Standard Chartered Promosikan Produk Investasi Baru di Makassar

Manajemen Standard Chartered di Makassar

Manajemen Standard Chartered di Makassar

Makassar, KABAROKE — Manajemen Standard Chartered Bank memperkenalkan sederet inovasi produk terbaru di sela seminar keuangan Wealth on Wealth (WoW) di Four Points by Sheraton Hotel Makassar, Kamis, 8 Februari. Produk investasi yang diperkenalkan berbeda-beda bergantung tingkat kemampuan maupun kondisi nasabah.

Head of Managed Investment Products Standard Chartered Bank Indonesia, Yulius Ardi, mengungkapkan rangkaian produk wealth management terbarunya yaitu Bahana Dana Ekuitas Prima (DEP). “Itu sebuah reksa dana saham dengan strategi indeks yang menawarkan nilai kompetitif dan diversifikasi optimal,” kata Yulius, di Makassar.

Ia menerangkan bahwa produk DEP akan memberikan kesempatan kepada nasabah dengan profil risiko agresif untuk berinvestasi ke 30 saham anggota IDX30. Itu merupakan 30 saham selektif yang dipilih dari LQ45 dengan kriteria likuiditas tinggi dan kinerja baik. Mulai darin BCA, Sampoerna, Unilever, BRI, Mandiri dan sebagainya.

“Kami menghadirkan reksa dana strategi indeks karena faktanya dalam 5 tahun terakhir, reksa dana saham pada umumnya sangat sulit untuk mengalahkan indeks acuannya sendiri. Dari berbagai indeks yang sering dijadikan acuan, IDX30 memberikan imbal hasil yang lebih optimum dibandingkan indeks lainnya,” papar Yulius.

Selain produk DEP, Standard Chartered juga meluncurkan produk hasil kerjasama dengan Prudential Indonesia. Terdapat dua produk sekaligus. Produk baru investasi itu diyakini dapat memenuhi kebutuhan nasabah atas perlindungan jiwa dan investasi.

“Kami menghadirkan dua dana investasi baru dalam mata uang dolar AS bernama PRUlink US Dolar Global Low Volatilty Equity Find (DGLV) dan PRUlink US Dollar Emerging Markets Equity Fund (DGEM) yang melekat pada Versalink investor account (premi tunggal) dan Versalink Maxima account (premi reguler),” kata Head of Bancassurance Standard Chartered Bank Indonesia, Jessica Liebe.

Jessica menuturkan DGLV dipersembahkan untuk nasabah yang akan memanfaatkan strategi investasi dengan risiko gejolak rendah untuk meraih potensi hasil yang optimal untuk berinvestasi di 390 saham perusahaan global. Sementara itu DGEM memiliki fokus untuk Investasi pada saham-saham dengan fundamental terbaik di 25 negara berkembang. (***)

Nurdin Halid, Orang Baik yang Jadi Korban Politik di Masa Lalu

Nurdin Halid Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW di Makassar

Nurdin Halid

Makassar, KABAROKE — Isu korupsi seringkali dijadikan kampanye negatif untuk menyerang Nurdin Halid (NH) pada Pilgub Sulsel 2018. Serangan demi serangan diembuskan lawan politik untuk mengebiri popularitas dan elektabilitas pasangan Aziz Qahhar Mudzakkar itu. Ironisnya, tidak sedikit serangan itu yang menjurus kepada berita bohong alias menyesatkan.

Sekretaris DPD I Golkar Sulsel, Abdillah Natsir, mengungkapkan sedari awal pihaknya menyadari isu korupsi atau masa lalu NH menjadi ‘senjata’ dari lawan politik.

Tapi, itu sama sekali tidak membuat pihaknya khawatir. Toh, NH bukanlah koruptor, meski pernah tersangkut perkara hukum dan dipenjara. Mantan bos PSM itu hanyalah korban kebijakan politik pada masa itu.

“Soal masa lalu Pak NH tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Pak NH bukanlah koruptor, melainkan korban. Buktinya vonis hakim menyebutkan Pak NH secara hukum tidak terbukti menikmati hasil korupsi,” tegas Abdillah, Minggu, 11 Februari.

Menurut Abdillah, jajaran elite tahu betul bahwa NH bukanlah koruptor, melainkan orang yang pasang badan untuk kepentingan umum. Karena itu, pria kelahiran Bone itu masih mendapat kepercayaan mengemban berbagai posisi strategis. NH pun dengan leluasa dapat masuk ke Istana Negara dan berbicara dengan presiden dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum Dekopin maupun elite Golkar.

“Keputusan Ustaz Aziz (Qahhar Mudzakkar) maju bersama pada Pilgub Sulsel 2018 juga jawaban bahwa NH adalah orang baik. Publik tentu tahu betul kapasitas dan integritas Ustaz Aziz yang tidak mungkin sembarangan memilih orang. Nah, ketika Ustaz Aziz lebih memilih NH dibandingkan calon lain, maka tidak ada keraguan di situ,” ulasnya.

Abdillah melanjutkan terlalu picik bila menghakimi seseorang atas masa lalunya. Toh, yang namanya berbuat baik tidak perlu melihat masa lalu. Bila itu yang menjadi patokan, maka dunia akan dipenuhi orang bersalah yang tidak boleh melakukan kebaikan. Toh, yang namanya manusia tidak pernah luput dari kesalahan. “Masa lalu bukanlah penghalang untuk berbuat baik. Dan, Pak NH pulang kampung untuk menebar kebaikan, mengabdi membangun Sulsel Baru.”

Disinggung elektabilitas NH yang disebut stagnan, Abdillah menyebut survei dalam beberapa bulan terakhir memberikan output atau hasil yang berbeda-beda. Apapun hasilnya, kata dia, NH-Aziz mengapresiasi. Kalau pun disebut stagnan, itu malah menjadi motivasi untuk bekerja lebih keras. Toh, masih tersisa cukup waktu untuk menggenjot elektabilitas NH-Aziz.

“Sekarang kita terus memperkuat mesin pemenangan, baik dari parpol maupun relawan. Setelah penetapan baru kita ‘gaspol’, Insya Allah NH-Aziz akan keluar sebagai pemenang,” pungkasnya. (**)