DPD Golkar Se-Indonesia Solid Dukung Kepemimpinan Setnov

Ketua DPR Setya Novanto

Ketua Umum DPP Golkar Setya Novanto

Jakarta, KABAROKE — Sekjen Partai Golkar Idrus Marham menyebut seluruh DPD I dan DPD II Partai Golkar dari 34 provinsi se-Indonesia mendukung kepemimpinan Setya Novanto di tubuh partai berlambang pohon beringin itu. Menurut Idrus, Novanto dinilai menorehkan prestasi dengan memenangkan Golkar di 58 tempat dari target 101 daerah saat Pilkada Serentak 2017.

“Mendukung sepenuhnya kepemimpinan Setya Novanto sebagai Ketua Umum, Nurdin Halid sebagai Ketua Harian, Idrus Marham sebagai Sekjen Golkar, dan Robert J Kardinal sebagai Bendahara Umum,” kata Idrus, beberapa waktu lalu.

Sebelumnya, para anggota DPD I dan DPD II Golkar itu menggelar pertemuan di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta. Pertemuan ini juga menyepakati kader Golkar siap melaksanakan program-program pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK).

Pada pertemuan ini, kader Golkar sepakat akan melakukan persiapan optimal bagi kemenangan seluruh Pilkada Serentak 2018, lebih dari 60 persen. Pertemuan tersebut juga membahas konsolidasi di antara partai politik pendukung Jokowi di Pilpres 2019.

“Bekerja secara maksimal dalam rangka mengkonsolidasikan segenap keluarga besar Partai Golkar untuk memenangkan Jokowi pada Pilpres 2019,” kata Idrus.

Ia juga mengimbau kepada kader Golkar untuk tetap menjaga solidaritas. Hal itu untuk menjaga marwah Partai Golkar.

“Mengimbau kepada segenap keluarga besar Partai Golkar untuk menjaga solidaritas dan kebersamaan dalam menjaga marwah dan martabat Partai Golkar,” ujarnya.

Meskipun ada kasus e-KTP yang menerpa Ketum Golkar, kader Golkar tetap menunjukkan asas praduga tak bersalah dan tetap mendukung Novanto. (***)

Tegas! Nurdin Halid : Golkar Solid dan Tak Ada Usulan Munaslub

Ketua DPP Golkar Setya Novanto Bersama Ketua Golkar Sulsel Nurdin Halid dan Ketua Golkar Wajo Burhanuddin Unru

Ketua DPP Golkar Setya Novanto Bersama Ketua Golkar Sulsel Nurdin Halid dan Ketua Golkar Wajo Burhanuddin Unru

Jakarta, KABAROKE — Ketua Harian Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar, Nurdin Halid, menepis kabar partai akan menggelar musyawarah nasional luar biasa. Ini terkait dengan pencekalan terhadap Setya Novanto, Ketua Umum Partai Golkar, oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Nurdin mengatakan ini seusai pertemuan Partai Golkar tertutup, yang digelar bersama seluruh Dewan Pimpinan Daerah se-Indonesia.

“Enggak ada munaslub, enggak ada. Jadi inilah karena ada suara-suara di media yang tidak sesuai dengan kenyataan. Seolah-olah di Golkar ini ada masalah. Nah, makanya DPD I itu berkumpul, mau menyatakan bahwa di Golkar itu tidak ada masalah,” ujarnya.

Menurut Nurdin, seluruh DPD Golkar se-Indonesia memutuskan untuk tetap mendukung Setya Novanto menjadi ketua umum dengan memperhatikan berbagai prestasi yang ditorehkannya. Nurdin menyatakan akan mendukung sepenuhnya kepemimpinan DPP Partai Golkar atas hasil Munaslub Bali 2016 meskipun tidak semua hadir dalam pertemuan ini.

“Itu soal teknis saja. Ada kesibukan, misalnya Jawa Barat, hanya wakilnya (yang datang) karena pimpin rapimda (rapat pimpinan daerah),” kata Nurdin.

