Sepanjang 2017, Ekspor Sulsel ke Amerika Serikat Anjlok

Kepala BPS Nursam Salam

Kepala BPS Sulsel Nursam Salam

Makassar, KABAROKE — Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, Nursam Salam, mengungkapkan kinerja ekspor daerahnya ke Amerika Serikat terpantau lesu sepanjang 2017. Tercatat penurunan nilai ekspor sebesar 22,79 persen dibandingkan tahun lalu. Lesunya kinerja ekspor tidak lepas dari merosotnya permintaan kakao. Selain itu, ekspor biji kopi tidaklah meningkat signifikan.

“Periode Januari-September 2017, nilai ekspor Sulsel ke Amerika Serikat sebesar US$63,44 juta atau menurun 22,79 persen dibandingkan periode yang sama pada 2016 yang mencapai US$82,16 juta. Penurunan nilai ekspor ke Amerika Serikat turut berpengaruh pada merosotnya nilai ekspor Sulsel secara keseluruhan,” kata Nursam.

Berdasarkan data BPS, kinerja ekspor Sulsel ke Amerika Serikat mengalami kemerosotan, baik secara tahunan maupun bulanan. Periode September 2017, nilai ekspor ke Amerika Serikat hanya US$2,92 juta atau turun 56,7 persen dibandingkan periode Agustus 2017 sebesar US$6,75 juta. “Kalau dibandingkan September 2016, penurunannya sampai 73,74 persen.”

Menurut Nursam, lesunya kinerja ekspor Sulsel sebenarnya tidak hanya ke Amerika Serikat. Beberapa negara tujuan yang menjadi pelanggan komoditas asal Sulsel pun mengurangi permintaan. Di antaranya yakni Malaysia, Tiongkok, Vietnam, Korea Selatan, Taiwan dan Belanda. Penurunan ekspor terbesar terjadi untuk tujuan Malaysia dan Amerika Serikat.

“Nilai ekspor Sulsel ke Malaysia mengalami penurunan hingga 45,78 persen dari US$69,87 juta menjadi US$37,88 juta untuk periode Januari-September tahun ini,” terang Nursam.

Secara keseluruhan, kinerja ekspor Sulsel sepanjang 2017 memang cenderung menurun. Periode Januari-September 2017, Nursam mengakui nilai ekspor Sulsel menurun 8,47 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Hingga September 2017, nilai ekspor hanya mencatat US$742,5 juta atau berkurang dibandingkan tahun lalu sebesar US$811,2 juta.

Menurut Nursam, salah satu komoditas unggulan Sulsel yang nilai ekspornya merosot tajam adalah kakao. Lesunya permintaan dari negara-negara pelanggan, seperti Tiongkok, Amerika Serikat, Jepang, India, Malaysia, Sri Lanka, dan India, menjadi pemicunya.

Masih merujuk data BPS, nilai ekspor kakao Sulsel hingga September 2017 hanya US$47,09 juta. Padahal, periode yang sama pada tahun lalu, Sulsel mencatatkan nilai ekspor US$112,41 juta untuk kakao. Kini, permintaan ekspor untuk kakao anjlok. Bahkan, periode September 2017 sama sekali tidak ada permintaan kakao dari negara-negara pelanggan. (***)

Hingga September 2017, Impor Sulsel Naik 43,09 Persen

Kepala BPS Sulsel Nursam Salam Rilis Data Inflasi

Kepala BPS Sulsel Nursam Salam Rilis Data Inflasi

Makassar, KABAROKE — Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, Nursam Salam, mengungkapkan aktivitas impor di Sulsel mengalami lonjakan signifikan sepanjang 2017. Rentang Januari-September, nilai impor Sulsel menembus US$781,37 juta atau naik 43,09 persen. Padahal, rentang periode yang sama pada tahun lalu, nilai impor Sulsel hanya US$546,08 juta.

