Kemendag Minta Masyarakat Tak Belanja Berlebihan Saat Ramadan

Ilustrasi

Ilustrasi

Makassar, KABAROKE — Staf Ahli Bidang Pengamanan Pasar Kementerian Perdagangan (Kemendag) Sutriono Edi mengimbau masyarakat untuk tidak konsumtif saat bulan suci Ramadan. Hal tersebut penting guna meredam inflasi yang diprediksi tekanannya mengalami peningkatan. Fenomena tingginya tekanan inflasi memang kerap terjadi setiap kali memasuki momen keagamaan. “Kalau bisa, ya jangan belanja secara berlebihan,” kata Sutriono, di Makassar,┬ábelum lama ini.

Menurut Sutriono, memasuki bulan suci Ramadan yang diiringi dengan ibadah puasa, idealnya belanja rumah tangga menurun. Namun, fenomena di masyarakat Indonesia berbanding terbalik. Belanja rumah tangga malah melonjak untuk sandang dan pangan. Kecenderungannya, masyarakat semakin konsumtif untuk membeli bahan makanan untuk sahur dan buka puasa. Menjelang Lebaran, masyarakat berbondong-bondong membeli pakaian baru.

Sutriono menjelaskan kehadiran tim Kemendag ke Makassar selama dua hari, Rabu-Kamis, 26-27 April, dimaksudkan untuk memastikan stok pangan aman dan harganya stabil. Kemendag berupaya menekan terjadinya gejolak pasar, semisal kelangkaan pangan yang berujung pada melambungnya harga komoditas. “Kami juga mengharapkan media dapat mengedukasi masyarakat agar tidak panik dan tidak ada gejolak pasar. Toh, semuanya aman.”

Berdasarkan pantauan Kemendag di gudang distributor, pasar tradisional, toko retail dan gudang Bulog Sulselbar, stok pangan di Sulsel aman hingga Lebaran. Tidak kalah penting, Sutriono mengatakan harga pangan di Sulsel rata-rata lebih rendah dibandingkan harga nasional. “Hampir semua komoditas yang dipantau itu aman dan stabil harganya. Bahkan, harga (pangan ) di Sulsel berada di bawah rata-rata nasional,” terang dia.

Masih merujuk pada data Kemendag, sebanyak 11 dari 13 komoditas pangan yang dipantau, harganya di bawah rata-rata nasional. Di antaranya yakni beras premium, gula pasir, minyak goreng curah, daging sapi, daging ayam broiler, telur ayam ras, cabai merah keriting, cabai merah besar, cabai rawit merah, bawanhg merah dan bawang putih. “Sebagai contoh beras premium di nasional dijual Rp10.585. Sedangkan di Sulsel cuma Rp9.000,” ucap Sutriono.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulsel Wiwiek Sisto Widayat mengakui tekanan inflasi memasuki momen hari besar keagamaan menjadi lebih tinggi, termasuk saat bulan suci Ramadan pada Mei-Juni. BI telah menyiapkan langkah strategis guna mengendalikan tekanan inflasi pada Mei-Juni mendatang. BI memperkuat koordinasi dan mendorong peran Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dalam menjaga tingkat inflasi di Sulsel.

Tekanan inflasi Mei-Juni diyakini cukup besar lantaran bertepatan dengan momentum maupun rangkaian Hari Raya Idul Fitri. Sudah menjadi fenomena tiap tahunnya, peningkatan konsumsi masyarakat mengalami lonjakan pada komoditas tertentu, khususnya pangan dan sandang. Situasi tersebut kerap berimbas pada meningkatnya harga komoditas yang diburu masyarakat. Ujungnya, inflasi menjadi terkerek. Karena itu, Wiwiek menegaskan langkah antisipasi perlu dilakukan.

“Mei dan Juni itu akan ada inflasi karena memasuki puasa dan lebaran. Sebenarnya heran juga, puasa kok jadinya pengeluaran bertambah, misalnya untuk makanan yang menjadi bertambah besar. Tapi, seperti itulah seasonal-nya bahwa setiap momentum puasa dan lebaran maupun hari-hari besar keagamaan lainnya, tekanan inflasi menguat,” pungkas dia. (tyk)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *