Prabowo Subianto dan Amien Rais Diminta Berpasangan di Pilpres 2019

Prabowo Subianto dan Amien Rais Diminta Berpasangan di Pilpres 2019
Prabowo Subianto dan Amien Rais Diminta Berpasangan di Pilpres 2019

Amien Rais dan Prabowo Subianto (Foto : Internet)

Jakarta, KABAROKE — Prabowo Subianto dan Amien Rais diminta berpasangan menjadi calon presiden dan wakil presiden dalam Pilpres 2019.

“Suatu ketika mereka akan menemukan kesepakatan dengan pertimbangan senioritas Amien Rais, hubungan baik dengan Prabowo dan Zulkifli Hasan dan PKS, kesepakatan bisa dicapai,” ujar Ketua Koalisi Umat Madani Syarwan Hamid yang mendukung Amien Rais maju menjadi calon presiden di Jakarta, Sabtu (30/6/2018).

Menurut dia, sebelumnya Amien Rais dan Prabowo telah melakukan pertemuan dan pembicaraan dan hubungan keduanya pun dinilai baik. Syarwan mengakui saat mendeklarasikan dukungan kepada Amien Rais untuk menjadi calon presiden, tentu pihaknya ingin pendamping yang kuat untuk melawan petahana.

Koalisi Umat Madani pun tidak pasif hanya menunggu istima ulama yang akan digelar akhir Juli 2018 untuk menentukan pendamping Amien Rais, melainkan juga secara proaktif mensosialisasikan pilihan calon wakil presiden yang dianggap terkuat.

“Pandangan diberikan sebelum terjadi istima. Kami proaktif memberikan masukan,” ujar mantan menteri dalam negeri itu.

Terkait komunikasi dengan partai yang mungkin mendukung Amien Rais sebagai calon presiden, Syarwan enggan memberikan keterangan. Ia hanya menekankan kekuatan terbesar dari organisasi masyarakat.

“Pembicaraan informal banyak ormas mendukung. Kami mengharapkan Amien Rais yang punya akses kuat ke partai koalisi umat,” pungkasnya.

Ada pun Koalisi Umat Madani mendukung Amien Rais menjadi capres karena tokoh reformasi itu dinilai dapat membawa kondisi politik yang lebih kondusif dan perekonomian yang lebih baik. (**)

PDIP Klaim 78 Kadernya Menangi Pilkada Serentak 2018

Kader PDIP

Kader PDIP

Jakarta, KABAROKE — PDI Perjuangan menjadi partai yang paling banyak memenangkan kadernya sebagai kepala daerah dan wakil kepala daerah melalui pilkada serentak tahun 2018.

“Hal ini menunjukkan keberhasilkan kaderisasi secara sistematis yang dilakukan PDI Perjuangan,” Sekretaris Badan Pendidikan dan Latihan Pusat (Badiklatpus) DPP PDI Perjuangan, Eva Kusuma Sundari, melalui pernyataan tertulisnya, di Jakarta, Sabtu (30/6/2018).

Eva mengatakan hal itu menanggapi hasil yang dicapai PDI Perjuangan pada penyelenggaraan pilkada di 171 daerah pada 27 Juni lalu. Dari pelaksanaan pilkada serentak tersebut, PDI Perjuangan berhasil menempatkan sebanyak 78 kadernya menjadi kepala daerah dan wakil kepala daerah.

Pada pilkada provinsi, PDI Perjuangan menang di enam provinsi dari 17 pilkada provinsi, meliputi Jawa Tengah, Bali, Sulawesi Selatan, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.

“Dari enam provinsi tersebut ada empat kader partai yang menjadi gubernur dan tiga kader partai yang menjadi wakil gubernur,” katanya.

Kemudian, di tingkat kabupaten/kota, dari 154 daerah yang menyelenggarakan pilkada, PDI Perjuangan berpartisipasi di 151 daerah dan hasilnya menang di 91 daerah.

“Dari 91 daerah yang dimenangkan, ada 33 kader partai menjadi bupati/walikota serta 38 kader partai menjadi wakil bupati/wakil walikota,” katanya.

