Inspiratif, Pemuda Makassar Ini Ciptakan Pemutar Radio dan TV Berbasis Android

Cristianto Rian Founder Tarrasmart

Cristianto Rian Founder Tarrasmart

Makassar, KABAROKE — Bermula dari niat tulus membantu teman-temannya di kampus, Cristianto Rian (25) memutar otak menciptakan aplikasi pintar pengganti radio dan televisi alias TV. Tidak pernah disangkanya, aplikasi yang dinamakan Tarrasmart itu menjadi pintu untuk memasuki dunia bisnis start-up digital. Berkat aplikasi yang telah teruji di pentas internasional tersebut, Rian terpilih sebagai salah satu pengusaha muda yang dibina oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk masuk program inkubator sebelum terjun ke pasar modal.

Ryan bercerita mulanya tidak ada niat bisnis saat menciptakan aplikasi Tarrasmart pada 2013. Selain untuk membantu teman, aplikasi tersebut dibuat semata lantaran senang berinovasi dengan teknologi informatika. Maklum, Rian kala itu masih tercatat sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Teknologi (STMIK) Dipanegara. Di masa awal peluncuran Tarrasmart, aplikasi tersebut diakui Rian cukup ribet penggunaannya karena hanya tersedia melalui website dan sebatas menampilkan radio. Tarrasmart sendiri merupakan singkatan dari Transformation Radio For Live Smart.

“Tarrasmart lahir dari ide bersama teman-teman di kampus. Saya bersama dua teman seangkatan melihat banyak teman-teman yang tidak memiliki radio dan TV di kos, tapi punya ponsel dengan jaringan internet. Pertamakali kemunculannya, meski hanya sebatas radio, aplikasi Tarrasmart sudah cukup banyak digunakan mahasiswa dan masyarakat di sekitaran kampus. Kan lumayan, aplikasi ini bisa digunakan untuk dengar radio sambil mengerjakan tugas kampus,” kata Rian.

Seiring waktu, Rian menjejalkan program TV dalam Tarrasmart, disusul transformasi aplikasi pintar tersebut berbasis Android pada 2015. Di masa awal Tarrasmart, diakui pemuda asal Kota Daeng itu cukup banyak hambatan yang harus dihadapi. Mulai dari seringnya terjadi error pada aplikasi dan terbatasnya modal untuk pengembangan Tarrasmart. Puncak problematika yang dihadapinya, Rian menyebut tatkala dua rekannya yang merupakan founder Tarrasmart meninggalkannya. Mereka menyerah pada 2016 karena mengganggap prospek Tarrasmart sangat kecil untuk berkembang dan menghasilkan uang.

“Saya sempat merasakan jatuh saat ditinggalkan dua teman yang menjadi founder Tarrasmart. Mereka mungkin capek karena sudah menghabiskan waktu dan tenaga tapi tidak ada hasil. Untuk tutupi biaya produksi, kami memang sangat kewalahan dan harus merogoh uang pribadi. Maklum, mulai 2013 hingga 2016, Tarrasmart hanya menghasilkan Rp2 juta. Itu juga karena kami tidak ada yang tahu soal bisnis, hanya paham mengenai teknologi,” ungkap pemuda berkumis tipis ini.

Sepeninggal dua founder Tarrasmart, Rian mencoba kuat dan melanjutkan bisnis start-up digitalnya dengan belajar bisnis secara otodidak dan aktif mencari akses untuk memperkenalkan aplikasi ciptaannya. Titik balik alias kebangkitan Tarrasmart terjadi berkat bantuan Bekraf. Pada 2016, Ryan mengikuti program BEKUP alias Bekraf untuk Pre-Start-up 01. Di situ, ia memperoleh banyak ilmu, khususnya mengenai pengelolaan bisnis start-up digital.

Melalui bantuan dan binaan Bekraf, Rian mengembangkan Tarrasmart menjadi aplikasi yang lebih menarik dan meminimalisir terjadinya error. Perlahan tapi pasti, Tarrasmart pun semakin diminati, meski diakuinya masih perlu sentuhan untuk optimalisasi program. Ide bisnis start-up digital milik Rian lantas diikutkan dalam kompetisi yang dibuat Bekraf dan berhasil terpilih untuk menjadi salah satu wakil Indonesia di Start-up Istanbul pada 2016.

Rian mengatakan sepulang dari Start-up Istanbul, Tarrasmart lantas ditawari untuk mengikuti seleksi masuk program inkubator. Berbekal konsep bisnis dan teknologi ala Tarrasmart, usaha Rian itu terpilih dan kini dalam proses persiapan untuk masuk papan pengembangan yang digagas BEI atau Indonesia Stock Exchange (IDX). “Patut disyukuri, Tarrasmart dilirik untuk masuk program inkubator IDX. Dari situ, semoga bisa mendapatkan investor atau angel investor untuk pengembangan usaha,” ucap dia.

