BI Prediksi Tekanan Inflasi Sulsel pada Maret Menurun

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulsel Bambang Kusmiarso [dok net]

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulsel Bambang Kusmiarso [dok net]

Makassar, KABAROKE — Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulsel, Bambang Kusmiarso, memperkirakan tekanan inflasi pada Maret 2018 mengalami penurunan. Hal tersebut menyusul proyeksi panen raya pada bulan ketiga tahun ini. Penurunan tekanan inflasi di Sulsel telah terjadi pada Februari 2018 dan diharapkan dapat terus dikendalikan pada masa-masa mendatang.

“Pada Maret 2018, tekanan inflasi diperkirakan akan kembali turun sejalan dengan adanya panen raya. Maret ini kan ada panen raya untuk komoditas pangan, utamanya beras dan palawija,” kata Bambang, di Makassar.

Bambang melanjutkan tekanan inflasi periode Februari 2018 sendiri menurun signifikan dibandingkan periode bulan sebelumnya. Pada bulan kedua tahun ini, inflasi hanya tercatat 0,23 persen. Angka itu lebih rendah dibandingkan inflasi pada Januari 2018 yang menembus 0,81 persen.

“Tekanan inflasi Sulsel pada Februari 2018 menurun dibandingkan bulan sebelumnya. Lalu, meskipun lebih tinggi dari angka nasional sebesar 0,17 persen, tapi inflasi kali ini lebih rendah bila dibandingkan pada bulan yang sama pada tahun lalu mencapai 0,75 persen,” ulas dia.

Bambang mengimbuhkan meski tekanan menurun, upaya untuk pengendalian inflasi harus tetap dikencangkan. Terlebih, beberapa komoditas strategis yang berpengaruh dalam mengerek inflasi kali ini adalah beras, ikan cakalang dan ikan bandang. Itu merupakan komoditas utama yang sangat strategis dan mesti menjadi perhatian.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik dan BI, beras menjadi komoditas dengan sumbangsih tertinggi mengerek inflasi mencapai 0,09 persen. Disusul ikan cakalang dan ikan bandeng, masing-masing 0,04 persen. Lalu, ada pula cabai merah, rokok putih, service kendaraan dan ikan layang yang menyumbang 0,03 persen.

“Adapun komoditas yang mengalami deflasi adalah angkutan udara (-0,09 persen), bahan bakar rumah tangga (-0,04 persen), daging ayam ras (-0,04 persen), pisang (-0,02 persen) dan sawi hijau (-0,02 persen),” pungkas Bambang. (*)

BI : Beras Picu Inflasi Sulsel pada Awal 2018

Pengadaan Beras di Gudang Bulog (dok net)

Pengadaan Beras di Gudang Bulog (dok net)

Makassar, KABAROKE — Laju inflasi Sulsel periode awal tahun ini mencapai 0,81 persen. Beras dan cabai rawit menjadi komoditas yang memiliki andil besar dalam mengerek inflasi periode Januari 2018. “Andil terbesar inflasi kali ini berasal dari beras (0,25 persen) diikuti cabai rawit (0,12 persen),” kata Kepala Kantor Perwakilan BI Sulsel, Bambang Kusmiarso, Jumat, 9 Februari.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) maupun Badan Pusat Statistik (BPS), selain beras dan cabai rawit, komoditas lain yang mengalami inflasi adalah upah tukang bukan mandor (0,08 persen). Disusul tomat buah (0,07 persen), daging ayam ras (0,03 persen), ikan layang (0,03 persen), tomat sayur (0,02 persen) dan kacang panjang (0,02 persen).

Bambang mengungkapkan meski terjadi inflasi, terdapat beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga. Di antaranya yakni angkutan udara (-0,02 persen), telur ayam ras (-0,02 persen), daging sapi (-0,01 persen), bahan bakar rumah tangga (-0,01 persen), apel (-0,008 persen) dan kol putih/kubis (-0,008 persen).

Secara umum, Bambang menerangkan inflasi Sulsel pada Januari 2018 berada di atas angka nasional sebesar 0,62 persen. Meski demikian, laju inflasi pada awal tahun ini berada di bawah torehan bulan sebelumnya mencapai 1,04 persen. “Meski lebih tinggi dari nasional, inflasi Sulsel pada Januari 2018 lebih rendah dari tahun sebelumnya,” tuturnya.

