Sukriansyah S Latief : Sirtjo Koolhof, di Sekitar La Galigo dan RN Wereldomroep (2-Selesai)

Sukriansyah S Latief [dok net]

Sukriansyah S Latief [dok net]

Jakarta, KABAROKE — “Pukul 14.00 tepat, di Utrecht, Belanda. Di salah satu ruang studio Radio Nederland Wereldomroep (RNW) di Hilversum, siaran langsung dimulai. Tampak pembawa acara Eka Tanjung sedang mewawancarai narasumber Harustiaty, dosen Fakultas Hukum Unhas dan Syaiful Ruray, Wakil Ketua DPRD Maluku Utara.

Keduanya dimintai pendapatnya perihal peringatan Hari Ibu, karena siang itu tepat tanggal 22 Desember 2008. Dalam acara yang dikemas dengan nama Dimensi, kedua narasumber yang kini sementara melakukan penelitian di Universitas Utrecht, bersilang pendapat tentang alasan pentingnya memperingati Hari Ibu”.

Diskusi pun menjurus pada perlu tidaknya ada peringatan Hari Bapak atau Father’s Day di Indonesia, seperti yang ada di Eropa dan Amerika. Acara yang berlangsung selama 1 jam itu, pun ramai dengan pro-kontra pendengar melalui telepon maupun SMS, baik dari Indonesia seperti Papua, Jawa Tengah, Jawa Barat, Bali, hingga Medan dan luar negeri, seperti penelepon dari Brunei Darussalam serta Arab Saudi. Sementara itu, di ruang studio yang lain, juga sedang berlangsung diskusi tentang perlu tidaknya negara mengatur pornografi.

Bedanya, diskusi ini direkam, untuk diputar di hari lain dalam acara Kamera (Kawula Muda di Eropa). Tampil sebagai narasumber Judhariksawan, Devi Sondakh, Donna Oktalia, dan Merzy, dengan pembawa acara Junito Drias. Isi siaran Kamera ini, adalah laporan aspek-aspek kehidupan di TKP (Tempat Kumpul Pemuda) di Belanda dan Eropa. Mahasiswa Indonesia yang sedang studi di Belanda menjadi sasaran bidik acara serius sambil santai ini.

Demikianlah sebagian kesibukan Sirtjo Koolhof, sebagai Kepala Seksi Indonesia di RNW). Meski dia tidak sendiri, karena masing-masing acara punya penanggungjawab, tapi setidaknya Sirtjo harus meyakini betul bahwa semua acara dan siaran berjalan lancar. Sejak 1 Januari 2008, tugas berat itu dijalaninya. Sebelumnya, dia adalah peneliti dan Kepala Perpustakaan KITLV, Leiden.

Pindah dari dunia akademik ke jurnalistik, menurut Sirtjo, karena dia merasakan perlunya ada perubahan. ‘’Cukup lama bekerja di bidang akademis, saya ingin cari pengalaman baru. Saya menulis surat lamaran, lalu diterima,’’ ungkap Sirtjo, 51 tahun, soal awal mula dia bergabung dengan RNW. Sebelumnya, dia adalah seorang peneliti Asia Tenggara dengan keahlian khusus Indonesia. Buku-buku yang ditulisnya berkisar kebudayaan Nusantara, antara lain La Galigo.

Apa yang menjadi tugas Sirtjo merupakan bagian kecil dari banyak bagian di RNW. Selain siaran berbahasa Indonesia, RNW yang berdiri sejak 1947, kini menyiarkan informasi dalam 10 bahasa, di banyak negara, dan yang terakhir adalah China dan Arab Saudi. Khusus Ranesi (RNW Siaran Indonesia), yang kini berusia 61 tahun, acaranya disiarkan pula oleh lebih dari 80 stasiun mitra di seluruh Indonesia, dan bahkan dapat diterima lewat satelit.

Dengan perkembangan teknologi saat ini, video sudah mengambil posisi penting dalam pemberitaan RNW, selain audio dan teks. Diakui Sirtjo, pada mulanya Ranesi mengudara pada 1948 lewat gelombang pendek, untuk memberitakan keadaan di Belanda dan di Indonesia, khususnya mengenai hubungan kedua negara. Namun isi siaran selama enam dekade itu berubah sesuai dengan zaman dan teknologi yang ada.

‘’Kini tujuannya adalah antara lain memberi informasi kepada warga negara Belanda di luar negeri, memberi informasi kepada warga yang daerahnya ketinggalan informasi atau daerah yang tidak ada kebebasan pers atau kesulitan ekonomi, dan juga untuk memberi informasi yang diperlukan tentang Eropa. Jadi misi pentingnya adalah edukasi yang meluaskan pandangan pendengar,’’ jelas Sirtjo.

Sebagai radio publik yang dibiaya oleh pemerintah sekitar 40 juta euro setahun, RNW tidak menerima iklan, sama seperti radio publik lainnya di Belanda. Menurut Sirtjo, di Belanda, ada sekitar 5 radio publik dan 3 televisi publik nasional, sementara di daerah ada sekitar 10 radio publik dan 10 televisi publik. Seorang wartawan senior Ranesi yang berasal dari Sumatera Selatan, A. Bari Muchtar, mengatakan bahwa keunikan RNW karena meski dibiayai oleh negara, isi pemberitaannya tetap independen. ‘’Pemerintah tidak mencampuri isi pemberitaan,’’ kata Bari.

