Oktober, Pertumbuhan Ekspor dan Impor Sulsel Meningkat

BPS Makassar

Makassar, KABAROKE — Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel merilis data pertumbuhan ekspor dan impor Sulsel medio Oktober 2016. Hasilnya, terjadi peningkatan bila dibandingkan perkembangan ekspor dan impor Sulsel pada September lalu.

Kepala BPS Sulsel, Nursam Salam, mengatakan nilai ekspor Sulsel pada bulan ini mencapai USD 113,62 juta dari USD 110,46 pada September lalu. Sedangkan, untuk nilai impor Sulsel pada Oktober ini mencapai USD 133,66 juta, naik dari USD 78,85 juta pada September tahun ini.

“Khusus untuk ekspor dari September ke Oktober naik sebesar 2,86 persen. Sedangkan untuk impor Sulsel naik sebesar 69,52 persen,” kata Nursam di Kantor BPS Sulsel, Jalan Haji Bau Makassar, Selasa, 15 November.

Nursam mengatakan nikel masih menjadi komoditas dengan nilai ekspor terbesar dari Sulsel pada Oktober tahun ini. Selain nikel, pertumbuhan ekspor Sulsel juga didominasi oleh komoditas seperti kakao, ikan dan udang hingga buah-buahan.

“Negara tujuan ekspor Sulsel pada Oktober ini terbesar yaitu Jepang dengan nilai USD 62,05 juta. Kemudian juga ada Tiongkok, Amerika Serikat, Malaysia dan Korea Selatan,” sebutnya.

Sementara untuk impor ke Sulsel, mesin dan peralatan listrik juga masih menjadi komoditas yang terbesar dengan nilai USD 35,23 juta. Negara asal impor dengan nilai terbesar adalah Tingkok dengan nilai USD 44,78 juta. (Yasir)

Angkatan Kerja di Sulsel Terus Meningkat

BPS Makassar

Makassar, KABAROKE — Jumlah angkatan kerja di Sulawesi Selatan terus meningkat. Terakhir, tercatat 3.881.003 orang pada Agustus 2016. Angkatan kerja tersebut bertambah sebanyak 106 ribu orang jika dibandingkan pada Februari 2016 lalu, sebagaimana dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, Senin, 7 November. Selain itu, turut terjadi peningkatan jumlah penduduk yang bekerja di Sulsel pada Agustus yang mencapai 3.694.712.

Kepala BPS Sulsel, Nursam Salam, mengatakan setahun terakhir kenaikan penyerapan tenaga kerja tertinggi terjadi pada sektor industri pengolahan sebanyak 53 ribu orang. Selain itu, sektor perdagangan dan sektor jasa kemasyarakatan masih menjadi penyumbang terbesar penyerapan tenaga kerja di Sulsel.

“Jika dibandingkan dengan keadaan Agustus 2015, penduduk bekerja meningkat terutama pada sektor pertanian sebanyak 14 ribu orang, sektor perdagangan 82 ribu orang dan sektor jasa 18 ribu orang,” bebernya.

Meskipun mengalami peningkatan, Nursam mengungkapkan pada tahun ini penduduk bekerja masih didominasi oleh mereka yang berpendidikan Sekolah Dasar (SD) ke bawah atau tidak tamat SD dengan jumlah 44,85 persen. Sementara penduduk bekerja dengan pendidikan sarjana ke atas hanya sebesar 14,64 persen. (Yasir)

Periode Juli-September, Indeks Tendensi Konsumen Sulsel Meningkat

BPS Makassar

Makassar, KABAROKE — Selain merilis data pertumbuhan ekonomi Sulsel, Badan Pusat Statistik (BPS) juga merilis data pertumbuhan Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Sulsel pada periode Juli – September, di Kantor BPS Sulsel, Jalan Haji Bau Makassar, Senin 7 November. Berdasarkan data dari BPS, ITK Sulsel berada pada angka 107,09 yang berarti kondisi konsumen di Sulsel mengalami peningkatan dibanding periode sebelumnya.

Kepala BPS Sulsel, Nursam Salam mengatakan, ITK Sulsel pada triwulan II atau periode April – Juni berada pada angka 106,83. Menurutnya, hal ini mampu meningkatkan optimisme konsumen dalam memandang kondisi ekonomi. “Dengan kata lain, konsumen relatif optimis menghadapi perekonomian Sulsel di tahun ini,” ucapnya.

Nursam menjelaskan meningkatnya ITK Sulsel pada periode ini didukung oleh faktor pendapatan rumah tangga dan tingkat konsumsi masyarakat Sulsel. Secara garis besar, ada tiga variabel pembentuk yang mempengaruhi tingkatan ITK Sulsel yakni pendapatan rumah tangga kini, pengaruh inflasi terhadap tingkat konsumsi, dan tingkat konsumsi makanan dan non makanan.

“Bagi mereka yang berstatus buruh atau karyawan, maka pendapatan rumah tangga cenderung meningkat. Meskipun gaji ke-13 dan gaji ke-14 atau tunjangan hari raya, sebagian besar diterima di akhir Juni, namun sepertinya tambahan pendapatan tersebut masih terapa pada bulan berikutnya,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, meskipun kondisi ekonomi pada triwulan III mengalami penurunan, namun tidak menyurutkan konsumen dalam menilai perekonomian saat ini. Namun, Ia menjelaskan bahwa inflasi yang terjadi sebesar 0,91 persen di Sulsel tetap mempengaruhi tingkat pengeluaran masyarakat.

“Meskipun konsumsi mereka terpengaruh oleh inflasi, tetapi konsumen tetap banyak membelanjakan pendapatannya. Mungkin karena ada moment hari raya idul fitri, libur kemerdekaan dan moment hari pertama masuk sekolah,” tuturnya.

ITK Sulsel tahun ini terus meningkat setiap triwulannya. Triwulan I berada pada angka 101,91, pada triwulan II 106,83 dan pada triwulan III meningkat dengan angka 107,09. (Yasir)

Triwulan III, BPS: Ekonomi Sulsel Menurun

BPS Makassar

Makassar, KABAROKE — Badan Pusat Statistik Sulawesi Selatan (Sulsel) merilis data pertumbuhan ekonomi Sulsel untuk triwulan III tahun 2016. Pada triwulan III ini, pertumbuhan ekonomi Sulsel secara kumulatif berada pada nilai 7,41 persen. Jika dibandingkan pada triwulan II yang berada pada angka 8,0 persen, disimpulkan jika ekonomi Sulsel menurun.

“Pada triwulan 2 lalu memang banyak aktivitas ekonomi yang dilakukan, misalnya saja adanya masa panen di sektor pertanian,” ungkap Kepala BPS Sulsel, Nursam Salam, di Kantor BPS Sulsel Jalan Haji Bau Makassar, Senin 7 November.

Selain itu, Nursam menyebut faktor musiman lainnya yang menjadi pengaruh menurunnya ekonomi triwulan III juga diakibatkan pada sektor lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan. Sedangkan dari sisi pengeluaran, turunnya ekonomi Sulsel disebabkan adanya pelemahan di komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga, pengeluaran LNPRT dan pembentukan modal tetap bruto.

Meski secara komulatif menurun, Nursam menjelaskan, ekonomi Sulsel tetap meningkat dengan adanya dukungan pada lapangan usaha yang ada di Sulsel.

“Pertumbuhan ekonomi tetap didukung dengan meningkatnya lapangan usaha pengadaan listrik dan gas sebesar 14,27 persen. Lapangan usaha jasa keuangan 12,99 persen serta lapangan usaha perdagangan besar dan eceran seperti reparasi mobil dan motor dengan pertumbuhan 10,27 persen,” jelasnya. (Yasir)

BPS Sulsel : Inflasi di Makassar Capai 0,41 Persen

BPS Makassar

Makassar, KABAROKE — Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel merilis perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) atau inflasi Sulsel per September 2016. Berdasarkan data tersebut, terungkap bahwa terjadi inflasi sebesar 0,41 persen di Kota Makassar.

“September tahun ini terjadi inflasi atau perubahan indeks di Kota Makassar sebesar 0,41 persen. Terjadi perubahan indeks dari 124,99 pada bulan Agustus 2016 naik menjadi 125,50 pada September 2016,” ucap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, Nursam Salam, Senin 3 Oktober.

Nursam menjelaskan laju inflasi per Januari hingga September di Kota Makassar mencapai angka 2,42 persen. Sedangkan laju inflasi tahunan di Makassar dalam September 2015-2016, lanjut Nursam, naik hingga 3,36 persen.

“Secara umum, inflasi di Makassar dipicu oleh naiknya harga-harga komoditi yang ditunjukkan oleh naiknya indeks pada enam kelompok pengeluaran,” ungkapnya.

Secara umum, Nursam mengatakan, terdapat tujuh kelompok pengeluaran yang berpengaruh di Makassar. Enam di antaranya memicu inflasi, seperti kelompok Bahan Makanan; Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau; Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar; Kelompok Transport, Komunikasi, dan Jasa Keaugan; Kelompok Kesehatan; dan Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga.

Nursam menambahkan, hanya kelompok sandang saja yang mencapai deflasi sebesar -0,15 persen September 2016. (Yasir)

Waduh, Ekspor dan Impor Sulsel Menurun

BPS Sulsel

Makassar, KABAROKE — Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan (Sulsel) merilis nilai ekspor dan impor Sulsel Januari-Agustus 2016 di Kantor BPS Sulsel, Jalan Haji Bau, Makassar, Kamis, 14 September. Bila dibandingkan 2015, nilai ekspor dan impor Sulsel mengalami penurunan sepanjang 2016.

Pada periode tersebut, Kepala Bidang Statistik dan Distribusi Akmal, mengungkapkan total nilai ekspor Sulsel tahun ini mencapai US$ 700,74 juta. Meski begitu, Akmal menjelaskan terjadi penurunan nilai ekspor sebesar 27,42 persen pada periode Januari – Agustus ini.

“Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2015, nilai ekspor Sulsel mencapai US$ 965,48 juta. Jelas terjadi penurunan,” ucapnya.

Khusus pada Agustus 2016, Akmal mengatakan nilai ekspor Sulsel mencapai US$ 118,18 juta. Ia menjelaskan, komoditas ekspor terbesar dari Sulsel pada Agustus tahun ini yakni pengiriman nikel ke Jepang. Ekspor nikel sendiri memiliki nilai ekspor US$ 56,74 juta atau 47,40 persen dari total nilai ekspor Sulsel Agustus ini.

Sementara untuk nilai impor Sulsel, Akmal menilai terjadi penurunan sebesar 29,12 persen pada periode Januari – Agustus 2016. “Nilai impor pada periode Januari – Agustus tahun ini mencapai US$ 467,23 juta. Pada periode yang sama di tahun sebelumnya mencapai US$ 659,20 juta,” ucapnya.

Ampas atau Sisa Industri Makanan menjadi komoditas dengan nilai impor terbesar ke Sulsel pada Agustus ini dengan nilai US$ 12,67 juta. “Kalau untuk periode akumulatif Januari – Agustus ini komoditas dengan nilai impor terbesar yakni mesin-mesin mekanik sebesar US$ 99,01 juta,” paparnya. (Yasir)

1 8 9 10