“Hingga bulan kesembilan pada tahun ini, nilai impor Sulsel mengalami peningkatan 43,09 persen atau setara US$781,37 juta. Peningkatan impor Sulsel tidak berbanding lurus dengan ekspor yang malah menurun 8,47 persen atau sekitar US$742,5 juta. Tahun lalu ekspor Sulsel tembus US$811,2 juta,” kata Nursam, di Makassar, kemarin.

Berdasarkan data BPS, impor Sulsel mengalami lonjakan lantaran terjadi kenaikan arus masuk barang atau komoditas dari luar negeri per bulannya dibandingkan tahun lalu. Periode September 2017, impor Sulsel mencapai US$94,08 juta. Angka itu melonjak sangat tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar US$78,85 juta.

“Terjadi kenaikan impor dari September 2016 ke September 2017 sebesar 19,32 persen. Tapi bila dibandingkan secara bulanan pada 2017, malah sedikit menurun. Tercatat penurunan tipis sebesar 5,12 persen dari Agustus 2017 sebesar US$99,16 juta menjadi US$94,08 juta pada September 2017,” terang Nursam.

Dalam beberapa bulan terakhir, Nursam melanjutkan terjadi perubahan negara yang dominan dalam impor Sulsel. Periode September 2017, Spanyol tercatat sebagai negara dengan kontribusi impor tertinggi mencapai US$33,18 juta atau setara 35,27 persen dari total impor Sulsel. Disusul Singapura (US$12,91 juta atau 13,72 persen) dan Tiongkok (US$10,42 juta atau 11,08 persen).

“Periode-periode sebelumnya, Tiongkok dan Singapura yang paling dominan. Tapi untuk September 2017, Spanyol berada pada urutan pertama untuk nilai impor terbesar,” ucap Nursam.

Selanjutnya, untuk komoditas impor yang berkontribusi terbesar sepanjang September 2017 dicatatkan mesin-mesin/peralatan listrik. Nursam menyebut impor mesin-mesin peralatan listrik mencapai US$38,35 juta atau setara 40,76 persen dari total nilai impor Sulsel. Disusul bahan bakar mineral (US$15,82 juta atau setara 16,81 persen) serta gula dan kembang (US$15,03 juta atau setara 15,98 persen). (***)

BPS : Ekspor Sulsel US$742,5 Juta pada Januari-September 2017

Kepala BPS Sulsel Nursam Salam Rilis Data Inflasi

Kepala BPS Sulsel Nursam Salam Rilis Data Inflasi

Makassar, KABAROKE — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja ekspor Sulsel periode September 2017 mengalami kemorosotan. Terjadi penurunan nilai ekspor sebesar 4,44 persen dibandingkan periode bulan sebelumnya. Bahkan, bila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, nilai ekspor Sulsel menurun lebih tajam mencapai 26,87 persen.

“Nilai ekspor Sulsel pada September 2017 tercatat US$80,78 Juta. Itu menurun 4,44 persen bila dibandingkan capaian Agustus 2017 yang menembus US$84,54 juta. Kalau dibandingkan dengan periode September 2017, penurunannya bahkan sampai 26,87 persen yang mana capaian tahun lalu sebesar US$110,46 juta,” kata Kepala BPS Sulsel, Nursam Salam, di Makassar.

Berdasarkan data BPS, negara tujuan ekspor Sulsel masih didominasi oleh Jepang. Kontribusi Negara Nippon itu bahkan mencapai 76,76 persen. Disusul Tiongkok (12,19 persen), Amerika Serikat (3,62 persen) dan Vietnam (2,57 persen). Menurut Nursam, besarnya ekspor Sulsel ke Jepang lantaran sangat lakunya komoditas nikel. Pola demikian terus berulang tiap bulannya.

