BI : Beras Picu Inflasi Sulsel pada Awal 2018

Pengadaan Beras di Gudang Bulog (dok net)
Pengadaan Beras di Gudang Bulog (dok net)

Makassar, KABAROKE — Laju inflasi Sulsel periode awal tahun ini mencapai 0,81 persen. Beras dan cabai rawit menjadi komoditas yang memiliki andil besar dalam mengerek inflasi periode Januari 2018. “Andil terbesar inflasi kali ini berasal dari beras (0,25 persen) diikuti cabai rawit (0,12 persen),” kata Kepala Kantor Perwakilan BI Sulsel, Bambang Kusmiarso, Jumat, 9 Februari.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) maupun Badan Pusat Statistik (BPS), selain beras dan cabai rawit, komoditas lain yang mengalami inflasi adalah upah tukang bukan mandor (0,08 persen). Disusul tomat buah (0,07 persen), daging ayam ras (0,03 persen), ikan layang (0,03 persen), tomat sayur (0,02 persen) dan kacang panjang (0,02 persen).

Bambang mengungkapkan meski terjadi inflasi, terdapat beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga. Di antaranya yakni angkutan udara (-0,02 persen), telur ayam ras (-0,02 persen), daging sapi (-0,01 persen), bahan bakar rumah tangga (-0,01 persen), apel (-0,008 persen) dan kol putih/kubis (-0,008 persen).

Secara umum, Bambang menerangkan inflasi Sulsel pada Januari 2018 berada di atas angka nasional sebesar 0,62 persen. Meski demikian, laju inflasi pada awal tahun ini berada di bawah torehan bulan sebelumnya mencapai 1,04 persen. “Meski lebih tinggi dari nasional, inflasi Sulsel pada Januari 2018 lebih rendah dari tahun sebelumnya,” tuturnya.

Baca Juga  BPS : IPM Makassar Tertinggi di Sulsel

Masih merujuk data BI maupun BPS, inflasi tertinggi di Sulsel terjadi di Parepare (1,38 persen). Disusul Bulukumba (1,31 persen), Bone (1,28 persen), Palopo (1,25 persen) dan Makassar (0,67 persen). Dengan perkembangan IHK tersebut, inflasi Sulsel secara tahunan sebesar 4,11 persen, lebih tinggi daripada inflasi nasional sebesar 3,25 persen.

Kepala BPS Sulsel, Nursam Salam, mengatakan inflasi yang dialami Sulsel dipicu kenaikan harga lima dari tujuh kelompok pengeluaran. Kenaikan tertinggi dicatat indeks harga pada kelompok bahan makanan sebesar 2,63 persen. Disusul kelompok perumahan (0,45 persen), kelompok makanan jadi,minuman, rokok dan tembakau (0,34 persen), kelompok kesehatan (0,21 persen) dan kelompok sandang (0,18 persen).

“Di sisi lain, ada dua kelompok pengeluaran yang menurun. Itu adalah kelompok transport, komunikasi dan kelompok jasa keuangan mengalami penurunan masing-masing sebesar 0,01 persen dan 0,09 persen,” pungkas dia. (*)


Was This Post Helpful:

0 votes, 0 avg. rating

Share:

Leave a Comment