Masih merujuk data BI maupun BPS, inflasi tertinggi di Sulsel terjadi di Parepare (1,38 persen). Disusul Bulukumba (1,31 persen), Bone (1,28 persen), Palopo (1,25 persen) dan Makassar (0,67 persen). Dengan perkembangan IHK tersebut, inflasi Sulsel secara tahunan sebesar 4,11 persen, lebih tinggi daripada inflasi nasional sebesar 3,25 persen.

Kepala BPS Sulsel, Nursam Salam, mengatakan inflasi yang dialami Sulsel dipicu kenaikan harga lima dari tujuh kelompok pengeluaran. Kenaikan tertinggi dicatat indeks harga pada kelompok bahan makanan sebesar 2,63 persen. Disusul kelompok perumahan (0,45 persen), kelompok makanan jadi,minuman, rokok dan tembakau (0,34 persen), kelompok kesehatan (0,21 persen) dan kelompok sandang (0,18 persen).

“Di sisi lain, ada dua kelompok pengeluaran yang menurun. Itu adalah kelompok transport, komunikasi dan kelompok jasa keuangan mengalami penurunan masing-masing sebesar 0,01 persen dan 0,09 persen,” pungkas dia. (*)

Ikan Bandeng Beri Andil Terbesar pada Inflasi Sulsel 

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulsel Bambang Kusmiarso [dok net]

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulsel Bambang Kusmiarso [dok net]

Makassar, KABAROKE — Laju inflasi Sulsel pada Desember 2017 mencapai 1,04 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 131,29. Andil terbesar dalam pembentukan inflasi di pintu gerbang Kawasan Timur Indonesia berasal dari komoditas ikan bandeng. Kenaikan harga ikan bandeng sendiri dipicu besarnya permintaan masyarakat dan faktor cuaca.

“Kalau dilihat komposisinya, andil terbesar inflasi Sulsel pada Desember 2017 berasal dari ikan bandeng sebesar 0,14 persen. Diikuti emas perhiasan dan angkutan udara, masing-masing mencapai 0,09 persen,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulsel, Bambang Kusmiarso.

Berdasarkan data yang dihimpun Kabar Oke, sejumlah makanan dan bahan makanan lainnya juga memiliki andil terhadap inflasi Sulsel. Di antaranya yakni beras (0,08 persen), telur ayam ras (0,06 persen), cabai rawit (0,03 persen), ikan teri basah (0,03 persen), tomat sayur (0,03 persen) dan bawang merah (0,02 persen).

Terlepas dari cukup tingginya inflasi Sulsel pada Desember 2017, Bambang menyebut ada beberapa komoditas yang malah mengalami penurunan harga. Di antaranya yakni jeruk (-0,01 persen), pepaya (-0,01 persen), daging ayam ras (-0,008 persen) dan pembalut wanita (-0,002 persen).

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, Nursam Salam, mengatakan besarnya laju inflasi di daerahnya pada Desember 2017 dipengaruhi naiknya harga pada seluruh kelompok pengeluaran. Kenaikan tertingi terjadi harga kelompok bahan makanan mencapai 2,59 persen

Bambang melanjutkan inflasi di Sulsel terjadi di seluruh kota IHK. Tertinggi di Parepare mencapai 1,11 persen dengan IHK 126,28. Sedangkan terendah terjadi di Bulukumba sebesar 0,30 persen dengan IHK 136,31. Adapun Makassar mengalami inflasi 1,09 persen dengan IHK 132,10. (***)

Begini Prediksi BI Soal Laju Inflasi Sulsel pada Desember 2017

Bank Indonesia

Bank Indonesia

Makassar, KABAROKE — Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulsel, Bambang Kusmiarso, memprediksi inflasi daerahnya pada Desember 2017 cukup terkendali. Diperkirakan inflasi pada akhir 2017 berada pada rentang 0,5-0,9 persen. Proyeksi itu merujuk pada pola pembentukan inflasi secara historis dari tahun ke tahun.