Disinggung mengenai pengembangan Tarrasmart, Rian menjelaskan untuk pendanaan, pihaknya belum berpikir untuk mengambil pinjaman dari bank. Tarrasmart condong memilih menggunakan skema investasi. Terlebih, usahanya tersebut sudah masuk binaan dari Bekraf dan BEI yang sedang mengupayakan menggaet investor dan angel investor. Sejauh ini, lanjut Rian, omzet Tarrasmart pun sudah lumayan besar dibandingkan pada masa awal yang cuma mampu meraup Rp2 juta dalam rentang dua tahun lebih.

“Tarrasmart sudah menghasilkan pendapatan yang bisa menghidupi setidaknya sekitar lima karyawan dan belum lama ini juga kami sudah miliki kantor tersendiri. Intinya, hasil kerja keras sejak 2013 sudah mulai menunjukkan hasil,” ucap Rian.

Rian mengimbuhkan lima karyawan di Tarrasmart itu dibaginya dalam dua divisi yakni devolepment alias pengembangan dan marketing alias pemasaran. Tiga karyawan disebutnya berfokus pada pengembangan aplikasi. Dalam rentang waktu enam bulan mendatang, pihaknya berusaha mengembangkan aplikasi Tarrasmart menjadi lebih baik, termasuk upaya memasuki basis IOS. Adapun dua karyawan lainnya berfokus pada pemasaran, baik itu secara offline dan online.

Untuk pemasaran offline, Rian menerangkan pihaknya aktif mengikuti pelbagai kegiatan pengembangan usaha dan bekerjasama dengan sejumlah radio untuk mempromosikan aplikasi Tarrasmart. Sedang, untuk pemasaran online, pihaknya bekerjasama dengan sejumlah komunitas untuk memperkenalkan Tarrasmart di sejumlah media sosial, seperti Instagram, Facebook dan Twitter. Diakui Rian, pihaknya belum terlalu fokus untuk pemasaran lantaran terlebih dulu ingin memastikan pengembangan aplikasi Tarrasmart berjalan baik. (tyk)

OPINI : Pilkada Takalar, Barometer Pilgub Sulsel?

Ilham Azhari Said

Ilham Azhari Said

Makassar, KABAROKE — Rabu, 15 Februari 2017 menjadi momentum yang menarik perhatian jutaan masyarakat Indonesia. Sejumlah daerah di tanah air menggelar pesta demokrasi untuk menentukan nasib daerahnya selama lima tahun kedepan. Kabupaten Takalar, merupakan salah satu dari 101 daerah di Indonesia yang melaksanakan pesta demokrasi sekaligus menjadi satu-satunya daerah di Provinsi Sulawesi Selatan yang ikut dalam kontestasi pilkada serentak di seluruh Indonesia. Tidak kalah dengan situasi politik Ibu Kota, hiruk pikuk yang menyelimuti pilkada Takalar pun cukup seksi di kalangan masyarakat Takalar pada khususnya serta masyarakat Sulawesi Selatan pada umumnya.

Seperti yang kita ketahui, pilkada Takalar melahirkan pertarungan dua pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati, yakni pasangan Burhanuddin Baharuddin dan M. Natsir Ibrahim (Bur-Nojeng) serta pasangan Syamsari Kitta dan Achmad Dg. Se’re (SK-HD). Pasangan Bur-Nojeng menjadi pasangan yang diusung oleh paling banyak partai di pilkada Takalar. Partai Golkar, PDIP, Gerindra, PPP, Demokrat, Hanura, PAN, PKPI serta PBB menjadi sederet partai yang mengusung pasangan nomor urut 1 tersebut. Sementara pasangan nomor urut 2, SK-HD hanya diusung oleh tiga partai, yakni Partai NasDem, PKB dan PKS.

Dari sederet partai pengusung kedua pasangan, dua partai yang bisa disebut sebagai motor koalisi pemenangan dua kubu adalah Parti Golkar yang digawangi oleh Nurdin Halid serta Partai NasDem yang digawangi oleh Rusdi Masse. Nurdin Halid dan Rusdi Masse sendiri merupakan nahkoda baru dari dua partai tersebut. Hal lain yang menjadi daya tarik adalah fakta bahwa dua nama tersebut menjadi tokoh yang santer disebut sebagai bakal calon gubernur Sulawesi Selatan. Tidak heran, pilkada Takalar juga disebut-sebut sebagai uji coba awal bagi kedua tokoh tersebut untuk memuluskan langkahnya pada pemilihan gubernur mendatang.

