Pramugari Cantik Ditangkap Pakai Sabu dan Kokain

Pramugari Cantik Ditangkap Pakai Narkoba

Pramugari Cantik Ditangkap Pakai Narkoba

Bali, KABAROKE — Seorang pramugari berinisial MMS (28) diamankan oleh Polsek Kuta Bali, karena kedapatan memakai narkoba jenis sabu dan kokain.

Pramugari yang berasal dari Jakarta Selatan ini, diamankan oleh polisi pada hari Sabtu (24/2) di kamar indekosnya bernama Anika House, kamar Nomor 4, Jalan Gunung Lumut nomer 62 D, Denpasar Barat.

Kapolsek Kuta Kompol I Nyoman Wirajaya, menjelaskan bahwa tersangka dalam pemeriksaan awal masih berstatus pengguna narkotika jenis sabu dan kokain ini.

“Saat melakukan penggeledahan, dalam kamarnya kita temukan, satu paket sabu seberat 0,7 gram yang disimpan dalam hiasan kaca hias,” ucapnya Jumat (2/3).

Kapolsek menambahkan, selain mengonsumsi sabu, hasil tes urine MMS positif mengandung kokain. MMS mengaku sudah 4 kali membeli barang haram (kokain) tersebut pada seseorang berinisial BNY (41) dengan membayar lewat via ATM.

“Kita masukan kategorinya (Kokain) jenis narkotika paling mahal dengan harga pergramnya mencapai Rp 2,5 juta. Dia (Pramugari) setiap off memakai barang itu untuk hura-hura untuk pesta dan party,” jelasnya.

Menurut Kapolsek, tersangka ini memang pramugari yang bertugas dalam penerbangan nasional dan menetap di Bali dan sudah 8 bulan menjadi pramugari.

“Dari pengakuan tersangka, baru 4 kali beli kokain. Untuk tersangka, kita kenakan pasal 122 ayat (1) atau pasal 127 Undang-undang 127 Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman 4 tahun penjara,” tutup Kapolsek. (*)

Kata Gubernur Sulsel Usai Terima Penghargaan Tertinggi IPDN

Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo [dok net]

Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo [dok net]

Makassar, KABAROKE — Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, menerima penghargaan tertinggi dari Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Penghargaan Astha Brata Madya Utama Pamong Praja dianugerahkan kepada Gubernur Syahrul di Kampus IPDN di Jatinangor, Kamis, 1 Maret.

Bagi Gubernur Sulsel dua periode itu, penghargaan tertinggi dari IPDN telah menyempurnakan seluruh perjalanan karirnya sebagai seorang birokrat.

“Astha Bratha Madya Utama Pamong Praja adalah sebuah penghargaan yang menyempurnakan proses panjang dalam perjalanan karir saya. Kan saya memulai dari kepala desa, lurah, camat, kepala bagian hingga kemudian satu periode wakil gubernur dan dua periode gubernur,” kata Gubernur Syahrul, dalam keterangan persnya, Kamis, 1 Maret.

Ia mengimbuhkan penghargaan ini memberikan keteladan, bukan hanya untuk dirinya, tapi kepada seluruh pamong praja. Bahwa sebuah pengabdian yang tulus terhadap bangsa, sambung dia, akan menjadi bagian yang meninggalkan legacy alias warisan.

“Penghargaan ini memiliki makna yang dalam. Sebuah dedikasi untuk diri sendiri, bangsa, negara dan rakyat. Jika pamong praja bisa berpikir seperti itu, bangsa ini akan jadi bangsa yang besar,” tutur mantan Bupati Gowa itu.

Bagi Gubernur Syahrul, penghargaan tertinggi IPDN itu luar biasa, meskipun dirinya telah menerima penghargaan tertinggi negara yakni Bintang Maha Putera Utama. Toh, konteks penghargaan itu berbeda, ada yang prestasi nasional dan ada juga terkait karirnya di birokrasi.

Selepas menerima penghargaan tersebut, Gubernur Syahrul juga bercerita terkait perasaannya yang tidak menentu mengingat lokasi penganugerahan di Kampus IPDN. Diketahui, putra bungsu Gubernur Syahrul, Rinra Sudjiwa Syahrul Putra, pada akhir proses pendidikannya di IPDN meninggal dunia.

