BPS : Ekspor Sulsel Tembus US$105,47 Juta

Pemerintah Indonesia Siap Melakukan Ekspor ke Rusia dan Dubai [dok net]

Ilustrasi [dok net]

Makassar, KABAROKE —  Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja ekspor Sulsel periode Mei 2018 menunjukkan trafik menggembirakan. Terjadi peningkatan nilai ekspor yang dikirim melalui pelabuhan-pelabuhan lingkup Sulsel menembus US$105,47juta.

Bila dibandingkan torehan April 2018, nilai ekspor Sulsel pada Mei tahun ini meningkat 20,93 persen. Sebulan sebelumnya, nilai ekspor dari daerah yang menjadi pintu gerbang Kawasan Timur Indonesia hanya berkisar US$87,22 juta.

“Nilai ekspor yang dikirim melalui pelabuhan Sulsel pada Mei 2018 tercatat mencapai US$105,47 juta. Angka itu mengalami peningkatan sebesar 20,93 persen bila dibandingkan nilai ekspor pada April 2018 yang mencapai US$87,22 juta,” kata Kepala BPS Sulsel, Nursam Salam, di Makassar.

Kata Nursam, nilai ekspor Sulsel periode Mei 2018 juga mengalami peningkatan signifikan bila dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Pada Mei 2017, nilai ekspor Sulsel mencapai US$87,48 juta atau naik 20,57 persen.

Menurut dia, lima komoditas utama asal Sulsel yang banyak diekspor periode Mei 2018 terdiri atas nikel, biji-bijian berminyak dan tanaman obat, kayu dan barang dari kayu, garam belerang dan kapur serta ikan udang dan hewan air bertulang belakang lainnya. Masing-masing distribusi dari lima komoditas itu yakni 69,39 persen, 9,03 persen, 4,89 persen, 3,77 persen dan 3,06 persen.

“Sebagian besar ekspor pada Mei 2018 ditujukan ke Jepang, Tiongkok, Amerika Serikat dan Filipina dengan proporsi masing-masing 75,50 persen, 14,44 persen, 4,48 persen dan 3,18 persen,” pungkasnya. (***)

Ekspor Sulsel ke Amerika Serikat dan Malaysia Kian Lesu

Pemerintah Indonesia Siap Melakukan Ekspor ke Rusia dan Dubai [dok net]

Ilustrasi [dok net]

Makassar, KABAROKE — Kinerja ekspor Sulsel sepanjang 2018 mengalami penurunan bila dibandingkan setahun sebelumnya. Merosotnya nilai ekspor secara keseluruhan dipengaruhi menurunnya permintaan barang dari sejumlah negara yang menjadi langganan. Semisal ekspor Sulsel ke Amerika Serikat dan ke Malaysia yang bisa dibilang ‘terjun bebas’ alias anjlok.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor Sulsel ke Amerika Serikat periode April 2018 bahkan nihil. Adapun rentang Januari-April tahun ini, pengiriman barang ke negeri adidaya itu hanya US$6,75 juta. Itu menurun 82,80 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar US$39,26 juta. Kontribusi ekspor Sulsel ke Amerika Serikat pun sangat kecil dari total nilai ekspor menembus US$338,86 juta.

Tidak jauh berbeda dengan ekspor Sulsel ke Malaysia yang juga merosot tajam. Periode April 2018, nilai ekspor ke negara tetangga hanya US$0,11 juta. Adapun total nilai ekspor selama empat bulan pertama tahun ini hanya US$4,42 juta. Terjadi penurunan 83,88 persen, dimana periode yang sama tahun lalu, nilai ekspor Sulsel ke Malaysia mencapai US$27,42 juta.

“Ekspor Sulsel sepanjang 2018 terbanyak ke Jepang US$232,36 juta. Menyusul Tiongkok (US$49,50 juta) dan Vietnam (US$11 juta). Adapun untuk Amerika Serikat dan Malaysia mengalami penurunan cukup signifikan. Masing-masing periode Januari-April 2018 sebesar US$6,75 juta dan US$4,42 juta atau turun 82,80 persen dan 83,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” kata Kepala BPS Sulsel, Nursam Salam, di Makassar.

