4 Poin Putusan Sela Majelis Hakim dalam Perkara Ahok

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok [dok net]

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok [dok net]

Jakarta, KABAROKE — Majelis hakim telah membacakan putusan sela perkara penistaan agama dengan terdakwa gubernur DKI Jakarta non-aktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Selasa, 27 Desember. Terdapat empat poin dalam putusan majelis hakim tersebut.

Ketua majelis hakim, Dwiarso Budi Santiarto, mengatakan poin pertama menyatakan bahwa keberatan terdakwa dan penasehat hukumnya tidak dapat diterima.

Kedua, hakim menyatakan surat dakwaan penuntut umum sah sebagai dasar tuntutan pekara pidana atas nama terdakwa Ir. Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Ketiga, hakim memerintahkan untuk melanjutkan pemeriksaan perkara tersebut dan keempat hakim menyatakan menangguhkan biaya perkara sampai putusan akhir.

Ahok menjadi terdakwa kasus penistaan agama karena mengutip Alquran Surat Al Maidah 51 dan menyebut adanya orang yang menggunakannya untuk kepentingan tertentu saat berbicara di hadapan warga Kepulauan Seribu pada 27 September. (***)

Majelis Hakim Tolak Eksepsi Ahok dengan Alasan Ini…

Gubernur DKI Jakarta, Basuki T Purnama (Ahok)/dok-net

Gubernur DKI Jakarta, Basuki T Purnama (Ahok)/dok-net

Jakarta, KABAROKE — Majelis Hakim sidang penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok memutuskan menolak semua keberatan terdakwa dan tim kuasa hukumnya. Dalam putusan sela tersebut, majelis hakim menolak keberatan Ahok dan timnya karena dianggap tidak beralasan.

“Dengan ini memutuskan keberatan terdakwa dan kuasa hukum tidak dapat diterima,” kata Ketua Majelis Hakim, Dwiarso Budi Santiarto di PN Jakarta Utara, Selasa (27/12).
Dengan putusan ini, majelis hakim juga menerima surat dakwaan dari Jakasa Penuntut Umum (JPU). Surat dakwaan dianggap cermat, jelas, dan lengkap.
Sebelum menutup sidang putusan sela, Dwiarso meminta tanggapan dari terdakwa Ahok, kuasa hukum, dan JPU. Sidang keempat akan dilanjutkan pekan depan dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi. (***)

Hari Ini, Majelis Hakim Bacakan Putusan Sela Kasus Ahok

Gubernur DKI Jakarta, Basuki T Purnama alias Ahok

Gubernur DKI Jakarta, Basuki T Purnama alias Ahok

Jakarta, KABAROKE — Terdakwa perkara penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjalani sidang lanjutan yang beragendakan pembacaan putusan sela dari Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

Ketua Tim Penasihat Hukum Ahok, Trimoelja D. Soerjadi, mengatakan sudah siap dengan segala putusan dari hakim. “Kita sudah siap mendengarkan putusan, apa pun putusannya kita terima,” kata Tri, seperti dilansir dari Antara, Selasa, 27 Desember.

Proses hukum terhadap Ahok bergantung pada putusan Majelis Hakim yang diketuai oleh Dwiarso Budi Santiarto.

Jika majelis hakim menerima eksepsi terdakwa dan tim penasihat hukum, Ahok bebas dari segala tuduhan dan sidang berakhir. Sebaliknya, jika eksepsi atau nota keberatan yang diajukan terdakwa dan tim penasihat hukum pada sidang perdana ditolak, proses hukum terus berlanjut dengan agenda pemeriksaan saksi pada sidang berikutnya.

Dari pantauan Antara, ruang sidang Koesoemah Atmadja sudah dipenuhi sejak pukul 07.00 WIB oleh para pengunjung dari berbagai kalangan, baik dari organisasi Islam, Advokat Cinta Tanah Air (ACTA), relawan pendukung Ahok dan kerabat Ahok, salah satunya kakak angkat Ahok, Andi Analta.