Nurdin juga menepis anggapan pertemuan DPD se-Indonesia ini digelar mendadak. Menurut Nurdin, pertemuan itu sengaja digelar oleh forum silaturahim DPD untuk menyikapi isu yang berkembang di luar. Menurut dia, banyak hal yang berjalan tidak sesuai dengan yang sebenarnya.

“Kami sangat solid. Nah, ini yang ditunjukkan oleh DPD 1 karena sesuai dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, yang berhak menentukan munas atau tidak munas itu DPD 1. Tidak ada satupun DPD yang minta adanya munaslub. Tidak ada satupun,” ujar Nurdin.

Pertemuan tertutup ini berjalan selama dua jam. Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto tampak hadir di penghujung acara. Kehadiran di akhir pertemuan Setya Novanto dinilai tidak mempengaruhi keputusan apapun. Setya Novanto juga terlihat tidak menyampaikan sepatah kata pun usai pertemuan itu. (***)

Yorrys Sebut Munaslub Golkar Belum Perlu Digelar

Ketua Koordinator Bidang Polhukam DPP Partai Golkar Yorrys Raweyai [dok net]

Ketua Koordinator Bidang Polhukam DPP Partai Golkar Yorrys Raweyai [dok net]

Jakarta, KABAROKE — Ketua Koordinator Bidang Polhukam DPP Partai Golkar, Yorrys Raweyai mengatakan, pihaknya tidak berencana menggelar musyawarah nasional atau musyawarah luar biasa (Munaslub) terkait dugaan keterlibatan Ketua Umum Golkar Setya Novanto (Setnov) dalam kasus korupsi pengadaan KTP elektronik (KTP-el).lu

Yorrys mengatakan Golkar saat ini sedang fokus pada persiapan menjelang Pilkada Serentak 2018. Menurut Yorrys, pihaknya tidak ingin gegabah dalam menyikapi persoalan Setnov.

“Golkar berupaya mengikuti proses hukum. Kami ikuti asas praduga tak bersalah dan memantau perkembangan penanganan hukumnya. Jadi kami pikir munaslub belum perlu,” ujarnya, seperti dilansir laman republika, kemarin.

Sementara itu, Golkar terus mengatur strategi internal untuk menguatkan parpol. Sebab, ke depannya partai berlambang pohon beringin ini akan menghadapi agenda penting Pilkada Serentak 2018 dan persiapan Pemilu serentak 2019.

“Golkar harus siapkan langkah strategis, baik untuk menyelamatkan partai maupun menghadapi agenda ke depan. Kamis (27/4), kami akan menggelar rapat koordinasi untuk Pilkada Serentak 2018,” tambahnya.

Dikonfirmasi secara terpisah, Ketua Dewan Pakar Partai Golkar, Agung Laksono, mengatakan sah-sah saja jika ada yang mengusulkan pelaksanaan munaslub. Namun, dirinya menyarankan agar para kader mengikuti kesepakatan internal.

“Sebelumnya sudah disampaikan sikal partai bahwa akan mengikuti proses hukum. Saya kira kami harus ikuti dulu proses hukum yang berjalan,” ujar Agung.

Dia mengakui jika munaslub tidak akan mengemuka tanpa ada pertimbangan yang matang. Karena itu, bisa saja munaslub dilakukan jika kondisinya memungkinkan. “Namun sebaiknya menanti proses hukum dulu seperti apa,” ucapnya. (***)

Tegas! Sekjen Golkar Sebut Tidak Ada Wacana Munaslub

Para Caketum Golkar, Bersama Aburizal Bakrie dan Idrus Marham

Ketua Golkar Setya Novanto dan Sekjen Golkar Idrus Marham Bersama Petinggi Golkar

Jakarta, KABAROKE — Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham menegaskan tidak ada wacana musyawarah nasional luar biasa (Munaslub) di internal untuk mengganti Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto.