Nursam memaparkan ekspor nikel periode September 2017 mencapai US$59,43 juta atau setara 73,57 persen dari total nilai ekspor Sulsel. Torehan itu jauh di atas komoditas lainnya, seperti biji-bijian berminyak dan tanaman obat (US$7,78 juta atau setara 9,63 persen) maupun ikan, udang dan hewan tidak bertulang belakang lainnya (US$3,17 juta atau setara 3,93 persen)

“Secara keseluruhan, nilai ekspor Sulsel terbesar masih ke Jepang mencapai US$62,01 juta. Kebanyakan itu ya nikel yang memang tujuannya ke Jepang. Nah, nikel memang hampir setiap bulannya selalu menempati urutan pertama komoditas terbesar untuk ekspor Sulsel,” papar Nursam.

Menurut Nursam, penurunan kinerja ekspor Sulsel periode September 2017 tidaklah begitu signifikan. Namun, diakuinya kinerja ekspor sepanjang 2017 memang sedikit lesu jika dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

“Ada penurunan 8,7 persen, dimana pada angka kumulatif ekspor Januari-September 2017 sebesar US$742,5 juta, masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$811,2 juta,” pungkasnya. (***)

Tak Hanya Ekspor, Impor Sulsel Juga Anjlok pada September 2017

Kepala BPS Nursam Salam

Kepala BPS Nursam Salam

Makassar, KABAROKE — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai impor provinsi Sulawesi Selatan mengalami penurunan pada September ini sebesar 5,08 juta dolar Amerika Serikat (AS) dibandingkan bulan sebelumnya.

“Berdasarkan pendataan, nilai impor untuk bulan September ini tercatat 94,08 juta dolar AS atau lebih kecil dari bulan Agustus,” ujar Kepala BPS Sulsel, Nursam Salam di Makassar, Senin.

Ia menyebut, pada periode Agustus 2017 angka transaksi tercatat sebesar 99,16 juta dolar AS atau terjadi penurunan sekitar 5,12 persen pada September.

Nursam mengatakan, turunnya nilai impor pastinya menjadi hal yang baik, apalagi jika dibarengi dengan peningkatan nilai ekspor komoditi unggulan provinsi ini.

Impor paling besar nilainya terjadi pada komoditas mesin-mesin peralatan listrik dengan nilai transaksi sebesar 38,35 juta dolar AS.

Nilai impor untuk mesin-mesin peralatan listrik ini menyumbang sekitar 40,76 persen dari seluruh komoditas yang di impor. Kemudian disusul oleh bahan bakar mineral (BBM) dengan angka transaksi sebesar 15,82 juta dolar (16,81 persen).

Di peringkat ketiga, ada komoditas gula dan kembang gula yang menyumbang 15,98 persen atau dengan nilai transaksi sebesar 15,03 juta dolar AS.

Komoditas gandum-ganduman dengan nilai 9,21 juta dolar (9,79 persen) berada di posisi keempat dan mesin-mesin pesawat mekanik menyumbang 5,15 juta dolar atau sebesar 5,48 persen.

“Semua komoditas ini, nilainya tidak ada yang mencolok selain dari mesin-mesin peralatan listrik. Semunya hampir sama nilainya di kisaran 15 juta dan sembilan juta dolar,” jelasnya. (***)

Payah! Ekspor Sulsel Turun US$3,7 Juta 

Kepala BPS Sulsel Nursam Salam Rilis Data Inflasi

Kepala BPS Sulsel Nursam Salam Rilis Data Inflasi

Makassar, KABAROKE — Nilai ekspor semua komoditas unggulan Sulawesi Selatan dalam periode September 2017 mengalami penurunan sebesar 3,76 juta dolar Amerika Serikat jika dibandingkan pada bulan sebelumnya.

“Untuk bulan September ini terjadi penurunan transaksi sebesar 3,7 juta dolar AS lebih dan jika dipersentasekan sekitar 4 persen lebih,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan Nursam Salam, di Makassar, Senin.