Belasan pengunjung sidang terpaksa berdiri di sisi bangku mengingat ruangan hanya berkapasitas sekitar 80 orang. Sementara itu, ratusan orang lainnya yang ingin menyaksikan sidang secara langsung, terpaksa menunggu di luar Gedung PN Jakarta Utara yakni di Jalan Gadjah Mada No.17 (bekas Gedung PN Jakarta Pusat). Sidang akan dimulai pukul 09.00 WIB.

Ada pun pada sidang kedua pekan lalu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menolak seluruh eksepsi atau nota keberatan yang diajukan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) beserta tim penasihat hukumnya. (***)

Eksepsi Ditolak, Ini Langkah Tim Pemenangan dan Kakak Angkat Ahok

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok [dok net]

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok [dok net]

Jakarta, KABAROKE — Ketua tim pemenangan petahana Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Prasetio Edi Marsudi, tidak mempermasalahkan ditolaknya eksepsi atau nota keberatan yang dibacakan Basuki pekan lalu.

Tim pemenangan Ahok-Djarot pun tidak kaget ditolaknya eksepsi jagoannya itu. Prasetio mengatakan menunggu proses sidang selanjutnya yakni putusan sela majelis hakim pada pekan depan.

“Kita kan masih dikasih waktu satu minggu lagi, tanggal 27 (Desember) sidang lagi. Kita ikuti proses hukum saja, yang terbaik untuk bangsa,” ujarnya di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Selasa (20/12).

Sementara itu, kakak angkat Basuki, Andi Analta Amir mempercayakan proses hukum ke hakim pengadilan.

“Kita pokoknya percayakan pada pihak yang berkompeten. Pokoknya kita percaya pada hakim yang menangani kasus ini,” katanya.

Andi menyayangkan eksepsi Ahok yang tidak diterima Jaksa Penuntut Umum (JPU)

“Ya harusnya diterima (eksepsinya). Kalo menurut saya harusnya sudah ditolak (dakwaannya),” pungkasnya. (Iqbal)

Ruang Sidang Ahok Penuh Sesak, Humas PN Jakut : Tak Ada Klasifikasi Pengunjung!

Humas PN Jakarta Utara, Hasoloan Sianturi

Humas PN Jakarta Utara, Hasoloan Sianturi

Jakarta, KABAROKE — Ruang sidang Koesoemah Atmadja Pengadilan Negeri Jakarta Utara yang berkapasitas 85 orang penuh disesaki pengunjung yang ingin melihat langsung kelanjutan persidangan kasus dugaan kasus penistaan agama dengan terdakwa Calon Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama Ahok ).

Humas PN Jakarta Utara, Hasoloan Sianturi, mengatakan dalam sidang ini pengunjung tidak ada klasifikasi pengunjung. Jadi, lanjut dia, semua pengunjung akan diperlakukan sama, baik itu masyarakat umum, relawan Ahok maupun wartawan.

“Tidak ada klasifikasi karena ini sidang terbuka. Kami juga enggak melihat (pengunjung) ini dari kelompok mana. Pokoknya kapasitas hanya 85 orang,” ungkapnya, Selasa, 20 Desember.

Sidang lanjutan tersebut mengagendakan tanggapan jaksa penuntut umum atas eksepsi atau nota keberatan yang disampaikan terdakwa dan tim kuasa hukum pekan lalu. Ahok yang mengenakan kemeja batik lengan panjang bernuansa hitam cokelat memasuki ruang sidang pada pukul 09.00 WIB.

“Saudara terdakwa sehat?” tanya Ketua Majelis Hakim Dwiarso Budi Santiarto di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Selasa (20/12). Ahok menjawab dengan tegas,”Sehat.”

Sesaat setelah duduk di depan majelis hakim, Ahok menengok ke belakang, tempat pengunjung sidang dan melempar senyum serta melambaikan tangannya seraya berterima kasih kepada para relawan yang datang menghadiri persidangan.

