Bijaklah Sebelum Menebar Ikan, Pesan Lestari untuk Luwu Utara

Ahmad Musa
Ahmad Musa

Makassar, KABAROKE — Pesan gambar seseorang menebar ikan di Bendungan Baliase, Luwu Utara, masuk ke smartphone saya melalui aplikasi WhatsApp. Gambar itu disertai pesan agar bupati bersedia turut serta melepaskan bibit ikan di bendungan tersebut. Sang pengirim pesan yang notabene kawan saya lantas menanyakan tanggapan mengenai pelepasan bibit ikan tersebut.

Sebelum memberikan jawaban terkait pertanyaan kawan saya, ada baiknya untuk mengetahui tiga jenis ikan berdasarkan asalnya. Toh, pengetahuan itu nantinya sangat berpengaruh pada benar tidaknya melepaskan bibit ikan di suatu tempat. Adapun tiga jenis ikan merujuk pada habitatnya yaitu spesies asli (native), spesies endemik (endemic) dan spesies introduksi.

Spesies asli (native species) atau disebut juga indigenous adalah spesies-spesies yang menjadi penduduk suatu wilayah atau ekosistem secara alami tanpa campur tangan manusia. Contoh spesies asli adalah sidat (masapi) di perairan Indonesia. Adapun spesies endemik merupakan gejala alami sebuah biota untuk menjadi unik pada suatu wilayah geografi tertentu, contohnya ikan buntini dan opudi di Danau Matano.

Sebuah spesies bisa disebut endemik jika spesies tersebut merupakan spesies asli yang hanya bisa ditemukan di sebuah tempat tertentu dan tidak ditemukan di wilayah lain. Wilayah di sini dapat berupa pulau, negara, atau zona tertentu.

Selanjutnya spesies introduksi (introduced species) merupakan spesies yang berkembang di luar habitat (wilayah) aslinya akibat campur tangan manusia baik disengaja ataupun tidak. Contohnya ikan mas dan nila di perairan Indonesia.

Spesies asli dan endemik akan menjadi masalah jika punah dan hilang dari kawasan perairan tertentu. Sebaliknya, spesies introduksi dapat menjadi masalah jika terdapat pada suatu kawasan.

Beberapa masalah yang dapat dimunculkan oleh spesies introduksi ini antara lain : 1) Kompetisi yang dapat menyebabkan ikan asli kekurangan sumber pakan dan berujung menurunnya populasi. 2)Predator yang dapat memangsa ikan asli, 3) Penyakit dan parasit, 4) Pengaruh genetik jika terjadi perkawinan dengan spesies asli. 5) Perubahan fisiologis seperti menurunnya daya reproduksi karena efek stres adanya ikan introduksi, 6) gangguan pada komunitas ikan akibat adanya ketidak seimbangan dan ketidakstabilan ekologis, 7) dampak pada fauna akuatik apabila predatornya habis dimangsa oleh ikan introduksi dan 8) gangguan habitat seperti meningkatnya turbiditas dan menurunnya populasi tanaman akuatik (Kerr & Grant, 2000).

WhatsApp Image 2018-05-06 at 12.33.41

Pesan gambar ke aplikasi Whatsapp Ahmad Musa

Jika spesies introduksi dapat menimbulkan dampak seperti di atas maka dapat dikategorikan sebagai spesies asing invasive (SAI). Beberapa dampak SAI pernah dibahas pada forum yang diselenggarakan Kementerian Kelautan dan Perikanan pada tahun 2014. Contohnya populasi ikan sapu-sapu, keong mas dan ikan mujair yang meledak di beberapa perairan umum menunjukkan adanya dominasi dan ketidak seimbangan populasi yang  dapat menurunkan populasi bahkan mungkin kepunahan species ikan asli di perairan.

Populasi ikan mujair di Waduk Cirata semakin berkurang, tapi ironisnya populasi ikan Louhan malah meningkat. Sedangkan di waduk Sempor, Jawa Tengah, ikan Wader dan ikan Betik yang dulunya berlimpah sekarang sudah jauh berkurang, dan sebaliknya ikan Oscar dan Louhan banyak ditemukan.

Ikan-ikan asli di perairan Bangka seperti Belida, Tapah, sekarang populasinya tergusur oleh ikan Toman yang dahulu ditebarkan sebagai upaya reklamasi bekas galian tambang.

Populasi ikan Depik, ikan asli danau Laut Tawar, Aceh  mulai terdesak oleh ikan Nila yang diintroduksikan ke danau tersebut. Ikan setan merah (red devil) yang masuk secara tidak sengaja bersama aneka jenis benih ikan di waduk Sermo, Yogyakarta populasinya semakin tidak terkendali, memangsa ikan lain seperti ikan Mas, Tawes, Nila di waduk tersebut.