Pada pilkada Takalar sendiri, hasil website KPUD Takalar menunjukkan bahwa pasangan SK-HD memenangkan pertarungan dengan 88.113 suara (50,58%) unggul dari pasangan Bur-Nojeng yang meraih 86.090 suara (49,42%). Kemenangan SK-HD dari Bur-Nojeng tersebut dinilai oleh banyak kalangan sebagai kemenangan Rusdi Masse atas Nurdin Halid. Pertanyaannya, benarkah demikian? Dapatkah kita sebut bahwa pilkada Takalar mampu menjadi barometer pilgub yang melibatkan Rusdi Masse dan Nurdin Halid?

Terlalu dini memang untuk menyimpulkan. Apa tak lagi, selain dua tokoh tersebut di atas, masih banyak nama yang digadang-gadang akan bertarung pada pilgub Sulawesi Selatan mendatang. Sebut saja Agus Arifin Nu’mang, Nurdin Abdullah, Ichsan YL dan lain sebagainya. Namun demikian, ini tentunya telah menjadi warning tersendiri bagi para pesaing RMS, sapaan akrab Rusdi Masse pada kontestasi pemilihan gubernur di tanah Sulawesi Selatan yang akan datang. Terlebih RMS mampu memenangkan SK-HD di Kabupaten Takalar hanya dengan kekuatan tiga mesin partai politik. Lalu bagaimana kelanjutan dinamika politik di Sulawesi Selatan? Menarik untuk kita nantikan.

Oleh: Ilham Azhari Said

Bermodal Rp235 Ribu, Arianto Burhan Sukses Jadi Pengusaha

Wakil Ketua HIPMI Sulsel Arianto Burhan Makka

Wakil Ketua HIPMI Sulsel Arianto Burhan Makka

Makassar, KABAROKE — Menjadi pengusaha sukses tidak mesti memiliki modal besar atau garis keturunan orang kaya. Kegigihan dan etos kerja yang baik lebih utama untuk mengantarkan seseorang menjadi pengusaha sukses. Hal tersebut dibuktikan oleh Arianto Burhan Makka yang kini menjabat selaku Wakil Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda (Hipmi) Sulawesi Selatan.

Pria kelahiran Pinrang 9 Juni 1977 ini sukses menjalankan beberapa perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi, properti, event organizer, dan security operasional. Di antaranya Direktur Utama PT. Kayla Devi Rezeky Utama, Direktur Utama PT. Perisai Patriot 234.

Untuk mencapai prestasi yang sekarang, perjalanan Anto, sapaan akrab Arianto, penuh dengan liku-liku. Ia bercerita, pernah merasakan tak memiliki uang sepeser pun. Padahal waktu itu ia telah berkeluarga. Anto pun merenung dan terus menyemangati diri sendiri. Sampai akhirnya perlahan tapi pasti, Anto mulai bangkit.

Pria yang mudah bergaul ini mulai membangun bisnis. Melalui kemampuan dan kecerdasan manajerial serta jaringan yang luas, lulusan Teknik Sipil UMI ini akhirnya sukses mengelola bisnisnya. Selain mengelola perusahaan, ayah dua anak ini juga dipercaya memimpin beberapa organisasi, antara lain Ketua Badan Pengusaha Pemuda Pancasila (BP-PP) Sulsel, Ketua Asosiasi Kontraktor Air Indonesia (AKAINDO), dan Wakil Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda (HIPMI) Sulsel.

Meski telah berhasil, Anto tidak jumawa. Dia justru bergerak untuk menularkan kesuksesannya itu kepada orang lain, khususnya para pemuda dan mahasiswa yang ingin menjadi pengusaha. Sebagai Wakil Ketua Umum Hipmi Sulsel, Anto turun tangan langsung membina pengusaha pemula.

“Usaha pertama saya dulu bermodalkan Rp235 ribu dari bantuan senior di kampus” kata Anto, seperti dilansir dari cendananews.com, Kamis, 9 Februari.

Arianto menghabiskan waktu masa kecil di pinrang, barulah setelah kuliah ia baru meninggalkan Kabupaten Pinrang menuju Makassar. Setelah kuliah di UMI dia baru termotivasi menjadi pengusaha. Dia memulai usaha pertamanya yaitu membangun PT. Kayla Devi Utama.

Lahir ditengah keluarga yang bukan pengusaha. Arianto Burhan Makka juga sempat mengalami beberapa kali kegagalan, tak menyurutkan niatnya untuk menjadi seorang pengusaha sukses seperti sekarang ini. “Saya dapat mengatur waktu saya sendiri kapan kita mau santai kapan kita akan bekerja tanpa terikat oleh apa pun dan siapa pun,” katanya sambil tertawa.