“Wacana Munaslub itu tidak ada sama sekali di internal partai,” kata Idrus Marham di Jakarta, Selasa.

Idrus Marham menyatakan heran jika muncul wacana Munaslub karena kepengurusan Golkar baik di DPP, DPD II, maupun l DPD II, solid mendukung Novanto sebagai ketua umum.

Idrus menegaskan, kasus dugaan korupsi kartu tanda penduduk elektronik (KTP-E), tidak mengurangi komitmen kader-kader Partai Golkar untuk mendukung kepemimpinan Novanto.

“Semua pengurus dari berbagai tingkatan menyatakan mendukung penuh kepemimpinan Novanto,” kata Idrus.

Terkait proses hukum di KPK yang sedang mengusut kasus dugaan korupsi KTP-E, dan menempatkan Novanto sebagai saksi, menurut Idrus, pihaknya menghormati proses yang sedang dilakukan KPK.

Menurut Idrus, Partai Golkar menghormati seluruh proses hukum di KPK dan Partai Golkar juga menghargai sikap ketua umumnya yang kooperatif dalam menjalani proses hukum. (***)

Tak Masuk Formatur, SYL: Saya Tak Kecewa

Syahrul Yasin LImpo (int)

Syahrul Yasin LImpo (int)

Makassar, KABAROKE – Ketua Umum DPP Partai Golkar terpilih Setya Novanto telah menunjuk sejumlah formatur untuk membentuk kepengurusan 2016-2019 mendatang. Hasilnya, tak satupun mantan rivalnya pada pemilihan lalu, yang masuk dalam susunan kabinet Golkar lima tahun kedepan.

Termasuk Syahrul Yasin Limpo (SYL). Lantas apa tanggapan SYL?

“Bagi kita calon ketua umum diajak masuk syukur. Silakan apalagi saya. Tentu saya tidak mencari kekuasaan. Saya datang ke Munas bukan cari kekuasaan,” kata SYL, Rabu, 18 Mei.

Yang terpenting, kata SYL, dirinya telah berkontribusi sebagai kader Golkar dalam menghadirkan budaya politik demokrasi yang normatif dan berintegritas.

“Kalau saya tidak diajak masuk tidak apa-apa. Yang penting sudah berkontribusi sebagai kader Golkar pada munaslub. Terlihat baik secara subtansi maupun materi-materi Munas yang kita sajikan, dan ini bukan kerja satu orang,” ucap SYL.

Diketahui, Setya Novanto yang terpilih sebagai pemimpin beringin, juga bertindak sebagai ketua formatur. Setnov turut menunjuk Idrus Marham sebagai Sekjen, Robert Kardinan (Bendahara Umum), dan Ketua Harian dijabat Nurdin Halid.

Tim formatur lain yang ditunjuk untuk membentuk kepengurusan, di antaranya adalah Roem Kono dari perwakilan ormas pendiri, Ketua DPD I Sumatera Utara dan Ketua DPD I Kepulauan Riau yang merupakan perwakilan dari wilayah barat.

Perwakilan wilayah timur adalah Ketua DPD I Sulawesi Utara dan Ketua DPD I Maluku Utara, Ketua DPD Golkar Bali Ketut Sudikerta dan Ketua DPD I Jawa Timur yang merupakan perwakilan dari wilayah tengah.

Bak Pahlawan

Meski gagal menduduki kursi 01 DPP Partai Golkar, Ketua Golkar Sulsel Syahrul Yasin Limpo (SYL) mendapat sambutan meriah dari para kader Golkar saat tiba di Makassar, Rabu, 18 Mei, sekira pukul 19.00 Wita, malam tadi. Ratusan pendukung dan kader Partai Golkar ikut menjemput dan menyoraki Syahrul Yasin Limpo di Bandara Sultan Hasanuddin.

