nilai kita hilang, karena terjangan infiltrasi ideologi,” ujar Presiden.

Di sisi lain, sulit menghadang infiltrasi budaya terjadi. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya remaja yang menyukai grup musik asal luar negeri. Tapi hal ini tidak perlu dirisaukan, selama dilakukan untuk mengetahui ada dimana posisi kita.

Presiden pun mengaku bahwa dirinya suka menonton Metallica, Linkin Park dan Judas Priest. “Untuk apa harus tahu? Untuk apa kita nonton? Untuk membandingkan posisi kita ada dimana, kekalahan kita ada dimana, kemenangan kita ada di mana. Jangan sampai kita tergerus oleh itu,” kata Presiden.

Selain untuk mengukur keberadaan grup musik di tanah air, menonton sebuah konser grup musik dari luar negeri juga diperlukan untuk membandingkan bagaimana mereka menata manajemen lighting, manajemen panggung dan juga pengelolaan penonton. “Itu yang ingin saya lihat,” ucap Presiden.

Bulan Oktober nanti misalnya akan hadir grup musik asal Ingris yang akan berkunjung ke Indonesia. “Anak muda pasti senang semuanya. Hati-hati saya ingatkan, kita sendiri memiliki (artis), Mas Giring tadi mana?” ucap Presiden menunjuk kepada artis Giring Nidji.

Untuk musik rock, kehandalan pemusik di tanah air juga tidak kalah dengan pemusik luar negeri, Presiden menyebut grup musik Superman is Dead, Burgerkill dan Slank.

Oleh karenanya Presiden mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara besar yang memiliki kekayaan alam, seni, dan budaya.

“Kita memiliki semuanya, budaya kita juga kita lihat yang tarian, dari Sabang sampai Merauke berapa puluh ribu kita miliki,” tuturnya.

Keberagaman budaya ini mengingatkan bahwa ideologi Pancasila untuk mengarahkan kembali kepada cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Terakhir, Presiden berharap masyarakat tetap waspada dan terus memegang teguh Pancasila dalam rangka memenangkan pertarungan ideologi dengan negara lain. Dirinya juga mengingatkan bahwa pertarungan ideologi belum selesai dan masih akan terus berlanjut.

“Dengan cara berbeda mereka akan masuk entah lewat musik, tari, budaya, ekonomi. Hati-hati!” ucap Presiden.

Pancasila diyakini pula oleh Presiden kelima Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri yang juga Ketua Dewan Pengarah Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) dapat melahirkan manusia Indonesia yang berwatak membangun, inisiatif, optimis, dan gigih dalam mencapai tujuan. Oleh sebab itu, dirinya mendukung penuh hadirnya Pancasila dalam dunia pendidikan Tanah Air.

“Bagi saya moral Pancasila harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan bahkan sudah seharusnya menjadi fondasi dari sistem pendidikan Indonesia,” ujar Megawati Soekarnoputri.

Turut hadir dalam acara tersebut diantaranya, Wakil Presiden keenam Try Sutrisno yang juga anggota Dewan Pengarah UKP-PIP, Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Ristek dan Pendidikan Tinggu M Nasir, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, Ketua UKP PIP Yudi Latief. (rls)

DPR Kinerja Soroti Kinerja Kemenag Soal First Travel

Polisi Tangkap Pimpinan First Travel [dok net]

Polisi Tangkap Pimpinan First Travel [dok net]

Jakarta, KABAROKE – Wakil Ketua Komisi VIII DPR Sodik Mujahid mengaku kecewa terhadap Kementerian Agama (Kemenag) karena tidak melakukan antisipasi terhadap perusahaan travel yang bermasalah yang berujung banyak korban tertipu.

Sodik mengaku sudah memberikan peringatan kepada Kemenag dari jauh-jauh hari terkait aktivitas First Travel yang sudah melanggar aturan tapi pihak Kemenag tidak pernah menghiraukannya.

“Saya sudah warning ke teman-teman Kemenag. Padahal sebelum itu sudah melanggar aturan, kita sampaikan ke Kemenag. Tapi Kemenag masih beralasan kalau dihentikan sekarang khawatir bagaimana korbannya,” Kata Sodik di Warung Daun Cikini, Menteng, Jakarta, Sabtu (12/8).

Sodik menyampaikan seharusnya ada 3 hal yang dilakukan oleh Kemenag dalam menanggulangi masalah semacam ini. Pertama dengan melakukan penyuluhan intensif kepada masyarakat agar tidak terkecoh harga murah, kedua dengan memberi sanksi sebelum pencabutan, serta imbauan kepada korban untuk tidak sungkan melapor.

Dalam kasus ini, First Travel menawarkan harga pemberangkatan umrah yang lebih murah dari agen travel lainnya. Pembeli tergiur dan memesan paket umrah.

Namun, hingga batas waktu yang dijanjikan, calon jemaah tak kunjung berangkat. Perusahaan itu kemudian dianggap menipu calon jemaah yang ingin melaksanakan umrah.

Kepolisian telah menahan Direktur Utama First Travel Andika Surachman dan istrinya, Anniesa Desvitasari, yang juga direktur di perusahaan tersebut. (Iqbal)