Akademisi Unhas : Pidato Penutup NH-Aziz di Debat Publik Paling Sempurna

Akademisi Unhas Andi Lukman

Akademisi Unhas Andi Lukman

Jakarta, KABAROKE — Berakhirnya debat kandidat pada Rabu (9/5) malam menandakan usainya rangkaian tahapan debat kandidat oleh KPU Sulsel. Debat ini menjadi debat pemungkas dalam kontestasi Pilgub Sulsel mendatang.

Pengamat pemerintahan Unhas, Andi Lukman Irwan pun menanggapi penutup pidato kemenangan dan kekalahan masing-masing calon. Ia mengunggulkan pernyataan pasangan calon Gubernur-calon Wakil Gubernur Sulsel nomor urut satu, Nurdin Halid-Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar (NH-Aziz).

“Dalam pidato penutup di akhir debat Pak NH-Aziz lebih tampil sempurna dan kreatif dlm menutup sesi debat dibanding paslon lainnya dengan beberapa aspek yang beliau sampaikan,” ujarnya.

Di antara sejumlah keunggulan tersebut, kata Lukman, ialah perspektif cara pandangnya menuju kemenangan yang bukan hanya miliki NH-Aziz semata. Kemenangan tersebut sudah sewajarnya perlu dimaknai sebagai kemenangan masyarakat Sulsel tanpa terkecuali.

“Komitmen beliau sangat tegas untuk memajukan wilayah Sulsel dengan menjajinkan akan terbentuknya Provinsi Luwu Raya serta meningkatkan status sungguminasa menjadi kota yang otonom,” jelasnya.

Kemudian, Lukman menegaskan pula gestur badan NH-Aziz tampak rileks dan tanpa beban saat debat. Termasuk, ketika NH mengulas tuduhan koruptor yang kerap menjadi bahan black campaign.

“Komitmen beliau untuk menghadirkan pemimpin yang bersih dan tidak korup menjadi jaminan akan hadirnya pemimpin sulsel yang amanah dan berintegritas,” pungkasnya. (*)

Pembayaran THT Terbengkalai, Lalu Lintas Udara Terancam Lumpuh

Koordinator Eks Karyawan AP I Sumaryadi dan Koordinator Eks Karyawan AP I untuk Wilayah Makassar Abidin Haju

Koordinator Eks Karyawan AP I Sumaryadi dan Koordinator Eks Karyawan AP I untuk Wilayah Makassar Abidin Haju

Makassar, KABAROKE — Kisruh pembayaran Tunjangan Hari Tua (THT) terhadap 603 mantan karyawan PT Angkasa Pura I mendesak dituntaskan. Permasalahan itu dikhawatirkan dapat menganggu, bahkan membuat lumpuh lalu lintas penerbangan. Terlebih, ratusan mantan karyawan AP I rata-rata kini bekerja sebagai pemandu lalu lintas udara pada AirNav Indonesia.

Koordinator Eks Karyawan AP I untuk Wilayah Makassar, Abidin Haju, mengungkapkan bila tuntutan agar THT dibayarkan sesuai aturan sebesar Rp71 miliar tidak terpenuhi, pihaknya berencana menggelar aksi serentak di Jakarta. Bila itu terjadi, tentunya penerbangan bisa terganggu, bahkan lumpuh karena mereka semualah yang bertugas mengatur lalu lintas udara.

“Kalau masih tidak ada titik temu, 603 mantan karyawan AP I ada kemungkinan akan gelar aksi serentak ke Jakarta. Kalau itu terjadi ya penerbangan bisa lumpuh, contohnya di Makassar kami ada 136 orang, kalau semua ke Jakarta siapa yang atur lalu lintas penerbangan, lalu di Bali dan Surabaya juga banyak,” ujar Abidin.

“Intinya, kami tidak mau itu sampai terjadi (penerbangan lumpuh), tapi kami juga mengharapkan perusahaan (AP I melalui YAKKAP) dapat memenuhi hak kami sebagai mantan karyawan. Bayarlah THT sebagaimana mestinya, merujuk aturan,” sambung Abidin, saat menggelar aksi damai di lingkungan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.