“Ada ratusan pendukung dan kader partai Golkar menunggu Komandan (SYL) tiba di bandara,” kata Pengurus Golkar Sulsel Lakama Wiyaka.

Lakama mengaku, meskipun SYL tak mampu memenangkan Munaslub, namun SYL mampu membuktikan jika kekuatan Golkar se-Sulsel solid mendukungnya.

Bahkan, SYL mampu menempati posisi keempat perolehan suara dari 8 caketum yang bertarung. Menurut Lakama, penyambutan ini adalah bentuk kebanggaan kader Golkar di Sulsel.

Sebab, Munaslub adalah panggung bersejarah bagi Golkar. SYL dinilai berhasil menunjukkan cara berpolitik cerdas dan berkarakter.

“Kita bangga memiliki sosok pemimpin seperti beliau. SYL mengharumkan nama masyarakat Sulsel di kancah politik nasional,” pungkas Lakama. (rc/jk)

Akbar Tandjung: Akom Berjiwa Negarawan

Akbar Tanjung

Akbar Tanjung

Bali, KABAROKE – Mantan Ketua Umum Partai Golkar, Akbar Tandjung memberikan apresiasi tinggi kepada Ade Komaruddin. Ia menyatakan putusan Akom mundur dari pertarungan putaran kedua pemilihan Ketua Umum partai berlambang pohon beringin itu menunjukkan jiwa kenegarawanannya.

“Saya kira, itu suatu jiwa negarawan dari Ade Komarudin,” kata Akbar, di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Bali, Selasa, 17 Mei.

Tapi sebelumnya lanjut Akbar, pihaknya sempat bicara dengan Akom sapaan Ade Komarudin tentang berbagai kemungkinan yang terjadi di puncak acara munaslub.

“Kalau dalam Ade mundur itu saya sempat bicara sama dia tentang berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Dia nampak legowo, di samping saya sarankan agar fokus memimpin DPR dan beri kesempatan Novanto jadi Ketua Golkar,” ucap mantan Ketua DPR ini.

Semua pembicaraan dengan Ade yang dilakukan sebelum voting, kata Akbar, diikutinya setelah terjadi perbedaan yang tajam terhadap perolehan suara.

“Secara matematis politik, peluangnya tidak begitu kondusif untuk bertarung, apalagi saya mendegar beberapa hari lalu Novanto berkoalisi dengan Aziz Syamsuddin. Dari situ saja diambil kesimpulan, lebih baik fokus di DPR,” ungkapnya. (rc/jk)

Ini Surat Terbuka Akom Untuk Warga Golkar

Ade Komaruddin

Ade Komaruddin

Bali, KABAROKE – Pasca mundur dari pencalonannya jelang putaran dua pemilihan ketua umum Partai Golkar, Ade Komarudin seketika menyampaikan surat terbuka. Ade yang karib disapa Akom memuji proses demokrasi dalam Munaslub yang bersemangat rekonsiliasi.

Ia juga memuji para bekas rivalnya dalam kompetisi Munaslub sebagai teman yang menguatkannya menjaga semangat rekonsiliasi. Akom juga mengucapkan terimakasihnya kepada semua kader dan simpatisan yang mendukungnya dalam pencalonan.

Ia juga menerangkan, perjuangan mereka bukan untuk menduduki sebuah jabatan, melainkan mengembalikan demokrasi yang berkeadilan. Ujungnya adalah kesejahteraan rakyat.

Akom berjanji akan kembali fokus pada tugasnya sebagai Ketua DPR, menjadi mitra pemerintah dalam merancang UU dan membantu pemerintah menyiapkan segala sesuatu terkait keperluan Ramadhan dan kesejahteraan rakyat secara umum. (rm/jk)

Berikut isi lengkap kutipan surat terbuka Akom:

Musyawarah Nasional Luar Biasa Partai Golkar baru saja usai. Nusa Dua menjadi saksi berlangsungnya salah satu tonggak rekonsiliasi partai beringin ini. Sebuah kehormatan bagi saya untuk menjadi bagian dari pelaksanaan munaslub yang demokratis ini. Dan saya harus jujur berkata, bahwa para kader yang berkompetisi adalah teman-teman yang menguatkan saya untuk tetap menjaga semangat rekonsiliasi ini di atas segalanya.

