Kian Banyak Mahasiswa Indonesia yang Studi ke Belanda

Belanda Dikenal Sebagai Negara Kincir Angin (Foto: Internet)

Bandung, KABAROKE — Jumlah mahasiswa yang berlajar ke negeri Belanda meningkat sekitar 50%. Para mahasiswa tersebut menggunakan dana pribadi bukan berasal dari beasiswa.

Direktur Nuffic Neso Indonesia, Peter van Tuijl mengatakan saat ini para orang tua mahasiswa Indonesia sudah memiliki pola pikir yang maju dengan menyekolahkan anakya di luar negeri. Selain Itu sebagai bentuk investasi mereka bagi masa depan anak-anaknya.

“Ini salah satu manivestasy masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan. Sebaagian dari merka berinvestasi kuliah di luar negeri,” katanya dilansir dari Warta Ekonomi.

Peter juga mengapresiasi para orang tua mahasiswa Indonesia yang memikiki unisiatif untuk melanjukan oendidikannya di negeri kincir angin itu. Pasalnya, meski Pemerintah Belanda sudah menyediadkan beasiswa bagi mahasiswa Indonesia tapi mereka memilih membiayai sendiri.

“Saya sangat mengapresiasi ada orang tua siswa dari Indonesia yang berpikir seperti itu. Meskipun ada bantuan dalam bentuk beasiswa tapi pihaknya mendukung kemauan oendidikan di Indonesia,” jelasnya.

Peter mengungkapkan kualitas pendidikan di Belanda tidak diragukan lagi. Saat ini 13 dari 14 Universitas riset yang dibiayai oleh negara sudah masun ke dalam 200 besar rankimg dunia..

Hal ini terbukti, lebih dari 112 ribu mahasiswa internasionak menempuh salah satu dari 2.100 program studi internasional di Belanda pada tahun akademik 2017-2018.

“Sebanyak 164 negara saat ini sedang mengeyam pendidikan di institusi pendidikan tinggi Belanda,” ujarnya.

Dia menambahkan program studi yang paling banyak diikuti oleh mahasiswa Indonesia yakni bidang bisnis dan manajemen, perairan, pertanian, maritim dan manajemen airnyang merupakan salah satu keunggulan Belanda.

Sementara itu, dala mempersiapkan menhadapi tantangan MEA, kata Petter, para lulusan Nuffic neso dibekali sertifikasi profesi. Menurutnya standar persyaratan kerja saat ini memmang memelukan sertifikasi yang diakui oleh dunia kerja. Selain itu dengan adanya digital ekonomi para lulusan diperkenalkan dengan salah satu bentuk hisnis baru yakni start up.

“Sertifikasi profesi menjadi sesuatu yang penting karena jika mahasisa Indonesia sudah kuliah di Belanda. Setelah lulus mereka otomatis mendapatkan sertikasi profesi itu,” ujarnya.

Adapun, Koordinator promosi Pendidikan Nuffic Neso, Inty Dienasari menyebutkan pihaknyanakan melakukan sosialisasi peluang studi dan riset di Belanda ke beberapa kota seperti Jakarta, Bogor, Surabaya, Medan, Yogyakarta dan Bandung.

“Khusus di Bandung, kami akan hadir di ITB, Unpar Maranatha, Unjani dan tel-U untuke memberikan informasi terkait riset dan studi di Belanda,” pungkasnya. (***)

Related posts