Perjuangan ratusan mantan karyawan AP I untuk mendapatkan THT sudah teramat panjang. Sejak 2014 tatkala diberhentikan, Abidin menyebut pihaknya dengan sabar menunggu. Padahal, hak pembayaran THT sesuai aturan mestinya dicairkan paling lambat satu bulan setelah diberhentikan. Nyatanya, sampai kini belum juga terealisasi.

Abidin mengungkapkan berbagai langkah sesuai prosedur telah ditempuh, termasuk mengadu ke Kementerian BUMN, Kementerian Tenaga Kerja dan Istana Negara. Teranyar, pihaknya telah mendapatkan secercah harapan terkait pembayaran. Sayangnya, perusahaan terkesan ingin mengelabui mantan pekerja dengan hanya ingin membayar sekitar 30 persen dari THT.

Sejumlah karyawan telah menerima surat dari AP I melalui YAKKAP terkait pengalihan pembayaran via AirNav Indonesia. Sayangnya, nominal pembayaran sangat memprihatinkan, hanya 20-30 persen dari yang semestinya. Abidin menegaskan itu jelas ditolak mantan karyawan AP I dan ditunjukkan dengan membakar surat dari AP I melalui YAKKAP.

Soal pembayaran THT itu, Human Capital & General Affair Director AP I, Adi Nugroho, sebelumnya membantah bila pihaknya tidak ingin membayarkan THT ratusan mantan pegawai perusahaan pelat merah. Namun, diakuinya terdapat perbedaan paham mengenai jumlah pembayaran THT. “Kapanpun kami siap bayarkan, tapi ya sesuai perhitungan aktuaris,” ujar dia.

Adi mengklaim pembayaran THT berdasar pada perhitungan aktuaris merujuk pada peraturan perundang-undangan. Disinggung perihal permintaan pembayaran eks karyawan sebesar Rp71 miliar yang tertuang dalam Perjanjian Kerja Bersama, ia membantah bila manajemen AP I ikut menyetujuinya. (**)

Tutup Debat Kandidat, NH-Aziz Konsisten Apresiasi Empat Etnis di Sulsel

Nurdin Halid dan Aziz Qahhar Mudzakkar

Nurdin Halid dan Aziz Qahhar Mudzakkar

Jakarta, KABAROKE — Pasangan calon Gubernur-calon Wakil Gubernur Sulsel nomor urut satu, Nurdin Halid-Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar tampil menonjol dengan mengusung kearifan lokal. Penampilan penuh nuansa nilai kearifan lokal Sulsel itu terlihat natural pula dalam mengikuti debat kandidat edisi III Pilgub Sulsel di Auditorium TVRI, Jakarta, Rabu (9/5) malam.

Hal tersebut sejalan dengan tema debat, yaitu penguatan kearifan lokal dalam memperkokoh ideologi bangsa dan NKRI. Sejak membuka debat, NH-Aziz selalu memesankan petuah dan warisan leluhur, seperti sikap sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge.

Begitupula saat segmen penampilan dari pasangan calon, NH-Aziz menawarkan suguhan tari dari keempat etnis di Sulsel. Apresiasi terhadap seluruh etnis besar Sulsel, yaitu Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar pun bertahan ditunjukkan oleh pasangan ini.

Saat mengawali pidato penutup, NH-Aziz kompak menyapa rakyat Sulsel dengan panggilan masing-masing etnis. Tanpa diskriminasi, pasangan nasionalis-religius ini mengapresiasi seluruh etnis mayor di Sulsel.

“Sangmaneku, Sammuaneku , silessurengku, saribattangku. Kemenangan yang kita akan raih dalam pilkada ini adalah kemenangan bagi seluruh masyarakat Sulsel, kemenangan bagi kita semua yang menginginkan perubahan,” ujar NH.

Pesan serupa juga diserukan oleh Aziz Qahhar. Usai pidato kemenangan, TVRI juga menyediakan segmen pidato kekalahan yang sekaligus mengakhiri agenda debat kandidat.

“Sangmaneku, Sammuaneku, silessurengku, saribattangku.¬†Kemenangan dan kekalahan dalam pilkada adalah sebuah keniscayaan. Semua sudah ada takdirnya. Kami telah menyampaikan visi masi kami untuk melahirkan perubahan di Sulawesi Selatan yang lebih maju, mandiri, sejahtera dan religius,” tutur Aziz. (*)