Secara keseluruhan, Nursam menyampaikan ekspor Sulsel periode Januari-April 2018 merosot 4,17 persen dibandingkan tahun lalu. Dari sebelumnya sempat menembus US$353,61 juta menjadi US$338,86 juta. Secara bulanan pun terjadi penurunan, tapi tidak signifikan sebesar 1,68 persen. Dari sebelumnya US$91,88 juta pada Maret 2018 menjadi US$90,34 juta pada April 2018.

“Tapi secara tahunan untuk April apabila dibandingkan capaian tahun ini dengan tahun sebelumnya, ada koreksi atau peningkatan 2,53 persen. Dimana pads April tahun ini mencapai US$90,34 juta atau lebih baik dibandingkan April tahun lalu sebesar US$88,10 juta,” pungkasnya. (*)

Kunjungan Turis Melonjak, Tingkat Hunian Hotel di Sulsel Malah Menurun

Kepala BPS Sulsel Nursam Salam

Kepala BPS Sulsel Nursam Salam

Makassar, KABAROKE — Melonjaknya kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman tidak selamanya berbanding lurus dengan tingkat okupansi alias Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat TPK hotel berbintang di Sulsel malah melorot tatkala kunjungan wisman mengalami peningkatan periode Februari 2018.

Berdasarkan data BPS, kunjungan wisman ke Sulsel melalui pintu masuk Makassar periode Februari 2018 mencapai 1.004 kunjungan atau naik 21,55 persen dibandingkan torehan bulan sebelumnya. Adapun TPK hotel berbintang malah melorot 3,49 poin dibandingkan TPK bulan sebelumnya. TPK hotel berbintang periode bulan kedua pada tahun ini hanya 47,47 persen.

“Kunjungan wisman ke Sulsel pada Februari 2018 cukup menggembirakan, terjadi kenaikan 21,55 persen. Tapi, itu malah tidak berbanding lurus dengan TPK hotel berbintang yang malah menurun 3,49 poin, dari 50,96 persen menjadi 47,47 persen,” ujar Kepala BPS Sulsel, Nursam Salam.

Nursam mengimbuhkan TPK hotel berbintang hanya menurun bila ditilik secara bulanan. Secara tahunan, kata dia, sebenarnya terjadi peningkatan 3,29 poin. TPK hotel berbintang pada periode yang sama pada tahun lalu di Sulsel diketahui hanya 44,18 persen.

Kata Nursam, bila ditelisik lebih dalam lagi, hotel bintang lima mencatat tingkat okupansi tertinggi mencapai 62,73 persen. Adapun tingkat okupansi terendah dicatatkan hotel bintang dua sebesar 37,7 persen. “TPK hotel bintang lima naik 6,15 persen dan TPK hotel bintang dua turun 2,37 persen bila dibandingkan bulan sebelumnya,” tuturnya.

“Adapun rata-rata lama menginap tamu asing dan tamu domestik pada hotel klasifikasi bintang di Sulsel pada Februari masing-masing 2,49 hari dan 2,00 hari,” pungkas Nursam. (**)

Waduh, Kunjungan Wisman ke Sulsel Jeblok 51 Persen di Awal Tahun

Turis China Dominasi Kunjungan Wisman ke Indonesia (dok net)

Kunjungan Wisman ke Sulsel Anjlok di Awal 2018 (dok net)

Makassar, KABAROKE — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kunjungan wisatawan mancanegara melalui pintu masuk Makassar mengalami penurunan signifikan pada awal 2018. Terjadi penurunan hingga 51,10 persen antara jumlah kunjungan wisman pada periode Januari 2018 dibandingkan periode Desember 2017.

“Jumlah wisman yang datang pada Januari 2018 mencapai 826 kunjungan. Bila dibandingkan Desember 2017, tercatat penurunan hingga 51,10 persen, dimana akhir tahun lalu terdata 1.689 kunjungan,” kata Kepala BPS Sulsel, Nursam Salam, di Makassar.

