Kritik untuk Presiden Jokowi Sebut Demokrasi Kebablasan

Hamid Basyaib
Hamid Basyaib

Jakarta, KABAROKE — Pendapat Presiden Jokowi yang menyebut demokrasi di Indonesia saat ini kebablasan menjadi perhatian sejumlah pihak di masyarakat. Pengamat sosial budaya yang juga seorang kolumnis, Hamid Basyaib menyarankan, sebaiknya presiden jangan pernah menggunakan istilah ‘demokrasi kebablasan’ tersebut.

Menurutnya, istilah kebablasan yang digunakan Jokowi tidak tepat. Penerapan demokrasi di Indonesia saat ini serta kaitannya dengan era digitalisasi, tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi saja. Mengingat, masyarakat Indonesia ini juga pernah hidup di era 30 tahun lebih terkungkung Orde Baru.

“Demokrasi kebablasan sangat tidak tepat. Demokrasi tidak pernah kebablasan,” kata Hamid saat menjadi narasumber diskusi bertajuk “Kebebasan Demokrasi Kebablasan” di kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu (25/2).

Menurutnya, pemerintah harus siap menghadapi aspirasi masyarakat di era digital yang salah satunya disampaikan lewat media sosial. Pasalnya, lonjakan informasi di dunia maya bukan cuma jadi masalah Indonesia.

Baca Juga  Rosneft Tertarik Bangun Kilang Minyak Di Tuban Jawa Timur

“Pemerintahan di dunia ini pun tidak ada yang cukup siap melihat ledakan kebebasan yang luar biasa karena masyarakat tiba-tiba memiliki senjata dahsyat dalam berdemokrasi,” ujarnya.

Seharusnya, kata dia, pemerintah tidak memandang negatif penggunaan teknologi dalam demokrasi. Dia berpandangan media sosial bisa digunakan untuk pemerataan kecerdasan.

“Karena segala macam informasi di sana bisa diakses gratis,” tandasnya.

Sebelumnya, Jokowi menyatakan Demokrasi Indonesia sudah kebablasan. Pasalnya, demokrasi saat ini sudah membuka peluang terjadinya artikulasi politik yang tak biasa seperti liberalisme dan radikalisme. (Iqbal)


Was This Post Helpful:

0 votes, 0 avg. rating

Share:

Leave a Comment