Laki-laki yang mengidolakan Baginda Muhamad rasulullah S.A.W ini. Sangat memegang teguh filsafat hidupnya, yaitu fokus dan konsisten terhadap apa yang dijalaninya

Bagi warga Sulsel, Arianto dianggap figur yang pemuda yang memberikan inspirasi. Saat ini dia dipercaya memimpin berbagai organisasi di Makassar, seperti Ketua Asosiasi Kontraktor Air Indonesia Makassar, Wakil Ketua Umum Hipmi Sulsel, dan juga Ketua Badan Pengusaha Pancasila.

Tidak hanya sibuk dengan keorganisasian. Sekarang ini juga ia disibukan dengan perannya sebagai seorang aktivis yang memper juangkan ekonomi kerakyatan, dan berhasil menciptakan 100 pengusaha muda.

Walaupun di tengah kesibukannya dia tidak lupa dengan keluarganya. Setiap akhir pekan ia selalu meluangkan waktu dengan anak-anaknya kedepannya ia berharap bukan cuma dirinya yang sukses menjadi seorang pengusaha, namun ia juga ingin mengajak pemuda yang lain untuk menjadi pengusaha sama seperti dirinnya saat ini. (***)

Kisah Nuraeni Berdayakan Perempuan Pesisir di Kota Daeng

Nuraeni Berhasil Memberdayakan Perempuan Pesisir dalam Kelompok Usaha dan Koperasi Fatimah Az-Zahra [dok net]

Nuraeni Berhasil Memberdayakan Perempuan Pesisir dalam Kelompok Usaha dan Koperasi Fatimah Az-Zahra [dok net]

Makassar, KABAROKE — Nuraeni (49), tidak pernah menyangka bisa mengubah musibah menjadi anugerah berupa keberhasilan dalam dunia usaha. Dulunya, ibu tiga ini sempat terpuruk setelah kepergian sang suami, Ambo Rusdi, akibat serangan jantung pada 2004. Bermodal kegigihan, ia membalikkan nasibnya dan sukses dalam bisnis pengolahan ikan dengan memberdayakan perempuan pesisir alias istri nelayan. Omzet usahanya bisa melampaui Rp100 juta per bulan, bergantung pesanan.

Nuraeni mengenang motivasi awalnya menjalani usaha pengolahan ikan untuk menghidupi ketiga anaknya sepeninggal sang suami. Selain itu, ia tergerak melihat kondisi perempuan pesisir yang terbelenggu utang oleh tengkulak. Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan anak putus sekolah menjadi fenomena yang terus disaksikannya secara berulang. Bersama dua rekannya, ia pun memulai bisnis pengolahan ikan dari dana patungan yang terkumpul Rp 1,5 juta pada 2007.

“Ini yang mungkin disebut the power of kepepet. Tapi, usaha ini juga dibangun dari keprihatinan terhadap perempuan pesisir. Bila suaminya tidak melaut, maka terpaksa mengutang ke tengkulak. Kondisi perekonomian yang rapuh itu sangat rawan dengan KDRT dan anak putus sekolah,” kata Nuraeni, saat ditemui di rumah sekaligus lokasi usahanya di Jalan Barukang III, Makassar, belum lama ini.

Nuraeni lantas berpikir keras untuk membuka usaha sesuai potensi sekitarnya. Tercetuslah ide membuat bisnis pengolahan ikan mengingat kawasannya dikenal sebagai kampung nelayan. Nuraeni dan dua rekannya lantas merekrut dua orang lagi dan membentuk kelompok wanita nelayan Fatimah Az-Zahrah. Mulanya, pihaknya cuma memproduksi abon ikan dengan pertimbangan dapat bertahan lama yakni sampai enam bulan. Total produksi maksimalnya kala itu hanya 35 kilogram per bulan.

Perlahan tapi pasti, usaha Nuraeni berkembang meski diwarnai pasang surut dan jatuh bangun dalam berbisnis. Kini, produksi abon ikan kelompok Fatimah Az-Zahrah bisa tembus 1 ton per bulan bila sedang musim haji dan musim liburan. Varian produknya tidak lagi sebatas abon, tapi berkembang dengan memproduksi bakso ikan, nugget ikan, otak-otak, bandeng tanpa tulang, fillet udang dan lainnya. Pihaknya juga menerima pesanan apapun yang berkaitan dengan produk olahan laut.