Menurut Nursam, penurunan kunjungan wisman ke Sulsel bukan hanya terjadi secara bulanan, tapi juga tahunan. Merujuk data BPS, kunjungan turis ke Sulsel pada Januari 2017 mencapai 1.677 kunjungan atau terjadi penurunan 50,74 persen.

Nursam memaparkan kunjungan wisman asal Malaysia paling mempengaruhi anjloknya statistik pariwisata Sulsel. Terpantau ada penurunan 547 kunjungan atau lebih dari separuh total kunjungan wisman Malaysia ke Sulsel.

“Yang paling efek itu kunjungan wisman Malaysia dari 1.046 kunjungan menjadi 499 kunjungan,” tutur Nursam.

Selain Malaysia, Nursam mengimbuhkan beberapa negara yang juga mempengaruhi turunnya kunjungan wisman ke Sulsel adalah Singapura, India, Taiwan, Filipina, Inggris dan Belanda. “Adapun kunjungan wisman dari Korea Selatan dan Australia tercatat naik,” ujarnya.

Anjloknya kunjungan wisman, Nursam menyebut berbanding lurus dengan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Sulsel. Terjadi penurunan 2,94 poin pada Januari 2018, dari 53,90 persen menjadi 50,96 persen. Tapi, bila dibandingkan dengan periode Januari 2017, terjadi peningkatan 8,20 poin. (**)

BPS : Sulsel Alami Inflasi 0,23 Persen pada Februari 2018

Kepala BPS Sulsel Nursam Salam

Kepala BPS Sulsel Nursam Salam

Makassar, KABAROKE — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Februari 2018, Sulsel mengalami inflasi 0,23 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 132,66. Dari lima kota IHK, semuanya mencatat inflasi. Tertinggi dialami Kota Palopo sebesar 0,58 persen dengan IHK 131,04. Sedangkan inflasi terendah terjadi di Kota Parepare sebesar 0,05 persen dengan IHK 128,09.

“Pada bulan Februari 2018, Sulsel mengalami inflasi 0,23 persen. Semua kota IHK bahkan mencatatkan inflasi, tertinggi di Palopo dan terendah di Parepare,” kata Kepala BPS Sulsel, Nursam Salam, Kamis, 1 Maret.

Berdasarkan catatan BPS, inflasi yang terjadi di Sulsel dipengaruhi naiknya harga pada lima dari tujuh kelompok pengeluaran. Rinciannya yakni kelompok bahan makanan sebesar 0,76 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau (0,37 persen); kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga (0,11 persen); kelompok kesehatan (0,09 persen) dan kelompok perumahan (0,05 persen).

“Dari tujuh kelompok pengeluaran, ada lima mengalami kenaikan dan dua lainnya mengalami penurunan. Yang menurun itu kelompok sandang serta kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan, masing-masing sebesar 0,07 persen dan 0,22 persen,” Nursam menerangkan.

Secara utuh, Nursam menuturkan laju inflasi tahun kalender Februari 2018 untuk Sulsel mencapai 1,04 persen. Adapun laju inflasi year on year alias rentang Februari 2018 terhadap Februari 2018 menembus 3,57 persen.

“Bila dibandingkan dengan statistik inflasi pada Februari dalam kurun dua tahun terakhir, inflasi kali ini lebih rendah dibandingkan bulan yang sama pada 2017 yang mencapai 0,75 persen. Tapi, kalau dibandingkan 2016, kala itu malah terjadi deflasi 0,08 persen,” pungkasnya. (*)

BI : Beras Picu Inflasi Sulsel pada Awal 2018

Pengadaan Beras di Gudang Bulog (dok net)

Pengadaan Beras di Gudang Bulog (dok net)

Makassar, KABAROKE — Laju inflasi Sulsel periode awal tahun ini mencapai 0,81 persen. Beras dan cabai rawit menjadi komoditas yang memiliki andil besar dalam mengerek inflasi periode Januari 2018. “Andil terbesar inflasi kali ini berasal dari beras (0,25 persen) diikuti cabai rawit (0,12 persen),” kata Kepala Kantor Perwakilan BI Sulsel, Bambang Kusmiarso, Jumat, 9 Februari.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) maupun Badan Pusat Statistik (BPS), selain beras dan cabai rawit, komoditas lain yang mengalami inflasi adalah upah tukang bukan mandor (0,08 persen). Disusul tomat buah (0,07 persen), daging ayam ras (0,03 persen), ikan layang (0,03 persen), tomat sayur (0,02 persen) dan kacang panjang (0,02 persen).