Menurut Eva, banyaknya kader partai yang terpilih menjadi kepala daerah dan wakil kepala daerah, menunjukkan keberhasil kaderisasi yang dilakukan PDI Perjuangan.

Anggota Komisi XI DPR RI ini menjelaskan, PDI Perjuangan sejak memutuskan sebagai partai kader melalui kongres di Bali pada 2014 menjadikan Badan Pendidikan dan Latihan Pusat (Badiklatpus) sebagai lembaga strategis dalam melakukan kaderisasi.

“Badiklatpus bertanggung jawab menyiapkan kader untuk internal yakni menjadi pengurus partai maupun menyiapkan kader untuk legislatif dan eksekutif, termasuk melakukan kaderisasi khusus perempuan,” katanya.

Eva menegaskan hasil pilkada serentak 2018 menunjukkan hasil kerja Badilklatpus selama empat tahun terakhir membuahkan hasil yang patut disyukuri.

“PDI Perjuangan menjadi partai yang paling banyak menempatkan para kadernya sebagai kepala daerah dan wakil kepala daerah di tingkat provinsi, kabupaten, dan kota, sebanyak 78 orang,” katanya.

Menurut dia, para kader yang terpilih menjadi kepala daerah dan wakil kepala daerah, telah disiapkan secara sungguh-sungguh dan sistematis melalui sekolah partai yang di dalamnya ada pembekalan ideologi dan teknis tata kelola pemerintahan.

“Bukti dari hasil pendidikan tersebut, tidak satu pun calon kepala daerah dari PDI Perjuangan mengusung isu SARA, tetapi fokus pada gagasan-gagasan pembaharuan demi terwujudnya keadilan sosial,” katanya. (*)

Bawaslu Sebut Kasus Politik Uang Tertinggi di Sulsel

Ilustrasi

Ilustrasi

Jakarta, KABAROKE — Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI Ratna Dewi Pettalolo mengungkapkan, terdapat 35 kasus dugaan pelanggaran politik uang pada pilkada serentak tahun ini. Sulawesi Selatan menjadi daerah terbanyak ditemukannya politik uang dengan jumlah delapan kasus.

“Khusus untuk data politik uang yang sudah diproses di provinsi, kabupaten dan kota sebanyak 35 kasus. Yang tertinggi Sulawesi Selatan, terdapat delapan kasus,” ungkap Ratna dalam konferensi pers di Kantor Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu kemarin.

Serangan-Serangan Fajar pada Pilkada di Banyumas
Sumatera Utara dan Lampung menempati posisi kedua yang tertinggi ditemukannya dugaan pelanggaran terkait menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya, yakni tujuh kasus.

Selanjutnya di wilayah Jawa Tengah terdapat lima kasus. Kemudian ada Sulbar dan Banten dengan dua kasus, serta di Sultra, Bangka Belitung, Jabar, dan Jatim dengan satu kasus.

“Sekarang sudah dalam proses klarifikasi di kantor Bawaslu provinsi dan kabupaten kota,” ucap Ratna.

Sebelumnya, anggota Bawaslu Rahmat Bagja menjelaskan bahwa untuk dikategorikan ke dalam politik uang, diharuskan adanya ajakan tertulis maupun lisan untuk memilih.

“Ya, ada ajakan. Harus ada ajakan tertulis maupun lisan,” ucap Bagja

Selain persoalan politik uang, Bawaslu juga mengantongi dugaan pelanggaran lainnya dalam pilkada serentak tahun ini di sejumlah daerah. Di antaranya seperti tertukarnya surat suara pilgub dan pilbub di NTB dan Bali.

Kemudian, ditemukannya surat suara yang tidak ditandatangani oleh KPPS setempat di daerah Bengkulu dan adanya keberpihakan anggota KPPS kepada salah satu paslon Gubernur dan Wakil Gubernur Bali di media sosial. (*)

Pilwalkot Makassar Diulang pada 2020 Jika Kotak Kosong Menang

Calon Tunggal Pilwalkot Makassar Munafri Arifuddin (Foto : Viva.co.id)

Calon Tunggal Pilwalkot Makassar Munafri Arifuddin (Foto : Viva.co.id)

Makassar, KABAROKE — Berdasarkan hasil perhitungan cepat sementara dari beberapa lembaga survei, kotak kosong unggul atas calon tunggal, Munafri Arifuddin-Andi Rahmatika Dewi (Appi-Cicu) yang mendapat dukungan dari 10 partai besar.