“Berdasarkan rata-rata historis, terkecuali ada kejadian luar biasa, maka inflasi Sulsel pada Desember 2017 diperkirakan pada rentang 0,5-0,9 persen (mtm),” kata Bambang, di Makassar.

Berdasarkan data historis terkait inflasi di Sulsel sejak 2013 hingga 2016, kisarannya 0,3-0,78 persen. Terkecuali pada 2014, dimana ada kejadian luar biasa yang membuat inflasi menembus 2,76 persen. Rinciannya pada Desember 2013 (0,78 persen), Desember 2015 (0,70 persen) dan Desember 2016 (0,30 persen).

Menurut Bambang, inflasi Desember 2017 diperkirakan berasal dari seluruh komponen disagregasi. Dari inflasi inti, tarikan permintaan konsumsi rumah tangga diproyeksikan memberikan tekanan. Sedangkan dari administered price, inflasi bersumber dari kenaikan tiket harga pesawat. “Adapun inflasi volatile food diupayakan untuk diredam,” tuturnya.

Bambang mengatakan untuk mengendalikan laju inflasi, BI bersama seluruh pihak terkait yang tergabung dalam Tim Pemantau dan Pengendali Inflasi Daerah atau TPID siap bekerja ekstra. Langkah strategis disusun dalam rangka pengendalian inflasi pada akhir tahun. Pihaknya memetakan dan terus memantau perkembangan harga sejumlah komoditas.

“TPID memetakan dan memantau secara seksama perkembangan harga komoditas, terutama yang sesuai polanya menjadi penyumbang inflasi. Di antaranya yakni angkutan udara, telur ayam ras, daging ayam ras, cabai rawit, beras dan bandeng.”

“Inflasi akan tetap diarahkan berada dalam kisaran sasaran inflasi pada 2017 yakni 4 plus minus 1 persen,” sambung Bambang.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, Nursam Salam, mengungkapkan Sulsel mencatatkan inflasi 0,28 persen pada November 2017. Inflasi pada bulan ke-11 tahun ini terjadi setelah tiga bulan sebelumnya berturut-turut mengalami deflasi. Diakuinya kinerja TPID sangat diharapkan dalam upaya mengendalikan laju inflasi, khususnya pada kelompok volatile food.

Inflasi pada November 2017, merujuk data BPS, tercatat dipengaruhi oleh kenaikan tarif angkutan udara. Secara utuh, laju inflasi Sulsel tahun kalender rentang Januari-November tahun ini mencapai 3,37 persen. “Adapun laju inflasi year on year (November 2017 terhadap November 2016 berkisar 3,68 persen,” pungkas dia. (***)

BI Prediksi Inflasi November di Sulsel Tetap Stabil

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulsel Bambang Kusmiarso [dok net]

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulsel Bambang Kusmiarso [dok net]

Makassar, KABAROKE — Laju inflasi di Sulsel pada November 2017 diprediksi relatif stabil. Bahkan, tidak menutup kemungkinan Sulsel kembali mencatatkan deflasi. Terjaganya tekanan inflasi di Sulsel berkat stabilitas harga kebutuhan pokok. Selain itu, tidak ada momen besar pada bulan ini yang membuat adanya lonjakan pengeluaran untuk kebutuhan masyarakat.

“Khusus untuk November 2017, inflasi di Sulsel diperkirakan masih relatif stabil seiring dengan pasokan bahan kebutuhan yang terjaga di tengah musim panen yang mulai berakhir,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulsel, Bambang Kusmiarso.

Berdasarkan data yang dihimpun Kabar Oke, laju inflasi di Sulsel sepanjang 2017 terbilang sangat stabil. Hingga bulan kesepuluh pada tahun ini, Sulsel telah mencatatkan lima kali deflasi. Teranyar, Sulsel mengalami deflasi 0,31 persen pada Oktober 2017. Yang istimewa, seluruh kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sulsel juga mencatatkan deflasi.

Secara utuh, laju inflasi di Sulsel untuk tahun kalender (Januari-Oktober 2017) mencapai 3,08 persen. Adapun laju inflasi year on year (Oktober 2017 terhadap Oktober 2016) berkisar 3,85 persen. Bambang menyebut torehan tersebut masih dalam range target, dimana kisaran sasaran inflasi tahun 2017 yaitu 4 plus minus 1 persen.

