Keren! BNN Gagalkan Penyelundupan 40 Kg Sabu dari Malaysia

Ilustrasi

Ilustrasi

Aceh, KABAROKE –– Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia berhasil menggagalkan sindikat internasional penyelupan Narkotika jenis sabu-sabu dari Malaysia ke Aceh melalui jalur laut seberat 40,23 kilogram.

Deputy Pemberantasan pada BNN RI irjen Pol Arman Depari kepada wartawan di Kualasimpang, Jumat menyatakan, selain barang bukti sabu, BNN juga menahan empat tersangka, yakni AM, JN, SN dan HR.

Dikatakan, keberhasilan tersebut atas kerjasama BNN Pusat, BNN Provinsi Aceh, BNN Kota Langsa serta Bea Cukai yang memburu para tersangka dari informasi masyarakat, tentang adanya penyeludupan sabu dari Penang, Malaysia, ke Aceh melalui jalur laut, tepatnya di Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur.

“Tim BNN berhasil mengungkap tindak pidana Narkotika jaringan internasional Malaysia-Aceh yang masuk melalui jalur laut. Dalam kasus ini diamankan empat orang tersangka bersama barang bukti 40 bungkus dengan berat total 40,230 kilogram yang berasal dari Pulau Pinang,” kata Arman.

Menurut Arman, keberhasilan kasus ini berawal dari hasil informasi masyarakat yang diterima BNN tentang adanya peredaran narkotika jenis sabu berasal dari Penang Malaysia menuju Indonesia melalui Idi rayeuk Aceh Timur dan melalui jalur laut.

Dikisahkan, pada tanggal 10 Januari 2018, tim melakukan penyidikan dari darat dan laut hingga akhirnya menemukan dan mengikuti seseorang yang berinisial HR menggunakan sepeda motor warna hitam dengan nomor polisi BL 3596 ZQ yang diduga telah menerima.

“Sekitar pukul 05.45 WIB waktu setempat, tersangka diamankan di depan perkarangan rumahnya di Dusun Petua Mae Kampung Bagok Panah Peut, Kecamatan Darul Aman, Kabupaten Aceh Timur. Tersangka membawa 19 bungkus yang berada di dalam karung,” jelas Arman didampingi BNNP Aceh Brigjen Pol Faisal AN, Bupati Aceh Tamiang Mursil dan Ketua DPRK Fadlon.

Hasil dari pengembangan, sambung Arman, tim menangkap tersangka AM, JN dan SN di rumahnya masing – masing yaitu AM, warga Dusun Tengku Di Sungai Desa Bantayan, Kecamatan Nurussalam, Kabupaten Aceh Timur, JN, warga Dusun Pelita Desa Bantayan, Kecamatan Nurussalam, Kabupaten Aceh Timur dan SN warga Dusun Petua Mae Desa Bagok Panah Peut, Kecamatan Darul Aman, Kabupaten Aceh Timur.

Ketiga tersangka ini mempunyai peran yang beda. AM dan JN berperan sebagai penjemput sabu di laut, SN berperan sebagai tukang pindah barang yang dibawa JN dalam melakukan transaksi antara HR dan AM.

“Pengakuan AM, sebelumnya telah mengambil 39 bungkus di perairan Selat Malaka bersama JN. Atas perintah AM, JN menyimpan 10 bungkus di dalam kapal yang sedang diperbaiki dan 10 bungkus ditanam dekat kadang ayam milik SN,” terangnya.

Arman menyatakan, empat tersangka itu dikendalikan oleh Dekbat yang saat ini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Para tersangka terjerat pasal 114 ayat 2 Jo Pasal 132 ayat 1 Pasal 112 ayat 2 Jo Pasal 132 ayat 1 undang-undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan hukuman maksimal pidana mati. (***)

Kemenhub dan BNN Siapkan Jurus Antisipasi Pilot ‘Nyabu’

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi [dok net]

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi [dok net]

Jakarta, KABAROKE — Menanggapi kembali ditemukannya pilot maskapai penerbangan yang positif mengonsumsi sabu, Budi mengakui gejala pilot menggunakan sabu bukan terjadi di Indonesia saja, melainkan juga di negara-negara lain.