Bambang mengungkapkan meski terjadi inflasi, terdapat beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga. Di antaranya yakni angkutan udara (-0,02 persen), telur ayam ras (-0,02 persen), daging sapi (-0,01 persen), bahan bakar rumah tangga (-0,01 persen), apel (-0,008 persen) dan kol putih/kubis (-0,008 persen).

Secara umum, Bambang menerangkan inflasi Sulsel pada Januari 2018 berada di atas angka nasional sebesar 0,62 persen. Meski demikian, laju inflasi pada awal tahun ini berada di bawah torehan bulan sebelumnya mencapai 1,04 persen. “Meski lebih tinggi dari nasional, inflasi Sulsel pada Januari 2018 lebih rendah dari tahun sebelumnya,” tuturnya.

Masih merujuk data BI maupun BPS, inflasi tertinggi di Sulsel terjadi di Parepare (1,38 persen). Disusul Bulukumba (1,31 persen), Bone (1,28 persen), Palopo (1,25 persen) dan Makassar (0,67 persen). Dengan perkembangan IHK tersebut, inflasi Sulsel secara tahunan sebesar 4,11 persen, lebih tinggi daripada inflasi nasional sebesar 3,25 persen.

Kepala BPS Sulsel, Nursam Salam, mengatakan inflasi yang dialami Sulsel dipicu kenaikan harga lima dari tujuh kelompok pengeluaran. Kenaikan tertinggi dicatat indeks harga pada kelompok bahan makanan sebesar 2,63 persen. Disusul kelompok perumahan (0,45 persen), kelompok makanan jadi,minuman, rokok dan tembakau (0,34 persen), kelompok kesehatan (0,21 persen) dan kelompok sandang (0,18 persen).

“Di sisi lain, ada dua kelompok pengeluaran yang menurun. Itu adalah kelompok transport, komunikasi dan kelompok jasa keuangan mengalami penurunan masing-masing sebesar 0,01 persen dan 0,09 persen,” pungkas dia. (*)

Beras dan Rokok Beri Andil Peningkatan Kemiskinan di Sulsel

Rokok Tak Bercukai Banyak Diperdagangkan di Daerah [dok net]

Rokok Tak Bercukai Banyak Diperdagangkan di Daerah [dok net]

Makassar, KABAROKE — Jumlah penduduk miskin di Sulsel mengalami peningkatan periode September 2017. Beberapa komoditas memiliki andil besar terhadap meningkatnya angka kemiskinan. Dari kelompok makanan, komoditas beras dan rokok kretek filter memberikan sumbangsih terbesar. Adapun dari kelompok bukan makanan, komoditas perumahan memiliki andil terbesar.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, Nursam Salam, mengatakan garis kemiskinan atau GK terdiri dari dua komponen yakni garis kemiskinan makanan (GKM) dan garis kemiskinan bukan makanan (GKBM). Dari situ, bisa diketahui andil GKM dan GKBM, termasuk tiap-tiap item komoditas terkait angka kemiskinan. Di Sulsel sendiri, peran GKM jauh lebih besar dibandingkan GKBM.

“Nah, komoditas makanan yang paling penting bagi penduduk miskin adalah beras, menyusul rokok kretek filter. Sedangkan komoditas bukan makanan yang paling penting bagi penduduk miskin adalah perumahan,” kata Nursam, di Makassar.