Berdasarkan data BPS Sulsel, untuk transaksi bulan September itu hanya tercatat sebesar 80,78 juta dolar AS jika dibandingkan dengan bulan Agustus dengan nilai transaksi 84,54 juta dolar AS.

Sebanyak 10 komoditas ekspor Sulsel, delapan di antaranya mengalami penurunan. Kenaikan nilai transaksi ekspor hanya terjadi pada komoditas unggulan Sulsel seperti nikel yang mencatat nilai transaksi 59,43 juta dolar AS.

Dari 10 komoditas ekspor, hanya lima yang menjadi unggulan ekspor yakni nikel, biji-bijian berminyak dan tanaman obat, cokelat, daging dan hewan air lainnya.

“Jadi ada 10 komoditas yang menyumbang nilai transaksi, dan dari jumlah itu delapan komoditas turun, satu yang naik dan satu lagi komoditas rempah-rempah naiknya kecil sedikit,” katanya pula.

Nursam mengaku, meskipun nilai transaksinya mengalami penurunan, namun permintaan cukup bagus ke beberapa negara.

Lima komoditas yang menyumbang nilai transaksi besar, yakni nikel dengan 59,43 juta dolar AS, kemudian biji-bijian berminyak dan tanaman obat 7,78 juta dolar AS, ikan, udang dan hewan air 3,17 juta dolar AS, buah-buahan dan kacang-kacangan 1,17 juta dolar AS, serta garam, belerang dan kapur sebesar 2,66 juta dolar AS. (***)

Gawat! Ekspor Kakao Sulsel Anjlok 51,7 Persen

Kepala BPS Nursam Salam

Kepala BPS Nursam Salam

Makassar, KABAROKE — Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, Nursam Salam, mengungkapkan kinerja ekspor untuk komoditas kakao mengalami penurunan signifikan sepanjang 2017. Lesunya permintaan dari negara-negara pelanggan, seperti Tiongkok, Jepang, India, Malaysia, Sri Lanka, dan India, menjadi pemicunya.

Berdasarkan data BPS, nilai ekspor kakao Sulsel hingga Agustus 2017 hanya US$47,09 juta. Padahal, periode yang sama pada tahun lalu, Sulsel mencatatkan nilai ekspor US$97,48 untuk kakao. “Terjadi kemorosotan tajam nilai ekspor kakao. Turunnya bahkan sampai 51,7 persen,” kata Nursam.

Nursam memaparkan menurunnya nilai ekspor kakao Sulsel bisa dilihat secara bulanan yang memang anjlok dibandingkan tahun lalu. Dicontohkannya pada periode Agustus 2017, nilai ekspor kakao hanya US$2,7 juta. Sedangkan, periode Agustus 2016, nilai ekspor kakao menembus US$24,29 juta. Itu artinya ada penurunan sampai 88,88 persen.

Secara keseluruhan, kinerja ekspor Sulsel sepanjang 2017 memang cenderung menurun. Periode Januari-Agustus 2017, Nursam mengakui nilai ekspor Sulsel menurun 5,57 persen dibandingka periode yang sama pada tahun lalu. Hingga Agustus 2017, nilai ekspor hanya mencatat US$661,72 juta atau berkurang dibandingkan tahun lalu sebesar US$700,74 juta.

Menurunnya kinerja ekspor itu pula, Nursam melanjutkan yang menjadi penyebab neraca perdagangan Sulsel mengalami defisit sebesar US$25,57 juta hingga Agustus 2017. Terlebih, nilai impor Sulsel memang mengalami lonjakan drastis mencapai 47,1 persen, dari US$467,23 juta menjadi US$687,29 juta.

Lesunya kinerja ekspor Sulsel, Nursam mengatakan sebenarnya tidaklah melingkupi seluruh komoditas. Beberapa komoditas masih memperlihatkan tren yang baik. Salah satunya adalah nikel yang dari tahun ke tahun menjadi andalan Sulsel. Nilai ekspor nikel Sulsel sepanjang 2017 bahkan mengalami kenaikan 11,82 persen.