Saya masih ingat mengucapkan Ikrar Panca Bhakti sekitar 25 tahun yang lalu. Sebagai kader Golkar, kami senantiasa berjanji untuk mendahulukan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan. Butir ketiga Panca Bhakti jelas menyebutkan, bahwa “Kami warga Partai Golkar adalah pembina persatuan dan kesatuan bangsa yang berwatak setia kawan”. Janji ini saya ucapkan dua dasawarsa yang lalu, namun kesannya masih tertanam di hati sampai hari ini. Janji ini juga menjadi falsafah saya dalam berpolitik, bahwa warga Golkar adalah teman, mitra yang harus berangkulan untuk memajukan partai dan bangsa.

Kepada semua kader dan simpatisan yang mendukung saya, dari hati yang paling dalam saya haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Perjuangan kita bukan untuk saya menduduki sebuah jabatan. Perjuangan kita adalah mengembalikan demokrasi yang berkeadilan. Ujungnya adalah kesejahteraan rakyat, yakni membantu masyarakat untuk menikmati pembangunan dengan lebih cepat.

Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan. Mari kita manfaatkan momentum ini untuk mempersiapkan diri menghadapi Ramadhan yang mulia ini. Energi kita harus dimanfaatkan untuk membantu pemerintah menjaga kestabilan harga pangan dan kecukupannya. Kita harus kembali aktif membantu pemerintah memastikan masyarakat bisa mudik dengan nyaman nantinya.

Dan saya juga akan kembali mengemban amanah masyarakat untuk memimpin DPR agar lebih produktif mempercepat pencapaian kesejahteraan rakyat. Saya akan kembali berkonsentrasi untuk mengupayakan agar 9 RUU yang kami agendakan dalam masa sidang kali ini dapat disahkan. Utamanya RUU tentang pengampunan pajak dan revisi UU 8/2015 tentang pemilihan kepala daerah. Dan saya mohon bantuan masyarakat seluruhnya agar target pembahasan 16 RUU di sidang mendatang dapat kami capai.

Selamat kepada Pak Setya Novanto sebagai ketua umum yang baru! Selamat menjalankan tugas untuk memimpin partai Golkar menuju kejayaannya kembali.

Selamat Partai Golkar! Mari kita lepaskan beban masa lalu, dan kita tatap masa depan dengan optimisme!

Dr. H. Ade Komarudin, M.H.
Nusa Dua, Bali
17 Mei 2016

Junimart: Setnov Kader Terbaik Golkar

Setya Novanto

Setya Novanto

Jakarta, KABAROKE – Politisi PDI Perjuangan, Junimart Girsang mengatakan terpilihnya Setya Novanto sebagai Ketua Umum Partai Golkar adalah hal yang wajar. Politisi PEDI Perjuangan itu menyebut Setnov adalah kader yang terbaik dari yang terbaik.

Ia berharap, dengan terpilihnya Setya Novanto sebagai Ketua Umum Golkar yang baru, bisa membawa partai berlambang pohon beringin itu sebagai partai percontohan.

“Karena dia (Golkar) tertua di negara ini,” ujar Junimart di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (17/5).

Dia berharap semua pihak tak lagi melihat latar belakang Setnov yang belakangan kerap dikaitkan dengan masalah hukum dan isu-isu negatif. Menurut dia, Setnov dipilih secara demokratis. Mayoritas kader beringin memang memberikan suaranya kepada mantan Ketua DPR RI itu.

“Saya berharap tanpa melihat latar belakang seseorang, bagi saya ini yang terbaik dari yang baik. Hasil pemilihan dari seluruh kader yang berhak memberikan suaranya,” ujarnya.