Menurut Bambang, yang perlu mendapatkan perhatian lebih adalah tekanan inflasi pada akhir tahun alias Desember 2017. Diprediksi pihaknya tekanan inflasi menguat menyambut dua momentum besar yakni Natal dan Tahun Baru. Tekanan inflasi diperkirakan bersumber dari administered price, khususnya pada komoditas tiket angkutan udara.

“Peningkatan tekanan inflasi memang diperkirakan akan terjadi pada akhir tahun. Itu karena biasanya menjelang Natal dan Tahun Baru, harga tiket pesawat mengalami kenaikan. Kondisi serupa biasa terjadi pada hari besar keagamaan, seperti Idul Fitri maupun Idul Adha,” ulas Bambang.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, Nursam Salam, sebelumnya menyatakan daerahnya mencatatkan prestasi yang cukup baik dalam pengendalian inflasi. Tercatat Sulsel menorehkan lima kali deflasi. Teranyar periode Oktober 2017, Sulsel mengalami deflasi 0,31 persen.

Menurut Nursam, deflasi Sulsel pada Oktober 2017 cukup istimewa lantaran semua kota Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami deflasi. “Kali ini, seluruh kota IHK di Sulsel berhasil mencatatkan deflasi. Total ada lima kota IHK di provinsi ini yakni Makassar, Parepare, Bone, Palopo dan Bulukumba,” tutup dia. (***)

Begini Langkah BI Sulsel Hadapi Tekanan Inflasi di Pengujung Tahun

Bank Indonesia

Bank Indonesia

Makassar, KABAROKE — Bank Indonesia (BI) bersama Tim Pemantauan dan Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) telah menyiapkan jurus guna mengantisipasi tekanan inflasi yang diprediksi meningkat pada akhir 2017. Strategi tersebut melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk para pemuka agama.

Kepala Kantor Perwakilan BI Sulsel, Bambang Kusmiarso, mengatakan bersama TPID, pihaknya menaruh atensi pada pengendalian harga, khususnya komponen volatile food. Untuk itu, pihaknya telah menyiapkan tiga langkah strategis menekan laju inflasi pada pengujung tahun.

Bambang menyebut langkah pertama berupa pemetaan potensi lonjakan harga dan kenaikan permintaan sehubungan momentum Natal dan Tahun Baru. Dari situ, pihaknya bisa menyusun rencana lanjutan. Yang pasti, TPID berusaha menjamin pasokan dan ketersedian segala kebutuhan pokok aman.

“Langkah kedua, TPID menyiapkan mekanisme SOP (Standar Operasional Prosedur) kenaikan harga. Termasuk senantiasa siap turun ke lapangan untuk melakukan sidak (inspeksi mendadak) sesuai kebutuhan,” kata Bambang, di Makassar.

Langkah ketiga alias pamungkas, Bambang menuturkan pihaknya menggencarkan sosialisasi kepada pemuka agama untuk memberikan edukasi seputar inflasi. Pemuka agama dipilih lantaran mereka merupakan figur yang didengar oleh masyarakat. Dengan begitu pesan-pesan TPID bisa diimplementasikan.

“TPID menggandeng pemuka agama untuk sosialisasi terkait inflasi dan hal-hal yang perlu diperhatikan selama akhir tahun. Pola serupa sempat dilakukan sewaktu menghadapi tekanan inflasi pada Idul Fitri dan Idul Adha,” tutur dia.

Bambang mengimbuhkan tekanan inflasi pada akhir tahun diproyeksikan meningkat karena efek musiman. Tekanan inflasi diperkirakan bersumber dari administered price, khususnya pada komoditas tiket angkutan udara. Biasanya tiket pesawat melonjak pada pengujung tahun.

“Peningkatan tekanan inflasi memang diperkirakan akan terjadi pada akhir tahun. Itu karena biasanya menjelang Natal dan Tahun Baru, harga tiket pesawat mengalami kenaikan. Kondisi serupa biasa terjadi pada hari besar keagamaan, seperti Idul Fitri maupun Idul Adha,” ulasnya.