“Nilai ekspor nikel Sulsel hingga Agustus 2017 menembus US$389,29 juta atau yang tertinggi dibandingkan komoditas lainnya. Capaian itu lebih baik dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar US$348,12 juta,” pungkas Nursam. (***)

Hore! Indeks Demokrasi di Sulsel Meningkat 0,63 Poin

Pengamanan TPS Pilgub DKI

Suasana Pemungutan Suara di TPS dalam Pilkada

Makassar, KABAROKE — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) di Sulsel mengalami peningkatan 0,63 poin. Peningkatan tersebut mengindikasikan tingkat perkembangan demokrasi yang semakin baik. Kendati demikian, indeks demokrasi di Sulsel masih dalam kategori sedang.

“IDI Sulsel pada 2016 sebesar 68,53 dari skala 0-100. Angka itu meningkat 0,63 poin dibandingkan IDI Sulsel pada 2015 sebesar 67,90. Capaian kinerja demokrasi itu masih dalam level sedang yakni 60-80,” kata Kepala BPS Sulsel, Nursam Salam, Selasa, 10 Oktober.

Berdasarkan data BPS, capaian indeks demokrasi di Sulsel mengalami fluktuasi rentang 2009 hingga 2016. Periode 2009, Sulsel mencatatkan IDI sebesar 61,48. Torehan itu jeblok pada 2010 (56,67), sebelum sempat mencapai puncaknya pada 2014 (73,30).

“Fluktuasi angka IDI merupakan cermin situasi dinamika demokrasi. IDI menjadi alat ukur perkembangan demokrasi yang khas di Indonesia, ya memang dirancang untuk sensitif terhadap naik-turunnya kondisi demokrasi,” terang Nursam.

Disinggung ihwal naiknya IDI Sulsel periode 2015-2016, Nursam memaparkan faktor yang paling dominan adalah membaiknya kebebasan sipil yang naik 6,16 poin dari 69,38 menjadi 75,54. Adapun dua faktor lain mengalami penurunan, tapi tidak begitu signifikan.

“Dua aspek lain yang turut berpengaruh itu yakni hak-hak politik yang turun 2,74 poin dari 64,25 menjadi 61,51 dan lembaga-lembaga demokrasi yang turun 0,98 poin dari 71,84 menjadi 70,86,” pungkas Nursam.

Dalam menyusun IDI, BPS menggunakan metodelogi pengumpulan data yang bersumber pada empat hal. Rinciannya yaitu review surat kabar lokal, review dokumen (perda, pergub dan lainnya), focus group discussion dan wawancara mendalam. (***)

Duh, Jumlah Penumpang Datang di Bandara Hasanuddin Merosot 14 Persen

Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar. (int)

Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar. (int)

Makassar, KABAROKE — Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel mencatat perkembangan transportasi angkutan udara mengalami penurunan periode Agustus 2017. Untuk total penumpang datang ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar terjadi penurunan hingga 14,27 persen dari 534.249 penumpang menjadi 458.022 penumpang. Kemorosotan terbesar terjadi pada penumpang datang internasional.

“Penumpang datang internasional anjlok hingga 18,3 persen dari 4.770 penumpang menjadi 3.897 penumpang. Sedangkan, penumpang datang domestik turun hingga 14,23 persen dari 524.479 penumpang menjadi 454.125 penumpang. Secara keseluruhan, penumpang datang di Bandara Hasanuddin turun 14,27 persen dari 534.249 penumpang menjadi 458.022 penumpang,” kata Kepala BPS Sulsel, Nursam Salam.

Tidak hanya penumpang datang, BPS juga mencatat penurunan pada penumpang berangkat di Bandara Hasanuddin. Namun, penurunan hanya terjadi pada penumpang domestik sebesar 22,3 persen dari 437.365 penumpang menjadi 357.249 penumpang. Sedangkan penumpang internasional malah mengalami lonjakan signifikan menembus 168,34 persen dari 6.495 penumpang menjadi 17.429 penumpang.

