Tim Kelelawar Polres Pelabuhan Makassar Gagalkan Peredaran 1 Kg Sabu

Ilustrasi

Ilustrasi

Makassar, KABAROKE.COM — Tim Kelelawar Sat Res Narkoba Polres Pelabuhan Makassar berhasil mengungkap tindak pidana penyalahgunaan narkotika jenis sabu. Sebanyak 1 kilogram lebih sabu berhasil diamankan.

Pengungkapan tersebut berhasil dilakukan pada Rabu, 11 April 2018 sekitar pukul 20.30 Wita di Jalan Borong Raya Kompleks Bitoa Lama, Kota Makassar.

Dalam pengungkapan ini, pelaku yang diamankan yakni Muh Idham Safruddin (21 tahun), Andi Hanifah Fahriyah (19) yang merupakan seorang mahasiswi dan Aprian Pratama alias Ardi.

“Pelaku (Idam) ditangkap saat hendak keluar mengendarai sepeda motor dengan membawa kantongan hitam. Sementara Hanifa dan Aprian diamankan di dalam kost (milik Idham),” kata Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sindani dalam keterangan persnya, Kamis (12/4/2017).

Dari tangan pelaku, lanjut Dicky, petugas berhasil menyita 11 paket shabu dengan berat 1 kilogram lebih. Selain itu diamankan juga satu timbangan digital, satu sepeda motor dan 7 bal plastik sedang.

“BB yang diamankan satu kilo 50 gram. Kalau diuangkan ditaksir 1,5 miliar. Pelaku (Idham) yang bekerja sebagai mekanik ini, sudah sering jadi kurir narkoba di daerah Jalan Borong Raya,” jelasnya.

Dicky menyebut, untuk mengantar barang haram tersebut, Idam mendapat upah jutaan rupiah. “Untuk mengantarkan sabu, yang bersangkutan dibayar Rp 2,5 Juta,” tukasnya.

Di Bandara Palembang, Perempuan Ini Ditangkap Simpan Sabu di Anus

Ilustrasi

Ilustrasi

Palembang, KABAROKE — Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumatera Selatan, Senin, menangkap perempuan asal Jakarta Timur, VJ (26) karena ketahuan membawa sabu seberat 489 gram yang disembunyikan dalam anus. Penangkapan bermula saat VJ yang baru saja turun dari maskapai penerbangan Air Asia dengan nomor penerbangan AK 453 di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang terlihat mencurigakan.

Petugas yang curiga langsung menggeledah VJ. Namun, hasil penggeledahan tersebut nihil. Belum puas, VJ akhirnya dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan scanning ditubuhnya. Dari scaning itulah terlihat delapan kapsul berukuran besar berada dianusnya.

“Setelah dikeluarkan delapan kapsul besar tersebut berisi sabu,” kata Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Sumatera Bagian Timur (Sumbagtim) M Aflah Farobi, Senin 30 Oktober 2017.

Dari penemuan tersebut, petugas akhirnya melakukan pemeriksaan terhadap VJ. Dia mengaku, telah membuang dua kapsul yang lebih besar di tong sampah toilet bandara.

“Jadi dua kapsul yang lebih besar itu dia buang saat akan pemeriksaan. Awalnya disembunyikan di selangkangan. Karena takut ketahuan akhirnya dibuang. Total ada 10 kapsul berisi sabu seberat 489 gram,” ujarnya. (***)

PCC Harus Digolongkan Sebagai Narkoba

Obat PCC yang Disita BPOM Makassar

Obat PCC yang Disita BPOM Makassar

Jakarta, KABAROKE – Anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Abdul Kadir Karding, menilai obat-obatan keras seperti PCC (paracetamol cafein carisoprodol) harus digolongkan sebagai narkoba jenis baru karena memiliki efek yang merusak sistem syaraf seseorang.

“Jenis obat tersebut memiliki efek serupa narkotika yang bisa merusak sistem syaraf seseorang dan menyebabkan ketergantungan jika digunakan serampangan. Perlu segera ada pernyataan bahwa jenis obat itu masuk kategori narkoba dan berbahaya agar masyarakat waspada,” kata Karding di Jakarta, Sabtu (16/9).

Karding meminta aparat kepolisian, khususnya Badan Narkotika Nasional (BNN) segera mensosialisasikan efek buruk penggunaan obat yang mengandung carisoprodol seperti PCC, tramadol, dan somadril di masyarakat.

