Marquez Ingin Kembali Rajai Austin

KABAROKE – Marc Marquez memiliki modal apik sebelum seri balapan Austin dihelat. Rider Repsol Honda itupun bertekad ingin kembali menjadi ‘Raja’ Austin sekaligus mempertahankan prestasinya sebagai penguasa lintasan Circuit of The Americas.

Marquez pun mengaku optimis meski yakin tak akan sedominan tahun-tahun sebelumnya. Sejak Circuit of The Americas bergabung di kalendar balap MotoGP 2013, Marquez sukses menjadi penguasa sirkuit tersebut dengan meraih tiga kemenangan beruntun. Ia pun ingin mengulang prestasi tersebut akhir pekan nanti.

“Kita lihat saja nanti bagaimana kami tampil di Austin tahun ini. Saya suka lintasannya, di mana saya merasa kuat dan selalu menjalani balapan dengan baik serta bersenang-senang,” ujarnya dalam pernyataan resmi tim.

Meski begitu, Marquez yakin dirinya tak akan sekuat tahun-tahun sebelumnya, mengingat RC213V tahun ini begitu agresif dan lemah di akselerasi. Meski begitu, ia dan timnya bertekad untuk tetap bekerja keras.

“Lintasan ini membutuhkan akselerasi yang baik, yang bukan titik kuat motor kami tahun ini, jadi kami harus mencari cara mengatasi situasi ini. Kami akan tetap bekerja keras seperti yang kami lakukan di Argentina, dan kami akan mencoba mencari ritme balap yang baik,” tutupnya. (bn)

Rossi Kritik Manuver Iannone

KABAROKE – Legenda hidup MotoGP, Valentino Rossi ikut angat bicara soal manuver Andrea Iannone yang berujung pada insiden memalukan. Rossi menilai, manuver agresif Iannone sangat berbahaya dan bisa merugikan banyak pihak. Terbukti kala ia menggagalkan kesuksesan Ducati yang tinggal didepan mata.

Kedua pebalap Ducati, Iannone dan Dovizioso, memang sempat bersaing dengan Rossi memperebutkan posisi kedua di lap-lap terakhir. Saat Rossi berada di posisi kedua, Iannone menyalipnya secara agresif di tikungan kelima hingga keduanya melebar. Kondisi ini pun memberi ruang bagi Dovizioso mendahului mereka sekaligus dalam sekali salip.

“Saya tahu persaingan Andrea dan Dovi selalu sangat sengit. Sejak balapan di Qatar, mereka bertarung ketat dan agresif. Ini menandakan betapa pentingnya bagi mereka berada di depan sang tandem. Saya lihat Andrea sangat agresif melakukan ‘tugas’-nya. Itu juga yang ia lakukan pada saya,” ujar Rossi kepada Speedweek.

The Doctor pun melihat harapan finis di podium sirna begitu saja, sebelum Iannone mengalami selip di tikungan terakhir dan menyeret Dovizioso ke gravel. Iannone gagal finis, sementara Dovizioso terpaksa mendorong motornya ke garis finis dan finis ke-13. Insiden ini membuat Rossi kembali naik ke posisi kedua dan meraih podium.

“Andrea menyalip saya di tempat yang salah, dan ia membuat saya kehilangan dua posisi. Saya langsung berharap ia melakukan hal yang sama pada Dovi. Mudah melakukan kesalahan di Argentina. Jika terlalu ngotot, akan sangat berbahaya. Saat mereka bersenggolan, saya sangat berhati-hati agar tidak ikut jatuh bersama mereka. Sangat disayangkan bagi Ducati, tapi jelas bagus untuk saya,” tutup Rossi. (bn)

Bos Ducati: Iannone Gagalkan Kesuksesan Tim

KABAROKE – Satu persatu pihak mulai mengeluarkan komentar pedas pasca insiden tragis antara Iannone dan Dovizioso di MotoGP Argentina, akhir pekan lalu. Kali ini, giliran General Manager Ducati Corse, Luigi ‘Gigi’ Dall’Igna yang angkat bicara.