“Kami akan membuat satu konsep tertentu, memang pernah dilakukan di negara maju. Kami akan belajar dari negara tersebut, aplikasikan, dan lakukan satu kajian, pengamatan, dan penelitian terhadap `lifestyle` pilot,” katanya.

Ia tidak menginginkan kasus pilot yang mengonsumsi sabu kembali terulang, apalagi jika ternyata nanti banyak ditemukan kasus serupa akan menjadi bumerang karena tidak melakukan langkah preventif.

Oleh karena itu, Budi menegaskan perlunya membuat semacam barikade untuk mengantisipasi terjadinya kasus pilot yang mengonsumsi sabu.

Berkaitan dengan sanksi, ia menyebutkan bagi pilot yang mengonsumsi sabu sudah jelas sanksinya, yakni dimulai dari skorsing hingga larangan terbang yang dilakukan setelah ada pembuktian yang tidak membutuhkan waktu lama.

“Saya pikir harus secara langsung melakukan satu `punishment` yang sesuai dengan kesalahannya. Apabila terbukti positif menggunakan itu, tidak ada jalan lain, kecuali dicabut sertifikatnya sebagai penerbang,” katanya.

Untuk permasalahan pidana yang menjeratnya sebagai pelaku penyalahgunaan narkoba, kata dia, tetap berjalan sesuai dengan ranahnya.

“Bagi maskapai, kami akan evaluasi bagaimana mereka melakukan pembinaan. Makanya, kami akan membuat satu konsep tertentu sebagai barikade supaya kasus serupa tidak terjadi lagi,” pungkas Budi. (***)

Buat Para Orang Tua, BNN : Sesibuk Apapun, Beri Perhatian ke Anak!

Badan Narkotika Nasional (BNN)

Badan Narkotika Nasional (BNN)

Maluku, KABAROKE — BNN Provinsi Maluku mengimbau para orang tua agar lebih peduli serta memberikan perhatian serta kasih sayang yang penuh kepada anak-anak, agar terindar dari ancaman bahaya narkoba.

“Sesibuk apapun, orang tua perlu lebih memperhatikan anak-anak. Walaupun bapak dan ibu bekerja, tetapi kembali ke rumah harus memberikan waktu untuk anak-anak,” tutur Maruli Leo Porman Simatupang selaku Kepala Bidang Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Maluku, di Ambon, Sabtu (7/10/2017).

Maruli juga mengatakan dirinya bersama jajarannya dan instansi terkait lainnya terus melakukan sosialisasi terhadap bahaya narkoba, dimana sejatinya upaya pencegahan dimulai dari keluarga, karena keluarga yang kuat bisa membentengi dan memberi anak kemampuan untuk menolak pengaruh lingkungan yang buruk di luar rumah.

“Anak-anak terjebak narkoba karena terlalu sering berintereaksi di luar rumah, karena itu perlu perhatian atau kasih sayang dari orangtua, dan perlu ada batasan waktu pulang ke rumah, terutama memperhatikan jam belajar di rumah,” ungkapnya.

Maruli juga mengapresiasi langkah Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy yang mendukung dengan penetapan jam belajar di rumah, yang dimulai pada pukul 19.00 Wit, sehingga anak selain belajar bisa berinteraksi dengan orang tua.

“Susahnya sekarang anak-anak bergaul dengan teman sebaya. Kalau teman sebanya itu mempunyai etikat baik berarti aman, tetapi kalau teman sebayanya menjerumuskan atau menjebak bisa saja, kita tidak tahu,” imbuh pria kelahiran Medan 1972 ini.

Apalagi, sekarang peredaran narkoba sudah berupa bahan makanan seperti permen dan sejenisnya, kalau setiap hari dikonsumsi, maka bisa ketergantungan dan merusak kesehatan.

Menurut Maruli, BNNP Maluku memilliki program rutin untuk diseminasi informasi bahaya narkoba, bekerja sama dengan media massa seperti televisi dan radio untuk dialog interaktif dengan masyarakat (pemirsa/pendengar).