Menurut dia, berdasarkan informasi dari BNN, obat-obatan tersebut tidak saja berfungsi menghilangkan rasa sakit pascaoperasi, tapi juga bisa menyebabkan seseorang hilang kesadaran, kejang-kejang, kerusakan syaraf, ketergantungan, hingga kematian apabila disalahgunakan.

“Sehingga obat-obatan ini mestinya hanya boleh digunakan oleh dokter kepada pasien dan tidak dijual bebas,” ujarnya.

Sekretaris Jenderal PKB itu menilai pengawasan yang lemah membuat obat-obatan itu rawan disalahgunakan dan penjualannya tidak hanya dilakukan melalui jejaring apotek tetapi juga melalui media sosial maupun situs belanja daring.

Selain itu, menurut dia, harga yang murah membuat para remaja yang sedang mencari jati diri rawan menjadi korbannya dan mereka tidak sulit mencari penjual obat-obatan keras di dunia maya.

“Dengan kata kunci yang tepat, seseorang bisa memesan tanpa proses verifikasi seperti resep dokter. Kemudahan itu rawan disalahgunakan, khususnya oleh kalangan remaja,” katanya.

Dia menegaskan penjualan obat-obatan keras secara ilegal di internet harus ditertibkan aparat penegak hukum karena merupakan ancaman serius yang harus diatasi bersama.

Dia meminta aparat penegak hukum menjatuhi sanksi tegas kepada para penjual ilegal obat-obatan tersebut karena mereka tidak saja membahayakan generasi muda sekarang, tapi juga yang akan datang.

“Apa yang mereka lakukan seolah menjadi informasi bagi para pelaku kejahatan maupun remaja lain tentang cara menyalahgunakan obat-obatan,” ujarnya. (***)

Kejari Makassar Musnahkan 1,4 Kilogram Sabu-sabu

Pemusnahan Barang Bukti

Pemusnahan Barang Bukti

Makassar, KABAROKE — Kejaksaan Negeri Makassar melakukan pemusnahan barang bukti hasil kejahatan dan tindak pidana narkoba seberat 1,8 kilogram. Sebanyak 1,4 kilogram barang bukti yang dimusnahkan merupakan narkoba jenis Sabu-sabu.

“Semua barang bukti hasil kejahatan yang dimusnahkan ini telah mendapat keputusan tetap dan mengikat dari pengadilan negeri, makanya kita musnahkan hari ini,” kata Kepala Kejari Makassar Dicky Rachmat Raharjo, di Makassar, Kamis, 23 Maret 2017.

Adapun barang bukti yang dimusnahkan oleh kejaksaan yakni narkoba jenis sabu seberat 1,4 kg, ganja 400 gram lebih dan pil ekstasi lebih dari 200 butir.

Kajari mengatakan, dirinya yang baru 23 hari menjabat di Makassar ini mengakui jika kasus kejahatan jalanan dan narkoba khususnya sindikat pengedaran narkoba jenis sabu-sabu lebih banyak terjadi.

“Untuk kasus yang paling banyak itu kasus narkoba. Memang di Makassar ini tidak seperti di Jawa dan Jakarta yang jumlah narkobanya setiap dimusnahkan dalam jumlah besar, tapi tetap saja narkoba adalah musuh bersama,” katanya.

Dicky dalam penyampaiannya berharap peran serta seluruh masyarakat agar bisa menekan jumlah pengguna narkoba dengan cara melakukan pengawasan terhadap anak-anak serta bekerjasama dengan pihak berwajib untuk mengantisipasi peredaran tersebut.

Ia juga mengaku jika narkoba saat ini telah menjadi musuh bersama dan Presiden Joko Widodo telah mengeluarkan aturan memberikan hukuman yang maksimal terhadap pelaku-pelaku yang merusak generasi bangsa dengan narkoba.

Selain memusnahkan barang bukti narkoba, kejaksaan juga memusnahkan barang bukti sesuai undang-undang kesehatan seperti, Somadril 3.585 butir,123 papan dan 10 boks, Tramadol 303 butir, THD 2.844 butir.

Selanjutnya, barang bukti kejahatan pidana umum seperti badik 20, parang 8, anak panah 139, ketapel atau pelontar 35 buah, senjata api rakitan satu pucuk, pedang samurai 4 buah, kapak 1 buah, telepon genggam (HP) 68 unit dan satu buah laptop.  (Yasir)

Lantamal VI Jaga Marinir dari Bahaya Narkoba

Bahaya Narkoba Ilustrasi

Bahaya Narkoba Ilustrasi

Makassar, KABAROKE — Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) VI terus melakukan sosialisasi dan pemeriksaan urine berkala kepada para para marinirnya, agar terhindar dari bahaya narkoba. Kegiatan tersebut berlangsung di Lantamal VI Makassar, Rabu kemarin, 22 Maret 2017.