Dall’Igna mengaku sangat kecewa target pabrikan Italia itu berantakan. Setelah kemenangan ganda Chaz Davies di WorldSBK dan Tati Mercado di Superstock Aragon, Spanyol pada hari yang sama, Ducati justru gagal meraih sukses setara di MotoGP Argentina.

Hal ini diakibatkan senggolan dua rider mereka yang nyaris menapaki podium, Andrea Iannone dan Andrea Dovizioso di tikungan terakhir Sirkuit Termas de Rio Hondo, di mana Iannone terjatuh dan menyeret Dovizioso ke gravel. Iannone gagal finis, sementara Dovizioso harus mendorong motor ke garis finis demi posisi ke-13.

“Memangnya apa yang bisa saya katakan? Harusnya ini bisa jadi hari besar. Setelah dua kemenangan Chaz di WorldSBK dan kemenangan Tati di Superstock Aragon, mestinya finis kedua dan ketiga di MotoGP bisa melengkapi kesuksesan kami. Sayangnya apa yang terjadi sangatlah berbeda dari harapan,” ujar Dall’Igna kepada GPOne.

Mantan Direktur Teknis Aprilia Racing ini pun yakin seharusnya Iannone tak berusaha ngotot ingin mengalahkan Dovizioso. Dall’Igna menegaskan bahwa The Maniac Joe harus bersikap lebih dewasa dan tak egois, dan disarankan juga memikirkan kepentingan tim.

“Andrea takkan bisa melalui tikungan itu, ia terlalu cepat. Andai ia tidak jatuh, lalu mengangkat motornya, ia tetap akan membuat Dovi jatuh juga. Seharusnya ia tidak nekat menyalip Dovi. Saya paham ia ingin menang, tapi ia juga harus memikirkan tim dan semua orang di markas yang bekerja siang-malam untuknya,” tambahnya.

Dall’Igna pun mengaku timnya harus berusaha keras melupakan akhir pekan yang muram ini demi fokus pada MotoGP Austin, Texas, akhir pekan nanti. “Finis kedua dan ketiga bisa kami anggap sebagai kemenangan. Untungnya, Austin akan digelar akhir pekan ini juga,” tutupnya. (bn)

Marah Besar, Dovizioso: Saya Sangat Kecewa!

KABAROKE – Andrea Dovizioso masih menyimpan amarah terkait insiden tragis antara dirinya dengan Andrea Iannone di tikungan pamungkas MotoGP Argentina. Dalam wawancaranya dengan GPOne, Dovizioso meyakini bahwa The Maniac Joe harus bersikap lebih dewasa dan bijak ketika menjalani balapan, terutama di saat-saat genting.

Kedua pebalap ini secara kontroversial bersenggolan di tikungan terakhir MotoGP Argentina akhir pekan lalu, yakni saat Dovizioso berada di posisi kedua dan Iannone di posisi ketiga. Keduanya terjatuh ke arah gravel, di mana Iannone gagal finis sementara Dovizioso harus mendorong motornya ke garis finis demi finis ke-13.

“Entah saya harus berkata apa. Ini buruk untuk semua orang, bagi saya maupun Ducati. Jika Anda membela tim pabrikan, Anda harus tahu kapan harus agresif dan kapan harus tidak. Saya bukan pebalap yang hanya memikirkan lap pertama dan lap terakhir, inilah mindset yang harus dimiliki seorang pebalap,” ujar Dovizioso.

Akibat insiden ini, Iannone dijatuhi hukuman mundur tiga posisi start di Austin akhir pekan nanti, serta mendapat satu poin penalti. “Harusnya Andrea tidak ada di tikungan itu. Apakah ia harus dihukum? Ia melakukan dua kesalahan besar. Tapi jujur saja saya tak peduli dia mau minta maaf atau tidak. Saya hanya kecewa kehilangan 20 poin, kehilangan peringkat kedua di klasemen,” tambah DesmoDovi.