“Selain itu, sosialisasi di tempat-tempat ibadah yakni Masjid dan Gereja, termasuk di lembaga TNI dan POLRI serta intansi lainnya,” pungkasnya. (***)

Bos BNN Ajak TNI Perangi Narkoba

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso

Makassar, KABAROKE — Badan Narkotika Nasional (BNN) melibatkan unsur TNI dalam memerangi peredaran narkoba yang sudah sangat meresahkan bangsa, mengingat jumlah pengguna berdasarkan data BNN mencapai 6,4 juta jiwa pada 2016.

“Saya terpikir tugas berperang adalah TNI, kenapa tidak dilibatkan TNI masuk BNN untuk memerangi para bandar narkoba yang merusak generasi bangsa kita,” ujar Kepala BNN Komjen Budi Waseso, saat orasi ilmiah di tribun Lapangan Karebosi, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin kemarin,

Menurutnya, Panglima TNI juga serius akan memberantas peredaran narkoba, namun ketakutannya nanti melanggar HAM. Karena itu, kata dia, dilakukan inovasi menjadikan TNI bagian dari BNN, dan ternyata inovasi ini disambut baik semua pihak.

Selain itu, TNI selama ini dilatih untuk berperang, namun nyatanya hanya sebatas latihan dan tidak pernah perang sungguhan. Salah satu pasukan andalan TNI adalah Gultor, prajurit terlatih dan dilatih, sehingga ada masukan melibatkan mereka memerangi bandar narkoba.

“Prajurit terlatih ini seharusnya melawan para bandar besar, bukan sebagai penegak hukum tapi bagaimana penyelamatan negara, sebab sudah banyak cara dilakukan tapi tidak maksimal. Musuh negara adalah bandar, bandar musuh negara dihadapi TNI,” kata Buwas, sapaan akrabnya itu pula.

Pria berpangkat bintang tiga ini menegaskan, pihaknya akan bertanggungjawab apabila nantinya TNI menembak mati para bandar dan pemasok narkoba ke Indonesia, mengingat jumlah pengguna narkoba telah mencapai 6,4 juta jiwa pada 2016.

Kendati di Filipina para bandar narkoba ditembak mati, bahkan presidennya memerintahkan militer menembak bandar, namun di Indonesia masih ada penegakan hukum, sehingga cara tersebut tidak dilakukan meski status darurat narkoba.

“Kita bertanggungjawab bila TNI menembak mati bandar, biar polisi yang atur. Kita menghargai cara di Filipina, tapi negara kita negara hukum dan punya banyak aturan, tapi malah melemahkan kita. Tujuan TNI berada di BNN, kita inginkan menghilangkan pangsa pasar mereka,” katanya lagi.

Buwas mengungkapkan pemasok narkoba tersebut berasal dari luar negeri, seperti Malaysia dan China. Namun menurutnya, saat diminta negaranya bertangungjawab, malah tidak peduli dan terkesan menyalahkan Indonesia, sebab Indonesia di mata mereka adalah pangsa pasar yang besar.

Bandar besar sengaja menyisihkan 10 persen dana mereka untuk mendanai regenerasi pangsa pasar. Sasaran mereka anak-anak pelajar mulai TK-SMA dengan mengemas berbagai bentuk mulai permen sampai kue jajanan, membaginya pun gratis hingga ketergantungan lalu membeli.

“Berdasarkan data BNN 2016, per hari orang meninggal gara-gara narkotika mencapai 50 orang. Itu yang dilaporkan, dan tidak dilaporkan banyak, padahal ada yang overdosis dan sakit. Di Indonesia jenis narkoba apa saja ditelan,” kata mantan Kabareskrim Mabes Polri tersebut.

Tidak hanya itu, lanjut dia, di negara lain beredar hanya tiga sampai lima jenis, sementara di Indonesia yang masuk 63 jenis narkoba dari yang ditemukan sebanyak 68 jenis dari 300 jenis narkotika di dunia.