Sepanjang 2017, laju inflasi di Sulsel terbilang cukup stabil. Sulsel bahkan telah mencatatkan lima kali deflasi hingga Oktober 2017. Teranyar, deflasi Sulsel mencapai 0,31 persen. Yang istimewa lantaran semua kota Indeks Harga Konsumen (IHK) turut mengalami deflasi. (***)

Sulsel Catat Deflasi 0,31 Persen pada Oktober 2017

Kepala BPS Sulsel Nursam Salam

Kepala BPS Sulsel Nursam Salam

Makassar, KABAROKE — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Sulsel kembali mengalami deflasi pada Oktober 2017. Deflasi tersebut merupakan kali kelima sepanjang tahun ini. Hebatnya lagi, dari lima kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sulsel, seluruhnya mengalami deflasi. Secara umum, deflasi Sulsel pada Oktober 2017 mencapai 0,31 persen dengan IHK sebesar 129,58.

“Periode Oktober 2017, Sulsel kembali mencatatkan deflasi 0,31 persen atau lebih tinggi dibandingkan periode September 2017 sebesar 0,07 persen. Kali ini, seluruh kota IHK di Sulsel bahkan mencatatkan deflasi,” kata Kepala BPS Sulsel, Nursam Salam, di Makassar.

Berdasarkan data BPS, deflasi tertinggi terjadi di Kota Parepare sebesar 0,60 persen dengan IHK 124,69. Torehan itu menempatkan Parepare sebagai kota kedua tertinggi yang mengalami deflasi di Pulau Sulawesi. Adapun yang tertinggi dicatat oleh Kota Palu, Sulteng, yang mengalami deflasi sebesar 1,31 persen dengan IHK 130,33.

“Deflasi terendah di Sulsel dialami Kota Palopo sebesar 0,01 persen dengan IHK 127,47. Torehan itu juga tercatat yang paling rendah di Pulau Sulawesi disusul Kota Manado (Sulteng) dengan 0,06 persen dengan IHK 128,18,” urai Nursam.

Menurut Nursam, pemicu deflasi di Sulsel pada Oktober 2017 sangat dipengaruhi oleh menurunnya tiga kelompok pengeluaran. Rinciannya yaitu kelompok bahan makanan (-1,48 persen); kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau (-0,05 persen) serta kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan (-0,30 persen).

Adapun empat kelompok pengeluaran lain, Nursam menuturkan tetap mengalami inflasi. Di antaranya yakni kelompok pengeluaran air, listrik, gas dan bahan bakar (0,14 persen); kelompok sandang (1,12 persen); kelompok kesehatan (0,05 persen) dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga (0,03 persen).

“Inflasi pada empat kelompok pengeluaran lain tidak sebanding dengan tiga kelompok pengeluaran yang mencatatkan deflasi,” ucap Nursam.

Secara utuh, laju inflasi Sulsel untuk tahun kalender (Januari-Oktober 2017) sudah mencapai 3,08 persen. Adapun laju inflasi year on year (Oktober 2017 terhadap Oktober 2016) berkisar 3,85 persen. (***)

Inflasi di Sulsel : Makassar Terendah, Bone Tertinggi

Kepala BPS Nursam Salam

Kepala BPS Nursam Salam

Makassar, KABAROKE — Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, Nursam Salam, mengungkapkan inflasi Makassar pada Juni 2017 tercatat paling rendah dari lima kota yang menjadi sasaran survei Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sulsel. Tercatat laju inflasi Makassar sebesar 0,84 persen atau di bawah angka Sulsel yang mencapai 0,97 persen. Kendati demikian, inflasi Makassar masih di atas angka nasional sebesar 0,69 persen.

“Laju inflasi Makassar paling rendah di Sulsel. Capaian itu sangat baik, apalagi terjadi rentang bulan Ramadan, dimana Makassar merupakan pusat transaksi di Sulsel. Tentunya hasil itu berkat kinerja pemerintahan setempat dalam pengendalian harga sejumlah komoditas,” kata Nursam, di Makassar.

Berdasarkan data BPS, dari lima kota IHK di Sulsel, seluruhnya mengalami inflasi. Laju inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Bone sebesar 1,83 persen. Disusul Kota Palopo (1,39 persen), Kota Parepare (1,33 persen) dan Kabupaten Bulukumba (1,23 persen). “Hanya Makassar yang laju inflasinya berada di bawah 1 persen, tepatnya 0,84 persen,” tutur dia.