“Ini keharuan bagi saya dan keluarga, tapi juga meyakinkan bahwa anak saya bagian dari sebuah idealisme. Bahwa negara ini hanya akan baik jika hadir pemerintahan yang baik. Dan pemerintahan yang baik hanya ada jika hadir aparat yang baik. Sekolah ini saya rasa bisa melahirkan aparat yang berintegritas dan punya intelegensi yang baik,” pungkasnya. (*)

Kagumi Program Keumatan, Ketua MUI Bone Doakan NH Jadi Gubernur Sulsel

Ketua MUI Bone KH Abdul Latif Amien

Ketua MUI Bone KH Abdul Latif Amien

Bone, KABAROKE — Calon Gubernur Sulsel nomor urut satu, Nurdin Halid terus menerima gelombang dukungan dari sejumlah tokoh masyarakat dalam kontestasi Pilgub Sulsel 2018. Kali ini, Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Bone, K. H. Abd. Latif Amien.

Dukungan tersebut ditegaskan oleh Rais Syuriah Nahdatul Ulama ini saat NH melakukan kunjungan silaturahmi bersama pedagang Pasar Bajoe dan sejumlah ulama di kediaman salah satu tokoh masyarakat Kecamatan Tanete Riattang Timur, H. Amir Bandu, Jumat (2/3) pagi.

Dalam temu silaturahmi tersebut, Abd. Latif Amien bahkan memimpin doa spesial kepada NH agar mampu diamanahkan menjadi Gubernur Sulsel selanjutnya. Sebab, ia meyakini, sosok NH sebagai pilihan paling ideal dalam memimpin provinsi ini ke depannya.

“Saya memang sudah sejak lama dekat dengan keluarga Nurdin Halid. Bapaknya Petta Tunru, di Apala itu saya selalu bersama-sama sewaktu masih hidup. Jadi saya paham kalau Nurdin Halid ini yang terbaik dan paling cocok memimpin Sulsel,” ujarnya.

Keseriusan Ketua Dewan Mustasyar Dewan Masjid Indonesia Kabupaten Bone ini juga akan diperlihatkan dengan mobilisasi dukungan dari sejumlah masyarakat di sekitarnya. Ia berkomitmen untuk ikut all out memenangkan NH.

“Insya allah, saya masih dituakan, saya akan hubungi pimpinan-pimpinan pondok pesantren dan seluruh masyarakat supaya satu suara dengan memilih NH,” tegasnya.

Ia menyebutkan, alasan memilih pasangan NH-Aziz, di antaranya karena paket ini yang paling serius dalam program peningkatan pembinaan spiritual. Hal tersebut dinilai perlu menjadi perhatian pemerintah dalam menjaga tatanan bermasyarakat.

Apalagi pasangannya adalah Aziz Qahhar, jadi lebih bagus lagi karena akan memperhatikan agama juga. Program yang satu rumah satu Alquran itu bisa membuat masyarakat lebih dekat dengan agamanya,” tuturnya.

Sebelum silaturahmi dengan tokoh masyarakat, NH juga sempat melakukan blusukan di Pasar Bajoe, persis di depan kediaman H. Amir Bandu. Di Pasar Bajoe, NH mendapat sambutan antusias dari ratusan pedagang dan pengunjung pasar. (*)

Cerita Aziz Soal NH Tolak Jabatan Menteri Demi Sulsel Baru

Nurdin Halid dan Aziz Qahhar Mudzakkar

Nurdin Halid dan Aziz Qahhar Mudzakkar

Bone, KABAROKE — Perjalanan Nurdin Halid-Aziz Qahhar Mudzakkar (NH-Aziz) memasuki arena Pilgub Sulsel 2018 penuh perjuangan. Meski didukung lima parpol, tetap saja ada upaya menjegal pasangan nasionalis-religius tersebut. Hal itu diungkapkan Aziz, saat melakukan kampanye di Kabupaten Bone.

