Di Daerah Ini, 15 Jembatan Roboh Akibat Banjir

Ilustrasi
Ilustrasi

Bantul, KABAROKE — Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat 15 jembatan di daerah ini roboh akibat diterjang banjir luapan sungai setelah diguyur hujan sebagai dampak badai Siklon Tropis Cempaka akhir November lalu.

“Dampak infrastruktur karena kejadian banjir kemarin terus bertambah datanya, dan yang kita verifikasi dan data terakhir itu ada 15 jembatan yang roboh dan tidak bisa difungsikan kembali,” kata Kepala Pelaksana BPBD Bantul Dwi Daryanto di Bantul, Kamis.

Menurut dia, hujan deras disertai angin kencang dampak badai Cempaka 28 November mengakibatkan banjir di seluruh 17 kecamatan, selain itu sungai-sungai di wilayah Bantul meluap sehingga jembatan tidak kuat menahan derasnya aliran air.

Pihaknya tidak merinci jembatan yang roboh karena diterjang banjir itu, namun diataranya jembatan Nambangan di Dusun Nambangan Desa Seloharjo dan jembatan gantung di Desa Selopamioro di atas aliran Sungai Oya.

Selain merobohkan jembatan, kata dia, banjir bandang juga merusak jalan di sembilan titik bahkan terputus, kerusakan talud di 22 titik, kerusakan di 13 bendung atau bangunan air, gorong-gorong empat titik, sekolah 44 titik, satu rumah sakit dan 178 rumah rusak.

“Estimasi kerugian karena dampak kejadian 28 November itu semuanya kurang lebih sekitar Rp167 miliar, dengan kerugian paling besar karena kerusakan infrastruktur kurang lebih sebesar Rp162 miliar,” katanya.

Baca Juga  Malam Ini, Menteri Nasir Buka Pimnas 2017 di Kota Daeng

Dwi Daryanto mengatakan, kejadian banjir tersebut juga menggenangi lahan pertanian di Bantul seluas 161 hektare, merusak kolam-kolam perikanan dan kandang ternak, yang kerugiannya mencapai sekitar Rp,9 miliar.

Selain berakibat kerusakan infrastruktur dan sektor lainnya, lanjut dia, kejadian 28 November juga mengakibatkan sekitar 9.000 jiwa warga Bantul mengungsi ke lokasi yang aman, karena rumahnya kebanjiran, maupun rusak berat karena banjir atau tertimpa longsor.

“Untuk pengungsi karena kejadian itu berlangsung kurang lebih tiga hari, karena pada hari kedua pascabanjir air sudah surut, dan yang masih tergenang tinggal di kecamatan pesisir yaitu Kretek, Sanden dan Srandakan,” katanya.

Namun demikian, kata dia, kalau di wilayah yang terdampak banjir terparah yaitu Desa Sriharjo dan Selopamioro Kecamatan Imogiri pada 28 November banjir, namun keesokan harinya atau pada 29 November air sudah surut.

“Sehingga pengungsi hanya tiga hari berada di titik-titik pengungsian, selanjutnya mereka pulang ke rumah masing-masing untuk membersihkan sisa-sisa banjir,” katanya. (***)


Was This Post Helpful:

0 votes, 0 avg. rating

Share:

Leave a Comment