Kunjungan Turis Melonjak, Tingkat Hunian Hotel di Sulsel Malah Menurun

Kepala BPS Sulsel Nursam Salam

Kepala BPS Sulsel Nursam Salam

Makassar, KABAROKE — Melonjaknya kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman tidak selamanya berbanding lurus dengan tingkat okupansi alias Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat TPK hotel berbintang di Sulsel malah melorot tatkala kunjungan wisman mengalami peningkatan periode Februari 2018.

Berdasarkan data BPS, kunjungan wisman ke Sulsel melalui pintu masuk Makassar periode Februari 2018 mencapai 1.004 kunjungan atau naik 21,55 persen dibandingkan torehan bulan sebelumnya. Adapun TPK hotel berbintang malah melorot 3,49 poin dibandingkan TPK bulan sebelumnya. TPK hotel berbintang periode bulan kedua pada tahun ini hanya 47,47 persen.

“Kunjungan wisman ke Sulsel pada Februari 2018 cukup menggembirakan, terjadi kenaikan 21,55 persen. Tapi, itu malah tidak berbanding lurus dengan TPK hotel berbintang yang malah menurun 3,49 poin, dari 50,96 persen menjadi 47,47 persen,” ujar Kepala BPS Sulsel, Nursam Salam.

Nursam mengimbuhkan TPK hotel berbintang hanya menurun bila ditilik secara bulanan. Secara tahunan, kata dia, sebenarnya terjadi peningkatan 3,29 poin. TPK hotel berbintang pada periode yang sama pada tahun lalu di Sulsel diketahui hanya 44,18 persen.

Kata Nursam, bila ditelisik lebih dalam lagi, hotel bintang lima mencatat tingkat okupansi tertinggi mencapai 62,73 persen. Adapun tingkat okupansi terendah dicatatkan hotel bintang dua sebesar 37,7 persen. “TPK hotel bintang lima naik 6,15 persen dan TPK hotel bintang dua turun 2,37 persen bila dibandingkan bulan sebelumnya,” tuturnya.

“Adapun rata-rata lama menginap tamu asing dan tamu domestik pada hotel klasifikasi bintang di Sulsel pada Februari masing-masing 2,49 hari dan 2,00 hari,” pungkas Nursam. (**)

7 Pusaka NH-Aziz untuk Masyarakat Sulsel, Mulai Infrastruktur Hingga Keagamaan

Nurdin Halid dan Aziz Qahhar Mudzakkar

Nurdin Halid dan Aziz Qahhar Mudzakkar

Palopo, KABAROKE — Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel, Nurdin Halid-Aziz Qahhar Mudzakkar (NH-Aziz), bertekad membangun Sulsel dengan konsep Tri Karya Pembangunan. Melalui konsep pembangunan berbasis infrastruktur, ekonomi kerakyatan dan kearifan lokal, pasangan nomor urut satu telah mempersiapkan 7 pusaka atau pusat akselerasi kampung sebagai warisan untuk masyarakat Sulsel saat ini maupun masa mendatang.

NH memaparkan 7 pusaka yang akan diwariskannya meliputi seluruh aspek kehidupan. Pusaka itu merupakan solusi dari problematika Sulsel, setelah ia bersama Aziz menyambangi seluruh pelosok kampung. Dari situ, NH-Aziz memahami betul apa yang menjadi kebutuhan dan harapan masyarakat. Semua itu disusun dalam program Sulsel Baru yang selaras dengan gerakan membangun kampung dan menata kota.

“NH-Aziz dengan konsep Tri Karya Pembangunan akan menghadirkan 7 pusaka yang diwariskan untuk masyarakat Sulsel, baik yang hidup sekarang maupun untuk generasi mendatang. Nah, 7 pusaka itu mencakup beragam hal, mulai dari infrastruktur hingga keagamaan,” kata NH, di sela safari politiknya di Luwu Raya, Jumat, 13 April.

NH lantas memaparkan satu per satu pusaka yang disiapkannya bersama Aziz bagi masyarakat Sulsel. Pertama, pusaka infrastruktur yang meliputi seluruh pembangunan dan pembenahan berbagai sarana dan prasarana. Mulai di sektor pertanian hingga perikanan dan kelautan. “Termasuk perbaikan dan pembuatan infrastruktur jalan, jembatan dan pengairan. Itu semua menjadi pusaka infrastruktur NH-Aziz.”

Selanjutnya, pusaka ekonomi berupa hadirnya koperasi dan BUMDes di tiap desa. Dua lembaga itu menjadi ujung tombak akselerasi perekonomian dan pembangunan Sulsel. NH-Aziz juga memastikan membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi masyarakat Sulsel. Muaranya untuk menuntaskan salah satu problematika klasik di Sulsel yakni tingginya angka pengangguran.

“Ketiga, pusaka pendidikan dimana NH-Aziz memastikan pendidikan dan perlengkapan gratis di semua jenjang pendidikan. Juga akan terus kami dorong partisipasi pemuda untuk menempuh pendidikan tinggi dengan berbagai kemudahan. Kalau NH-Aziz ditakdirkan memimpin Sulsel, maka dipastikan pula tidak akan ada pungutan liar apapun modusnya,” tegas mantan Ketua PSSI itu.

Pusaka kesehatan menjadi warisan keempat NH-Aziz. Implementasinya, kata dia, menghadirkan rumah sakit pratama di tiap kecamatan. Kalau pun nantinya terkendala dengan aturan pemerintah, maka pihaknya siap menyulap puskemas untuk mampu melayani rawat inap alias puskesmas 24 jam. NH-Aziz juga siap menghadirkan dokter di tiap desa sehingga akses kesehatan bisa lebih mudah.

Kelima berupa pusaka keagamaan, sebagaimana julukan NH-Aziz sebagai pasangan nasionalis-religius. Ketua Koordinator Bidang Pratama DPP Golkar itu menjadikan Rumah Al-Quran di tiap desa sebagai warisannya kelak. Di samping itu, juga ada program menaikkan insentif imam masjid maupun pendeta menjadi 1 juta per bulan. Juga ada pemberian sepeda motor bagi setiap imam masjid untuk kemudahan saat bertugas.

Pusaka keenam berupa kebudayaan, dimana NH-Aziz akan melestarikan bahkan memberikan nilai tambah pada setiap budaya pada masing-masing kabupaten/kota. Caranya dengan menstimulasi sekaligus membenahi potensi wisatanya menjadi berkelas nasional, bahkan dunia. Dengan begitu, Sulsel kelak akan dikenal dan dikenang sebagai daerah budaya dengan banyak wisata yang mengagumkan.

“Terakhir pusaka ketujuh adalah pusaka kesejahteraan. Ini merupakan akumulasi dari pusaka pertama hingga pusaka keenam, dimana kami berupaya memastikan bahwa masyarakat Sulsel kelak akan hidup bahagia dan sejahtera. Itu bisa kita wujudkan dengan cara-cara sama-samaki bangun kampung dan menata kota, mewujudkan Sulsel Baru bersama NH-Aziz,” pungkasnya. (**)