Bari bukanlah orang baru di RNW. Dia telah bekerja lebih dari 15 tahun, dan sekarang dipercaya memegang desk tentang kemajemukan masyarakat/pluralisme di Eropa. Padahal, mulanya, kata pria Melayu kelahiran 4 Oktober 1951 dan beristrikan wanita warga negara Belanda ini, dia termasuk orang yang anti Belanda. Dari kampungnya, dia dulu berangkat ke Mesir untuk mengikuti pendidikan strata satu di Al Azhar Mesir, jurusan Ushuluddin. Tapi akhirnya ‘terdampar’ di Belanda menjadi jurnalis.

Sebelum bergabung dengan RNW, Bari bekerja di perusahaan-perusahaan Belanda. Di sana dia ‘terpaksa’ berbicara dan bergaul dengan orang Belanda. Suatu hal yang menyenangkan, bagi Bari, karena dengan demikian dia bisa cepat belajar Bahasa Belanda. ‘’Nah, setelah bekerja di Radio Nederland siaran Bahasa Indonesia, saya senang bisa bekerja lagi dengan orang Indonesia. Dan pekerjaan sebagai penyiar dan jurnalis tidak begitu berbeda dengan profesi saya waktu di Indonesia, yakni sebagai guru. Kedua-keduanya memerlukan kemampuan berbicara dan menggunakan bahasa dengan baik, cerita Bari.

Hal-hal yang menyenangkan bekerja di RNW, lanjut Bari, karena dia sering dikirim ke luar negeri, dalam hal ini ke luar Belanda. Seringnya ditugaskan ke Indonesia juga suatu hal yang menyenangkan baginya. ‘’Mempunya teman kerja dari berbagai bangsa, juga merupakan sesuatu yang menyenangkan. Apalagi sekarang sudah ada seksi Bahasa Arab lagi.

Saya pernah lama tinggal di Mesir, sekarang mempunyai kesempatan banyak untuk berbicara bahasa Arab,’’ tutur Bari. Dukanya? ‘’Sebenarnya tidak ada hal-hal yang tergolong ‘duka’ bagi saya sejak bekerja di Radio Nederland. Dulu saya masih sering dijadwal kerja malam. Kadang-kadang capek juga kalau terlalu sering bekerja di malam hari. Tapi karena saya sudah termasuk senior, saya dibebaskan untuk bekerja malam. Tapi hampir tidak ada dukanya,’’ ungkapnya.

Menurut Bari, hampir semua jurnalis di Ranesi adalah orang Indonesia. ‘’Dan itu tugas Sirtjo untuk mengaturnya,’’ kata Bari. Tapi Sirtjo yang mendengarnya dengan rendah hati mengatakan,’’Padahal mereka tidak perlu diatur, sudah teratur’’.

Di RNW sendiri, dari sekitar 300 karyawan, 80 persen adalah jurnalis. Meski dibiayai oleh negara, status pegawainya bukan pegawai negeri, tapi seluruh fasilitas yang didapatkan, seperti pegawai negeri, misalnya asuransi, jaminan sosial dan lain-lain. Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, pendidikan dan pelatihan terus dilakukan di jajaran RNW.

Khusus di Ranesi, pola kemitraan dengan radio-radio di Indonesia juga terus dilakukan. Belum lama ini misalnya, 25 hingga 27 November 2008, RNW mengadakan ‘Temu Mitra’ di Nusa Dua Bali, yang diikuti sekitar 80 radio mitra yang tersebar di seluruh Indonesia. Pertemuan ini khususnya bertujuan untuk meningkatkan kerjasama lebih jauh dengan melibatkan peran aktif radio mitra.

Seperti ditulis Sirtjo Koolhof, yang meliput acara tersebut, temu mitra itu dibuka oleh Direktur Utama RNW, Jan Hoek, yang dalam sambutannya menekankan kesetaraan antara Radio Nederland dengan radio mitranya. ‘’Melalui cara itu kita bersama dapat memastikan bahwa Ajang Aneka Pandangan akan dapat disebarkan di seluruh penjuru dunia. Oleh karena itu kerjasama antara Anda dan kami menjadi sangat penting. Itulah mengapa kami tidak menggunakan kata-kata seperti placement atau pemancar luasan tetapi kemitraan sejati. Itulah sebabnya mengapa pertemuan ini menjadi sangat penting. Kami ingin mengetahui apa pendapat Anda dan juga keinginan Anda,’’ demikian Jan Hoek, seperti dilaporkan Sirtjo.

Sementara itu, Kepala bagian kemitraan RNW, Harko Aris dalam sambutannya menyebutkan bahwa Radio Nederland ingin membangun komunikasi lebih baik dengan para mitranya. Dan dalam forum diskusi disepakati untuk melibatkan lebih aktif peran radio mitra dalam siaran Ranesi. Di Makassar, Ranesi bekerja sama dengan Radio Bharata FM, dan di daerah lainnya, seperti Surabaya, Ranesi bermitra dengan Radio Suara Surabaya. Menurut Bari Muchtar, topik siaran yang dibahas dengan mitra-mitra cukup luas. Dari masalah politik, sosial ekonomi, hukum, sampai human interest. Sejak Agustus 2008, tema-tema yang sudah dibahas antara lain, Radovan Karadzic, studi di Belanda, posisi kelompok gay, studi Bahasa Indonesia di Belanda dan masjid di Belanda. ***