Dovizioso pun menampik bahwa ia dan Iannone bersaing sengit demi kontrak baru tahun depan, mengingat Ducati dikabarkan telah menggaet Jorge Lorenzo. “Saya tak tahu isi kepalanya dan saya tak peduli atas apa yang ia pikirkan. Kami jelas dua pebalap berbeda. Saya punya mentalitas berbeda pula. Saya tidak memikirkan masa depan, saya hanya memikirkan posisi kedua itu,” tutupnya. (bn)

Ducati Sesalkan Manuver Iannone

KABAROKE – Ducati meraih hasil mengecewakan pada MotoGP Argentina akhir pekan lalu. Peluang besar meraih podium gagal total akibat ulah Andrea Iannone.

Sporting Director Ducati Corse, Paolo Ciabatti bahkan menyatakan sangat kecewa pada hasil balap kedua pebalapnya, Andrea Dovizioso dan Andrea Iannone. Itu karena keduanya bersenggolan dan terjatuh di tikungan terakhir pada lap pamungkas.

Pada lap terakhir, Dovizioso berada di posisi kedua dan Iannone di posisi ketiga. Iannone yang berusaha menyalip dari jalur dalam tiba-tiba mengalami selip, menyeret Dovizioso ke arah gravel. The Maniac Joe pun gagal finis, sementara DesmoDovi terpaksa mendorong motornya ke garis finis dan menduduki posisi ke-13.

“Harusnya kami meninggalkan Argentina dengan hasil menakjubkan, jadi kegagalan ini merupakan kekecewaan besar. Kami akan membiarkan emosi semua orang mereda, lalu kami akan bicara dengan Andrea untuk menganalisa situasi yang terjadi,” ujar Ciabatti seperti yang dilansir Tutto Motori.

Akibat insiden ini, Iannone dipanggil oleh Race Direction usai balap, dan dijatuhi mundur tiga posisi start di MotoGP Austin, Texas akhir pekan nanti, serta mendapat satu poin penalti. Ciabatti pun meyakini bila Iannone tak ambisius mengalahkan Dovizioso, situasi Ducati akan lebih baik.

“Menurut saya, tak seharusnya pembalap menyerang tandemnya pada fase balapan seperti itu. Andrea telah meminta maaf kepada kami semua, ia menyadari ia telah menimbulkan kekacauan. Ia bertalenta dan sangat cepat, tapi ia harus belajar menahan euforia,” tutup Ciabatti. (bn)

Hamilton Impikan Jajal Motor Rossi

KABAROKE – Juara bertahan F1, Lewis Hamilton memiliki im0pian bisa menjajal motor MotoGP, milik Valentino Rossi. Dan impian itu tampaknya bakal segera terwujud.

Team Principal Mercedes AMG Petronas, Toto Wolff menyatakan pihaknya akan memberikan izin kepada sang juara dunia untuk mewujudkan salah satu impiannya. Beberapa waktu lalu, Hamilton mengaku ingin menjajal YZR-M1 milik rider Movistar Yamaha, Valentino Rossi.

Hamilton bahkan mengaku akan nekat menjajal motor Rossi secara diam-diam andai Mercedes melarangnya. Meski begitu, dalam wawancaranya dengan La Gazzetta dello Sport, Wolff malah mendukung keinginan Hamilton tersebut.

“Bagi kami tak akan menjadi masalah bila Lewis ingin menjajal motor Yamaha di MotoGP. Justru menurut saya ini ide yang menyenangkan. Lagipula saya yakin Lewis sudah sering mengendarai road bike,” ujar Wolff.