Keterbatasan akses pemasaran yang dirasakan Nuraeni saat merintis usaha tidak lagi berat. Produk olahan ikan kelompok perempuan pesisir semakin diminati dan tersebar di sejumlah kota di Indonesia, mulai Aceh hingga Timika. Meski begitu, persoalan kemasan diakui alumnus Fisipol Unhas ini masih perlu dibenahi agar bisa bersaing secara nasional. Upaya pemasaran secara online telah dilakukan, meski masih sangat terbatas.

“Saya tugaskan sekertaris untuk pemasaran online, baik itu di Facebook dan WhatsApp. Adapun bentuk pemasaran online lainnya, seperti di Tokopedia dan Bukalapak atau lainnya memang masih belum. Tapi, tentunya akan mengarah ke sana supaya tidak ketinggalan,” ucap peraih lebih dari 100 penghargaan di bidang kewirusahaan dan pemberdayaan masyarakat ini.

Bisnis pengolahan ikan yang digagas Nuraeni ini selanjutnya bertransformasi menjadi koperasi Fatimah Az-Zahrah. Jumlah anggotanya mencapai 600-an orang. Adapun untuk pekerja inti lebih dari 30 orang. Nuraeni tidak menampik manajemen risiko bisnisnya belum maksimal lantaran belum bisa mengasuransikan usahanya. Hanya para pekerjanya saja yang didaftarkan ke BPJS sebagai bentuk perlindungan baik dari aspek kesehatan maupun tenaga kerja.

Nuraeni masih mengupayakan pengembangan usahanya tersebut. Tiga tahun terakhir ini, bisnis pengolahan ikannnya bertumbuh cepat dan dilirik oleh PT Pertamina. Karena itu, pihaknya tidak lagi bertumpu pada Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI. Bisnis pengolahan ikannya juga disokong melalui dana CSR PT Pertamina.

Tidak cuma itu, bisnis pengolahan ikan kelompok Fatimah Az-Zahrah memperoleh kredit dari PT Pertamina melalui Program Kemitraan Bina Lingkungan. Anggaran yang diperoleh lebih besar dari KUR di perbankan. “Bunganya juga lebih rendah, tapi saya lupa angka persisnya,” tutur perempuan kelahiran 6 Agustus 1969 ini.

Olahan ikan kelompok Fatimah Az-Zahrah ini mampu terus bertahan selama 2o tahun berkat konsisten dengan kualitas rasa. Nuraeni berprinsip pembeli akan setia bila produk berkualitas, meski dengan harga sedikit di atas dibandingkan produk lain. Tak heran bila, produknya sangat diminati dan bisa dijumpai di toko oleh-oleh khususnya di Kota Makassar. Harganya pun bersaing dari Rp20 ribu hingga Rp140 ribu.

Tumbuh dan berkembangnya bisnis olahan ikan Fatimah Az-Zahrah tidak membuat Nuraeni jadi lupa diri. Komitmen mensejahterakan perempuan pesisir tetap dipegang teguh dengan menyisihkan keuntungan produk untuk membangun sekolah pesisir dan sekolah pelopor keadilan bagi kaum Hawa. Juga ada program khusus untuk lansia yang rutin dilaksanakan. (***)

OPINI : Pengaruh Politik dalam Penegakan Hukum

Direktur LBH Sapma Pemuda Pancasila Sulsel Hermawan Rahim

Direktur LBH Sapma Pemuda Pancasila Sulsel Hermawan Rahim

Makassar, KABAROKE — Membicarakan korelasi antara hukum dan politik merupakan kajian yang menarik di kalangan ahli hukum dan politik. Kajian ini menarik lantaran dua topik ini memiliki ranah yang berbeda. Hukum merupakan ranah yang nyata yang melihat sesuatu itu berdasarkan norma hukum yang mempunyai sifat pemaksaan. Hukum adalah wilayah “hitam putih” yang salah harus dihukum, yang benar harus dibebaskan bahkan mendapat penghargaan (rewards).

Adapun, politik merupakan ranah “kepentingan” sebagai corestone-nya. Terdapat pernyataan “politic is a goal attainment” yang berarti politik adalah alat untuk mencapai tujuan. Politik menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan, tidak peduli legal atau illegal sepanjang cara tersebut bisa mewujudkan tujuannya maka cara itulah yang ditempuh.

Yang menarik justru antara kedua topik yang berbeda itu ternyata mempunyai sifat yang saling mempengaruhi. Pada tataran realitas kedua topik tersebut kadang-kadang menunjukkan bahwa hukum dapat mempengaruhi politik atau sebaliknya politik dapat mempengaruhi hukum.