Junimart sendiri pernah menjadi hakim Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) yang menyidangkan perkara Setnov terkait pencatutan nama presiden untuk kepemilikan saham Freeport Indonesia.

Junimart tegaskan persidangan itu sama sekali tidak berpengaruh terhadap keputusan internal Golkar. (rm/jk)

MUNASLUB GOLKAR: Sepengal Cerita di Balik Melenggangnya Setnov ke Kursi Ketua Umum

Ade Komaruddin dan Setya Novanto berbincang ringan disela-sela pelaksanaan Munaslub

Ade Komaruddin dan Setya Novanto berbincang ringan disela-sela pelaksanaan Munaslub

Bali, KABAROKE – Pemilihan Ketua Umum DPP Partai Golkar akhirnya berakhir dengan penuh kekeluargaan, Selasa, 17 Mei. Setya Novanto telah ditetapkan sebagai ketua umum terpilih. Itu setelah lawannya, Ade Komarudin menyatakan mundur dari bursa Caketum Partai Golkar.

Sejatinya, Akom berhak maju ke putaran kedua bersaing dengan Setya Novanto. Namun, Akom mendadak mundur dan mengalirkan dukungan ke Setya Novanto. Akom seketika legowo dan mendukung Setnov menjadi “Raja” di Golkar.

Apa yang membuat Akom spontan mundur? Begini kisahnya.

Ade Komaruddin dan Setya Novanto adalah dua kandidat yang berhak melenggang ke putaran kedua. Keduanya sukses mendulang raihan suara melebihi 30 persen (168 suara) sesuai tata cara pemilihan pada pemungutan suara putaran pertama. Akom meraih 173 suara sedangkan Setya Novanto mendulang 277 suara.

Sesuai tatib, maka ada dua calon yakni Akom dan Setya Novanto dinyatakan sah sebagai caketum. Sesuai dengan ketentuan, apabila ada dua calon, maka dilakukan pemilihan selanjutnya. Dan sesuai jadwal acara, apabila ada dua calon maka diberikan kesempatan untuk visi misinya,” kata ,” kata Pimpinan Sidang Munaslub Partai Golkar, Nurdin Halid.

Namun, sebelum Nurdin Halid melanjutkan “titah”, mendadak ada instruksi. Adalah Caketum Syahrul Yasin Limpo yang menginterupsi pimpinan sidang. “Pak Syahrul Yasin Limpo mau bicara? Silakan,” tutur Nurdin.

Microphone pun diberikan ke SYL.

“Pimpinan dan seluruh munas yang saya muliakan. Pagi hari ini kita bersyukur dan berbahagia. Saya kira, ini perhelatan pertama demokrasi di Indonesia. Saya menghargai dan ini kerja keras kita bersama”

“Saya mau sarankan kepada ke Setya Novanto maupun Akom, skoring ini sudah menggambarkan hasil kerja luar biasa. Saya minta maaf Pak Akom bersama yang lain. Hasil ini kita anggap final. Kami berdelapan cair-cair saja. Kalau ini sebuah hal maksimal tak perlu lagi diteruskan. Ini saran saja,” tutup SYL disambut applaus dari peserta Munaslub Partai Golkar.

Nurdin Halid lalu kembali mengambil mic. “Sesuai dengan azas partai kita, demokrasi pancasila. Intinya adalah musyawarah muafakat. Sebelum kita melanjutkan putaran kedua, kita silakan kepada Akom dan Novanto bermufakat. Mudah-mudahan bersatu,” ujar Nurdin.

Suasana pun seketika hening beberapa detik. Lalu, Akom yang duduk di samping Setya Novanto, seketika bereaksi pasca mendengar saran SYL. Ia pun langsung mengambil mic.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Partai Golkar, Pak Ical dan seluruh jajaran atas kreasi demokrasinya yang luar biasa pada musyawarah ini. Ini tradisi yang harus kita lanjutkan di masa akan datang.