*Sukriansyah S Latief adalah Wartawan Senior

Sukriansyah S Latief : Sirtjo Koolhof, di Sekitar La Galigo dan RN Wereldomroep (1)

Sukriansyah S Latief [dok net]

Sukriansyah S Latief [dok net]

Jakarta, KABAROKE — “Masihkah Ada Perhatian Kita pada La Galigo? TERSEBUTLAH di Tanah Luwu, seorang lelaki Bugis yang gagah dan berbudi pekerti baik bernama Sawerigading. Dikisahkan ia jatuh cinta berat kepada We Tenri Abeng, yang cantik jelita. Namun apa mau dikata, Sawerigading tidak boleh menikahinya, karena ternyata gadis itu adalah saudara kembarnya, yang terpisah sejak mereka dilahirkan

Cinta Sawerigading pun kandas. Sebagai pemuda yang penurut kepada orangtuanya, Sawerigading akhirnya memutuskan pergi merantau ke China. Namun dalam perjalanan, di Wajo, ia bertemu dengan We Cudaiq, yang tak lain sepupunya sendiri. Ia pun menemukan pribadi dan ‘kecantikan’ yang mirip seperti dimiliki We Tenri Abeng. Akhirnya Sawerigading melamar dan menikahi We Cudaiq. Dari perkawinan itulah kemudian lahir La Galigo”.

Lelaki berkumis dan bercambang putih itu kembali mengisap rokoknya dalam-dalam, sembari menceritakan ringkasan kisah dari banyak sekali cerita tentang La Galigo. Siang itu, usai makan bersama, ia melanjutkan ceritanya di ruang khusus merokok. Tak banyak orang di ruangan 2×3 meter itu, hanya seorang koleganya yang sedang membaca surat kabar. Sesekali menggunakan bahasa Bugis, lelaki paruh baya itu tampak sangat antusias menceritakan epos La Galigo, walau kadang rasa kecewanya juga tak bisa ia sembunyikan.

Itulah Sirtjo Koolhof, yang telah merampung 95 persen cerita di atas untuk dicetak menjadi sebuah buku, dengan judul Madduta (melamar). Tulisan tentang Madduta ini pulalah yang akan mengantarnya menjadi doktor di Universitas Leiden, Belanda. ‘’Tapi sekarang saya masih sangat sibuk, karena harus mengurusi berita dan banyak pegawai,’’ kata Sirtjo yang sejak1 Januari 2008 bekerja sebagai Kepala Seksi Indonesia, di Radio Nederland Wereldomroep, Belanda.

Sebenarnya, kata Sirtjo, 5 persen yang belum ia selesaikan dari Madduta itu bukanlah sepenuhnya karena kesibukan kesehariannya. Tapi lebih karena hingga saat ini belum ada yang mau atau menawarkan untuk mencetak Madduta. ‘’Padahal, untuk mencetak serial La Galigo ini, tidak sampai biayanya dengan satu Pajero punya gubernur atau bupati,’’ kata Sirtjo pada saat makan siang, pecan lalu.

Bagi dia, Madduta ini merupakan jilid ke-3 atau naskah ketiga yang akan dicetak. Sebelumnya telah ada dua buku yang dicetak, dari 12 naskah atau jilid yang dipersiapkan di perpustakaan Universitas Leiden. Menurut Sirtjo, jilid pertama La Galigo diterbitkan dengan kerjasama Koninklijk Instituut voor Taal-, land-en Volkekunde, Leiden (KITLV) pada 1995 oleh penerbit Djambatan di Jakarta.

Lalu terbitan jilid II dibiayai oleh Prince Claus Fund for Culture and Development dan KITLV. Dalam buku La Galigo jilid 2 yang juga diterbitkan menurut Naskah NBG 188 ini, disusun oleh Colliq Pujie Arung Pancana Toa. Transkripsi dan terjemahan oleh Muhammad Salim dan Fachruddin Ambo Enre. Sementara Sirtjo bersama Roger Tol di redaksi, dan ko-editor Nurhayati Rahman.

Buku ini diterbitkan oleh Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin, Makassar, pada tahun 2000. Diceritakan Sirtjo, La Galigo, sama dengan epos lainnya yang ada di belahan dunia ini, banyak bercerita tentang asal-usul manusia, perang, cinta, dan termasuk di dalam mencari jodoh, membuat anak, dan cucu. Ada yang bersifat hiburan, pengalaman, dan, ‘’Cerita lainnya tentang kehidupan manusia yang tentu ada positif dan negatifnya, termasuk dalam cerita Madduta ini,’’ katanya.

Yang khas dari La Galigo, adalah bahasanya yang indah, dengan adaptasi cerita dari kebudayaan dan kehidupan masyarakat Bugis. La Galigo sendiri bercerita tentang pengalaman dan petualangan enam generasi keturunan dewa-dewa dunia atas dan bawah.

‘’Menariknya, La Galigo adalah epos tertulis terpanjang di dunia, yang tidak diketahui tahun berapa dan siapa penulisnya,’’ kata Sirtjo.

