Awal 2018, Daya Beli Petani Sulsel Merosot

Minat Generasi Pemuda Mengola Lahan Pertanian Kian Menurun Karena Rendahnya Kesejahteraan Petani (dok net)
Minat Generasi Pemuda Mengola Lahan Pertanian Kian Menurun Karena Rendahnya Kesejahteraan Petani (dok net)

Makassar, KABAROKE — Nilai Tukar Petani atau NTP Sulsel berada pada angka 101,52 pada Januari 2018. Torehan itu mengalami penurunan sebesar 0,18 persen jika dibandingkan dengan NTP Desember 2017 yang hanya 101,71. Penurunan daya beli petani dipicu merosotnya empat dari lima subsektor.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, Nursam Salam, menyatakan daya beli petani di daerah pada awal tahun memang merosot, tapi tidak signifikan. “NTP gabungan Sulsel pada Januari 2018 sebesar 101,52 atau terjadi penurunan 0,18 persen dibandingkan bulan sebelumnya,” kata dia, di Makassar.

Menurut Nursam, merosotnya daya beli petani Sulsel didorong oleh melemahnya empat subsektor. Penurunan terbesar terjadi pada subsektor perkebunan rakyat sebesar -2,25 persen. Sisanya yakni subsektor perikanan (-1,29 persen), subsektor hortikultura (-0,91 persen), dan subsektor peternakan (-0,21).

“Satu-satunya subsektor yang memperlihatkan kinerja positif adalah subsektor tanaman pangan. Kenaikannya mencapai 1,64 persen,” ujar Nursam.

Berdasarkan catatan BPS, subsektor tanaman pangan mencapai 100,79; subsektor hortikultura 106,78; subsektor tanaman perkebunan rakyat 91,5; subsektor peternakan 109,49 dan subsektor perikanan 103,77. Bila dibandingkan periode sebelumnya, tidak terjadi perubahan signifikan, kecuali subsektor perkebunan rakyat.

NTP diketahui merupakan indikator untuk melihat tingkat daya beli petani di pedesaan. NTP menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun biaya produksi. Semakin tinggi NTP, semakin kuat daya beli petani. NTP diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang harus dibayarkan petani.

Nursam menjelaskan penurunan NTP Sulsel pada Januari 2018 terjadi dikarenakan kenaikan indeks yang dibayarkan petani (Ib) lebih tinggi ketimbang indeks yang diterima petani (It). “Perhitungannya seperti itu yakni selisih antara indeks yang dibayarkan dengan indeks yang diterima petani,” pungkasnya. (*)

Related posts

Leave a Comment