Terdapat tiga macam Jawaban untuk melihat hubungan antara hukum dan politik. Pertama, hukum merupakan determinan politik, kegiatan politik harus tunduk pada hukum, Kedua, pandangan yang melihat bahwa politik determinan atas hukum karena sesungguhnya hukum adalah produk politik yang sarat dengan kepentingan dan konfigurasi politik.

Terakhir alias ketiga pandangan yang melihat bahwa hukum dan politik merupakan dua elemen subsistem kemasyarakatan yang seimbang, karena walaupun hukum merupakan produk politik maka ketika ada hukum yang mengatur aktivitas politik maka politikpun harus tunduk pada hukum.

Ketiga macam jawaban di atas adalah bangunan teori yang dibangun berdasarkan realitas relasi antara dua sistem tersebut. sesungguhnya politik determinan atas hukum, hukum yang lahir merupakan cerminan konfigurasi politik. Dalam hubungan tarik menarik antara hukum dan politik maka sesungguhnya politik mempunyai energi yang cukup kuat untuk mempengaruhi hukum.

Asumsi dasar tadi memperlihatkan bahwa dalam konfigurasi politik yang demokratis maka yang lahir adalah produk hukum yang responsif/populistik, sedangkan konfigurasi politik yang otoriter melahirkan produk hukum yang konservatif /ortodoks dan elitis.

Isu lain yang menarik dikaji dalam hubungan antara hukum dan politik adalah pengaruh politik terhadap penegakan hukum. Kedua topik ini kadangkala mempunyai hubungan yang saling mempengaruhi. Politik merupakan ranah kekuasaan, kekuasaan itu bersumber dari wewenang formal yang diberikan oleh hukum. Hukum adalah norma sosial yang mempunyai sifat mendasar yaitu sifatnya yang memaksa yang membedakanya dengan norma sosial yang lain (agama, kesopanan dan susila ).

Karena sifatnya yang harus dipaksakan, maka hukum memerlukan kekuasaan (politik) untuk dapat berlaku dengan efektif. Hukum memerlukan kekuasaan bagi pelaksanaanya sebaliknya kekuasaan itu sendiri ditentukan batas-batasnya oleh hukum. Bahkan dalam slogan umum menggambarkan bahwa “Hukum tanpa kekuasaan adalah angan-angan, kekuasaan tanpa hukum adalah sebuah kelaliman”.

Penegakkan hukum merupakan konkritisi norma hukum dalam kasus nyata. 4 elemen penting yang harus terlibat. Pertama, hukum atau aturan itu sendiri, Kedua Mental aparat hukum, ketiga fasilitas pelaksanaan hukum, dan kesadaran dan kepatuhan perilaku masyarakat.

Dalam kaitannya dengan penegakkan hukum negara dengan sistem politik yang demokratis cenderung melahirkan sistem penegakkan hukum yang efektif sedangkan, negara dengan sistem politik yang otoriter akan melahirkan sistem penegakkan hukum yang tersendat.

Bahwa dengan politiklah yang akan memberi arah penegakkan hukum. Jika pemerintah memiliki kemauan politik (political will) yang baik dalam menegakkan hukum maka hukum dapat ditegakkan dengan baik. Jika penguasa tidak memiliki kemauan politik untuk menegakkan hukum, maka kecil harapan untuk menegakkan hukum dengan politik baik. Relnya adalah hukum dan keretanya adalah politik. Jika kereta keluar dari relnya maka kecelakaanlah yang terjadi, jika politik keluar dari ketentuan hukum maka kehidupan politik akan mengalami kejatuhan.

Dapat disimpulkan Bahwa Proses pembentukan hukum dan penegakan hukum ternyata sangat dipengaruhi oleh situasi politik. Politik dengan corak otoriter mempengaruhi produk hukum yang konservatif dan ortodoks dan melahirkan penegakkan hukum yang tidak baik. Sebaliknya politik yang demokratis melahirkan produk hukum responsif dan penegakan hukum yang baik.

Oleh :
Hermawan Rahim, SH (Advocate & Legal Consultant) dan Direktur LBH Sapma Pemuda Pancasila Sulsel

Wow, Polwan Cantik Ini Jago Jinakkan Ular

polwan ular

Selayar, KABAROKE — Tidak seperti wanita kebanyakan yang suka memelihara hewan lucu dan menggemaskan, Brigadir Dua Dewi H Husain, anggota Polres Selayar, lebih senang memelihara ular. Dewi bahkan telah memelihara binatang jenis reptil sejak duduk di bangku SMA. Tak heran bila polisi wanita (polwan) cantik ini dijuluki pawang ular.