Bagi banyak orang, epos La Galigo memang dianggap sebagai sebuah karya sastra ‘masterpiece’, karena cara penyampaian dan bahasa yang digunakan merupakan bagian dari tradisi lisan dan tulisan masyarakat Bugis. Usai merokok dan ngobrol sebentar dengan teman kantornya,

Sirtjo mengajak saya ke ruang kerjanya. Kami menaiki banyak anak tangga, kalau tidak salah empat kali putaran atau dua lantai di atas ruangan bebas merokok. Saya sempat menanyakan mengapa ia tidak menggunakan lift, Sirtjo yang baru saja merokok itu menjawab, ‘’Biar sehat,’’ katanya.

Rupanya, tangga di kantor Radio Nederland Wereldomroep itu adalah jalan utama. Artinya, banyak pegawai yang lebih memilih menggunakan tangga daripada lift. Wawancara kemudian berpindah di ruangan kerja Sirtjo yang tidak begitu luas. Hanya ada satu kursi tamu, lemari buku dan berkas, serta setumpuk buku di mejanya.

‘’Maaf, ruangannya berantakan,’’ katanya. Usai mengambil gambar, wawancara pun dilanjutkan. Atas dasar kekhasan dan keunikan itulah –juga karena belum ada yang diterbitkan dan diterjemahkan dalam Bahasa Bugis, yang membuat Sirtjo mulanya tertarik untuk menyelami ‘lautan’ La Galigo.

Dengan bantuan dosennya, Noorduyn, yang pakar Bahasa Bugis di Universitas Leiden, Sirtjo yang ketika itu mengambil S-1, mempelajari sungguh-sungguh semua hal tentang La Galigo. Mulai dari belajar huruf lontarak, bahasa Bugis, sampai adat istiadat masyarakat Bugis.

‘’Saya cuma berdua ketika itu,’’ kata Sirtjo yang masuk kuliah Bahasa dan Budaya Indonesia di Universitas Leiden, pada 1987 dan tamat 1992. Untuk lebih mendalami bahasa dan budaya Bugis dan sekaligus menyelesaikan tugas akhirnya sebagai mahasiswa, Sirtjo meninggalkan Belanda dan tinggal selama 3 bulan di Amparita, Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan.

Di kabupaten inilah, dia melihat, bergaul, dan mempelajari kehidupan masyarakat dan melihat hubungannya dengan epos La Galigo. Semua yang dia temukan, termasuk naskah salinan dalam huruf Lontarak, dicatat dengan seksama dan disimpannya baik-baik. Bagi Sirtjo, belajar huruf Lontarak tidaklah sulit. ‘’Satu hari bisa,’’ katanya.

Tapi untuk berbahasa Bugis, dia mengaku membutuhkan 2 tahun untuk bisa lancar berkomunikasi. ‘’Itu pun masih banyak yang belum saya ketahui,’’ kata Sirtjo yang fasih berbahasa Inggris, Jerman, Jawa, dan Bugis, selain tentunya Bahasa Belanda. Sirtjo dilahirkan Tahun 1957 di Apeldoorn, Belanda. Besar di kota Deventer, lalu bersekolah tinggi Occupational Therapy di Huizen. Ia pernah bekerja di rumah sakit jiwa dan rumah sakit revalidasi sampai Tahun 1987. Tahun 1987 masuk kuliah bahasa dan budaya Indonesia di Universitas Leiden, dan tamat Tahun 1992.

Pada Tahun 1994-2000, Sirtjo bekerja di almamaternya sebagai peneliti yunior tentang Sastra Bugis La Galigo. Dan pada Tahun 1996-2003, ia bekerja di KITLV Press, Leiden. Dan sepanjang Tahun 2003 hingga 2007, ia dipercaya menjadi Kepala Perpustakaan KITLV, Leiden, hingga akhirnya Sirtjo menjadi Kepala Seksi Indonesia di di RNW. Lantas apa yang masih membuat Sirtjo kadang kecewa bila berbicara tentang La Galigo?

Selain kurangnya perhatian pemerintah Indonesia atau Sulawesi Selatan untuk menyosialisasikannya dengan menerbitkan buku, juga karena banyak orang Sulsel sendiri, khususnya Bugis yang tidak mau membaca atau mempelajarinya.

‘’Jarang yang kenal, dan siapa yang mau dan bisa membacanya,’’ tanya Sirtjo yang sudah 10 kali bolak balik Belanda-Indonesia. Padahal, di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, lanjut Sirtjo, manuskrip tentang La Galigo ribuan jumlahnya. ‘’Sayang sekali, dari sekitar 6000 halaman, baru sekitar 500 yang diterjemahkan,’’ katanya. Buku dan artikel lain yang pernah terbit soal La Galigo, antara lain yang ditulis R.A. Kern pada 1939, 1954, dan 1989, Fachruddin Ambo Enre pada 1999, dan Roger Tol pada 1990. Dan oleh masyarakat dunia saat ini, La Galigo begitu mendapat perhatian.

Pementasan I La Galigo yang dikemas Robert Wilson, seorang seniman teater dari Amerika Serikat di beberapa negara di Eropa, seperti Belanda dan Perancis, juga di Amerika, Australia, dan Asia, ramai dikunjungi penonton. ‘’Saya sampai beberapa kali ke luar negeri untuk menonton pementasan itu,’’ aku Sirtjo yang menaruh perhatian besar terhadap ‘masterpiece’ La Galigo. Lantas, bagaimana dengan kita? ***

Penulis : Sukriansyah S Latief adalah Wartawan Senior

Bur Sebut Kekalahan di Pilkada Takalar Dibalas di Pilgub Sulsel

Bupati Takalar Burhanuddin Baharuddin

Bupati Takalar Burhanuddin Baharuddin

Takalar, KABAROKE — Bupati Takalar, Burhanuddin Baharuddin, menyinggung perihal kekalahannya pada Pilkada Takalar 2017. Kekalahan yang membuatnya harus lengser dan gagal menjabat pada periode kedua coba dibalasnya pada Pilgub Sulsel 2018. Caranya dengan all-out memenangkan usungan partainya Golkar yakni Nurdin Halid atau NH pada Pilgub Sulsel.

Bur-sapaan karib Burhanuddin, yang juga Ketua Golkar Takalar meminta masyarakat Takalar untuk solid memenangkan NH. Pengalaman pada Pilkada Takalar lalu menjadi pelajaran berharga. “Insya Allah kekalahan itu akan kita balas dengan kemenangan pak NH di pilgub mendatang,” ucap Bur di Takalar, belum lama ini.

Bur juga angkat bicara mengenai massifnya ‘serangan’ terhadap pasangan NH-Aziz Qahhar Mudzakkar. ‘Serangan’ itu berupa aksi perusakan alat peraga alias baliho di daerahnya. Bahkan, banyak baliho NH-Aziz yang terpaksa dilapis berkali-kali gegara robek. Baliho itu bisa dijumpai di sepanjang jalur trans Sulawesi di jalan poros Makassar-Takalar.

Perusakan Baliho Nurdin Halid [dok net]

Perusakan Baliho Nurdin Halid [dok net]

Meski demikian, relawan NH-Aziz yang dikomandoi Bur selalu memperbaikinya. Bur merasa lucu karena begitu yang rusak diganti dengan lapisan yang baru, selalu saja robek tidak sampai 24 jam kemudian. “Bisa dilihat di jalanan, banyak baliho yang sudah lima lapis, itu artinya sudah empat kali robek,” kata Bur.

Bur mengajak simpatisan dan pendukung NH-Aziz di Takalar untuk tidak lelah menghadapi tekanan-tekanan seperti itu. (***)

Bikin Ribut dan Pukul Polisi, Serda Wira Akhirnya Ditahan

Serda Wira Ditahan Setelah Bikin Ribut dan Pukul Polisi [dok net]

Serda Wira Ditahan Setelah Bikin Ribut dan Pukul Polisi [dok net]

Pekanbaru, KABAROKE — Anggota Korem 031 Wiba Bima Serda Nopriadi Wira Sinaga yang memukul anggota Polantas Pekanbaru terpaksa harus mendekam di sel Detasemen Polisi Militer 1/3 Kodam I Bukit Barisan, Pekanbaru. Di dalam sel Serda Wira Sinaga mengenakan baju kuning dengan kaki dan tangan diborgol.

Komandan Resor Militer 031/Wirabima Brigjen TNI Abdul Karim menegaskan anggota yang melakukan tindakan yang melanggar ketentuan tetap ditindak tegas.

“Benar, anggota kita ini telah memukul anggota Polantas sebagaimana video yang telah viral,” kata Abdul Karim di ruangan tahanan di Denpom Pekanbaru, Pekanbaru, Jumat (11/8/2017).

Kelakuan Serda Wira Memukul Polisi Lalu Lintas Jadi Viral di Medsos [dok net]

Kelakuan Serda Wira Memukul Polisi Lalu Lintas Jadi Viral di Medsos [dok net]

Orang nomor satu di jajaran TNI di Riau ini menyebutkan anggota tersebut tetap akan menjalani proses hukum.

“Ya ini tetap akan kita proses,” pungkasnya.

Sebelumnya, sebuah video yang viral di media sosial menayangkan pria berseragam TNI turun dari motornya dan membentak anggota polisi lalu lintas yang berada di sampingnya. Aksi pemukulan tersebut direkam sejumlah warga dan pengendara yang saat itu berada di lokasi. (***)

Realisasi Kredit UMKM di Sulsel Capai Rp34 Triliun

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulsel Bambang Kusmiarso [dok net]

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulsel Bambang Kusmiarso [dok net]

Makassar, KABAROKE — Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulsel, Bambang Kusmiarso, mengungkapkan kredit UMKM di daerahnya memperlihatkan grafik menggembirakan pada Juni 2017. Tercatat adanya pertumbuhan hingga 6,7 persen (yoy) dengan porsi terhadap total kredit yang relatif stabil.

“Kredit UMKM Sulsel periode Juni 2017 tercatat Rp34,3 triliun atau tumbuh 6,7 persen. Porsi terhadap total kredit perbankan mencapai 31,7 persen, tidak jauh berbeda atau terbilang stabil dibandingkan dengan porsi Mei 2017 sebesar 31,8 persen,” kata Bambang, di Makassar.

Bambang memaparkan pertumbuhan kredit UMKM di Sulsel didorong oleh kredit modal kerja sebesar 11,7 persen (yoy). Adapun pertumbuhan kredit investasi periode Juni 2017 sudah mulai membaik. Meski demikian, Bambang mengakui masih terjadi kontraksi sebesar -3,8 persen (yoy).

Dilihat dari skala usaha, Bambang merinci pertumbuhan kredit UMKM tertinggi dicatat oleh kredit makro sebesar 9 persen (yoy). Disusul kredit menengah sebesar 5,9 persen (yoy) dan kredit kecil sebesar 5,7 persen (yoy). Namun, kontribusi atau porsi kredit UMKM dari skala usaha masih didominasi kredit kecil.