Ketua KPU Sulawesi Selatan Misna Attas yang dikonfirmasi terkait dengan keunggulan kotak kosong melawan calon tunggal Appi-Cicu enggan berkomentar banyak. Dia mengaku, tidak bisa berkomentar karena hasilnya belum pasti. KPU menunggu hasil real count oleh KPUD Makassar.

“Saya tidak bisa berkomentar dulu karena baru selesai dilakukan pemungutan suara. Hasil pemungutan suara Pilkada Makassar sementara dalam perjalanan ke sini. Biarlah quick count yang dilakukan oleh lembaga survei, kami tetap berpatokan pada real count,” kata Misna di Makassar, dikutip dari kompas.com.

Jika hasil akhir real count adalah kotak kosong unggul dari calon tunggal, Misna mengatakan Makassar akan menggelar kembali Pilkada selanjutnya pada tahun 2020. “Ya, kalau menang kotak kosong. Tidak mungkin kita Pilkada tahun depan, karena Pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif. Ya, Pilkada selanjutnya ada pada tahun 2020,” tambahnya.

Appi-Cicu maju pada Pilkada Makassar dengan usungan 10 partai, yakni Partai Nasdem, Golkar, PDI-P, Gerindra, Hanura, PKB, PPP, PBB, PKS, dan PKPI. Koalisi besar ini mengantongi 43 dari 50 kursi parlemen Makassar. Dari hitung cepat yang dilakukan beberapa lembaga survei, kotak kosong unggul 53 persen suara. Sedangkan, calon tunggal Appi-Cicu memperoleh suara sebesar 46 persen.

Kotak kosong menjadi pesaing Appi-Cicu, setelah KPUD Makassar mendiskualifikasi pasangan petahana, Mohammad Ramdhan Pomanto yang berpasangan dengan Indira Mulyasari Paramusti (Diami). Diami maju dalam Pilkada Makassar 2018 melalui jalur perseorangan atau independen. Namun di tengah tahapan, terdapat sengketa Pilkada yang menyebabkan pasangan DIAMI terdiskualifikasi.

Awalnya, pasangan Diami digugat di Panwaslu terkait beberapa diduga pelanggaran Pilkada. Namun, Panwaslu menolak gugatan tim Appi-Cicu dan menetapkan 2 pasangan calon dalam Pilkada Makassar 2018. Tidak puas dengan putusan Panwaslu Makassar, tim Appi-Cicu mengajukan gugatan ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PT TUN) Makassar.

PT TUN Makassar pun menerima gugatan tim Appi-Cicu dan meminta KPU Makassar menggugurkan pasangan Diami. Kemudian, KPU Makassar melakukan kasasi ke tingkat Mahkamah Agung (MA). Lagi-lagi, putusan MA mempekuat putusan PT TUN Makassar agar pasangan Diami digugurkan dalam Pilkada Makassar 2018. Akhirnya, pasangan Appi-Cicu menjadi calon tunggal Wali Kota dan Wakil Wali Kota Makassar.

Dalam surat suara, gambar Appi-Cicu melawan kotak kosong. Dalam pemungutan suara yang berlangsung, Rabu (27/6/2018), kotak kosong mengungguli perolehan suara calon tunggal berdasarkan perhitungan cepat (quick count) beberapa lembaga survei dan real count yang dilakukan Wali Kota Makassar yang mengawasi jalannya Pilkada Makassar.

Munafri Arifuddin yang merupakan CEO PSM Makassar ini adalah menantu mantan Wakil Ketua MPR RI, Aksa Mahmud. Adapun Aksa Mahmud adalah ipar dari Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). (*)

Memimpin Real Count, NH-Aziz Unggul di 14 Kabupaten/Kota

Nurdin Halid dan Aziz Qahhar Mudzakkar

Nurdin Halid dan Aziz Qahhar Mudzakkar

Makassar, KABAROKE — Tim pemenangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel nomor urut satu, Nurdin Halid-Aziz Qahhar Mudzakkar (NH-Aziz), merilis hasil perhitungan nyata alias real count versi C1 atau rekapitulasi surat suara per TPS pada Pilgub Sulsel 2018, Rabu (27/6). Hingga pukul 21.00 WITA, perhitungan suara yang masuk mencapai 70 persen dan NH-Aziz memimpin sementara dibandingkan tiga pesaingnya.

