Metode Penilaian Berubah, Peserta SMBPTN Wajib Perhatikan Hal Ini

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohammad Nasir saat meluncurkan secara resmi dimulainya kegiatan SMPTN dan SBMPTN 2018
Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohammad Nasir saat meluncurkan secara resmi dimulainya kegiatan SMPTN dan SBMPTN 2018

Jakarta, KABAROKE.COM — Informasi penting bagi peserta Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2018. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, metode penilaian, kini menerapkan hal yang baru.

“Penilaian terhadap jawaban SBMPTN tidak lagi menggunakan skor 4 untuk jawaban benar, skor 0 untuk yang tidak menjawab, dan skor negatif 1 untuk jawaban yang salah,” kata Sekretaris Panitia Pusat SBMPTN Joni Hermana dalam keterangan tertulis, Selasa, 10 April 2018.

Dijelaskan, metode penilaian pada SBMPTN 2018 tidak hanya memperhitungkan jumlah soal yang dijawab dengan benar dan salah oleh peserta, tetapi juga memperhitungkan karakteristik setiap soal. Khususnya tingkat kesulitan dan sensitifitasnya dalam membedakan kemampuan peserta.

“Metode penilaian oleh Panitia Pusat dilakukan melalui 3 tahap,” sebutnya.

Adapun tiga tahap tersebut yakni, tahap pertama adalah seluruh jawaban peserta SBMPTN 2018 akan diproses dengan memberi skor 1 pada setiap jawaban yang benar, dan skor 0 untuk setiap jawaban yang salah atau tidak dijawab/kosong.

Tahap II dengan menggunakan pendekatan Teori Response Butir (Item Response Theory) maka setiap soal akan dianalisis karakteristiknya. Diantaranya adalah tingkat kesulitan relatifnya terhadap soal yang lain, dengan mendasarkan pada pola response jawaban seluruh peserta tes taHun 2018. Dengan menggunakan model matematika, maka akan dapat diketahui tingkat kesulitan soal-soal yang dikategorikan mudah, sedang, maupun sulit.

Karakteristik soal yang diperoleh pada Tahap II, kemudian digunakan untuk menghitung skor setiap peserta. Soal-soal sulit akan mendapatkan bobot yang lebih tinggi dibanding soal-soal yang lebih mudah. Tahap-tahap penghitungan skor ini dilakukan oleh tim yang memiliki kompetensi di bidang pengujian, pengukuran dan penilaian.

“Dengan sistem ini, maka setiap peserta yang dapat menjawab jumlah SOAL yang SAMA dengan BENAR, akan dapat memperoleh nilai yang BERBEDA tergantung pada soal mana saja yang mereka jawab dengan benar,” urainya.

Ia mencontohkan, peserta A dapat menjawab dengan benar 5 soal yaitu nomor 1, 5, 7, 11, dan 13, sedangkan peserta B juga dapat menjawab 5 soal dengan benar yaitu nomor 1, 5, 9, 12, dan 15.

Kedua peserta tersebut akan mendapatkan skor akhir yang berbeda karena buti r soal yang dijawab dengan benar oleh peserta A memiliki tingkat kesulitan yang berbeda dengan butir soal yang dikerjakan dengan benar oleb peserta B.

“Penskoran ini sudah lama digunakan secara meluas di negara-negara maju di Amerika dan Eropa karena dengan menyertakan karakteristik setiap soal dalam penilaian, skor yang diperoleh akan lebih ‘fair’ dan dapat membedakan kemampuan peserta dengan lebih baik. Petunjuk pengerjaan soal yang sesuai dengan sistem penilaian di atas, sudah disertakan pada setiap set soal yang diujikan,” pungkasnya.

Related posts

Leave a Comment