“Biarpun ada lonjakan signifikan pada penumpang berangkat internasional, secara keseluruhan ternyata tidak mampu mendongkrak jumlah penumpang berangkat. Tetap terjadi penurunan 19,51 persen dari 443.860 penumpang menjadi 357.249 penumpang,” urai Nursam.

Penurunan lalu lintas penumpang juga terlihat pada kategori transit pada Agustus 2017. Nursam mengungkapkan terjadi penurunan penumpang transit hingga 15 persen dari 272.273 penumpang menjadi 231.429 penumpang.

Lebih jauh, Nursam menerangkan penurunan lebih tinggi terjadi pada angkutan transportasi laut. Rata-rata penurunan penumpang berkisar 50 persen. Untuk penumpang berangkat, BPS mencatat penurunan 50,06 persen dari 51.437 penumpang menjadi 25.587 penumpang. Sedangkan untuk penumpang datang, BPS mencatat penurunan 50,85 persen dari 50,85 persen dari 52.681 penumpang menjadi 25.892 penumpang.

“Secara keseluruhan, jumlah penumpang di Pelabuhan Makassar mengalami penurunan 50,46 persen dari 104.118 penumpang menjadi 51.579 penumpang,” pungkas Nursam. (tyk)

Inflasi Bone Tertinggi di Sulawesi untuk Tahun Kalender 2017

Kepala BPS Sulsel Nursam Salam Rilis Data Inflasi

Kepala BPS Sulsel Nursam Salam Rilis Data Inflasi

Makassar, KABAROKE — Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, Nursam Salam, menyatakan laju inflasi di Bone tercatat yang paling tinggi di Pulau Sulawesi secara tahun kalender. Rentang Januari-Agustus 2017, Bone mengalami inflasi sebesar 5,37 persen. Dari 11 kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Pulau Sulawesi, dua daerah teratas yang mengalami inflasi berasal dari Sulsel.

“Dua kota IHK secara tahun kalender dengan laju inflasi tertinggi di Pulau Sulawesi memang berasal dari Sulsel. Masing-masing yaitu Bone (5,37 persen) dan Bulukumba (4,66 persen). Adapun untuk kota dengan laju inflasi terendah yakni Manado (Sulut) dengan 2,09 persen,” kata Kepala BPS Sulsel, Nursam Salam.

Statistik tidak jauh berbeda terlihat bila memantau perkembangan inflasi secara tahunan di Pulau Sulawesi. Dua daerah di Sulsel kembali mencatatkan inflasi tertinggi dari September 2016 ke September 2017. Bedanya, Bulukumba tercatat memiliki inflasi tertinggi mencapai 5,65 persen. Disusul Bone (5,54 persen) dan Palu (4,61 persen). Untuk inflasi terendah dialami Bau-bau (2,37 persen).

Menurut Nursam, statistik laju inflasi yang tinggi pada dua dari lima kota IHK di Sulsel menjadi perhatian. BPS mengharapkan gambaran terkait tingginya laju inflasi tersebut segera direspon oleh pemerintah setempat untuk pengendalian harga. Toh, di setiap daerah, kini sudah ada terbentuk Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang terdiri dari unsur pemerintah daerah dan Bank Indonesia alias BI.

Khusus untuk September 2017, Nursam mengungkapkan kinerja TPID di Sulsel menunjukkan hasil yang cukup maksimal. Hal itu tergambar dari capaian deflasi sebesar 0,07 persen. Dari lima kota IHK di Sulsel, hanya satu kota yakni Parepare yang mengalami inflasi. Adapun Bone dan Bulukumba malah mengalami deflasi, masing-masing sebesar 0,14 persen dan 0,06 persen.