Saat ini ikan tersebut juga semakin mengancam populasi ikan lain di Waduk Cirata, dan Kedung Ombo. Lobster air tawar Cherax quadricarinatus yang diintroduksikan ke danau Maninjau, Sumatera Barat dikhawatirkan akan menjadi jenis invasif karena lobster ini mempunyai laju pertumbuhan dan fekunditas yang superior.

Selain itu, fenomena penyakit yang masuk ke Indonesia di antaranya Lerneae cyprinacea, pada ikan Mas, Viral Nervous Necrosis Virus (VNNV) pada ikan Kerapu, Koi herpes virus (KHV) pada ikan Koi dan Mas, White Spot Syndrome Virus (WSSV) dan taura Syndrome Virus (TSV) pada udang.

Di danau Matano, Sorowako, penulis menemukan bahwa ikan nila louhan menjadi predator ikan endemik seperti buntini dan opudi (Sudarto & Musa, 2010). Malangnya menurut penduduk, saat itu penebarannya disupport pemerintah daerah, penebaran dilakukan secara resmi dengan tujuan ikan tersebut akan dijadikan target pemancingan. Hal ini tentu sangat berdampak pada keanekaragaman ikan pada danau Matano.

Beberapa alasan untuk mendatangkan suatu spesies ikan ke suatu daerah, seperti sebagai sport fishes, ikan budidaya, dan agen pengendali hama atau gulma secara biologis. Namun dari sisi konservasi, hal tersebut dapat menimbulkan bencana biodiversitas.
Menelaah hal tersebut di atas, menurut kami pemerintah daerah tidak perlu latah dalam memenuhi setiap aspirasi warganya, tapi perlu meminta pertimbangan ilmiah dari pihak yang berkompeten.

Sebagaimana kita ketahui, negeri ini sedang dihebohkan akibat isu maraknya pekerja asing, mestinya kitapun mempertimbangkan hal tersebut sebelum melakukan introduksi ikan ke suatu habitat. Meskipun pemerintah telah menetapkan Peraturan Menteri Keluatan dan Perikanan Nomor 41 tahun 2014 tentang larangan pemasukan jenis ikan berbahaya dari luar negeri ke dalam wilayah negara republik Indonesia, hal yang paling utama perlu dilakukan adalah menginventarisir ikan asli yang terdapat di sungai Baliase, lalu mengembangkan ikan tersebut dan merestocking ke bendungan Baliase.

Hasil penelusuran kami, belum banyak informasi ikan yang tercatat di sungai Baliase. Salah satu yang kami dapatkan  adalah ikan black bass yang masih rancu apakah ini introduksi atau asli (http://informasifishing.blogspot.co.id) karena pemancing terkadang hanya menggunakan nama komersil namun tidak menekankan pada identifikasi spesies. Karena berdasarkan penelusuran kami, gambar yang tercantum merupakan sea bass. Meskipun belum pernah mengamati langsung ikan di sungai Baliase, namun jika melihat kondisi geografisnya, kami menduga terdapat kemiripan dengan sungai yang ada di teluk Bone pada umumnya.

Jika benar, maka kemungkinan yang dimaksud adalah ikan kakap air tawar (Lutjanus fuscescens) atau kakap merah bakau (Lutjanus argentimaculatus) seperti yang kami temukan di sungai Lasusua (Musa dkk, 2010). Selain ikan tersebut juga ditemui sidat / masapi (Anguilla marmorata), family ikan Eleotrididae, Gobiidae, Kuhliidae, Muraenidae, Teraponidae dan lainnya.

Dibutuhkan inventarisasi berdasarkan observasi langsung untuk memastikan jenis ikan di sungai Baliase tersebut agar keputusan yang diambil tidak keliru.

Demikian pendapat kami, semoga keINDAHan sumber daya hayati Luwu Utara tetap terjaga. Pendekatan inipun dapat dilakukan untuk daerah-daerah lainnya. Bagi person yang mengusulkan tersebut agar dapat bersabar menanti solusi terbaik. Bahwa kerusakan di muka bumi ini tidak lain disebabkan oleh tangan manusia sendiri (Q.S. Ar Ruum 41), maka manusia pulalah yang berperan untuk menjaga dan melestarikan keindahannya, atas izin Allah SWT tentunya. Wallahua’lam. (***)

Ahmad Musa Said
Peneliti pada Balai Riset Budidaya Ikan Hias – Kementerian Kelautan dan Perikanan. Anggota Majelis Nasional KAHMI 2017-2022 bidang Kelautan dan Perikanan. ahmadmusasaid@kkp.go.id

 

Related posts

Leave a Comment