Bila hal ini terwujud, maka Monster Energy diperkirakan akan menjadi ‘mediator’ antara Hamilton dan Rossi, mengingat perusahaan minuman berenergi itu merupakan sponsor kedua belah pihak. Meski begitu, Managing Director Yamaha Motor Racing, Lin Jarvis belum mau berkomentar banyak. “Sampai sekarang, hal itu masih berbentuk ide, tapi jelas sangat menarik dilakukan,” tuturnya pada GPOne.

Andai Hamilton sungguh menjajal M1, maka ia tak akan menjadi pebalap F1 pertama yang mengendarai motor MotoGP. Michael Schumacher pernah mendapat kesempatan serupa di Mugello, Italia dan Valencia, Spanyol untuk mengendarai Ducati. Sementara Fernando Alonso sempat mengendarai Honda RC213V milik Marc Marquez akhir tahun lalu di Motegi, Jepang. (bn)

Marquez Sebut Balapan Makin Sulit

KABAROKE – Rider Repsol Honda, Marc Marquez mengakui, MotoGP musim ini semakin sulit. Ia pun mengaku, tidak bisa memprediksi jalannya balapan di Argentina. Menyusul keputusan Michelin menarik compound ban belakangnya buntut insiden Scott Redding.

Redding [Pramac Racing] mengalami pecah ban belakang di sesi latihan bebas keempat, Minggu (3/4) dinihari WIB. Serpihannya sempat tercecer di lintasan sehingga sesi sempat dihentikan sebelum dilanjutkan kembali.

Awalnya, Michelin diduga hanya akan menarik ban belakang medium saja tapi rupanya ban hard juga ditarik karena memiliki konstruksi yang sama. Untuk balapan sendiri, para pebalap akan menggunakan ban medium dengan konstruksi yang berbeda dan lebih keras.

Marquez akan memulai balapan dari posisi terdepan setelah meraih pole position di sesi kualifikasi. Kini usaha pebalap Honda Repsol untuk mengulang kemenangannya dua tahun lalu semakin sulit.

“Setelah keputusan dari Michelin, kupikir besok akan sedikit sulit diketahui bagaimana jalannya karena semua orang akan memiliki spek ban yang berbeda dari apa yang sudah kami gunakan untuk sepanjang akhir pekan. Kita akan wait and see bagaimana kerjanya,” kata Marquez di Crash.net.

“Kami akan memiliki sesi pemanasan dua kali, sekali berjalan 30 menit dan satunya lagi 20 menit, untuk mengumpulkan informasi, dan kami mesti melihat apakah segalanya berjalan baik.”

“Mudah-mudahan tidak akan ada perbedaan besar dari ban-ban yang sudah pernah kami gunakan sejauh ini,” imbuh dia. (ds)

Marquez dan Duo Yamaha Kuasai Pole Argentina

KABAROKE – Hasil kualifikasi MotoGP Argentina kembali dikuasai tiga pembalap unggulan. Marc Marquez, dan duo riuder Yamaha Movistar sukses menguasai pole terdepan.

Pembalap Repsol Honda, Marquez sukses merebut pole position dalam sesi kualifikasi MotoGP Argentina yang digelar di Sirkuit Termas de Rio Hondo pada hari Sabtu. Ia berhasil menctatkan waktu tercepat 1m 39.411s.

Sedangkan, duo rider Yamaha, Valnetino Rossi dan Jorge Lorenzo menguntit Marquez di posisi kedua dan ketiga. Sementara itu posisi keempat dan kelima masing-masing ditempati oleh pebalap Repsol Honda lainnya, Dani Pedrosa dan pebalap tim pabrikan Ducati Corse, Andrea Dovizioso. (bn)
Hasil sesi kualifikasi MotoGP Argentina 2016:

1. Marc Marquez – Repsol Honda Team (1m 39.411s)
2. Valentino Rossi – Movistar Yamaha MotoGP (1m 39.786s)
3. Jorge Lorenzo – Movistar Yamaha MotoGP (1m 39.944s)
4. Dani Pedrosa – Repsol Honda Team (1m 40.011s)
5. Andrea Dovizioso – Ducati Team (1m 40.198s)
6. Andrea Iannone – Ducati Team (1m 40.272s)
7. Maverick ViƱales – Team Suzuki Ecstar (1m 40.375s)
8. Hector Barbera – Avintia Racing (1m 40.524s)
9. Cal Crutchlow – LCR Honda (1m 40.528s)
10. Pol Espargaro – Monster Yamaha Tech 3 (1m 40.654s)
11. Aleix Espargaro – Team Suzuki Ecstar (1m 40.708s)
12. Bradley Smith – Monster Yamaha Tech 3 (1m 40.893s)
13. Loris Baz – Avintia Racing (1m 40.744s)
14. Scott Redding – Octo Pramac Yakhnich (1m 40.750s)
15. Jack Miller – Estrella Galicia 0,0 Marc VDS (1m 40.881s)
16. Stefan Bradl – Factory Aprilia Gresini (1m 40.897s)
17. Eugene Laverty – Aspar MotoGP Team (1m 40.990s)
18. Michele Pirro – Octo Pramac Yakhnich (1m 41.116s)
19. Tito Rabat – Estrella Galicia 0,0 Marc VDS (1m 41.157s)
20. Alvaro Bautista – Factory Aprilia Gresini (1m 41.611s)
21. Yonny Hernandez – Aspar MotoGP Team (1m 41.692s)

Curthclow: Saya Fernando Alonso-nya MotoGP

KABAROKE – Fernando Alonso tidak hanya dimiliki Formula 1. Sosok Alonso ternyata juga dimiliki pentas MotoGP.

Adalah Cal Cruthclow yang mengkalim diri sebagai Fernando Alonso nya otoGP. Cruthclow memang memiliki tiga tim berbeda selama tiga tahun pada kurun waktu 2013-2015. Bukan sesuatu yang mudah dan ia pun merasa seperti jadi Fernando Alonso. Dalam hal apa?

Rider Inggris 30 tahun itu membela panji Yamaha Tech 3 pada musim 2013. Di musim terakhirnya bersama tim yang ia bela sejak 2011 tersebut Crutchlow meraih dua pole, naik podium empat kali, dan finis kelima di klasemen akhir. Itulah musim terbaiknya di MotoGP.

Untuk tahun 2014, Crutchlow tampil untuk tim Ducati. Bukan musim yang mudah karena ia pada akhirnya hanya bisa menutup musim dengan berada di posisi 13 klasemen, meskipun sempat satu kali naik podium.

Musim lalu Cruthclow berganti tim lagi dengan membela LCR Honda. Juga bukan musim yang mudah, kendatipun relatif lebih baik dari sebelumnya, dengan ia menutup musim di peringkat delapan di antaranya dengan meraih satu podium.

“Selama beberapa tahun ini saya seperti ikut tumbuh dengan pabrik motor dari tim. Tapi pada momen itu, situasinya sulit karena saya seperti jadi Fernando Alonso-nya MotoGP, saya sepertinya datang pada waktu yang keliru ke setiap tim. Ketika saya sudah pergi, semuanya malah mulai jadi bagus!” ujar Crutchlow seperti dilansir MotoGP.com.

Di F1, sejak musim lalu Alonso membela tim McLaren-Honda dan sejauh ini belum bisa mendapat hasil memuaskan; musim lalu ia cuma bisa dua kali finis. Sementara Ferrari yang ia tinggalkan justru sudah memperlihatkan indikasi kebangkitan.

“Saya tidak menyesali keputusan yang saya buat, pada setiap saat tersebut saya sudah membuat keputusan yang tepat. Terkadang Anda mengingat-ingat yang sudah terjadi dan berpikir, ‘Ah mungkin pekan ini akan lebih mudah kalau aku menunggangi motor lain’, tapi saya memiliki apa yang saya pupnya dan saya harus melakukan pekerjaan terbaik dengannya,” kata Crutchlow.

