Akademisi: Mudah Ukur Kejujuran Kandidat Lewat Asal Usul Pembiayaan Pilgub

Akademisi Universitas Borobudur Andi Rusdi

Akademisi Universitas Borobudur Andi Rusdi

Jakarta, KABAROKE — Isu kejujuran kandidat banyak memantik perhatian warga Sulsel di Pilgub Sulsel 2018. Di mata akademisi Universitas Borobudur Jakarta, DR Andi Rusdi, salah satu cara sederhana mengukur kejujuran kandidat adalah keterbukaan soal dana kampanye dan pemenangan pilgubnya.

“Ini tolok ukur sederhana yang bisa dipakai oleh masyarakat Sulsel untuk mengukur kejujuran kandidat. Lihat berapa besar dana kampanyenya, bisakah dipertanggungjawabkan asal usul dananya, dan apakah penggunaannya bisa dipertanggubgjawabkan?” kata putra Sulsel ini.

Menurut doktor ilmu hukum ini, perlu mengetahui berapa biaya kampanye dan pemenangan masing-masing kandidat. Potret legitimate itu ada pada dana kampanye yang dilaporkan ke KPU. Meski sudah menjadi pemahaman umum jika yang dilaporkan biasanya hanya 20 persen dari total anggaran yang bakal dihabiskan.

“Akan kelihatan kualitas kejujuran kandidat lewat dana yang dilapor ke KPU. Kita bisa mengukur apakah itu rasional atau tidak. Kalau ada yang lapor biaya kampanye dan pemenangan hanya 5 sampai 10 miliar, bersandar pada realitas pilgub sejauh ini, rasa-rasanya tidak rasional,” sebut Rusdi, Sabtu 26 Mei 2018.

Di matanya, pilgub untuk wilayah sekelas Sulsel butuh cost pemenangan tidak di bawah Rp200 miliar. Bahkan beberapa tokoh yang pernah diajaknya berdiskusi malah menyebut untuk menang butuh tidak di bawah Rp300 miliar.

Persoalan kedua, sambung Rusdi, harus disandarkan pada profil kandidatnya. “Kan agak aneh kalau sekiranya bukan pengusaha lalu bisa mengumpulkan uang sebanyak itu. Kalau sekelas bupati dua periode, saya tidak yakin bisa mengumpulkan dana sampai sebegitu banyak untuk menutupi kebutuhan kemenangannya. Ini publik perlu curigai dananya itu dari Mana?” tegasnya lagi. (**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *