Begini Prediksi BI Soal Laju Inflasi Sulsel pada Desember 2017

Bank Indonesia

Bank Indonesia

Makassar, KABAROKE — Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulsel, Bambang Kusmiarso, memprediksi inflasi daerahnya pada Desember 2017 cukup terkendali. Diperkirakan inflasi pada akhir 2017 berada pada rentang 0,5-0,9 persen. Proyeksi itu merujuk pada pola pembentukan inflasi secara historis dari tahun ke tahun.

“Berdasarkan rata-rata historis, terkecuali ada kejadian luar biasa, maka inflasi Sulsel pada Desember 2017 diperkirakan pada rentang 0,5-0,9 persen (mtm),” kata Bambang, di Makassar.

Berdasarkan data historis terkait inflasi di Sulsel sejak 2013 hingga 2016, kisarannya 0,3-0,78 persen. Terkecuali pada 2014, dimana ada kejadian luar biasa yang membuat inflasi menembus 2,76 persen. Rinciannya pada Desember 2013 (0,78 persen), Desember 2015 (0,70 persen) dan Desember 2016 (0,30 persen).

Menurut Bambang, inflasi Desember 2017 diperkirakan berasal dari seluruh komponen disagregasi. Dari inflasi inti, tarikan permintaan konsumsi rumah tangga diproyeksikan memberikan tekanan. Sedangkan dari administered price, inflasi bersumber dari kenaikan tiket harga pesawat. “Adapun inflasi volatile food diupayakan untuk diredam,” tuturnya.

Bambang mengatakan untuk mengendalikan laju inflasi, BI bersama seluruh pihak terkait yang tergabung dalam Tim Pemantau dan Pengendali Inflasi Daerah atau TPID siap bekerja ekstra. Langkah strategis disusun dalam rangka pengendalian inflasi pada akhir tahun. Pihaknya memetakan dan terus memantau perkembangan harga sejumlah komoditas.

“TPID memetakan dan memantau secara seksama perkembangan harga komoditas, terutama yang sesuai polanya menjadi penyumbang inflasi. Di antaranya yakni angkutan udara, telur ayam ras, daging ayam ras, cabai rawit, beras dan bandeng.”

“Inflasi akan tetap diarahkan berada dalam kisaran sasaran inflasi pada 2017 yakni 4 plus minus 1 persen,” sambung Bambang.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, Nursam Salam, mengungkapkan Sulsel mencatatkan inflasi 0,28 persen pada November 2017. Inflasi pada bulan ke-11 tahun ini terjadi setelah tiga bulan sebelumnya berturut-turut mengalami deflasi. Diakuinya kinerja TPID sangat diharapkan dalam upaya mengendalikan laju inflasi, khususnya pada kelompok volatile food.

Inflasi pada November 2017, merujuk data BPS, tercatat dipengaruhi oleh kenaikan tarif angkutan udara. Secara utuh, laju inflasi Sulsel tahun kalender rentang Januari-November tahun ini mencapai 3,37 persen. “Adapun laju inflasi year on year (November 2017 terhadap November 2016 berkisar 3,68 persen,” pungkas dia. (***)

BI Prediksi Inflasi November di Sulsel Tetap Stabil

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulsel Bambang Kusmiarso [dok net]

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulsel Bambang Kusmiarso [dok net]

Makassar, KABAROKE — Laju inflasi di Sulsel pada November 2017 diprediksi relatif stabil. Bahkan, tidak menutup kemungkinan Sulsel kembali mencatatkan deflasi. Terjaganya tekanan inflasi di Sulsel berkat stabilitas harga kebutuhan pokok. Selain itu, tidak ada momen besar pada bulan ini yang membuat adanya lonjakan pengeluaran untuk kebutuhan masyarakat.

“Khusus untuk November 2017, inflasi di Sulsel diperkirakan masih relatif stabil seiring dengan pasokan bahan kebutuhan yang terjaga di tengah musim panen yang mulai berakhir,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulsel, Bambang Kusmiarso.

Berdasarkan data yang dihimpun Kabar Oke, laju inflasi di Sulsel sepanjang 2017 terbilang sangat stabil. Hingga bulan kesepuluh pada tahun ini, Sulsel telah mencatatkan lima kali deflasi. Teranyar, Sulsel mengalami deflasi 0,31 persen pada Oktober 2017. Yang istimewa, seluruh kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sulsel juga mencatatkan deflasi.

Secara utuh, laju inflasi di Sulsel untuk tahun kalender (Januari-Oktober 2017) mencapai 3,08 persen. Adapun laju inflasi year on year (Oktober 2017 terhadap Oktober 2016) berkisar 3,85 persen. Bambang menyebut torehan tersebut masih dalam range target, dimana kisaran sasaran inflasi tahun 2017 yaitu 4 plus minus 1 persen.

Menurut Bambang, yang perlu mendapatkan perhatian lebih adalah tekanan inflasi pada akhir tahun alias Desember 2017. Diprediksi pihaknya tekanan inflasi menguat menyambut dua momentum besar yakni Natal dan Tahun Baru. Tekanan inflasi diperkirakan bersumber dari administered price, khususnya pada komoditas tiket angkutan udara.

“Peningkatan tekanan inflasi memang diperkirakan akan terjadi pada akhir tahun. Itu karena biasanya menjelang Natal dan Tahun Baru, harga tiket pesawat mengalami kenaikan. Kondisi serupa biasa terjadi pada hari besar keagamaan, seperti Idul Fitri maupun Idul Adha,” ulas Bambang.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, Nursam Salam, sebelumnya menyatakan daerahnya mencatatkan prestasi yang cukup baik dalam pengendalian inflasi. Tercatat Sulsel menorehkan lima kali deflasi. Teranyar periode Oktober 2017, Sulsel mengalami deflasi 0,31 persen.

Menurut Nursam, deflasi Sulsel pada Oktober 2017 cukup istimewa lantaran semua kota Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami deflasi. “Kali ini, seluruh kota IHK di Sulsel berhasil mencatatkan deflasi. Total ada lima kota IHK di provinsi ini yakni Makassar, Parepare, Bone, Palopo dan Bulukumba,” tutup dia. (***)

Begini Langkah BI Sulsel Hadapi Tekanan Inflasi di Pengujung Tahun

Bank Indonesia

Bank Indonesia

Makassar, KABAROKE — Bank Indonesia (BI) bersama Tim Pemantauan dan Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) telah menyiapkan jurus guna mengantisipasi tekanan inflasi yang diprediksi meningkat pada akhir 2017. Strategi tersebut melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk para pemuka agama.

Kepala Kantor Perwakilan BI Sulsel, Bambang Kusmiarso, mengatakan bersama TPID, pihaknya menaruh atensi pada pengendalian harga, khususnya komponen volatile food. Untuk itu, pihaknya telah menyiapkan tiga langkah strategis menekan laju inflasi pada pengujung tahun.

Bambang menyebut langkah pertama berupa pemetaan potensi lonjakan harga dan kenaikan permintaan sehubungan momentum Natal dan Tahun Baru. Dari situ, pihaknya bisa menyusun rencana lanjutan. Yang pasti, TPID berusaha menjamin pasokan dan ketersedian segala kebutuhan pokok aman.

“Langkah kedua, TPID menyiapkan mekanisme SOP (Standar Operasional Prosedur) kenaikan harga. Termasuk senantiasa siap turun ke lapangan untuk melakukan sidak (inspeksi mendadak) sesuai kebutuhan,” kata Bambang, di Makassar.

Langkah ketiga alias pamungkas, Bambang menuturkan pihaknya menggencarkan sosialisasi kepada pemuka agama untuk memberikan edukasi seputar inflasi. Pemuka agama dipilih lantaran mereka merupakan figur yang didengar oleh masyarakat. Dengan begitu pesan-pesan TPID bisa diimplementasikan.

“TPID menggandeng pemuka agama untuk sosialisasi terkait inflasi dan hal-hal yang perlu diperhatikan selama akhir tahun. Pola serupa sempat dilakukan sewaktu menghadapi tekanan inflasi pada Idul Fitri dan Idul Adha,” tutur dia.

Bambang mengimbuhkan tekanan inflasi pada akhir tahun diproyeksikan meningkat karena efek musiman. Tekanan inflasi diperkirakan bersumber dari administered price, khususnya pada komoditas tiket angkutan udara. Biasanya tiket pesawat melonjak pada pengujung tahun.

“Peningkatan tekanan inflasi memang diperkirakan akan terjadi pada akhir tahun. Itu karena biasanya menjelang Natal dan Tahun Baru, harga tiket pesawat mengalami kenaikan. Kondisi serupa biasa terjadi pada hari besar keagamaan, seperti Idul Fitri maupun Idul Adha,” ulasnya.

Sepanjang 2017, laju inflasi di Sulsel terbilang cukup stabil. Sulsel bahkan telah mencatatkan lima kali deflasi hingga Oktober 2017. Teranyar, deflasi Sulsel mencapai 0,31 persen. Yang istimewa lantaran semua kota Indeks Harga Konsumen (IHK) turut mengalami deflasi. (***)

Tas Raksasa Bermotif Aceh Pecahkan Rekor

Tas Raksasa Bermotif Aceh [dok net]

Tas Raksasa Bermotif Aceh [dok net]

Lhokseumawe, KABAROKE — Tas raksasa bermotif Aceh milik Kantor Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe memecahkan rekor tas motif tradisional terbesar Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Manajer MURI Andre Purwandono secara simbolis menyerahkan sertifikat rekor MURI kepada Kepala KPw BI Lhokseumawe Yufrizal sebagai pengakuan atas rekor baru yang dicetak tas berwarna coklat dengan panjang 3,25 meter, tinggi 1,5 dan memiliki lebar 1,4 meter.

Pembuatan tas itu menghabiskan 27 meter kain Prada, 25 metre kain lapis kawat, kain krah 6,5 meter, 36 gulung benang ekstra, 10 gulung rakit dan dua gulung perekat.

Andre menjelaskan tas dengan ukuran besar tersebut dinilai superlatif bukan semata karena ukurannya melampaui rata-rata ukuran tas, namun juga karena keunikan motifnya.

“Selain besar, tas ini juga menarik karena memiliki motif tradisional daerah, sehingga lain daripada yang lain,” kata Andre.

Yufrizal menjelaskan replika tas raksasa yang pernah ditampilkan pertama kali saat Gampong Expo 2017 di Lhokseumawe beberapa waktu lalu tersebut merupakan hasil kerajinan para pengrajin tas motif Aceh di Aceh Utara yang dibina oleh BI Lhokseumawe. Tas tersebut selama ini dipajang di ruang lobi Gedung BI Lhokseumawe. (***)

Transaksi Kliring di Sulsel Tembus Rp4,5 Triliun

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulsel Bambang Kusmiarso [dok net]

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulsel Bambang Kusmiarso [dok net]

Makassar, KABAROKE — Bank Indonesia (BI) mencatat transaksi nontunai melalui sistem kliring memperlihatkan tren menggembirakan pada Oktober 2017. Pertumbuhan positif transaksi kliring berbanding lurus dengan peningkatan jumlah warkat kliring mencapai dua digit.

“Nilai transaksi kliring periode Oktober 2017 mengalami kenaikan 12,3 persen menjadi Rp4,5 triliun. Begitu pula jumlah warkat kliring secara bulanan meningkat 15,9 persen mencapai 108.282 lembar,” kata Kepala Kantor Perwakilan BI Sulsel Bambang Kusmiarso di Makassar, belum lama ini.

Berdasarkan data yang dihimpun Kabar Oke, nilai transaksi kliring di Sulsel cenderung fluktuatif. Pada Februari 2017, nilai transaksi kliring berkisar Rp4,31 triliun lalu merosot menjadi Rp3,29 triliun pada Juni 2017. Adapun, secara keseluruhan pada 2016 transaksi kliring menembus Rp68,89 triliun.

Bukan hanya sistem pembayaran nontunai yang mengalami lonjakan pada Oktober 2017. BI mencatat transaksi tunai di Sulsel pun meningkat cukup tajam. Jumlah uang kartal yang masuk (cash inflow) pada bulan kesepuluh tahun ini mencapai Rp1,6 triliun atau meningkat 38,7 persen.

“Cash inflow pada Oktober 2017 naik cukup signifikan. Bila bulan sebelumnya (September 2017) berkisar 1,2 triliun, data terakhir menunjukkan mencapai Rp1,6 triliun (pada Oktober 2017),” jelas Bambang.

Sebaliknya, Bambang menjelaskan uang kartal yang masuk alias cash outflow mengalami penurunan hingga 51,3 persen. Pada September 2017 uang kartal masuk berkisar Rp0,6 triliun dan kini pada Oktober 2017 hanya Rp0,3 triliun.

“Dilihat dari cash inflow dan cash outflow pada Oktober 2017, net inflow dari data terakhir berada pada kisaran Rp1,3 triliun,” pungkas Bambang. (***)

BI Klaim Kredit UMKM di Sulsel Tumbuh Kian Menggembirakan

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulsel Bambang Kusmiarso [dok net]

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulsel Bambang Kusmiarso [dok net]

Makassar, KABAROKE — Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit UMKM di Sulsel memperlihatkan tren yang semakin menggembirakan. Periode September 2017, penyaluran kredit UMKM mengalami koreksi dibandingkan bulan sebelumnya. Hebatnya lagi, pertumbuhan kredit UMKM di Sulsel sebesar 6,5 persen berada di atas pertumbuhan total kredit perbankan sebesar 6,3 persen.

Berdasarkan data BI, kredit UMKM mengalami lonjakan 6,5 persen, dari Rp3,48 triliun menjadi Rp3,51 triliun. Adapun pertumbuhan total kredit perbankan mencatatkan kenaikan 6,3 persen, dari Rp107,8 triliun menjadi Rp109,3 triliun. Meski secara nominal lebih rendah, namun laju pertumbuhan kredit UMKM jelas lebih baik dibandingkan pertumbuhan total kredit perbankan.

“Kredit UMKM periode September 2017 sebesar 6,5 persen, itu lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 6,4 persen. Bahkan torehan itu lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan total kredit perbankan,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulsel, Bambang Kusmiarso, di Makassar.

Bambang menjelaskan lonjakan kredit UMKM di Sulsel disokong oleh kenaikan pertumbuhan kredit mikro. Dilihat dari skala usaha, pertumbuhan tertinggi memang dialami kredit mikro sebesar 13,7 persen. Diikuti kredit kecil yang mencatat pertumbuhan 8,1 persen. Adapun kredit menengah malah mengalami kontraksi sebesar -1 persen. Meski demikian, itu masih lebih baik dibandingkan periode bulan lalu.

Masih merujuk data BI, ditilik dari lapangan usaha, Bambang menyebut pertumbuhan tertinggi penyaluran kredit UMKM dicapai oleh lapangan usaha jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 76,4 persen. Diikuti lapangan usaha pertanian, perburuan dan kehutanan (29 persen) serta lapangan usaha perikanan (22,8 persen).

Bambang mengimbuhkan terlepas dari tingginya pertumbuhan pada lapangan usaha tersebut, kredit UMKM di Sulsel masih didominasi lapangan usaha perdagangan besar dan eceran. Disusul lapangan usaha pertanian, perburuan dan kehutanan serta lapangan usaha industri pengolahan. (***)

BI : Tekanan Inflasi Cenderung Meningkat di Akhir 2017

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulsel Bambang Kusmiarso [dok net]

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulsel Bambang Kusmiarso [dok net]

Makassar, KABAROKE — Laju inflasi di Sulsel sepanjang 2017 terbilang stabil. Bahkan, daerah yang menjadi pintu gerbang Kawasan Timur Indonesia tersebut mencatat lima kali deflasi hingga Oktober tahun ini. Torehan tersebut diharapkan mampu dipertahankan. Terlebih tekanan inflasi diperkirakan semakin meningkat pada akhir 2017.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulsel, Bambang Kusmiarso, mengatakan peningkatan tekanan inflasi pada akhir tahun terjadi karena efek musiman. Tekanan inflasi diperkirakan bersumber dari administered price, khususnya pada komoditas tiket angkutan udara. Biasanya tiket pesawat melonjak pada pengujung tahun.

“Peningkatan tekanan inflasi memang diperkirakan akan terjadi pada akhir tahun. Itu karena biasanya menjelang Natal dan Tahun Baru, harga tiket pesawat mengalami kenaikan. Kondisi serupa biasa terjadi pada hari besar keagamaan, seperti Idul Fitri maupun Idul Adha,” kata Bambang, di Makassar.

Proyeksi peningkatan tekanan inflasi, Bambang mengatakan akan pihaknya bersama unsur pemerintah daerah yang tergabung dalam TPID. Beragam langkah strategis siap dijalankan untuk memastikan laju inflasi tetap stabil. Salah satu fokus utama TPID, sambung dia, adalah memastikan stabilnya harga komoditas yang masuk kategori volatile food.

Disinggung mengenai proyeksi laju inflasi pada November 2017, Bambang menyebut relatif stabil. Pihaknya tidak bisa menggaransi Sulsel mampu kembali menorehkan deflasi. Terlebih pasokan bahan kebutuhan yang terjaga di tengah musim panen yang mulai berakhir.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, Nursam Salam, sebelumnya menyatakan daerahnya mencatatkan prestasi yang cukup baik dalam pengendalian inflasi. Tercatat Sulsel menorehkan lima kali deflasi. Teranyar periode Oktober 2017, Sulsel mengalami deflasi 0,31 persen.

Menurut Nursam, deflasi Sulsel pada Oktober 2017 cukup istimewa lantaran semua kota Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami deflasi. “Kali ini, seluruh kota IHK di Sulsel berhasil mencatatkan deflasi. Total ada lima kota IHK di provinsi ini yakni Makassar, Parepare, Bone, Palopo dan Bulukumba,” pungkasnya. (***)

BI : Pertumbuhan Ekonomi Sulsel Masih di Atas Angka Nasional

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulsel Bambang Kusmiarso [dok net]

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulsel Bambang Kusmiarso [dok net]

Makassar, KABAROKE — Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulsel, Bambang Kusmiarso, mengatakan pertumbuhan ekonomi daerahnya pada triwulan III-2017 masih memperlihatkan tren menggembirakan, meski terjadi penurunan dibandingkan triwulan I dan II tahun ini. Toh, laju ekonomi Sulsel bertumbuh di atas angka nasional yang hanya mencatat 5,06 persen.

“Pertumbuhan ekonomi Sulsel pada triwulan III-2017 cukup menggembirakan. Ekonomi Sulsel tumbuh 6,25 persen atau di atas angka nasional sebesar 5,06 persen. Secara kumulatif pada 2017, pertumbuhan ekonomi Sulsel mencapai 6,78 persen dan itu juga di atas angka nasional sebesar 5,03 persen,” kata Bambang, di Makassar.

Berdasarkan data BI maupun BPS, laju pertumbuhan ekonomi Sulsel pada 2017 memperlihatkan kecenderungan kemerosotan setiap triwulan. Triwulan I, angka pertumbuhan ekonomi sempat menembus 7,52 persen. Selanjutnya, ekonomi Sulsel mendadak anjlok pada triwulan II sebesar 6,63 persen, sebelum akhirnya menyentuh angka 6,25 persen pada triwulan III.

Bambang mengungkapkan terlepas dari adanya penurunan, laju perekonomian Sulsel setidaknya dalam lima tahun terakhir selalu berada di atas angka nasional. Di antaranya pada 2013, ekonomi Sulsel tumbuh 7,62 persen dan ekonomi nasional tumbuh 5,56 persen. Teranyar pada 2016, ekonomi Sulsel tumbuh 7,41 persen dan ekonomi nasional tumbuh 5,02 persen.

“Dalam beberapa tahun terakhir, laju ekonomi Sulsel selalu tumbuh pada kisaran 7 persen,” ucap Bambang.

Disinggung mengenai merosotnya pertumbuhan ekonomi Sulsel pada angka sekitar 6 persen, Bambang menyebut dipicu oleh aktivitas ekspor-impor. Impor luar negeri mengalami lonjakan signifikan mencapai 52,1 persen. Di sisi lain, ekspor perdagangan ke luar negeri malah mencatatkan kontraksi -21,2 persen.

“Impor naik signifikan karena adanya pembangunan sejumlah proyek. Sedangkan ekspor sejumlah komoditas strategis yang selama ini diunggulkan ternyata lebih rendah dari perkiraan,” pungkasnya. (***)

BI Luncurkan Dua Buku tentang Keuangan Syariah

Bank Indonesia

Bank Indonesia

Jakarta, KABAROKE — Bank Indonesia meluncurkan dua buku sekaligus dalam bidang pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, dengan judul “Masa Depan Keuangan Syariah Indonesia” dan “Memberdayakan Keuangan Mikro Syariah Indonesia”.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan kedua buku ini merupakan hasil riset Bank Indonesia yang mengupayakan berbagai peluang dan tantangan dalam pengembangan ekonomi dan keuangan Syariah di Indonesia.

“Dengan menganalisis perkembangan keuangan syariah di tanah air, buku syariah ini mengangkat mengenai berbagai potensi pengembangan skema syariah di sektor keuangan,” kata Perry.

Ia mengatakan, peluncuran dua buku sekaligus menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Indonesia “Sharia Economic Festival” (ISEF) atau Festival Ekonomi Syariah 2017.

“Dengan semakin luasnya riset mengenai ekonomi syariah, serta koordinasi dan kolaborasi yang mendalam dari seluruh pihak, ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia diharapkan semakin berkembang dan semakin memberi manfaat bagi masyarakat,” katanya.

Ia mengatakan praktik ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia yang erat kaitannya dengan sektor riil yang melayani semua segmen masyarakat, membuat Indonesia berpotensi menjadi kiblat dunia untuk industri maupun pembelajaran ekonomi dan keuangan syariah.

“Indonesia juga memiliki peluang besar bagi pengembangan sektor keuangan syariah khususnya pengembangan pasar, seperti upaya pengadaan produk yang memiliki kaitan dengan sektor ekonomi produktif seperti sukuk,” tuturnya.

Ia menjelaskan, dalam ekonomi dan keuangan syariah, sumber daya ekonomi senantiasa dijaga agar memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.

“Untuk mengakomodasi hal tersebut, terbentuklah berbagai bentuk pembiayaan dalam skema syariah. Salah satunya adalah lembaga keuangan mikro syariah,” katanya.

Ia berharap, dengan terbitnya dua buku ini ekonomi syariah semakin berkembang dan semakin memberi manfaat bagi masyarakat. (***)

BI : Saldo Uang Elektronik Tidak Gratis!

Bank Indonesia

Bank Indonesia

Jakarta, KABAROKE — Bank Indonesia menegaskan program penggratisan kartu uang elektronik hanya untuk biaya kartunya saja, namun saldonya tetap harus dibeli atau dibayar pengguna.

Direktur Elektronifikasi dan Inklusi Keuangan Departemen Pengawasan dan Kebijakan Sistem Pembayaran BI Pungky Purnomo Wibowo di Jakarta, Rabu, menjelaskan biaya kartu yang sebesar Rp20.000-Rp30.000 akan ditanggung oleh perbankan dan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT). Namun, saldo uang elektroniknya tetap dibayar pengguna saat pengguna tersebut membeli kartu uang elektronik.

“Misalnya, biaya kartunya ditanggung Rp10 ribu oleh bank, Rp10 ribu oleh BUJT. Kartunya harganya jadi nol. Masyarakat tetap harus beli saldonya,” ujar dia.

Pungky juga mengklarifikasi mekanisme untuk mendapatkan kartu uang elektronik itu, yakni sama saja dengan sebelumnya. Masyarakat yang akan menggunakan jasa tol dapat membeli kartu uang elektronik tersebut dengan hanya membayar saldonya, saat hendak memasuki pintu tol.

“Mendapatkannya adalah beli isi saldonya tersebut di pintu jalan tol jika masyarakat bertransaksi di sana,” ujar dia.

Dia menegaskan tidak ada pembagian kartu uang elektronik gratis secara massal.

Program penggratisan biaya kartu itu merupakan keberlanjutan program diskon 50 persen biaya kartu pada 17 Agustus 2017-31 September 2017. Oleh karena antusiasme masyarakat, kata Pungky, perbankan dan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) memperpanjang dan memperbesar program diskon tersebut.

“Kalau dulu 17-31 September 2017 diskon 50 persen. Nanti sampai 31 Oktober 2017 diskonnya 100 persen. Jadinya biaya kartunya ditanggung,” ujar dia. (***)

1 2 3 4 11