Bila dilihat secara regional, Nursam menyebut inflasi Makassar tercatat kedua terendah dari 11 kota IHK di Sulawesi. Torehan Makassar hanya kalah dari Kota Palu yang mencatatkan inflasi sebesar 0,76 persen. Adapun Kabupaten Bone masuk tiga besar daerah dengan laju inflasi tertinggi di Sulawesi.

Secara nasional, dari 79 kota IHK, BPS melansir hanya tiga daerah yang mampu mencatatkan deflasi. Tantangan menorehkan deflasi memang sangat tinggi pada Juni lantaran bertepatan dengan bulan suci Ramadan. Bahkan, puncak perayaaan Idul Fitri alias Lebaran terjadi pada waktu tersebut.

“Hanya tiga kota yang alami deflasi di Indonesia yakni Singaraja (-0,64 persen), Pematang Siantar (-0,07 persen) dan Denpasar (-0,01 persen). Sedangkan inflasi tertinggi terjadi di Tual yang mencapai 4,48 persen,” papar Nursam.

Nursam menyebut inflasi Sulsel dipengaruhi naiknya harga pada sejumlah kelompok pengeluaran. Enam dari tujuh kelompok pengeluaran di Sulsel bahkan mencatat inflasi. Tertinggi dialami kelompok bahan makanan menembus 2,10 persen. Disusul kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar (1,08 persen), kelompok sandang (1,07 persen), kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau (0,56 persen), kelompok kesehatan (0,24 persen) dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan (0,10 persen).

“Satu-satunya kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi yakni kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar -0,02 persen,” ucap Nursam.

Bila ditelisik mendalam, Nursam menjelaskan kenaikan tarif listrik dan ikan bandeng paling berkontribusi terhadap pembentukan inflasi pada Juni. Tarif listrik menyumbang inflasi sebesar 0,2330 persen dan ikan bandeng (0,1907 persen). Sedangkan untuk komoditas penyumbang deflasi yakni cabai rawit (-0,1282 persen), bawang putih (-0,0609 persen) dan kangkung (-0,0239 persen). (tyk)

Juni 2017, Inflasi Sulsel Tembus 0,97 Persen

Kepala BPS Nursam Salam

Kepala BPS Nursam Salam

Makassar, KABAROKE — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Sulsel pada Juni 2017 menembus 0,97 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 129,20. Dari lima kota IHK di Sulsel, semuanya mengalami inflasi. Torehan tertinggi terjadi di Kabupaten Bone menembus 1,83 persen dengan IHK sebesar 126,06. Adapun inflasi terendah terjadi di Kota Makassar yang mencapai 0,84 persen dengan IHK 129,79.

Kepala BPS Sulsel, Nursam Salam, mengatakan laju inflasi daerahnya berada di atas angka nasional yang mencatat 0,69 persen. Tingginya inflasi pada Juni dipicu naiknya harga sejumlah kelompok pengeluaran yang amat dipengaruhi membengkaknya pengeluaran saat bulan suci Ramadan. “Inflasi Sulsel capai 0,97 persen pada Juni setelah sebelumnya sempat mengalami deflasi 0,24 persen pada Mei,” kata Nursam, Senin, 3 Juli.

Berdasarkan data BPS, enam dari tujuh kelompok pengeluaran di Sulsel mencatat inflasi. Tertinggi dialami kelompok bahan makanan menembus 2,10 persen. Disusul kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar (1,08 persen), kelompok sandang (1,07 persen), kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau (0,56 persen), kelompok kesehatan (0,24 persen) dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan (0,10 persen).

“Satu-satunya kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi yakni kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar -0,02 persen,” ucap Nursam.

Bila ditelisik mendalam, Nursam menjelaskan kenaikan tarif listrik dan ikan bandeng paling berkontribusi terhadap pembentukan inflasi pada Juni. Tarif listrik menyumbang inflasi sebesar 0,2330 persen dan ikan bandeng (0,1907 persen). Sedangkan untuk komoditas penyumbang deflasi yakni cabai rawit (-0,1282 persen), bawang putih (-0,0609 persen) dan kangkung (-0,0239 persen).