Musim ini Cruthclow tetap bersama LCR Honda–niscaya berharap adanya kesinambungan dari musim lalu, berbeda dari beberapa musim terakhir. Setelah memulai dengan tak oke pada MotoGP Qatar, akibat terjatuh dan gagal finis, pada akhir pekan ia akan menghadapi MotoGP Argentina, tempatnya finis di posisi tiga pada musim lalu.

“Berada dengan LCR Honda untuk tahun kedua terasa menyenangkan, mereka bekerja amat dekat dengan Honda dan mereka bekerja keras untuk melakukan pekerjaan terbaik yang mereka bisa,” sebutnya. (ds)

Oke di Lintasan Lurus, PR Ducati Sisa Trek Tikungan

KABAROKE – Hasil MotoGP Qatar membuat Ducati semakin optimis mengarungi musim 2016. MotoGP Qatar lalu telah menunjukkan potensi besar yang dipunyai Ducati, khususnya di trek lurus.
Namun, Ducati sadar, performa GP16 tunggangan dua ridernya masih memiliki kelemahan. Utamanya pada pada laju tikungan.

Pada seri pembuka di Qatar lalu, Ducati sukses menempatkan satu pebalapnya di podium. Andrea Dovizioso finis runner-up di belakang rider Movistar Yamaha Jorge Lorenzo, dan di depan pebalap Repsol Honda Marc Marquez.

Rekan setim Dovizioso, Andrea Iannone, sejatinya juga berpotensi finis di podium. Namun di jalannya balapan dia terjatuh saat sedang bersaing ketat dengan Dovizioso untuk posisi dua.

Lebih jauh lagi soal potensi Ducati, mereka telah mencatatkan rekor kecepatan puncak di Qatar lalu. Iannone sebelum terjatuh sempat mencatatkan top speed hingga 351,2 km/jam seperti dilansir Motorsport.

Selain Iannone, dua pebalap terkencang lainnya juga merupakan penunggang motor bermesin Ducati. Di peringkat dua adalah Dovizioso dengan 349,8 km/jam, lalu Yonny Hernandez di urutan tiga dengan kecepatan puncak 347 km/jam.

Bahkan selain Valentino Rossi yang membela panji Yamaha di peringkat empat (344,9 km/jam), enam pebalap lain di tujuh teratas rider terkencang bermesin Ducati. Tiga lainnya di belakang Rossi adalah Scott Redding, Hector Barbera, dan Eugene Laverty.

“Kami memulai dengan baik, itu sangat positif. Dalam situasi yang setara secara teknis dengan Yamaha dan Honda, kami bisa menunjukkan kami tangguh dan kami tahu sudah diperkirakan untuk tampil begitu,” kata Direktur Olahraga Ducati Paolo Ciabatti kepada Motorsport.

“Sudahkan Anda melihat tenaga kami di trek lurus?”

Bagaimanapun keunggulan di lintasan lurus itu juga masih menyisakan sebuah titik lemah di aspek lain untuk Ducati. Di tikungan, mereka mengakui motor masih kurang stabil.

Untuk di Argentina akhir pekan ini, Ciabatti mengakui situasinya masih tak bisa ditebak. Sebab ban Michelin sendiri karakternya berubah-ubah tiap sirkuitnya.

“Ban Michelin sangat banyak berubah, kita melihat itu di antara sesi latihan dan balapan kemarin, jadi kami belum yakin akan apapun juga di seri berikutnya,” ujarnya.

“Tapi kami punya ide-ide untuk meningkatkan motor, karena masih mengalami banyak pergerakan dalam hal daya cengkeram di tikungan-tikungan dibandingkan dengan Yamaha,” tandas Ciabatti. (ds)

1 2 3 4 5 8