Berdasarkan data BPS, sumbangan pengeluaran beras terhadap GK, masing-masing 16,4 persen di perkotaan dan 21,99 persen di pedesaan. Selanjutnya, rokok kretek filter masing-masing memiliki andil 10,75 persen di perkotaan dan 13,74 persen di pedesaaan. Adapun sumbangan perumahan untuk GK, masing-masing 9,90 persen di perkotaan dan 9,12 persen di pedesaan.

Secara umum, BPS mencatat peningkatan jumlah dan persentase penduduk miskin di Sulsel. Diketahui, jumlah penduduk miskin periode September mencapai 825,97 ribu jiwa atau setara 9,48 persen. Angka tersebut memang melonjak dibandingkan kondisi September 2016 maupun Maret 2017.

Berdasarkan data BPS, jumlah penduduk miskin di Sulsel terus bertambah hampir dalam dua tahun terakhir. Sempat terjadi penurunan angka kemiskinan pada September 2016, dimana hanya tercatat 796,81 ribu jiwa atau 9,24 persen. Namun, pada Maret 2017 terjadi lonjakan menjadi 813,07 ribu jiwa atau 9,38 persen dan terus berlanjut.

Nursam menyebut angka kemiskinan Sulsel pada periode September 2017 bukanlah yang terburuk. Jumlah penduduk miskin sempat menembus 864,51 ribu jiwa atau 10,12 persen pada September 2015. Kondisi tidak jauh lebih baik pernah dialami periode September 2013, dimana penduduk miskin capai 863,23 ribu jiwa atau 10,32 persen.  (***)

BPS Catat Ekspor Nikel Sulsel Turun 3 Persen pada November 2017

Kepala BPS Sulsel Nursam Salam

Kepala BPS Sulsel Nursam Salam

Makassar, KABAROKE — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja ekspor Sulsel untuk komoditas nikel mengalami lonjakan sepanjang 2017. Kendati demikian, periode November tahun ini, nilai ekspor nikel merosot meski tidak signifikan. Terjadi penurunan 3,18 persen atau setara US$1,45 juta dari total nilai ekspor nikel Sulsel mencapai US$44,24 juta.

“Nilai ekspor nikel Sulsel pada November 2017 menurun 3,18 persen, dari US$45,69 juta menjadi US$44,24 juta. Bahkan, penurunannya mencapai 15,36 persen bila dibandingkan November 2016 yang mencapai US$52,27 juta,” kata Kepala BPS Sulsel, Nursam Salam, di Makassar.

Nursam menuturkan meski pengiriman ekspor nikel melemah dalam sebulan terakhir, tapi secara kumulatif rentang Januari-November tetap tercatat peningkatan kinerja. Kenaikannya pun terbilang signifikan mencapai 4,59 persen atau setara US$23,63 juta dari total nilai ekspor nikel Sulsel.

“Nilai ekspor nikel pada Januari-November 2017 menembus US$538,65 juta atau naik 4,59 persen dari capaian pada periode yang sama pada tahun lalu sebesar US$515,02 juta,” ulas Nursam.

Lebih jauh, Nursam mengatakan nikel memang merupakan komoditas unggulan asal Sulsel. Hampir setiap bulan, kata dia, ekspor nikel mendominasi pengiriman barang ke luar negeri. Seluruh nikel asal Sulsel diketahui berasal dari perusahaan tambang yakni PT Vale di Luwu Timur.

“Nikel asal Sulsel dikirim ke Jepang. Karena itu pula Jepang sangat mendominasi sebagai negara tujuan ekspor Sulsel,” pungkasnya. (***)

Duh, Kunjungan Wisman ke Sulsel Terus Menurun

Kepala BPS Sulsel Nursam Salam

Kepala BPS Sulsel Nursam Salam

Makassar, KABAROKE — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman ke Sulsel melalui pintu masuk Makassar terus merosot. Dalam tiga bulan terakhir, statistik menunjukkan kedatangan turis asing semakin menurun. Bahkan, BPS merilis kunjungan wisman ke Sulsel periode Oktober 2017 anjlok hingga 10,95 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

“Jumlah wisman yang datang melalui pintu masuk Makassar per Oktober 2017 tercatat 1.399 kunjungan. Jumlah itu menurun 10,95 persen dibandingkan jumlah wisman pada September 2017 yang mencapai 1.571 kunjungan. Kalau dibandingkan dengan Oktober 2016, penurunannya lebih tinggi lagi hingga 46,01 persen,” kata Kepala BPS Sulsel, Nursam Salam, di Makassar.