Saking senangnya dengan ular, polwan asal Jeneponto ini biasa tidur bersama ular peliharaannya. Ia memelihara ular peliharaannya di rumah kontrakannya di Selayar. Tak ayal banyak temannya yang juga tinggal di rumah kontrakan itu enggaan mendekatinya karena takut dengan peliharaan Dewi.

“Tidak selalu saya tidur bersama ular, karena teman-teman Polwan yang serumah jadi enggan mendekat, tapi sebenarnya saya senang bermain dengan ular. Saya tak diajar siapa-siapa (menjinakkan ular). Ini lebih kepada perasaan, selama kita bersahabat dan tidak ada rasa takut mereka juga akan bersahabat,” ujarnya seperti dilansir dari laman resmi Polda Sulsel.

Kemampuan Dewi untuk menjinakkan ular dimulai sejak ia duduk dibangku SMA. Kebiasaannya itu dibawa hingga masuk kuliah di Fakultas Olahraga UNM. Bahkan, setelah lulus di kepolisian, polwan ayu ini tetap menjadikan ular sebagai hewan peliharaan yang sangat ia sayangi.

Selain mampu menjinakkan ular, Dewi juga mengaku bisa menjinakkan Anjing. “Kalau anjing kan memang banyak yang jinak, tapi pada prinsipnya semua hewan sama. Manusia itu kan khalifah jadi harusnya makhluk lain taat dong,” ucap dia.

Selain memiliki kemampuan menjinakkan berbagai binatang, Dewi terbilang aktif mengikuti pelbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan. Ia tercatat masuk dalam komunitas diving sejak ditempatkan di Polres Selayar. Tak hanya itu, ia juga aktif dalam komunitas kelas insipirasi. Komunitas ini mengunjungi sekolah-sekolah untuk memberikan motivasi kepada para siswa, khususnya yang ada di desa dan pulau lingkup Selayar. (***)

Kisah Saleh Husin Usai Dicopot Jokowi

Mantan Menteri Perindustrian Saleh Husin

Mantan Menteri Perindustrian Saleh Husin

Jakarta, KABAROKE — Reshuflle Jilid II yang dilakukan Presiden Joko Widodo ternyata menyisakan kisah menarik. Salah satu menteri yang dicopot di Kabinet Kerja adalah Saleh Husin yang sebelumnya menjabat menteri perindustrian. Posisi Saleh ternyata digantikan oleh sahabatnya sendiri yakni politikus dan kader Partai Golkar, Airlangga Hartarto.

Saleh mengaku legowo atas pencopotannya tersebut. Buktinya, ia tetap hadir pada acara pelantikan suksesornya. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak pernah mempersoalkan penggantiannya atau mempersalahkan orang lain. Toh, bagi Saleh, jabatan adalah amanah yang tidak bisa dipaksakan.

“Sebenarnya buat saya, masalah jabatan itu adalah sebuah amanah yang tentu harus dilaksanakan dengan baik. Namanya juga amanah, kapan saja bisa datang dan pergi. Tidak ada yang harus dirisaukan dan ditakuti, ” ujar Saleh, dalam diskusi yang digelar di Soto Bu Chondro, Tangerang, Sabtu, 7 Agustus.

Ia mengaku ikut menghadiri pelantikan suksesornya untuk memberikan pelajaran kepada semua pihak bahwa jabatan bukanlah segalanya. Karena itu, bila jabatan lepas, maka haruslah berlapang dada. “Saya tetap hadir ketawa-ketawa bawa mobil dinas juga anterin dan pulang saya cari mana yang bisa anterin saya,” ujar Saleh.

Selain itu, Saleh mengakui bahwa yang menggantikannya sebagai Menteri Perindustrian adalah sahabatnya ketika di DPR. “Yang gantiin saya juga sahabat sewaktu di DPR,” tutur dia.

Seusai dicopot Presiden Jokowi, Saleh mengatakan pihaknya tidak pernah menaruh dendam. Malah, Saleh mengucapkan terimakasih kepada Jokowi. Paling tidak, ia pernah dipercayakan memimpin Kementerian Perindustrian selama dua tahun.

“Alhamdulillah di dalam masa kepemimpinan saya, pertumbuhan ekonomi masih tetap di atas target yakni 5,2 % pada 2015 dan 2016 target 6,7%,” ucap dia. (Iqbal)

Buwas Sayangkan Curhatan Freddy Keluar Setelah Ia Wafat

 

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso

Jakarta, KABAROKE – Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Pol Budi Waseso yang akrab dipanggil Buwas mengatakan pihaknya sudah membentuk tim terkait isu pejabat BNN menyalahgunakan kewenangan.

