Gubernur Sulsel Dorong Peningkatan Ekspor di Tengah Penguatan Dollar

Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah (Foto : Pemprov Sulsel)

Makassar, KABAROKE — Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah (NA), mendorong peningkatan ekspor berbagai komoditas unggulan provinsi di tengah menguatnya mata uang dollar terhadap rupiah. Olehnya itu, Nurdin mengapresiasi langkah kalangan pengusaha di Sulsel yang terus berupaya mengintensifkan pengiriman komoditas unggulan ke luar negeri.

Teranyar, Sulsel melalui CV Agro Lestari Mandiri melakukan ekspor bonggol jagung ke Jepang sebanyak tiga kontainer dengan jumlah total 75 ton. Ia menyebut ekspor bonggol jagung harus ditingkatkan di tengah kenaikan dollar. Namun, di sisi lain, penerapan teknologi juga tetap diperlukan. Bonggol jagung sendiri saat ini digunakan sebagai media tanam untuk jamur.

“Jadi bukan hanya jamur, pasti ada yang lain, selama ini menjadi limbah, sekarang menjadi dollar. Saya kira ke depan itu, kita mendorong semua komoditas kita orientasi pada ekpsor,” ucap Nurdin, di Makassar.

Nurdin juga menekankan keuntungan dari ekspor bukan hanya dirasakan eksportir, tetapi juga harus dirasakan oleh para petani. Kondisi saat ini, kadang petani menanam jagung hanya saat harganya sedang mahal dan sedang musim tanam. Alhasil, siklus pertanian seperti ini perlu diperbaiki.

Kendala lain, Nurdin melanjutkan yang dihadapi adalah harga jagung yang fluktuatif. Untuk itu, perlu ada standar harga jagung serta pinjaman yang aman dan menguntungkan petani.

“Ketika panen raya harga jagung murah, ketika musim tanam harga jagung mahal, oleh karena itu pasar kita ajak, perbankan kita ajak, supaya petani tidak bergantung lagi pada sistem ijon, tidak lagi bergantung pada pinjaman rentenir, jadi perbankan ikut back-up,” harapnya.

Untuk itu, dalam waktu dekat pemerintah akan melakukan kerjasama dengan para pengusaha jagung.

Ekspor bonggol jagung Sulsel sendiri dimulai tahun 2011 oleh CV Agro Lestari Mandiri dengan jaringan ekspor pertama ke Korea Selatan. Seiring tahun berjalan, ekspor pun ditingkatkan dan negara tujuan semakin beragam. Saat ini dalam sebulan dapat mengekspor 150 ton, sedangkan kebutuhan Jepang sendiri sebanyak 4.000-5.000 ton. Sebagian besar kebutuhan tersebut dipenuhi dari China dan Vietnam. (***)

Related posts