“Setelah PCC, narkoba jenis Flaka juga telah beredar di Indonesia. Saya tahu banyak bandar dari Papua sampai Aceh, sehingga diperlukan semua pihak memerangi narkotika termasuk TNI,” kata Buwas dalam kegiatan Teman Kuliah Pertanian (TKP) Unhas Forum Konsepsi Pemuda Melawan Narkoba itu pula. (***)

BNN : Penyelundupan Sabu 11,4 Kg Dikendalikan dari Lapas

Ilustrasi

Ilustrasi

Tarakan, KABAROKE — Badan Narkotika Nasional (BNN) mengungkapkan, penyelundupan narkotika jenis sabu-sabu seberat 11,4 kilogram, yang diungkap pada Senin (25/9), dikendalikan dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kota Tarakan, Kalimantan Utara.

Hal ini dibuktikan atas penangkapan salah seorang dari lima orang yang berhasil diamankan adalah warga binaan Lapas Kota Tarakan bernama Hendra, kata Kepala BNN Kaltara, Kombespol Ery Nursatari.

“Penyelundupan sabu-sabu 11,4 kilogram dari Malaysia ini dikendalikan oleh warga binaan Lapas Tarakan. Yang bersangkutan langsung kita ringkus dan dibawa ke Jakarta,” terang dia.

Kemudian, penangkapan empat orang lainnya yang masuk dalam jaringannya juga diamankan di tiga lokasi yang berbeda sesaat setelah penangkapan barang buktinya.

Lokasi penangkapan keempat orang yang turut diciduk petugas dari BNN pusat berada di Kelurahan Juata Laut namun diakui tidak mengetahui secara pasti identitasnya.

Penangkapan kelima orang tersangka tersebut dilakukan pada Sabtu (23/9) dan Minggu (24/9). Kemudian diterbangkan ke Jakarta pada Senin (25/9) pagi untuk dilakukan pemeriksaan dan pengembangan oleh BNN pusat.

“Memang ada empat orang lagi yang diciduk petugas dari BNN pusat pada tiga lokasi yang berbeda di (Kelurahan) Juata Laut secara terpisah dengan waktu yang berbeda pula,” aku Ery Nursatari.

Ia menegaskan, setelah penangkapan sabu-sabu seberat 11,4 kilogram di Juata Laut, petugas BNN pusat langsung mendatangi Lapas Kota Tarakan dengan memeriksa napi bernama Hendra karena diketahui pemilik barang haram itu. (***)

BNN Gagalkan Penyelundupan Sabu Asal Malaysia

Ilustrasi

Ilustrasi

Jakarta, KABAROKE — Badan Narkotika Nasional (BNN) berhasil menggagalkan penyelundupan sabu seberat 137 kilogram dan 42.500 butir ekstasi asal Malaysia.

Deputi Bidang Pemberantasan BNN, Irjen Pol Arman Depari mengatakan sabu dan ekstasi tersebut diselundupkan melalui jalur laut.

“Diselundupkan melalui laut di Kuala Glumpang, Aceh Timur,” kata Arman dalam keterangan tertulisnya, Jumat (22/9).

Dijelaskannya, penangkapan bermula saat tim mencurigai kapal nelayan di dekat Kuala Glumpang, Aceh Timur. Saat diberi peringatan berhenti, anak buah kapal justru coba kabur ke daratan.

Petugas yang curiga kemudian kemudian menggeledah kapal tersebut. “Petugas lalu melakukan penggeledahan, ditemukan barang dalam tong ikan warna biru diduga sabu,” jelas Arman.

Dalam operasi tersebut, petugas menangkap tiga orang berinisial MS, MH dan IB. Berdasarkan keterangan para tersangka, penyelundupan dilakukan di laut perbatasan antara Malaysia dan Indonesia dengan cara berpindah kapal.

Selain barang bukti sabu dan ekstasi, BNN juga menyita kapal pembawa barang haram itu dan dititipkan ke Kepolisian Air Langsa, Aceh. Saat ini, tersangka dan barang bukti diboyong ke Jakarta untuk diperiksa di Gedung BNN, Cawang, Jakarta Timur. (***)

Indra J Piliang Jalani Rehabilitasi di BNN

Politikus Golkar Indra J Piliang [dok net]

Politikus Golkar Indra J Piliang [dok net]

Jakarta, KABAROKE — Indra J Piliang menjalani rehabilitasi di Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Jakarta Selatan. Namun sebelum itu, Indra dan kedua rekanya harus menjalani serangkaian tes terlebih dahulu.

Kepala BNN Kota Jakarta Selatan AKBP Denny Rihar Santika mengatakan tes ini bagian dari proses observasi awal yang harus dilakukan oleh Indra dan dua rekannya. Proses observasi akan dilakukan oleh tim medis BNN serta tim hukum.

“Benar, sudah kami terima (Indra), nanti tim medis dan beberapa tim hukum melakukan observasi awal,” jelas Denny saat dikonfrimasi di Jakarta, Sabtu (16/9).

Lebih jelas Denny menerangkan, observasi adalah tahap awal yang harus dijalani oleh Indra dan rekannya. Tes ini guna untuk mengetahui tingkat ketergantungan korban terhadap narkotika.

Apakah Indra dan dua rekannya masuk dalam kategori pengguna akut, sedang atau ringan. Sehingga dapat diketahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk prises rehabilitasi ini. “Nanti dirapatkan (hasilnya), kemudian digelar dan disampaikan berapa lama waktu rehabilitasi ya. Tapi yang ini enggak bisa diekspose,” ujar dia.

Mengenai proses hukum sendiri, Denny mengaku menyerahkannya kepada penyidik Polda Metro Jaya. Yang pasti status Indra di BNN sendiri sebagai korban penyalagunaan narkotika dan siap untuk menjalani proses rehabilitasi. “Mereka, kami posisikan (sebagai) orang yang datang dan melaporkan dirinya untuk direhab, nahproses penyidikan tetap di kepolisian,” terang Denny. (***)

Buwas : Lapas Belum Berkomitmen Berantas Narkoba

Kepala BNN Komjen Budi Waseso

Kepala BNN Komjen Budi Waseso

Jakarta, KABAROKE — Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Pol Budi Waseso yang akrab dipanggil Buwas menilai, penanggung jawab lembaga pemasyarakatan (lapas) belum berkomitmen memberantas narkoba di lingkungannya.

“Jelas belum komitmen, buktinya, sering terulang, terulang dan terulang,” kata Buwas di Kantor BNN, Cawang, Jakarta, Selasa (23/7), menanggapi masih maraknya peredaran narkoba yang dikendalikan oleh narapidana (napi) dari dalam penjara.

Lapas, juga tidak mau untuk melakukan perbaikan dengan alasan kapasitas ruangan dipenjara yang sudah kelebihan penghuninya atau petugasnya kurang.

“Makanya, saya bilang kalau tidak ada, ya, gunakan buaya ‘aja’ untuk jaganya,” katanya.

Beberapa kali BNN menemukan napi di dalam lapas menggunakan fasilitas alat komunikasi dalam menjalankan bisnis haramnya.

Menurutnya memang harus ada terobosan yang harus dilakukan untuk pemberantasan narkoba.⁠⁠⁠⁠ (Iqbal)

BNN Cianjur Awasi Peredaran Tanaman ‘Teh Arab’

Badan Narkotika Nasional (BNN)

Badan Narkotika Nasional (BNN)

Cianjur, KABAROKE — Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Cianjur, Jawa Barat, mengawasi peredaran dan penanaman “teh arab”, atau lebih dikenal dengan tanaman khat, yang mengandung narkoba sesuai dengan intruksi BNN di wilayah Cianjur utara.

Kepala BNNK Cianjur, Hendrik mengatakan pihaknya mendapat instruksi dari Kepala BNN Budi Waseso, untuk memantau secara intensif kawasan Cipanas, Pacet dan Sukaresmi yang disinyalir digunakan sebagai tempat peredaran dan penanaman teh Arab.

Tanaman tersebut, ungkap dia, mengandung zat katinon atau narkoba golongan 1 diduga mulai ditanam di Cianjur karena di wilayah lain seperti Bogor telah diberantas petugas. Wilayah tersebut masih banyak yang menanam teh Arab dan kemungkinan menyebar hingga ke kawasan Cianjur utara.

“Tanaman yang disebut teh Arab atau khat mulai dikenal sejak 2013, setelah peristiwa penggerebekan artis Rafi Ahmad, dimana hasil tes laboratorium, tanaman khat kuat mengandung katinon. Tanaman ini jika dikonsumsi lewat dari 48 jam maka masuk dalam narkotika Golongan III untuk katina,” katanya.

Dia menuturkan, katinon dan katina memiliki efek stimulan seperti timbulnya euphoria, hiperaktif, tidak mengantuk dan tidak menimbulkan rasa lapar, sehingga pemakai dapat merasakan efek yang sama dengan mengkonsumsi ganja atau sabu.

“Kami akan mensosialisasikan tentang jenis tanaman teh Arab tersebut, mulai dari bentuk sampai efeknya. Kami minta warga tidak mudah menanam tanaman yang diberikan orang tidak dikenal terlebih dari warga asing asal Timur Tengah. Jangan sampai warga Cianjur dimanfaatkan, salah satunya tidak mudah terpengaruh ketika diminta menanam jenis tanaman yang belum dikenal,” katanya.

Pihaknya, tambah dia, fokus mengawasi peredaran berbagai jenis narkoba di wilayah tersebut, apapun bentuk dan jenisnya karena hingga saat ini peredaran barang haram tersebut masih banyak beredar di Cianjur.

Sementara anggota DPRD Cianjur, menyatakan kesiapan untuk membantu mensosialisasikan pada warga terkait barang haram jenis baru bernama teh arab atau tanaman khat tersebut.

“Harapan kami warga sudah faham dan mengerti perihal tanaman yang dilarang untuk ditanam tersebut, namun kami akan ikut membantu pihak terkait untuk melakukan sosialisasi agar warga tidak terjebak,” kata Lika Nurhayati anggota DPRD Cianjur. (***)

Lantamal VI Jaga Marinir dari Bahaya Narkoba

Bahaya Narkoba Ilustrasi

Bahaya Narkoba Ilustrasi

Makassar, KABAROKE — Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) VI terus melakukan sosialisasi dan pemeriksaan urine berkala kepada para para marinirnya, agar terhindar dari bahaya narkoba. Kegiatan tersebut berlangsung di Lantamal VI Makassar, Rabu kemarin, 22 Maret 2017.

“Perkembangan narkoba dari hari ke hari itu terus meningkat dan selalu ada saja jenisnya yang baru. Kita juga di TNI harus `mengupdate` itu untuk dijadikan bahan sosialisasi dan pengawasan terhadap anggota,” kata Komandan Lantamal VI Laksamana Pertama (Laksma) TNI Yusup di Makassar, dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 23 Maret 2017.

Ia mengatakan, perkembangan narkoba yang terus ditemukan dan digolongkan berdasarkan jenisnya oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) menjadi perhatian dari TNI khususnya pada jajarannya. Melalui beberapa kegiatan pertemuan resmi maupun saat apel pasukan rutin, dirinya senantiasa mengingatkan kepada prajuritnya agar menjauhi narkoba dan tidak ikut terlibat dalam barang haram tersebut.

“Terlibat di dalamnya, apakah sindikat peredaran atau menggunakannya itu tidak boleh karena sama-sama merusak generasi bangsa dan merusak diri pastinya,” katanya.

Yusup mengingatkan kepada prajuritnya untuk tidak main-main dalam hal narkoba, psikotropika dan zat adiktif lainnya (Napza) karena jika ada anggota yang terlibat akan ada sanksi tegas menyertainya.

“Jangan pernah bermain-main dengan narkoba maupun lainnya yang termasuk dalam barang haram yang dilarang karena selain merusak, juga ada sanksi tegas jika terlibat atau menggunakannya,” jelasnya.

Danlantamal VI berharap kepada prajurit dan pegawai negeri sipil dijajarannya dengan diselenggarakannya sosialisasi bahaya narkoba dan sejenisnya dapat melaksanakan penangkalan dan pencegahan terhadap penyalahgunaan narkoba, mengenali jenisnya serta mewaspadai peredarannya .

“Terima kasih kepada BNNP Sulsel yang diwakili Kepala Bidang Pencegahan BNNP Sulsel Bapak Jamaluddin dalam sosialisasi akan bahaya narkoba ini dan kedepannya kita bisa lebih bersinergi dalam upaya pemberantasan narkoba,” ucapnya. (Yasir)

1 2 3 10