“Perkembangan narkoba dari hari ke hari itu terus meningkat dan selalu ada saja jenisnya yang baru. Kita juga di TNI harus `mengupdate` itu untuk dijadikan bahan sosialisasi dan pengawasan terhadap anggota,” kata Komandan Lantamal VI Laksamana Pertama (Laksma) TNI Yusup di Makassar, dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 23 Maret 2017.

Ia mengatakan, perkembangan narkoba yang terus ditemukan dan digolongkan berdasarkan jenisnya oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) menjadi perhatian dari TNI khususnya pada jajarannya. Melalui beberapa kegiatan pertemuan resmi maupun saat apel pasukan rutin, dirinya senantiasa mengingatkan kepada prajuritnya agar menjauhi narkoba dan tidak ikut terlibat dalam barang haram tersebut.

“Terlibat di dalamnya, apakah sindikat peredaran atau menggunakannya itu tidak boleh karena sama-sama merusak generasi bangsa dan merusak diri pastinya,” katanya.

Yusup mengingatkan kepada prajuritnya untuk tidak main-main dalam hal narkoba, psikotropika dan zat adiktif lainnya (Napza) karena jika ada anggota yang terlibat akan ada sanksi tegas menyertainya.

“Jangan pernah bermain-main dengan narkoba maupun lainnya yang termasuk dalam barang haram yang dilarang karena selain merusak, juga ada sanksi tegas jika terlibat atau menggunakannya,” jelasnya.

Danlantamal VI berharap kepada prajurit dan pegawai negeri sipil dijajarannya dengan diselenggarakannya sosialisasi bahaya narkoba dan sejenisnya dapat melaksanakan penangkalan dan pencegahan terhadap penyalahgunaan narkoba, mengenali jenisnya serta mewaspadai peredarannya .

“Terima kasih kepada BNNP Sulsel yang diwakili Kepala Bidang Pencegahan BNNP Sulsel Bapak Jamaluddin dalam sosialisasi akan bahaya narkoba ini dan kedepannya kita bisa lebih bersinergi dalam upaya pemberantasan narkoba,” ucapnya. (Yasir)

Masyarakat Diminta Waspadai Metamorfosis Narkoba

Ilustrasi

Ilustrasi

Kubu Raya, KABAROKE — Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa meminta masyarakat mewaspadai metamorfosis atau perubahan bentuk narkoba yang sengaja didesain produsennya untuk mengelabui aparat keamanan.

“Kalau dulu berbentuk pil, bubuk heroin, atau lintingan ganja , maka sekarang menjelma menjadi aneka rupa,” katanya saat meresmikan Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) Teratai Khatulistiwa di Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat, seperti dilansir Antara, kemarin.

Dikutip dari siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu, Khofifah mengatakan kini beredar narkoba yang dicampur dengan makanan bahkan jajanan anak.

Belum lama ini beredar permen dot di Surabaya yang disinyalir mengandung narkoba. Sebelumnya juga beredar kue kering bercampur ganja di Bandung dan Jakarta.

“Pengedar narkoba semakin pintar mengemas barang dagangannya. Penyusupan narkoba ke dalam makanan dan jajanan anak merupakan salah satu bentuk metamorfosis narkoba saat ini,” kata dia.

Khofifah menerangkan, dengan mencampur narkotika ke dalam makanan maka akan sulit terdeteksi secara kasat mata. Polisi perlu melakukan uji klinis laboratorium untuk memastikan apakah makanan tersebut mengandung narkoba atau tidak.

Oleh karena itu, Khofifah mengimbau orang tua agar senantiasa mengingatkan anak-anaknya yang masih duduk di bangku TK dan SD untuk tidak jajan sembarangan.

“Orang tua harus lebih peduli dan tidak boleh cuek terhadap fenomena metamorfosis narkoba ini,” kata dia.

Apalagi, lanjut dia, sindikat narkoba kini juga memanfaatkan anak-anak sebagai pengedar dengan pertimbangan selain memperkecil kecurigaan polisi juga hukuman yang dikenakan kepada pelaku anak-anak hanya setengah dari orang dewasa.