Berdasarkan data dari Golkar dan Satgassus NH-Aziz, NH-Aziz memimpin sementara dengan meraup 33,persen. Disusul pasangan nomor urut tiga Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman (NA-ASS) sebesar 32,2 persen; pasangan nomor urut empat Ichsan Yasin Limpo sebesar 27,8 persen dan pasangan nomor urut dua sebesar 6,6 persen.

“Kami sampaikan hasil sementara rekapitulasi C1 Golkar yang dikirim oleh teman-teman saksi dari 24 kabupaten/kota. Hasilnya NH-Aziz unggul sementara. Keunggulan kami bahkan meliputi 14 kabupaten/kota,” kata Wakil Ketua Bidang Organisasi DPD I Golkar Sulsel, Muhammad Risman Pasigai, saat mengggelar konferensi pers di kediaman NH, Kota Makassar, Rabu (27/6).

Menurut Risman, perjuangan belum berakhir. Olehnya itu, seluruh simpul pemenangan, khususnya saksi-saksi di TPS tetap militan mengawal surat suara. Jangan mau ‘dibeli’ karena pihaknya mengendus adanya upaya mengubah suara NH-Aziz. Terlebih, sudah ada hasil hitung cepat atau quick count dari beberapa lembaga survei yang mengunggulkan kandidat tertentu.

Risman melanjutkan penghitungan C1 alias real count terus berlangsung hingga sekarang. Bila tidak ada aral melintang, hasil real count sudah bisa diketahui Kamis (28/6). Risman mengatakan pihaknya menghargai hasil quick count yang mengunggulkan lawan, tapi itu bukan hasil final. Hasil final ada pada keputusan KPU yang mengacu pada real count atau penghitungan C1.

“Kami menunggu hasil KPU. Kami harap pejuang NH Aziz dan Golkar untuk tetap menjaga solidaritas. Jangan terpengaruh. Kami menghargai quick count yg dilakukan lembaga surve, tapi hasil tersebut bukan keputusan final dan tidak berkekuatan hukum tetap,” pungkasnya. (*)

Usai Pantau Pilkada Sulsel, Ini yang Dilakukan Sumarsono

Penjabat Gubernur Sulsel Soni Sumarsono

Penjabat Gubernur Sulsel Soni Sumarsono

Makassar, KABAROKE — Usai melakukan monitoring dan evaluasi (Monev) di sejumlah TPS, Penjabat Gubernur Sulawesi Selatan Soni Sumarsono dan tim rombongan yang ikut melakukan sujud syukur di Masjid Amirul Mukminin (Masjid Terapung) Pantai Losari, Rabu sore (27/6).

Sujud syukur ini, Ia lakukan karena sepanjang pemantauan secara umum Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2018.

Selanjutnya, Ia mencoba menikmati, Indahnya matahari terbenam (sunset) dari kawasan pusat wisata yang paling ramai di kunjungi di Makassar.

Setiba di kawasan wisata utama justru Sumarsono “diserbu” beberapa kelompok ibu-ibu meminta untuk foto bersama.

Ada juga ayah, ibu dan anak-anak yang mendekati Sumarsono dan meminta berfoto.

“Ijin foto pak Gubernur,” pinta mereka dengan santun.

Usai foto-foto, Sumarsono berkeliling Losari yang sore itu dipadati ribuan pengunjung. Hari itu, Rabu 27 Juni memang ditetapkan Presiden RI Jokowi sebagai libur nasional.