 

Tim tersebut dibentuk untuk penyelidikan pemberitaan terkait pesan singkat dari yang mengatasnamakan Haris Azhar, dari KontraS, yang menceritakan bagaimana tereksekusi mati Freddy Budiman, dalam tulisannya yang berjudul “Cerita Busuk dari Seorang Bandit”.

 

Yang menyebutkan bahwa pejabat BNN menyalahgunakan kewenangan dan jabatannya guna membantu Freddy Budiman dalam melancarkan bisnis Narkoba, yang juga diposting dalam fanpage facebook resmi milik KontraS (tanpa tanggal) pada tahun 2014 lalu, dan kemudian disebarluaskan kembali oleh berbagai media terutama media online.

 

“Kita sudah mengambil langkah-langkah dan tim penyelidikan sudah dipimpin langsung Irtama (Inspektorat Utama), saya sebenarnya berterima kasih kepada saudara Haris dan kita berkomitmen harus bersihkan oknum – oknum itu dari BNN,” kata Buwas di Jakarta, Selasa (2/8/2016).

 

Namun Buwas menyesalkan mengapa hal tersebut terungkap setelah terpidana mati Freddy Budiman dieksekusi pada hari Jumat (29/7) di Lapangan Tembak Tunggal Panaluan, Pulau Nusakambangan, Cilacap.

 

“Kenapa setelah Freddy Budiman dieksekusi, karena saksi kuncinya Freddy Budiman dan kita berharap sebelumnya. Komitmen saya akan menindaklanjuti dan kalau benar saya akan beri penghargaan yang setinggi-tingginya kepada saudara Haris apabila dia punya bukti,” kata Buwas.

 

Buwas berharap Haris dapat bekerjasama dengan pihaknya untuk mengungkap hal yang dikatakan oleh almarhum Freddy Budiman dan bila tidak benar ada konsekuensi hukumnya. “Ini institusi negara yang sudah dipublikasikan dan saya harap ada buktinya,” kata Kepala BNN.

 

Dia mengatakan akan menindak tegas dan tidak bermain-main bila ada oknum di lingkungan BNN terlibat dalam permainan kasus narkoba. Dan pihaknya dalam hal ini terus melakukan penelusuran.

 

Salah satu pernyataan Budiman yang diungkapkan Haris melalui surat sebelum dia dieksekusi tembak mati, di Pulau Nusakambangan, Jawa Tengah, Jumat malam lalu, selama menyelundupkan narkoba ke Indonesia, dia sudah menyetorkan uang sebesar Rp450 miliar ke BNN dan Rp90 miliar ke pejabat di Kepolisian Indonesia.

 

Salah satu modus mendulang uang haram bisnis narkoba yang dilakoni pejabat-pejabat itu, sebagaimana penuturan Budiman, adalah dengan “titip harga”. Dia katakan, harga sebutir ekstasi dari pabriknya di China hanya Rp5.000 dan bisa dijual Rp200.000 sebutir di Indonesia.

 

Para pejabat-pejabat ini, menurut penuturan Budiman sebagaimana disampaikan Azhar kemudian, meminta rente “titip harga” antara Rp20.000-Rp30.000 perbutir ekstasi yang dijual di Indonesia. Pihak yang meminta rente itu juga bukan satu pihak saja, menurut keterangan itu.

 

Selain itu, Budiman juga mengaku ada oknum pejabat BNN juga meminta agar LP di Nusakambangan mencopot kamera pengawas CCTV di sel Freddy Budiman. (Antar

Korupsi Lab FT UNM, Polda Sulsel Dinilai Bonsai

ilustrasi korupsi

ilustrasi korupsi

Makassar, KABAROKE – Direktur Riset Anti Corruption Committe (ACC) Sulawesi, Wiwin Suwandi mengatakan penetapan satu tersangka oleh Polda Sulsel hanya membonsai. Pasalnya, hingga kini yang disebut paling bertanggung jawab pada proyek yang merugikan negara hingga Rp 4,4 miliar‎ yakni Direktur Utama PT Jasa Bhakti Nusantara, Edy Rachmad Widianto.

” ‎Ini modus penyidik bonsai aktornya hanya beberapa orang saja yang selalu terulang,” ujar Wiwin pada Selasa (12/7)‎‎.

Menurut dia, pihaknya telah melaporkan kasus dugaan tindak pidana korupsi Dana Pembangunan Laboratorium Terpadu Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar (UNM) sejak Mei lalu. Namun, hingga kini masih bergulir. Atas penetapan Edy sebagai tersangka, ACC mendesak pihak Polda agar tidak pandang bulu dalam menangani kasus tersebut.

‎”Penyidik harus lebih profesional menangani kasus tersebut, jangan pandang bulu,” tambah Wiwin. (rc/jk)