Kedua, saya berterima kasih kepada seluruh Caketum atas segenap pikiran dan tenaga. Saya ucapakan terima kasih kepada tim saya. Mbak Titiek, Pak Hidayat, Misbakhun dan cukup banyak.

Saya tadi sudah berembuk dengan tim saya, termasuk calon-calon lainnya. Dan juga dengan tim saya, juga Pak ARB selaku ketua dewan pembina. Saya kira, saya lebih muda daripada Pak Setya Novanto. Saya masih 50 (tahun). Pak Novanto sekarang 60 (tahun). Masih ada kesempatan saya di masa yang akan datang.

Saya dan rekan-rekan saya, akan memberikan support pada Pak Novanto dan pengurusnya untuk kebesaran Partai Golkar. Saya dan istri saya mengucapkan selamat kepada Pak Novanto untuk kebesaran Partai Golkar,” kata Akom.

Suasana kembali riuh dan penuh kegembiraan. Nurdin Halid selaku pimpinan sidang terus berupaya menenangkan peserta.

“Mohon duduk. Masih sidang. Kita berikan applaus kepada Akom dengan sikap negarawannya dan kebijaksanaannya,” ucap Nurdin.

“Oleh karena itu, maka dengan ucapan Bismillah kita tetapkan Setya Novanto sebagai Ketua Umum Golkar Periode 2016-2019,” tutup Nurdin Halid. (rc/jk)

Kasus Papa Minta Saham Tak Berpengaruh, Setnov Duduki Golkar

Setya Novanto bersama Aziz Syamsudin

Setya Novanto bersama Aziz Syamsudin

Jakarta, KABAROKE – Mantan Wakil Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan DPR dari Fraksi PDI Perjuangan Junimart Girsang menilai kasus etika yang dilakukan Setya Novanto yang pernah ditangani MKD tidak berpengaruh dalam proses pemilihan ketua umum Partai Golkar. Novanto tetap terpilih menjadi ketua umum Golkar periode 2016-2019.

“Saya kira nggak ada hubungannya dengan putusan MKD. Itu murni internal partai. MKD juga tidak ada pengaruhnya,” kata Junimart di gedung Nusantara II, DPR RI, Jakarta, Selasa (17/6/2016).

Namun, Junimart tetap mengingatkan kasus yang pernah menimpa Novanto harus menjadi catatan bagi Partai Golkar.

“Ini jadi catatan tersendiri bagi Golkar ke depan, agar partai ini bisa meminimize hal-hal yang dapat membuat partai jadi pertanyaan bagi masyarakat,” kata Junimart.

Sebelumnya, pada Desember 2015, Novanto mengundurkan diri dari jabatan ketua DPR setelah terjerat kasus dugaan pencatutan nama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla demi mendapatkan keuntungan saham dari PT. Freeport Indonesia. Dia mundur menjelang MKD membuat keputusan.

Dalam penghitungan suara di munaslub, Ade Komarudin meraih 173 suara, Novanto 277 suara, Airlangga Hartarto 14 suara, Mahyudin dua suara, Priyo Budi Santoso satu suara, Aziz Syamsuddin 48 suara, Indra Bambang Utoyo satu suara, Syahrul Yasin Limpo 27 suara dan suara tidak sah berjumlah 11, sehingga total suara 554.

Dari hasil tersebut, Ade dan Novanto sebenarnya masih harus menjalani pemilihan tahap kedua karena keduanya memenuhi perolehan suara 30 persen.

Tetapi, Syahrul Yasin Limpo menyarankan agar Ade menganggap hasil tersebut final, tanpa harus menjalani pemilihan putaran kedua.   Setelah berembug dengan tim, Aburizal Bakrie sebagai ketua dewan pembina, akhirnya Ade mengakui kemenangan Novanto.

1 2 3 4 13