Selanjutnya, di masjid yang terletak di Jalan Penghibur ini. Saat mendekati waktu salat Magrib, Ia kemudian mengambil air wudhu untuk salat bersama warga. (*)

Golkar Sulsel: Nurdin Halid Unggul 33,4 Persen di Real Count

Wakil Ketua Golkar Sulsel Bidang Organisasi, M Risman Pasigai

Wakil Ketua Golkar Sulsel Bidang Organisasi, M Risman Pasigai

Makassar, KABAROKE — Partai Golkar Sulawesi Selatan merespon hasil perhitungan cepat yang menempatkan pasangan Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman dengan elektabilitas tertinggi. Partai yang mengusung pasangan Nurdin Halid-Aziz Qahhar Mudzakkar itu menyebut jagoannya unggul di versi real count.

Hal itu diungkapkan oleh Wakil Ketua Bidang Organisasi dan Daerah DPD I Partai Golkar Sulsel Risman Pasigai di kediaman Nurdin Halid, Jalan Mapala, Makassar, Rabu malam, 27 Juni 2018. Ia mengklaim, pasangan Nurdin Halid-Aziz Qahhar Mudzakkar yang unggul berdasarkan rekap C1 yang dikumpulkan para saksi Golkar di seluruh kabupaten/kota di Sulsel.

“Partai Golkar yang turut merekap C1, hasil perhitungan suara dari saksi seluruh kabupaten/kota, kami nyatakan NH-Aziz unggul sementara 33,4 persen,” ungkap Risman.

Menurutnya, kandidat nomor dua, Agus-Tanribali meraih 6,7 persen. Kemudian kandidat nomor urut tiga, Nurdin Abdullah-Andi Sudirman 32,2 persen, serta pasangan Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar 27,8 persen. Hasil itu, kata dia, berdasarkan rekap perhitungan C1 dengan data yang terkumpul mencapai 70 persen.

“Jadi memang masih sementara, kami akan tunggu sampai pagi rekap C1 dari para saksi kami,” kata dia.

Risman menegaskan, pihak Golkar Sulawesi Selatan menghormati dan menghargai hasil hitung cepat yang dirilis oleh sejumlah lembaga. Tapi, hasil itu belum final dan belum berkekuatan hukum tetap. (**)

Khofifah Unggul Telak di TPS Kampungnya

Mensos Khofifah Indra Parawansa

Mensos Khofifah Indra Parawansa

Surabaya, KABAROKE — Calon gubernur di Pemilihan Kepala Daerah Jawa Timur (Pilkada Jatim) Khofifah Indar Parawansa berhasil meraup 76 persen dari total daftar pemilih tetap (DPT) di tempat pemungutan suara (TPS) 016, Kelurahan Jemur Wonosari, Wonocolo, Surabaya, yang tak lain adalah kampugnya sendiri.

Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di TPS setempat Muhammad Mabrur, kepada wartawan usai melakukan penghitungan suara, Rabu sore, mengumumkan Khofifah yang di Pilkada Jatim 2018 berpasangan dengan Emil Elestianto Dardak memperoleh sebanyak 413 suara.

Sedangkan pasangan calon lawannya, Saifullah Yusuf – Puti Guntur Soekarno, di TPS tersebut memperoleh 56 suara.

“Kemenangan pasangan Khofifah-Emil di TPS 016 Kelurahan Jemur Wonosari, Kecamatan Wonocolo Surabaya mencapai 76 persen dari total jumlah pemilih,” tuturnya.

Dia menjelaskan total Daftar Pemilih Tetap (DPT) di TPS 016 adalah 631 orang. Namun, tercatat yang hadir menggunakan hak pilihnya sebanyak 497 orang. 10 suara di antaranya dinyatakan tidak sah dalam penghitungan yang baru rampung pada sekitar pukul 15.40 WIB sore tadi.

TPS 016 berlokasi di Sekolah Dasar Negeri Margorejo VI Surabaya, yang hanya berjarak sekitar 20 meter dari rumah mantan Menteri Sosial itu di Jalan Jemursari VIII Surabaya.

Khofifah tercatat sebagai DPT nomor 217 di TPS tersebut. Ketua Umum Muslimat Nahdlatul Ulama itu hadir menggunakan hak pilihnya di TPS tersebut pada sekitar pukul 10.30 WIB tadi pagi dengan didampingi tiga orang anaknya.