Berdasarkan lapangan usaha, dipaparkan Bambang, sektor perdagangan besar dan eceran masih sangat dominan. Porsinya bahkan mencapai 59,1 persen. Diikuti sektor pertanian, perburuan dan kehutanan (7,8 persen) dan sektor industri pengolahan (5,9 persen). “Untuk tingkat pertumbuhan, tertinggi industri jasa kesehatan dan kegiatan sosial mencapai 32,2 persen (yoy).

Secara spasial, Bambang menambahkan masih seperti periode sebelumnya, penyaluran kredit UMKM terpusat di Kota Makassar. Porsinya bahkan lebih dari separuh kredit UMKM, tepatnya 51,3 persen. Disusul Kota Parepare sebesar 7,5 persen (yoy) dan Kota Palopo sebesar 4,2 persen (yoy).

“Adapun pengelolaan risiko kredit UMKM mengalami perbaikan. Itu bisa dilihat dari rasio NPL kredit UMKM sebesar 3,9 persen. Kalau dibandingkan periode Mei 2017 (4 persen) maupun periode Juni 2016 (4,1 persen), sekarang jelas lebih baik,” tutup dia. (tyk)

Kebijakan Fleksibilitas Buat Harga Gabah Petani Bisa Naik 10 Persen

Minat Generasi Pemuda Mengola Lahan Pertanian Kian Menurun Karena Rendahnya Kesejahteraan Petani (dok net)

Peningkatan Harga Beras dan Gabah Bisa Dongkrak Daya Beli Petani (dok net)

Makassar, KABAROKE — Kepala Perum Bulog Sulselbar, Dindin Syamsuddin, mengungkapkan kebijakan pemerintah menerapkan fleksibilitas harga mampu meningkatkan serapan gabah dan beras. Hingga Agustus 2017, serapan beras di Sulselbar baru sekitar 190,52 ton dari total target 418,52 ton. Tercatat masih ada kekurangan 227,99 ton penyerapan beras yang harus direalisasikan pada semester II 2017.

Menurut Dindin, kebijakan fleksibilitas membuat pihaknya bisa menyerap gabah dan beras dengan harga di atas acuan pemerintah dengan toleransi maksimal 10 persen. Misalnya, harga pokok pembelian atau HPP gabah Rp3.700 bisa dinaikkan menjadi Rp4.070. Kebijakan tersebut mulai diterapkan terhitung 7 Agustus. Kendati demikian, khusus di Sulselbar pihaknya belum menerapkan lantaran menunggu masa panen.

“Kebijakan fleksibilitas (harga pangan) tersebut dari pusat. Misalnya gabah, harga pembeliannya dari petani bisa naik 10 persen dari harga acuan pemerintah. Kebijakan tersebut memang tujuannya untuk meningkatkan penyerapan Bulog dalam rangka menambah stok secara nasional,” kata Dindin, di Makassar.

Dindin menjelaskan kebijakan fleksibilitas harga pangan juga dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Kenaikan harga atas hasil bumi tersebut praktis berdampak pada peningkatan pendapatan petani. Muaranya, daya beli petani akan semakin baik. Pemerintah melalui Bulog, sambung dia, menginginkan petani sejahtera dengan menjual hasil taninya dengan harga kompetitif.

Kebijakan fleksibilitas harga pangan diberikan manakala harga pasar di atas harga pembelian. Kebijakan itu dituangkan dalam Perpres No 48/2017 dan Perpres No 20/2017. Secara umum di tingkat nasional, Bulog pada semester I 2017 kesulitan melakukan penyerapan karena terkendala HPP yang di bawah harga pasar. Dampaknya, realisasi serapan semester I 2017 sebesar 1,3 juta ton, turun dari periode yang sama tahun lalu sebesar 1,8 juta ton. (tyk)

Bulog Sulselbar Suplai Beras ke 11 Provinsi, Ini Daftarnya…

Beras Bulog

Beras Bulog

Makassar, KABAROKE — Perum Bulog Sulselbar terus memperluas cakupan wilayah penyaluran beras sepanjang 2017. Tercatat sudah ada 11 provinsi yang menjadi daerah tujuan, baik itu Indonesia Timur maupun Indonesia Barat, termasuk DKI Jakarta. Teranyar, Perum Bulog Sulselbar menjalin kerjasama dengan Perum Bulog Sumbar, Selasa, 8 Agustus.

“Tadi saya bertemu dengan pimpinan Bulog Sumbar membahas soal kerjasama penyaluran beras. Mereka pilih beras kita karena tahu kualitasnya bagus, termasuk DKI Jakarta. Totalnya kita menyuplai beras ke sejumlah provinsi di Indonesia, baik wilayah Timur maupun Barat,” kata Kepala Divisi Perum Bulog Sulselbar, Dindin Syamsuddin, di Makassar.

Berdasarkan data Bulog Sulselbar, sebanyak 11 provinsi tujuan penyaluran beras yakni Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, Sultra, Sulut, DKI Jakarta, Sumut, Kepulauan Riau dan Sumbar. Hingga pertengahan 2017, Dindin menyebut pihaknya telah mengirim sekitar 60 ribu ton beras ke belasan provinsi tersebut.

