MEMBUMIKAN IKAN HIAS

Indonesia merupakan negara dengan potensi sumberdaya hayati yang sangat besar dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Hal ini salah satunya disebabkan oleh letak geografis yang beraneka ragam, mulai dari lautan sampai dengan pegunungan terbentang antara Sabang sampai Merauke. Dengan ekologi yang beragam maka hewan dan binatang yang bertempat tinggal diatasnya juga beragam jenisnya. Salah satu jenis fauna yang sangat melimpah di Indonesia adalah jenis ikannya. Sekitar 4727 jenis ikan telah diidentifikasi terdapat di wilayah perairan Indonesia. 1230 jenis merupakan ikan air tawar selebihnya merupakan ikan air laut dan payau (fishbase.org)

Keragaman ikan yang besar berdampak pada potensi ikan hias asli Indonesia yang sangat beragam. Ikan hias adalah ikan yang dipelihara maupun dibudidayakan dengan tujuan bukan untuk dikonsumsi melainkan untuk mendapatkan hiburan secara visual baik dari segi keindahan maupun keunikan tingkah lakunya. Belum ada jumlah yang pasti mengenai berapa jumlah ikan hias asli Indonesia dikarenakan faktor selera dan kategori yang masih subyektif. Namun dari sisi ekonomis, nilai ekspor ikan hias Indonesia mencapai  27,6 juta USD (suhana.web.id).

Masyarakat Indonesia umumnya mengenal ikan hias berdasarkan informasi dan yang paling banyak terlihat di pasaran. Ikan hias yang paling dikenali oleh masyarakat umum adalah jenis ikan mas Koki (Carassius auratus) maupun ikan Koi (Cyprinus carpio). Sayanganya kedua spesies ini bukan merupakan spesies asli (native) Indonesia melainkan merupakan spesies introduksi. Adapun beberapa spesies ikan hias asli Indonesia yang dikenal masyarakat seperti gambar di bawah.

Botia (Chromobotia macracanthus)

 

Arwana super red (Scleropages legendrei /Scleropages formosus)*

 

Capungan Banggai / Banggai Cardinal Fish (BCF) (Pterapogon kaudernii)

Ada banyak lagi ikan hias asli Indonesia, namun belum popular dikenal masyarakat. Selain karena faktor informasi, minat masyarakat terhadap ikan hiaspun masih terbatas pada kalangan tertentu. Mereka yang memiliki hobi memelihara binatang, masih lebih dominan memilih anjing dan kucing sebagai peliharaan dikarenakan faktor kemudahannya untuk dirawat.

Memelihara ikan hias memang perlu ketelatenan yang lebih dibanding memelihara hewan peliharaan lain. Selain ikan, lingkungan dan pakannya perlu diperhatikan dengan cermat. Selain itu parasit yang dapat menyerangpun perlu diantisipasi. Hal ini juga menjadi salah satu faktor belum massifnya ikan hias di Indonesia.

Tantangan untuk membumikan ikan hias di Indonesia memang perlu dipecahkan bersama sebagai manifestasi dari rasa syukur kita akan karunia sumber daya hayati yang demikian megah. Pemerintah Indonesia melalu kementerian dan lembaganya telah mengeluarkan beberapa kebijakan untuk meningkatkan industri ikan hias. Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman (Kemenkomaritim) telah mencanangkan Rencana Aksi Nasional (RAN) pembangunan industri ikan hias 2017-2021 (Fahmi dkk, 2017). Tujuh strategi dalam RAN yang dicanangkan sebagai berikut : 1) Peningkatan Produksi Dan Mutu Ikan Hias, 2) Peningkatan Dukungan Transportasi, 3) Peningkatan Perdagangan Dan Promosi Ikan Hias, 4)Konservasi Jenis Dan Habitat Ikan Hias Asli Indonesia, 5) Peningkatan Keterpaduan Data Dan Informasi (One Data Policy), 6) Peningkatan Pengawasan Dan Penegakan Hukum dan 7) Pelaksanaan Sosialisasi Dan Edukasi Publik.

