Target Produksi Nikel Vale untuk 2019 Tetap 75.000 Ton 

PT Vale (Foto : Istimewa) 

Makassar, KABAROKE — PT Vale Indonesia tidak menambah target produksi nikel pada 2019. Perusahaan masih mematok target revisi produksi tahun sebelumnya sebesar 75.000 metrik ton nikel. Manajemen PT Vale Indonesia beralasan masih adanya rencana pemeliharaan membuat produksi nikel tidak bisa optimal.

Senior Manager Communications PT Vale Indonesia, Bayu Aji, menyampaikan target produksi 75.000 metrik ton pada tahun ini cukup realistis. Perusahaan tidak bisa mematok target tinggi tatkala mengetahui adanya kemungkinan pengurangan produksi nikel yang merupakan dampak dari pemeliharaan.

“Target kita (PT Vale Indonesia) masih sama ya 75.000 ton nikel. Kita tahu akan adanya pengurangan produksi, makanya targetnya tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya,” ujar Bayu di Makassar.

“Tahun ini kita kan ada program penguatan bendungan, ya satu dari tiga bendungan (yang menghasilkan tenaga listrik untuk PT Vale Indonesia). Itu untuk memperbaharui resistensi gempa, jadi akan dilakukan maintenance yang dampaknya tenaga listrik yang dihasilkan tidak sesuai (sehingga berpengaruh ke produksi nikel),” sambung Bayu menjelaskan.

Produksi nikel dari PT Vale Indonesia diketahui mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, pada 2018, produksi nikel perusahaan asing tersebut gagal memenuhi target revisi yang sudah diturunkan. Produksi nikel 2018 hanya 74.806 metrik ton atau di bawah target awal dan target revisi yang masing-masing sebesar 77.000 metrik ton dan 75.000 metrik ton.

CEO dan Presiden Direktur PT Vale Indonesia, Nico Kanter, sebelumnya mengungkapkan penurunan produksi nikel pada tahun lalu dipengaruhi berbagai faktor. Utamanya terkait dampak pemeliharaan pada triwulan III 2018. Selain itu, kandungan rata-rata nikel hasil produksi pada 2018 ternyata lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

“Penurunan ini terutama didorong oleh kandunganrata-rata nikel yang lebih rendah pada tahun 2018 dan dampak dari kegiatan pemeliharaan yang tidak terencana pada pada triwulan III 2018,” kata Nico Kanter.

Meski produksi nikel menurun, PT Vale Indonesia tetap mencatatkan penjualan yang tinggi mencapai US$776,9 juta pada 2018. Terjadi kenaikan 23% dibandingkan penjualan perusahaan pada tahun lalu sebesar US$629,3 juta. Peningkatan penjualan dipengaruhi berbagai faktor, baik itu harga realisasi rata-rata nikel maupun harga bahan bakar dan batu bara. (***)

Related posts