Sementara itu, Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial Marjuki mengatakan dari jumlah usia produktif di Kalimantan Barat sebesar 3.599.100 orang, diperkirakan sebanyak 61.185 orang dengan prevalensi 1,7 persen menyalahgunakan narkoba.

“Ibarat fenomena gunung es, angkanya bisa jauh melebihi prevalensi tersebut,” ujarnya. (***)

Ini Identitas Polisi yang Doyan Nyabu di Kantor Pemkab Selayar

Ilustrasi

Ilustrasi

Selayar, KABAROKE — Pengakuan Staf Perlengkapan Pemkab Selayar, Risman Arif (31) yang menyebut ada tiga oknum anggota Polres Selayar yang doyan nyabu di ruang kerjanya ternyata bukan isapan jempol belaka. Berdasarkan hasil pemeriksaan urine, satu dari tiga polisi yang disebut Risman terindikasi memang merupakan penyalahguna narkotika. Hal itu terungkap setelah dilakukan tes urine.

Kepala Bidang Humas Polda Sulsel, Komisaris Besar Frans Barung Mangera, mengatakan oknum polisi yang hasil tes urinenya positif mengandung narkotik adalah Brigadir Kepala A Bustan. Adapun, dua polisi yang juga dituduh Risman yakni Brigadir Usman dan Brigadir Satu Kamaluddin, hasil tes urinenya tidak menunjukkan bahwa keduanya pernah mengisap sabu.

“Telah dilakukan pemeriksaan terhadap tiga oknum polisi yang ditunjuk PNS Selayar yang diamankan dalam kasus narkoba. Hasilnya, satu dari tiga orang itu memang positif. Sekarang yang bersangkutan sedang diperiksa intensif oleh Kasi Propam,” kata Barung, Senin, 17 Oktober.

Penangkapan Risman sendiri dilakukan setelah sebelumnya dilakukan penggeledahan di Ruang Staf Perlengkapan Pemkab Selayar, Ahad, 16 Oktober. Kala itu, Risman kepergok mengantongi satu paket sabu yang diperolehnya dari Ishak Sukardi (37) yang masih merupakan kerabatnya. Polisi lantas melakukan pengembangan di rumah Sukardi di Jalan Kenari.

Sesampainya di rumah Ishak, polisi langsung melakukan penggeledahan dan menemukan sejumlah barang bukti. Ishak diduga merupakan pengedar sabu. Di rumahnya disita 8 sachet sisa sabu, 15 paket sabu yang sudah kosong, 6 batang pireks, 20 batang sendok sabu, 2 buah bong, 4 batang sumbu kompor, 2 buah korek gas dan 3 batang pipet.

Keterlibatan oknum polisi dalam kasus narkotika itu terkuak saat pemeriksaan Risman. PNS Selayar itu menyebut ada tiga polisi yang juga bisa mengisap sabu di ruang kerjanya. Kepolisian pun langsung mencari ketiga polisi itu dan melakukan pemeriksaan urine. (Yasir)

PNS Selayar Ini Ngaku Kerap Nyabu Bareng Polisi

Ilustrasi

Ilustrasi

Selayar, KABAROKE — Kepolisian meringkus Staf Perlengkapan Pemkab Selayar, Risman Arif (31), atas kepemilikan narkotika jenis sabu di ruang kerjanya, Ahad, 16 Oktober. Setelah ditangkap, Risman pun bernyanyi ihwal kebiasannya nyabu bareng polisi. Tak tanggung-tanggung, ia menyebut tiga polisi yang kerap ditemaninya mengisap serbuk haram tersebut.

Kepala Bidang Humas Polda Sulsel, Komisaris Besar Frans Barung Mangera, membenarkan penangkapan oknum PNS Selayar itu. Hingga kini, pengakuan pelaku yang mengklaim kerap memakai sabu dengan tiga polisi masih terus ditelusuri. “Kami lakukan tes urine terhadap tiga polisi itu untuk membuktikan apakah mereka ikut terlibat atau tidak,” kata Barung, Senin, 17 Oktober.

Berdasarkan pengakuan Risman, ketiga polisi yang disebutnya kerap nyabu adalah Brigadir Usman, Brigadir Satu Kamaluddin dan Brigadir Kepala Bustan. Bahkan, mereka mengisap sabu di kantor Pemkab Selayar. Ia menyebut sejauh ini, tentunya ‘nyanyian’ Usman masih sebatas tuduhan yang perlu pembuktian. Kepolisian akan bertindak tegas bila memang oknum polisi itu terlibat kasus narkotik.