“Periode September 2017, Sulsel mengalami deflasi 0,07 persen dengan IHK sebesar 129,98. Untuk lima kota IHK yang menjadi indikator pun hanya satu yang mengalami inflasi yaitu Parepare. Empat kota lainnya yakni Makassar, Palopo, Bone dan Bulukumba mencatatkan deflasi,” urai Nursam.

Berdasarkan data BPS, inflasi Parepare terbilang kecil hanya 0,1 persen dengan IHK sebesar 136,39. Sedangkan untuk deflasi, tertinggi terjadi di Bone mencapai 0,14 dengan IHK sebesar 126,73 dan terendah dialami Palopo hanya 0,04 persen dengan IHK sebesar 127,48. Makassar sendiri mengalami deflasi 0,08 persen dengan IHK sebesar 130,61.

Menurut Nursam, pemicu deflasi di Sulsel pada September 2017 sangat dipengaruhi oleh menurunnya dua kelompok pengeluaran. Rinciannya yaitu kelompok bahan makanan (-1,39 persen) serta kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan (-0,04 persen). Adapun lima kelompok pengeluaran lain tetap mengalami inflasi. (***)

Payah! Kunjungan Turis ke Sulsel Anjlok 18,94 Persen

Turis China Dominasi Kunjungan Wisman ke Indonesia (dok net)

Turis China Dominasi Kunjungan Wisman ke Indonesia (dok net)

Makassar, KABAROKE — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman ke Sulsel melalui pintu masuk Makassar mengalami penurunan 18,94 persen periode Agustus 2017. Terdata penurunan 388 kunjungan wisman dibandingkan periode bulan sebelumnya. “Per Agustus 2017, kunjungan wisman turun 18,94 persen dari 2.049 kunjungan menjadi 1.661 kunjungan,” kata Kepala BPS Sulsel, Nursam Salam, Rabu, (4/10/2017).

Menurut Nursam, penurunan kunjungan wisman hanya terjadi secara bulanan. Secara tahunan, BPS malah mencatat lonjakan kunjungan hingga 48,97 persen. Nursam mengimbuhkan secara kumulatif, rentang Januari-Agustus 2017 dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu, juga terjadi kenaikan hingga 2.988 kunjungan. Statistik tersebut mengindikasikan pariwisata Sulsel cukup berkembang dalam setahun terakhir.

“Secara kumulatif periode Januari-Agustus 2017, jumlah kunjungan wisman ke Sulsel mencapai 11.548 kunjungan atau naik 34,91 persen. Periode yang sama pada tahun lalu, kami mencatat kunjungan wisman hanya berkisar 8.560 kunjungan,” urai Nursam.

Kunjungan wisman ke Sulsel, Nursam menyatakan masih sangat didominasi Malaysia. Turis asal Negeri Jiran sepanjang tahun ini selalu menempati urutan teratas. Bahkan, saat kunjungan wisman negara lain mengalami penurunan pada Agustus, kunjungan wisman Malaysia tetap mampu bertumbuh positif. “Ada kenaikan 127 kunjungan dari 808 kunjungan per Juli menjadi 934 kunjungan per Agustus,” tutur dia.

Berdasarkan data BPS, lima negara dengan penyumbang wisman terbesar ke Sulsel yakni Malaysia, Prancis, Singapura, Amerika Serikat dan Belanda. Keempat negara terakhir meski masuk lima besar, kata Nursam tapi mengalami penurunan kunjungan. “Prancis dan Belanda yang paling merosot, masing-masing turun 83 kunjungan dan 75 kunjungan.”

Penurunan kunjungan wisman ke Sulsel, Nursam mengatakan tidak banyak berpengaruh Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang. Periode Agustus 2017, TPK hotel berbintang malah mengalami peningkatan 1,59 poin dibandingkan pada Juli 2017 dari 47,65 persen menjadi 49, 24 persen. “Secara tahunan, kenaikan TPK hotel berbintang lebih tinggi lagi berkisar 2,4 poin,” pungkasnya. (***)

1 2 3 4 5 10