Berdasarkan data yang dihimpun Kabar Oke, jumlah wisman ke Sulsel pada September 2017 pun merosot 5,42 persen, dari 1.661 kunjungan menjadi 1.571 kunjungan. Bahkan, periode Agustus 2017, penurunan jumlah kunjungan wisman menyentuh 18,49 persen, dari sebelumnya mencapai 2.049 kunjungan.

Terlepas dari merosotnya kunjungan wisman secara bulanan, Nursam menyebut secara kumulatif rentang Januari-Oktober 2017, jumlah wisman ke Sulsel mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. “Secara kumulatif tahun ini, total jumlah wisman mencapai 14.518 kunjungan. Itu naik 14,68 persen dibandingkan jumlah wisman pada periode yang sama pada tahun lalu sebanyak 12.660 kunjungan,” tuturnya.

Lebih jauh, Nursam mengungkapkan kunjungan wisman ke Sulsel didominasi oleh lima negara yakni Malaysia, Perancis, Singapura, Jerman dan Amerika Serikat. Total lima negara itu berkontribusi 70,55 persen dari total wisman atau setara 987 kunjungan. Malaysia disebutnya paling dominan dengan kontribusi 727 kunjungan wisman. (***)

Inflasi Sulsel 0,28 Persen Per November, Ini Penyebabnya…

Pesawat Garuda Indonesia

Tarif Angkutan Udara Picu Inflasi di Sulsel

Makassar, KABAROKE — Setelah sempat mencatatkan deflasi berturut-turut, Sulsel kembali mengalami inflasi pada November 2017. Inflasi Sulsel sebesar 0,28 persen pada bulan ke-11 pada tahun ini didorong oleh kenaikan hampir seluruh komponen pengeluaran.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulsel, Bambang Kusmiarso, mengatakan kenaikan tarif angkutan udara menjadi penyumbang inflasi terbesar pada November 2017. Disusul ikan cakalang, beras, bahan bakar rumah tangga, ikan bandeng dan cabai rawit.

“Inflasi November 2017 terutama disebabkan oleh kenaikan harga komoditas angkutan udara. Andilnya mencapai 0,079 persen, disusul ikan cakalang (0,055 persen), beras (0,052 persen), bahan bakar RT (0,051 persen) dan ikan bandeng (0,043 persen),” kata Bambang, di Makassar.

Menurut Bambang, meski secara umum terjadi inflasi, tapi beberapa komoditas ada yang mengalami penurunan harga. Di antaranya yakni tomat sayur (-0,092 persen), tomat buah (0,087 persen), emas perhiasan (0,066 persen), kacang panjang (0,022 persen) dan wortel (0,014 persen).

Bila ditilik berdasarkan kelompok pengeluaran, Bambang menyebut kontribusi terbesar atas pembentukan inflasi berasal dari kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,49 persen (mtm). Disusul kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau (0,42 persen) serta kelompok perumahan air, listrik, gas dan bahan bakar (0,40 persen).

“Seperti halnya pada komoditas, bila dilihat secara kelompok pengeluaran meski terjadi inflasi, tetap ada juga yang mengalami penurunan harga. Itu berasal dari kelompok sandang (-0,77 persen),” terang Bambang.

Secara tahunan, Bambang mengimbuhkan laju inflasi Sulsel mencapai 3,68 persen (yoy). Semua itu didorong oleh kenaikan kelompok perumahan air, listrik, gas dan bahan bakar (5,58 persen), kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan (5 persen) dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga (4,17 persen).

“Inflasi Sulsel secara tahunan masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia yakni 4 plus minus 1 persen,” tutup dia. (***)

1 2 3 10