Menurut Dindin, peluang kerjasama penyaluran beras dengan provinsi lain masih terbuka lebar. Diklaimnya, banyak provinsi yang berminat dengan beras asal Sulsel karena kualitasnya yang terjamin. “Kualitas beras kita sangat bagus dan itu merata. Hampir semuanya seperti beras kepala itu karena butir patahannya bisa ditekan, bahkan standarnya lebih baik dari nasional,” ujar dia.

Hingga Agustus 2017, stok beras di Sulselbar cukup berlimpah. Tercatat ketersediaan beras mencapai 148 ribu ton yang berarti ketahanan pangan di daerahnya aman hingga 20,58 bulan mendatang. Adapun target penyerapan beras di Sulselbar mencapai 418 ribu ton, dimana pihaknya menyiapkan anggaran mencapai Rp4 triliun untuk penyerapan.

Stok beras 148 ribu ton itu tersebar di 11 sub-divre pada dua provinsi. Sub-Divre Parepare menyimpan beras terbanyak mencapai 37 ribu ton dengan ketahanan pangan hingga 170 bulan. Disusul Sub-Divre Sidrap dengan stok beras 23 ribu ton (ketahanan pangan 68 bulan). Adapun yang terendah yakni Sub-Divre Mamuju dengan stok beras 1,5 ton (ketahanan pangan 6 bulan). (tyk)

Menteri Yohana : Banyak Orang Tua Belum Siap dengan Kehadiran Anak

Menteri PPPA Yohana S Yambise di Makassar

Menteri PPPA Yohana S Yambise di Makassar

Jakarta, KABAROKE – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesia, Yohana Yembise mengatakan kasus ibu membunuh anaknya di dalam lemari pendingin mengindikasikan masih banyak orangtua tidak siap dengan kehadiran seorang anak dalam kehidupannya.

Yohana sangat menyesalkan tindakan yang dilakukan seorang ibu di Kota Tarakanyang menyimpan bayinya di dalam lemari pendingin.

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu, Indonesia dikejutkan dengan pemberitaan seorang perempuan muda warga Kelurahan Karang Harapan, Kota TarakanKalimantan Utara yang diamankan pihak kepolisian akibat perbuatannya memasukkan jasad bayinya ke dalam lemari pendingin dan baru ditemukan setelah tiga bulan tersimpan.

“Setiap anak berhak untuk hidup dan mendapatkan perlakuan yang layak utamanya dari orangtua. Kami dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) sangat menyesalkan kejadian ini, begitu tega seorang perempuan yang merupakan ibu kandung memasukkan jasad bayinya sendiri ke dalam pendingin selama berbulan-bulan,” kata Yohana dalam siaran persnya, Selasa (8/8).

Menurut Yohana kelahiran yang tidak diinginkan menjadi salah satu permasalahan yang menunjukkan rapuhnya ketahanan sebuah keluarga. Mereka tidak siap dengan berbagai tantangan yang dihadapi, sehingga memicu berbagai bentuk kekerasan dalam rumah tangga.

“Membentuk keluarga melalui institusi pernikahan hendaknya dibangun dengan landasan kasih sayang dan disahkan oleh hukum negara. Karena anak-anak yang lahir dalam pernikahan yang tercatat negara akan mendapat haknya secara penuh sebagai warga negara dengan mudah seperti akta kelahiran dan warisan,” tutur Yohana.

Kejadian ini hendaknya dijadikan sebagai sebuah peringatan keras bagi seluruh pihak mengenai pentingnya memahami masalah ketahanan keluarga dalam membina kehidupan rumah tangga.

Yohana mengatakan, peningkatan ketahanan keluarga menjadi salah satu isu penting yang digalakkan Kemen PPPA untuk meningkatkan kualitas keluarga Indonesia.

Seperti yang telah diamanatkan dalam UU No.59 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga yang bertujuan meningkatkan kualitas keluarga agar timbul rasa aman, tentram dan harapan masa depan yang lebih baik dalam mewujudkan kesejahteraan lahir dan kebahagiaan bathin.⁠⁠⁠⁠ (Iqbal)

Optimalisasi BUMDes, NH Siapkan 100 Ribu Lowongan Kerja

Nurdin Halid

Nurdin Halid

Bone, KABAROKE — Calon Gubernur Sulsel dari Partai Golkar, Nurdin Halid (NH), siap membangkitkan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) di seluruh daerah jika dirinya berhasil memenangkan pilgub Sulsel 2018. Tujuannya untuk pemerataan kesejahteraan masyarakat.
NH menyampaikan hal itu saat menghadiri undangan silaturahmi bersama ribuan warga Kecamatan Sibulue, Desa Sumpang Minangae, Kabupaten Bone, Minggu, 6 Agustus 2017 kemarin.

NH yang berpasangan dengan Aziz Qahhar Mudzakkar ini mengatakan, untuk membangun perekonomian rakyat secara merata, maka harus dilakukan di desa, di kampung-kampung. Caranya, dengan mengoptimalkan peran dari Bumdes.

Salah satu basis perekonomian desa saat ini yang membutuhkan perhatian, yakni dengan memaksimalkan peran Bumdes. Bumdes saat ini sudah masuk dalam instruksi pusat.