Terdapat banyak kegiatan yang sifatnya kebijakan dan membutuhkan campur tangan pemerintah untuk meningkatkan industry ikan hias dalam matriks RAN tersebut. Pada strategi ketiga, terdapat target berupa Pembuatan Surat Edaran Menteri Kelautan dan Perikanan tentang Gerakan Nasional Display Ikan Hias. Dengan target tersebut, diharapkan semakin banyak display akuarium ikan hias di tempat publik seperti bandara, perkantoran, tempat ibadah dan lainnya.  Terdapat tiga target output pada strategi ketujuh yang sifatnya langsung menyentuh masyarakat umum, yaitu : 1) Terlaksananya sosialisasi tentang ikan hias di 34 provinsi, 2) Peningkatan kesadaran masyarakat masyarakat tentang sumberdaya ikan hias asli perairan Indonesia dan 3) Meningkatnya pengetahuan dan ketrampilan masyarakat mengenai ikan hias.

Selain kebijakan tersebut, diperlukan gerakan kultural agar pembangunan industri ikan hias dapat membumi. Salah satu bentuk gerakan kultural yang dapat digalang adalah Gerakan Nasional Satu Rumah Satu Akuarium (Sarusarium). Akuarium yang dimaksud paling tidak ada wadah yang dimanfaatkan untuk memelihara ikan hias meskipun dalam bentuk gelas kaca. Ikan yang dipeliharapun tidak mesti ikan yang mahal ataupun komersil, tapi dapat mengandalkan komoditas lokal yang terdapat pada setiap daerah. Melalui gerakan ini, diharapkan minat masyarakat untuk menjaga ikan lokal di daerahnya akan semakin meningkat. Dampak jangka panjangnya, maka akan terdapat peningkatan ekonomi dari usaha ikan hias, perdagangan pakan ikan hias beserta asesoris akuarium. Dampak psikologis lainnya,  masyarakatpun dapat menumbuhkan hobi alternatif yang dapat mengurangi ketergantungan pada perangkat elektronik seperti gadget dan televisi. Sebagaimana diketahui, ketergantungan pada gadget dan televisi telah banyak berdampak negatif pada generasi milenial (solusisehatku.com). Maka aktifitas bersahaja seperti memelihara ikan ikan hias dapat menjadi satu alternatif membangun karakter generasi ke depan.

Meningkatkan promosi ikan hias juga dapat dilakukan dengan menunjuk Duta Ikan Hias Nasional. Balai Riset Budidaya Ikan Hias pernah mengadakan pemilihan Duta Ikan Hias saat pembukaan kegiatan REIKKA (Rekreasi, Edukasi, Informasi, Komunikasi, Konservasi, dan Atraksi), 6 November 2014 (harnas.co). Namun Duta Ikan Hias ini kurang efektif karena bukan berasal dari publik figur yang juga memiliki kesadaran dan minat akan pentingnya menjaga ikan hias Indonesia. Duta ikan hias diharapkan dapat menjadi relawan untuk mensosialisasikan program strategis dalam RAN pembangunan industri ikan hias ke masyarakat, tidak hanya melalui forum-forum resmi tapi juga dalam kesehariannya baik di lingkungan sekitar maupun di media sosial. Hal ini penting, mengingat kecenderungan orang meniru hobi dari publik figur yang diidolakan.

Diharapkan melalui gerakan Sarusarium dan Duta Ikan Hias Nasional, kesadaran masyarakat akan pentingnya ikan hias akan semakin meningkat. Dan membumikan ikan hias bukan menjadi barang mustahil di negeri ini. Taraf hidup masyarakatpun dapat lebih meningkat melalui aktifitas komersial yang berhubungan dengan usaha ikan hias dan perdagangannya. Bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum hingga kaum tersebut mengubah nasibnya sendiri (Q.S. Ar Ra’d : 11), maka tidak akan ada yang memajukan ikan hias Indonesia, jika bukan masyarakat negeri ini sendiri. Yakin Usaha Sampai. Salam !!!

Ahmad Musa Said

Peneliti pada Balai Riset Budidaya Ikan Hias – Kementerian Kelautan dan Perikanan, Anggota Majelis Nasional KAHMI Bidang Kelautan dan Perikanan. ahmadmusasaid@kkp.go.id

Related posts