Penangkapan Risman sendiri dilakukan setelah sebelumnya dilakukan penggeledahan di Ruang Staf Perlengkapan Pemkab Selayar. Kala itu, Risman kepergok mengantongi satu paket sabu yang diperolehnya dari Ishak Sukardi (37) yang masih merupakan kerabatnya. Polisi lantas melakukan pengembangan di rumah Sukardi di Jalan Kenari.

Sesampainya di rumah Ishak, polisi langsung melakukan penggeledahan dan menemukan sejumlah barang bukti. Ishak diduga merupakan pengedar sabu. Di rumahnya disita 8 sachet sisa sabu, 15 paket sabu yang sudah kosong, 6 batang pireks, 20 batang sendok sabu, 2 buah bong, 4 batang sumbu kompor, 2 buah korek gas dan 3 batang pipet. (Yasir)

BNN Tangkap Oknum Pemprov Pengguna Narkoba

Ilustrasi

Ilustrasi

Jakarta, KABAROKE – Badan Narkotika Nasional Provinsi Kepri menangkap seorang pejabat pemprov setempat bersama seorang teman wanitanya di sebuah tempat hiburan malam kawasan Nagoya Batam dengan barang bukti narkoba.

“Dia (pejabat pemprov) berada di sebuah ruangan khusus bersama seorang teman wanita dan dua pekerja tempat hiburan itu,” kata Kepala BNN Kepri Kombes Pol Benny Setiawan di Batam, Senin.

Kabid Berantas BNN Kepri AKBP Bubung Pramiadi menegatakan dari pejabat dengan inisial AM yang menjabat kasubag pada salah satu instansi Pemprov Kepri saat ditangkap Kamis (15/9) dini hari didapati tiga butir pil ekstasi, sementara dari teman wanitanya didapati satu butir pil ekstasi.

“Setelah dilakukan pemeriksaan oleh petugas dari MA ditemukan barang bukti tiga butir pil ekstasi. Pada teman wanita MA ditemukan satu butir pil ekstasi. Total empat pil ekstasi ditemukan petugas,” kata dia.

Untuk dua wanita tempat hiburan yang juga berada diruangan yang sama saat penggerebekan, kata dia, tidak ditemukan barang bukti narkoba.

Bubung mengatakan, usai tertangkap pejabat Pemprov Kepri beserta teman wanitannya langsung dibawa ke BNN Kepri untuk proses lebih lanjut.

“Di BNN sudah dilakukan ‘assesment’ oleh tim. Saat ini sudah diserahkan ke panti rehabilitasi BNN Kepri, namun proses hukumnya terus berlanjut,” kata Bubung.

Meskipun sudah menjalani rehabilitasi, kata dia, namun masih menunggu keputusan hakim dalam persidangan untuk menentukan nasib keduannya.

Bubung mengatakan keduanya dikenakan Pasal 127 UU RI No 35 Tahun 2009, bagi tersangka yang merupakan korban penyalahgunaan narkoba bisa direhabilitasi. Sementara penyalahgunanya dipidana dengan penjara paling lama empat tahun.

“Kami akan menunggu putusan persidangan dari pengadilan. Sambil menunggu pemberkasan hingga sidang selesai, keduanya menjalani rehabilitasi,” kata dia. (Antara)

DPR Bentuk Panja Guna Tekan Peredaran Narkoba

Sumber : Istimewah

Sumber : Istimewah

Jakarta, KABAROKE – Komisi III DPR RI tengah membentuk panitia kerja (Panja) sindikat Narkoba untuk meminimalisir para penegak hukum yang kerap terlibat dalam Bisnis Narkoba.

“DPR dalam konteks fungsi pengawasan bertindak dong menggunakan kewenangannya maka dibentuklah Panja sindikat narkoba,” ujar anggota komisi III Asrul Sani di Komplek Parlemen, Jakarta, Kamis (8/9).

Selain itu dia juga menjelaskan dalam waktu dekat akan meminta keterangan beberapa jajaran Lapas. Salah satunya Lapas Nusakambangan yang berkaitan dengan Freddy Budiman. Panja tersebut, lanjutnya, akan mendalami video Freddy Budiman sebelum dieksekusi mati. Dalam video tersebut menyebut tiga perwira polri.

“Itu tugas kita untuk mendalami. Kalau memang benar, tentu akan minta usut, kita awasi. Kalau tidak ya harus direhabilitasi yang bersangkutan agar tidak kemudian menjadi fitnah,” pungkasnya. (Iqbal)

1 2 3 7