“Satu Bumdes diupayakan menampung 10 tenaga kerja. Jika 10 ribu Bumdes kita maksimalkan, maka Bumdes ini akan menyerap 100 ribu tenaga kerja. Ini baru Bumdes, belum yang lain,” kata NH yang juga Ketua Harian DPP Golkar ini.

Ketua Harian DPP Golkar Nurdin Halid

Ketua Harian DPP Golkar Nurdin Halid

Pada kesempatan itu, NH meminta warga Bone memilih dirinya pada Pilgub Sulsel 2018 mendatang. Alasannya, NH mengatakan bahwa dirinya adalah orang Bone asli, yang lahir di Bone dan sekolah di Bone. Karena itu, NH berharap agar warga Bone memilih dirinya.

Setelah Silaturahmi, NH menyerahkan bantuan berupa peralatan olahraga untuk pemuda desa.

Sementara itu, Bupati Bone Andi Fahsar Padjalangi menyebut NH adalah sosok putra Bone yang berpengaruh di negeri ini. Fahsar yakin bahwa NH mampu merealisasikan janji-janjinya.

Alasannya, selain sebagai pengusaha sukses, NH juga adalah sosok politisi yang memiliki jaringan besar di pusat untuk mengelola anggaran Pusat menjadi bantuan ke daerah.

NH dalam acara ini datang bersama rombongan dari DPD Golkar Sulsel. NH disambut Bupati Bone Andi Fahsar Padjalangi bersama ribuan warga setempat.⁠⁠⁠⁠ (Yasir)

Intiwhiz Hadirkan Hotel ke-19 di Makassar

Peluncuran Whiz Prime Hotel Sudirman Makassar

Peluncuran Whiz Prime Hotel Sudirman Makassar

Makassar, KABAROKE – Intiwhiz Hospitality Management terus melakukan ekpansi bisnis. Teranyar, perusahaan tersebut meluncurkan hotel ke-19 di Kota Makassar yang dinamai Whiz Prime Hotel Sudirman. Hotel tersebut merupakan yang kedua di Kota Makassar dan ketiga di Kawasan Timur Indonesia. Investasi hotel berbintang tiga tersebut berkisar Rp50 miliar.

“Whiz Prime Hotel Sudirman Makassar merupakan koleksi hotel Intiwhiz ke-19 di seluruh Indonesia. Kami kembali meluncurkan hotel kedua di Kota Makassar karena prospeknya yang sangat menjanjikan. Adapun investasi hotel jaringan Intiwhiz sekitar Rp50 miliar,” kata President Director Intiwhiz Hospitality Management, Moedjianto S Tjahjono, di Makassar, Jumat, 7 Juli.

Whiz Prime Hotel Sudirman Makassar terdiri atas 132 kamar yang terdiri dari dua tipe kamar. Rinciannya yakni kamar superior dan kamar deluxe. Terdapat pula tiga fasilitas ruang pertemuan yang membuat Whiz Prime Hotel diyakini mampu mengakomodasi besarnya kebutuhan Meeting, Incentive, Convention and Exhibition alias MICE di Kora Makassar.

Moedjianto mengimbuhkan pengoperasian Whiz Prime Hotel Sudirman Makassar bukan yang terakhir. Perusahaannya menargetkan membuka jaringan hingga 38 hotel pada 2018. Dalam waktu dekat, Intiwhiz segera mengoperasikan tiga hotel sekaligus. Di antaranya yakni Whiz Prime Hotel Malioboro Yogyakarta, Whiz Prime Hotel Khatib Sulaiman Padang dan Whiz Prime Hotel Basuki Rahmat Malang.

Jaringan hotel Intiwhiz sendiri terdiri atas beberapa klasifikasi brand. Rinciannya yakni 6 unit Whiz Hotel, 8 unit Whiz Prime Hotel, 4 Grand Whiz Hotel dan satu unit lainnya berupa Swift Inn. Jaringan hotel Intiwhiz merupakan hotel bintang dua sampai hotel bintang empat yang tersebar di 15 kota di Indonesia.

Corporate General Manager Intiwhiz Hospitality Management, Edy Syumardi, menambahkan keputusan menambah jaringan hotel di Makassar telah melalui pertimbangan matang. Hotel baru tersebut dioperasikan hanya selang setahun setelah peresmian Whiz Prime Hotel Hasanuddin Makassar. Lokasinya pun terletak tidak berjauhan. Namun, hotel teranyar berada tepat di jantung kota Makassar.

Kehadiran hotel baru tersebut, Edy meyakini mampu bersaing dan menjadi salah satu hotel pilihan utama warga Makassar. Manajemen Intiwhiz bahkan berani memasang target tinggi yakni okupansi pada tiga bulan pertama berada pada rentang 30-60 persen. “Tahun 2017 ini kami menargetkan menjadi satu dari tiga hotel papan atas di wilayah Sudirman (Makassar) berdasarkan tingkat hunian kamar,” tegasnya.

Keunggulan hotel jaringan Intiwhiz, Edy menyebut berada pada komitmen mengangkat budaya lokal. Selain itu, Whiz Prime Hotel menjanjikan pengalaman kuliner dengan rasa otentik khas Kota Daeng. Sistem reservasi jaringan hotel Intiwhiz pun jauh lebih mudah. Tidak hanya menggandeng berbagai aplikasi, seperti traveloka, tapi pihaknya memang memiliki aplikasi online tersendiri yang menawarkan banyak kemudahan dan keuntungan. (tyk)

1 2 3 4 5 24