Nursam mengungkapkan laju inflasi di Sulsel pada tahun kalender rentang Januari-Juni mencapai 2,77 persen. Secara tahunan, sambung dia, inflasi Sulsel tercatat 4,49 persen. Sepanjang tahun ini, Nursam menyebut Sulsel sudah dua kali mencatat deflasi. (***)

BI Sebut Inflasi Sulsel Berpotensi Lebih Tinggi dari Target Nasional

Bank Indonesia

Bank Indonesia

Makassar, KABAROKE — Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulsel mengungkapkan tekanan inflasi pada 2017 terbilang berat. Bahkan, laju inflasi Sulsel diprediksi bisa melampaui 4 persen plus minus 1 persen yang merupakan target nasional. Pemicunya adalah kelompok pengeluaran administered price alias harga yang diatur oleh pemerintah.

Laju inflasi Sulsel pada 2016 tercatat 2,94 persen atau di bawah angka nasional yang mencapai 3,02 persen. Wiwiek mengakui tidak mudah untuk bisa mempertahankan laju inflasi pada angka tersebut. “Inflasi Sulsel hingga Februari 2017 sudah mencapai 3,69 persen (yoy) karena kenaikan komponen administered price dan volatile food,” kata Wiwiek, Jumat, 10 Maret.

BI membuat tiga skenario dampak langsung terhadap inflasi Sulsel 2017. Hampir di seluruh skenario terjadi dampak inflasi mulai dari 1,35 persen hingga 3,21 persen dikerek oleh kelompok administered price. Skenario pertama yang paling memungkinkan yakni dampak penyesuaian tarif listrik untuk 70 persen pelanggan listrik 900 VA, kenaikan harga bbm non-subsidi dan kenaikan biaya administratif STNK, memicu tambahan inflasi 1,35 persen.

Dalam skenario kedua, Wiwiek mengatakan bila terjadi kenaikan harga elpiji yang telah diperkirakan pemerintah, tambahan inflasi semakin membesar menembus 1,64 persen. Adapun skenario ketiga, tambahan inflasi mencapai 3,21 persen bila terjadi kenaikan harga BBM subsidi. Namun, dari tiga skenario tersebut, skenario pertamalah yang dinilai paling memungkinkan.

“Memang butuh upaya kuat untuk menjaga inflasi Sulsel 2017 tetap berada pada target nasional 4 persen plus minus 1 persen. Sedari sekarang harus ada upaya untuk menjaga distribusi pangan berjalan optimal dan kinerja TPID di seluruh kabupaten/kota mesti dioptimalkan lagi,” jelas Wiwiek, sembari menyebut tekanan inflasi Sulsel terbesar diprediksi datang dari Makassar, Bone dan Bulukumba.

Menurut Wiwiek, bila Sulsel mampu meredam inflasi pada 2017, maka tantangan laju inflasi pada 2018 diyakini akan lebih terkendali. Target inflasi pada 2018 berkisar 3,5 persen plus minus 1 persen. Lebih rendahnya proyeksi inflasi didukung oleh optimisme ketersediaan distribusi pangan dan pengaruh harga internasional yang diperkirakan mulai stabil.

Sebelumnya, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo mengakui 2017 merupakan tahun yang tidak mudah untuk perekonomian global, nasional maupun daerah. Kendati demikian, Sulsel sudah membuktikan mampu terus bertumbuh di tengah ketidakpastian ekonomi global dan nasional. Disinggung soal inflasi Sulsel, pihaknya sedang melakukan pemetaan di tiap daerah agar penanganannya lebih terfokus.

Syahrul menegaskan sudah menjadi tugas pemerintah untuk memastikan ekonomi bertumbuh dan mengendalikan laju inflasi. Bagaimana pun sulitnya, pihaknya akan berusaha. “Untuk itulah pemerintah ada. Tentunya, pemerintah akan berusaha untuk bekerja lebih baik lagi, apalagi Sulsel ingin terus tumbuh sebagai pilar dan penopang ekonomi nasional,” pungkas gubernur dua periode itu. (***)

1 2