Ini Alasan Pemuda Muhammadiyah Laporkan Ahok

Basuki T Purnama (Ahok)/dok net
Basuki T Purnama (Ahok)/dok net

Jakarta, KABAROKE — Pengadilan Negeri Jakarta Utara kembali menggelar sidang kelima kasus penodaan agama dengan terdakwa Gubernur non aktif Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, Selasa, (10/1).

Dalam persidangan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan lima saksi pelapor dalam sidang lanjutan perkara kasus dugaan penodaan agama. Yang pertama kali bersaksi, Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah, Pedri Kasman.

Pedri melaporkan Ahok pada 7 Oktober 2016 ke Polda Metro Jaya atas instruksi Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiah Dahnil Anzar Simanjuntak melalui Surat Kuasa.

“Dahnil memerintahkan, kami melapor ke polisi. Dahnil yang menyimpulkan (Ahok) menistakan agama Islam,” ujarnya di ruang Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa, (10/1).

Pedri melaporkan dengan satu barang bukti, yakni CD yang terdapat data unduhan berupa rekaman video saat pidato Ahok di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu pada 27 September lalu. CD berwarna dasar abu-abu itu, dibawa Pedri saat bersaksi di pengadilan. Kepingan CD itu ditunjukan kepada majelis hakim, jaksa penuntut umum, dan penasehat hukum.

Video yang ada di dalam CD diunduh melalui YouTube. Durasinya kurang lebih sekitar 1 jam 46 menit. Rekaman dalam video itu, yang menjadi barang bukti Pedri untuk melaporkan Ahok.

Baca Juga  Terjerat Kasus Penistaan Agama, Elektabilitas Ahok Terus Merosot

“Tanggal 5 (Oktober) melihat (video), 6 berkoordinasi Angkatan Muda Muhammadiyah, 7 lapor ke Polda,” ucapnya.

Pedri menjelaskan, niatan melaporkan Ahok, berawal dari diskusi pada grup aplikasi komunikasi, WhatsApp. Grup bernama ‘Pemuda Muhammadiyah’ itu mendiskusikan sepenggal ucapan Ahok yang dianggap telah menistakan agama Islam.

Yang didiskusikan dalam grup WhatsApp hanya sepenggal, pada sekitar menit 24.20-24.33. Sementara pidato Ahok di Pramuka, durasinya kurang lebih sekitar 1 jam 46 menit.

“Jadi, jangan percaya sama orang, bisa aja dalam hati kecil bapak ibu nggak bisa pilih saya. Dibohongi pakai Surat Al-Maidah (ayat) 51 macem-macem itu. Itu hak bapak-ibu ya!” ucap Pedri meniru ucapan Ahok di Kepulauan Seribu, 27 September lalu.

Sidang sebelumnya, (3/1) Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan Novel Bamukmin, Hus Joy Setiawan, Muchsin Alathas, Syamsu Hilal. Adapun Burhanudin tak hadir di persidangan Ahok karena sakit. Sementara Nandi Naksabandi meninggal dunia pada 7 Desember lalu. (Iqbal)


Was This Post Helpful:

0 votes, 0 avg. rating

Share:

Leave a Comment