Menristekdikti Ingin Startup Dimulai dari Dunia Kampus

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi M Nasir
Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi M Nasir

Makassar, KABAROKE — Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), M Nasir, mendorong pengembangan bisnis start-up di Indonesia. Berkembangnya bisnis start-up diyakini mampu menggerakan perekonomian ke arah yang lebih baik. Syaratnya, perusahaan-perusahaan start-up harus memiliki daya saing dan efisiensi yang tinggi. Pengembangan bisnis tersebut juga didorongnya untuk dimulai sejak dini, utamanya di lingkup dunia kampus.

Menteri Nasir mengungkapkan pertumbuhan bisnis start-up tidak bisa lepas dari dunia kampus yang identik dengan riset. Harus disadari bahwa pengembangan bisnis start-up sejalan dan seiring dengan pertumbuhan riset. “Riset inilah yang menjadi awal mula adanya start-up,” kata Menteri Nasir, pada Seminar Forum Start-up Nasional bertajuk ‘Menumbuhkembangkan Start-up Nasional Berdaya Saing Global’ di Kampus UNM, Kota Makassar, Jumat kemarin.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Nasir mengingatkan perusahaan start-up harus menjaga daya saing dalam proses hilirisasi dan komersialisasi produk inovasi. Didorongnya pula agar para peneliti menggalakkan riset untuk mendukung bisnis start-up. Riset dimintanya jangan berhenti pada publikasi ilmiah, tapi mesti berlanjut ke tahapan prototipe dan komersialisasi. Syarat produk inovasi yang siap bersaing dalam bisnis tersebut yakni memiliki kesiapan teknologi level 7.

“Terlepas dari itu, yang namanya produk inovasi tidak akan ada artinya jika berharga mahal, umur ekonomis pendek dan pengerjaannya rumit,” pesan Menristekdikti.

Menteri Nasir mencontohkan produk inovasi yang siap memasuki bisnis start-up yakni kapal nelayan pelat datar. Kapal yang telah resmi dilaunching oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla pada puncak peringatan Hakteknas itu diklaimnya memiliki banyak keunggulan untuk bersaing secara global. Kapal yang dibuat PT IKI dari ide pihak perguruan tinggi itu memiliki harga yang lebih murah. Bahkan, harganya diklaim lebih murah ketimbang kapal berbahan kayu dan fiber.

Baca Juga  Peringatan Hari Armada, Lantamal VI Perkokoh Sistem Persenjataan

“Umur pemakaian kapal pelat datar (yang terbuat dari baja) lebih lama. Bisa sampai 30 tahun. Belum lagi, dari sisi pengerjaan, kapal tersebut lebih sederhana dan lebih cepat dikerjakan dibandingkan kapal umum lainnya,” terang Menristekdikti.

Lebih jauh, Menteri Nasir menuturkan untuk mendukung pengembangan bisnis start-up, pihaknya senantiasa menumbuh-kembangkannya di dunia kampus. Bahkan, pengembangan start-up di kampus telah digalakkan sejak 2014 melalui pusat unggulan inovasi di berbagai perguruan tinggi. “Di situ dilakukan penggodokan hasil-hasil riset supaya siap dihilirisasi menjadi produk inovasi. Untuk itu, kerjasama dengan industri menjdi faktor penting dalam fase hilirisasi produk inovasi,” tuturnya.

“Dari poduk inovasi tersebut jika mampu dihilirkan dan dikomersialkan dengan baik akan memiliki efek multiplayer. Ekonomi masyarakat bisa berkembang lebih baik,” sambung Menteri Nasir.

Terkait akses permodalan start-up, Menteri Nasir mengajak para investor untuk tidak ragu dalam menanamkan modal. Toh, prospeknya sangat menjanjikan. Pihaknya pun siap memediasi antara inventor start-up dengan pihak investor. Namun, hal tersebut kembali bergantung pada daya saing dan efisiensi start-up atau produk inovasi. “Kalau start up punya daya saing bagus, pasti diincar oleh investor,” pungkasnya. (tyk)


Was This Post Helpful:

0 votes, 0 avg. rating

Share:

Leave a Comment