Bapeten Siapkan 126 Stasiun Pemantau Radiasi Nuklir

Ilustrasi
Ilustrasi

Makassar, KABAROKE — Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) menggandeng Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mempersiapkan pengoperasian 126 stasiun pemantau radiasi nuklir di Indonesia. Keberadaan stasiun tersebut dimaksudkan untuk mengantisipasi penyalahgunaan teknologi nuklir yang membahayakan umat manusia.

Kepala Bapaten, Jazi Eko Istiyanto, mengungkapkan keberadaan stasiun tersebut penting sebagai langkah preventif atas bahaya penyalahgunaan teknologi nuklir. Diketahui, sejumlah uji coba bom hidrogen dilakukan oleh Korea Utara yang bisa berdampak ke Indonesia. Kekuatan bom itu disebut-sebut melebihi bom atom di Hirosima dan Nagasaki Jepang pada Perang Dunia II.

Eko mengungkapkan pihaknya memasang 126 Radiation Data Monitoring System atau RDMS di seluruh stasiun BMKG. “Kenapa 126? Ya karena itu dipasang di stasiun BMKG. Daripada harus membangun lagi yang tentunya membutuhkan anggaran,” kata Eko.

Menurut Eko, sistem BMKG dalam mendeteksi gempa atas percobaan nuklir sudah cukup mumpuni. Makanya, sambung dia, pihaknya memilih mengoptimalkan fasilitas yang ada ketimbang harus membangun baru. “BMKG itu sudah punya sistem yang dapat mendeteksi gempa dari percobaan nuklir Korea Utara,” tuturnya.

Eko memaparkan dengan pemasangan stasiun pemantau radiasi nuklir, dampak-dampak negatif bisa diminimalisir. Toh, stasiun tersebut akan memberikan peringatan dini bila terjadi bahaya penyalahgunaan tenaga nuklir yang bisa berdampak ke Indonesia. Diharapkan dia, sedari dini masyarakat memahami bahaya dan kegunaan teknologi nuklir.

“Kenapa kita pasang itu? Kami mau masyarakat menyadari, meskipun Indonesia tidak punya PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir), tapi ancaman itu bisa juga datang dari teroris nuklir,” ucap Eko.

Baca Juga  Pembangun Apartemen Bagi Legislator Dibatalkan, Ini Pertimbangannya

Eko bercerita serangan teror menggunakan teknologi nuklir sangatlah berbahaya dan mematikan. Ia sempat mengaitkan serangan teror yang terjadi di Kota Bandung, Jabar pada Juli lalu, yang dianggapnya hampir mengarah kepada bentuk serangan menggunakan senjata berbasis nuklir.

Menurut dia, bahan kimia yang ramai diberitakan media yang terkandung dalam bom yang dirakit pelaku adalah unsur thorium. Dalam dunia nuklir, unsur thorium dapat digunakan untuk membangkitkan kekuatan nuklir. “Kalau baca berita yang di Bandung, itu kan sudah menggunakan kaus lampu petromaks. Itu mengandung thorium, tapikan gagal.”

“Tapi kalau misalnya dia (pelaku) pakai drone, kemudian disebar seperti menebar pupuk, lalu di kerumunan disebar, orang yang kena itu tidak luka, tidak kebakar, tidak menyadari, tapi dia kena efek radiologis. Entah kapan efeknya itu akan kena kanker beberapa tahun kemudian, atau anak cucunya yang mengalami permasalahan genetis,” sambung Eko.

Menurut Eko, bahaya penyalahgunaan teknologi nuklir ke aksi terorisme mesti menjadi perhatian bersama. Sedangkan ihwal kekhawatiran masyarakat soal penggunaan teknologi nuklir untuk PLTN, Eko mengatakan merupakan hal yang wajar. Namun, penggunaan teknologi nuklir pada PLTN lebih baik lantaran masih bisa diawasi. Malah, pemanfaatan teknologi nuklir sangat berguna bagi masyarakat. (***)


Was This Post Helpful:

0 votes, 0 avg. rating

Share:

Leave a Comment