Menurut Aziz, upaya penjegalan itu utamanya ditujukan kepada NH. Berdasarkan informasi dari beberapa sumber yang diperolehnya, ada pihak yang berupaya menghalangi NH mengikuti kontestasi politik tahun ini. Caranya dengan menawarkan posisi menteri.

“Ini saya dengar dari banyak sumber bahwa ada pihak yang coba halangi Pak NH agar tidak maju di pilgub ini. Beliau diminta jadi salah satu menteri, tapi tekadnya beliau sudah kuat. Pak NH menunjukkan komitmen pengabdiannya, tetap memilih membangun Sulsel Baru,” ujar Aziz.

Komitmen pengabdian itu turut menjadi pertimbangan Aziz yang akhirnya mantap berpasangan dengan NH. Setelah enam bulan melakukan perenungan, sosok yang besar di lingkungan pesantren ini yakin hanya NH sosok terbaik pada Pilgub Sulsel 2018. Terlebih, dirinya memiliki kesamaan visi dan misi mewujudkan Sulsel yang sejahtera dan berkeadilan.

Tidak kalah penting, Aziz menyebut hanya NH yang tidak sebatas berkomitmen membangun ekonomi, tapi juga umat. Aziz juga menegaskan duetnya bersama Nurdin terjalin atas kesamaan sudut pandang ideologi. Tidak seperti pasangan calon lain yang ‘kawin paksa’ demi meraih kursi menuju Pilgub Sulsel 2018.

“Saya dan Pak NH mantap berpasangan karena kesamaan ideologi. Bukan untuk mengejar kekuasaan atau menumpuk kekayaan,” tutupnya.

Cerita Nurdin menolak jabatan menteri demi membangun Sulsel memang turut mewarnai perjalanan pasangan nomor urut satu ini. Bukan hanya jabatan menteri, mantan Ketua PSSI itu diketahui juga menolak tawaran posisi sebagai Ketua Umum DPP Golkar. Tawaran jabatan strategis itu bahkan tiga kali datang, tapi tegas ditolak Nurdin demi Sulsel.

Nurdin menuturkan pilihan pulang kampung untuk mewujudkan Sulsel Baru adalah janji yang diikrarkan kepada rakyat dan Allah SWT. Pantang bagi mantan bos PSM Makassar itu melanggar janji, apapun taruhannya.

“Sulsel Baru itu janji saya kepada masyarakat Sulsel untuk membangun kampung dan menata kota. Terlebih, di masa saya terpuruk dulu, saya juga pernah berjanji kepada Allah SWT untuk membuat Sulsel, kampung halaman saya menjadi lebih baik,” pungkasnya. (*)

Hanya Ustaz Aziz Kader Pesantren di Pilgub Sulsel

Aziz Qahhar Mudzakkar Mappatabe di Luwu

Aziz Qahhar Mudzakkar

Makassar, KABAROKE — Ustaz Aziz, begitu panggilan akrab pria bernama lengkap Ir. H. Abdul Aziz Qahar Mudzakkar, M.Si, calon Wakil Gubernur Sulawesi Selatan 2018-2023, mendampingi Nurdin Halid. Tiga kali terpilih sebagai senator anggota DPD RI, bukti Ustaz Aziz sudah dikenal masyarakat Sulsel.

Sosok pendiri Pondok Pesantren Hidayatullah Makassar itu masih seperti dulu, sederhana. Kesederhanaan yang terus tampak, baik saat masih menjadi aktivis mahasiswa, maupun setelah menjadi senator di DPD RI.

Meski selalu tampil apa adanya, Ustaz Aziz punya keistimewaan tersendiri jika dibandingkan dengan tujuh sosok lainnya yang maju dalam Pilgub Sulsel 2018. Nurdin Halid, Agus Arifin Nu’mang, Tanribali Lamo, Nurdin Abdullah, Andi Sudirman Sulaiman, Ichsan Yasin Limpo serta Andi Mudzakkar, hanya Ustaz Aziz yang merupakan kader pondok pesantren.

“Kandidat lainnya ada yang berlatar belakang politikus, birokrat, purnawirawan atau pengusaha, tapi hanya Ustaz Aziz yang dari jebolan pondok pesantren,” ucap Ketua Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sulsel Ashar Arsyad.

Ashar menilai, Ustaz Aziz sebagai kader pondok pesantren telah menunjukkan bentuk pengabdiannya selama ini. Memperjuangkan kesejahteraan bagi umat alias masyarakat.

“Beliau kembali berkompetisi di Pilgub Sulsel tahun ini, juga sebagai bentuk menjawab panggilan atau amanah menyejahterakan umat,” ucal Ashar.

Ustaz Aziz pada beberapa kesempatan pun telah menjelaskan keputusannya menerima pinangan Nurdin Halid untuk berpaket di Pilgub. Alasan ideologis menjadi pertimbangannya, bukan karena kekuasaan.

“Saya tidak murahan dalam berpolitik. Saya tidak bermaksud berpolitik untuk memperkaya diri, walau sudah tiga periode (jadi senator) sampai sekarang tidak punya rumah di Sulsel,” ungkap Ustaz Aziz saat berkunjung ke Kabupaten Bone, Kamis 1 Maret 2018.

“Ketika saya putuskan atas diskusi panjang selama enam bulan, baru kami sepakat berpasanagn, kami berpasangan bukan karena motivasi kekuasaan,” kata Ustaz Aziz menegaskan.

Ustaz Aziz juga mengungkapkan perasaan lega, karena diberi kepercayaan oleh Nurdin Halid untuk bebas melaksanakan seluruh program perbaikan aqidah dan keumatan kepada masyarakat Sulsel jika terpilih nanti.

“Saya lega sebagai orang pesantren, NH katakan kalau urusan agama, urusan itu ustaz (Aziz). Tidak perlu diskusi panjang terkait itu. Jadi kalau mau dakwah, berantas buta huruf, hadirkan penghapal, majukan pesantren, saya dipersilahkan,” pungkasnya. (*)

Waduh, Kunjungan Wisman ke Sulsel Jeblok 51 Persen di Awal Tahun

Turis China Dominasi Kunjungan Wisman ke Indonesia (dok net)

Kunjungan Wisman ke Sulsel Anjlok di Awal 2018 (dok net)

Makassar, KABAROKE — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kunjungan wisatawan mancanegara melalui pintu masuk Makassar mengalami penurunan signifikan pada awal 2018. Terjadi penurunan hingga 51,10 persen antara jumlah kunjungan wisman pada periode Januari 2018 dibandingkan periode Desember 2017.

“Jumlah wisman yang datang pada Januari 2018 mencapai 826 kunjungan. Bila dibandingkan Desember 2017, tercatat penurunan hingga 51,10 persen, dimana akhir tahun lalu terdata 1.689 kunjungan,” kata Kepala BPS Sulsel, Nursam Salam, di Makassar.

Menurut Nursam, penurunan kunjungan wisman ke Sulsel bukan hanya terjadi secara bulanan, tapi juga tahunan. Merujuk data BPS, kunjungan turis ke Sulsel pada Januari 2017 mencapai 1.677 kunjungan atau terjadi penurunan 50,74 persen.

Nursam memaparkan kunjungan wisman asal Malaysia paling mempengaruhi anjloknya statistik pariwisata Sulsel. Terpantau ada penurunan 547 kunjungan atau lebih dari separuh total kunjungan wisman Malaysia ke Sulsel.

“Yang paling efek itu kunjungan wisman Malaysia dari 1.046 kunjungan menjadi 499 kunjungan,” tutur Nursam.

Selain Malaysia, Nursam mengimbuhkan beberapa negara yang juga mempengaruhi turunnya kunjungan wisman ke Sulsel adalah Singapura, India, Taiwan, Filipina, Inggris dan Belanda. “Adapun kunjungan wisman dari Korea Selatan dan Australia tercatat naik,” ujarnya.

Anjloknya kunjungan wisman, Nursam menyebut berbanding lurus dengan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Sulsel. Terjadi penurunan 2,94 poin pada Januari 2018, dari 53,90 persen menjadi 50,96 persen. Tapi, bila dibandingkan dengan periode Januari 2017, terjadi peningkatan 8,20 poin. (**)