Khofifah berpasangan dengan Emil Elestianto Dardak mengikuti Pilkada Jatim 2018 diusung oleh koalisi partai politik Demokrat, Golkar, Nasdem, Hanura, PAN dan PPP. Pasangan lainnya yang mengikuti Pilkada Jatim 2018 adalah Saifullah Yusuf – Puti Guntur Soekarno yang diusung koalisi PDIP, PKB, PKS dan Gerindra. (*)

Belum Menyerah, NH Optimistis Menang di Real Count

Nurdin Halid dan Istrinya Andi Nurbani

Nurdin Halid dan Istrinya Andi Nurbani

Makassar, KABAROKE — Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel nomor urut satu, Nurdin Halid-Aziz Qahhar Mudzakkar (NH-Aziz), belum menyerah meski hasil quick count alias hitung cepat dari berbagai lembaga riset mengunggulkan pasangan nomor urut tiga, Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman (NA-ASS). NH-Aziz masih menunggu hasil hitung nyata alias real count dari tim pemenangannya maupun hasil rekapitulasi KPU.

“Kita hargai hasil quick count, tapi itu bukan akhir dari perjuangan. Yang paling menentukan adalah real count dan itu masih kita tunggu,” ujar NH, kepada awak media di kediamannya, Rabu (27/6).

Sejauh ini, perkembangan hasil real count dari tim NH-Aziz baru mencapai 20 persen. Dan, untuk sementara pihaknya unggul telak dibandingkan tiga pesaingnya, termasuk NA-ASS. Ketua Koordinator Bidang Pratama DPP Golkar itu menyampaikan hasil real count dari timnya sudah bisa kelihatan pada pukul 21.00-22.00 WITA. “Ya nanti setelah itu barulah kita bisa mengambil sikap,” tegasnya.

NH juga sempat kaget melihat hasil quick count dari beberapa lembaga riset yang merilis elektabilitasnya terpaut jauh dengan NA-ASS. Padahal, dalam beberapa hasil survei dari lembaga riset kredibel dan independen rentang sebulan sampai sepekan sebelum pemilihan, NH-Aziz selalu unggul. Olehnya itu, kalau pun ada perubahan signifikan di lapangan, selisih suaranya tidak akan terpaut jauh.

“Ya intinya quick count itu bukanlha final perhitunagn suara. Final penghitungan resmi tentunya ada pada keputusan KPU. Tapi ya memang (hasil quick count) mengejutkan saya, kalau selisih yang dipertontonkan itu besar, padahal sebulan terakhir survei independen menempatkan kita di urutan pertama,” urai NH.

“Jadi kalaupun dalam satu bulan mereka bekerja massif merebut hati rakyat, selisihnya tidak akan sampai sebesar ini, sampai 8-10 persen,” pungkasnya. (*)

Masa Tenang Pilgub Sulsel, NH dan Keluarga Salawatan Bareng Anak Yatim

Nurdin Halid dan Keluarga Salawatan di Mapala

Nurdin Halid dan Keluarga Salawatan di Mapala

Makassar, KABAROKE — Calon Gubernur Sulsel nomor urut satu, Nurdin Halid memanfaatkan masa tenang Pilgub Sulsel dengan berbagai kegiatan positif. Di hari keduanya, pasangan Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar ini menggelar sejumlah agenda.

Usai melakukan halalbihalal bersama warga hijau hitam, NH dan keluarga berkumpul bersama ratusan anak yatim. Ia mengundang anak yatim dari berbagai panti asuhan di makassar untuk salawatan bareng.

Suasana salawatan berlangsung begitu khusyuk. Dengan mengenakan pakaian yang didominasi berwarna putih, ratusan anak yatim melantunkan doa kepada Allah swt. untuk Nabi Muhammad SAW.

Di berbagai kesempatan, NH dan keluarga selalu menyempatkan momen doa dan zikir bersama secara khusus. Hal itu dilakukan agar setiap langkah dapat diiringi berkah dan rahmat dari Tuhan.

Zikir dan doa bersama anak yatim di kediamannya juga dilakukan NH saat Ramadan lalu. Begitu pula saat jelang penentuan nomor urut dan kirab pra deklarasi pasangan bersama Aziz Qahhar. (*)

1 2 3 4 355