Tim penasihat hukum Ahok, antara lain Trimoelja D Soerjadi, Humphrey Djemat, Sirra Prayuna, Tommy Sihotang dan adik perempuan Ahok, Fifi Lety Indra telah memasuki ruang sidang sejak pukul 08.00 WIB. (Iqbal)

Sindiran FPI ke Polisi : Hebat Ya, Bisa Tangkap Malaikat dan Tuhan!

Ketua Umum DPP Front Pembela Islam (FPI), KH Ahmad Shobri Lubis di Acara Tabligh Akbar Bela Islam di Makassar

Ketua Umum DPP Front Pembela Islam (FPI), KH Ahmad Shobri Lubis di Acara Tabligh Akbar Bela Islam di Makassar

Makassar, KABAROKE — Ketua Umum DPP Front Pembela Islam (FPI), KH Ahmad Shobri Lubis, menghadiri Tabligh Akbar Bela Islam yang berlangsung di Mesjid Raya Makassar, Minggu 18 Desember 2016. Ahmad Shobri dalam ceramahnya menyindir perlakuan Polri yang belum menahan Ahok meski telah berstatus tersangka.

Ia membandingkan kasus penistaan agama yang menjerat Permadi Satrio Wiwoho, Lia Aminuddin alias Lia Eden dan Ahmad Tantowi. Mereka merupakan beberapa orang yang pernah menistakan agama dengan mengaku sebagai utusan Tuhan, bahkan Tuhan itu sendiri.

“Polisi hebat yah, bisa nangkap malaikat dan tuhan,” sindir KH Ahmad Shobri Lubis.

Sementara, lanjut Shobri, perlakuan Polri kepada Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sangatlah berbeda. Ahok yang telah berstatus tersangka, sampai saat ini belum juga dilakukan penahanan.

“Apakah ini adil,” seru sang Kyai yang dijawab tidak adil oleh seluruh jamaah dengan kompak lalu diiringi kumandang takbir.

Pemuka Agama Islam dari Berbagai Organisasi Menggelar Press Conference Terkait Tabligh Akbar Bela Islam di Makassar

Pemuka Agama Islam dari Berbagai Organisasi dan Wali Kota Makassar Menggelar Press Conference Terkait Tabligh Akbar Bela Islam di Makassar

Ketua Umum Wahda Islamiyah, Ustadz Zaitun Rasmin, dalam kesempatan ceramahnya menyebut Islam saat ini memasuki era kejayaannya di Indonesia. Apalagi, Tablig Akbar dengan topik Energi Al Maidah 51 Pilar Penguatan NKRI itu dihadiri sejumlah pejabat.

“Para pejabat yang hadir, ada bapak Walikota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto, ada bapak Kapolda Sulsel juga mengumandangkan takbir. Terbayang saat Rasulullah mengumandangkan takbir. Semoga para pejabat ini dijaga, diangkat derajatnya dan tetap amanah,” kata Ustadz Zaitun Rasmin.

Menurutnya, rangkaian aksi bela Islam baru-baru ini menjadi tanda masa kejayaan Islam bangsa Indonesia di masa depan. Ia pun mengajak umat untuk menjaga spirit Islam di Indonesia yang sangat menjunjung tinggi persatuan dan kedamaian.

“Aksi 212 kemarin adalah karunia Allah SWT, umat Islam mampu menjaga kesepakatan sehingga aksi berjalan dengan damai. Kita tidak akan berhenti untuk menuntut penista agama dan sejenisnya, juga yang melindunginya,” seru ustadz Zaitun Rasmin dalam kegiatan yang dimotori Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI ini.

Kegiatan Tabligh Akbar dengan tema Energi Al Maidah 51 Pilar Penguatan NKRI itu awalnya akan dihadiri Imam Besar FPI, Habib Rizieq Syihab. Tampak, Kapolda Sulsel yang baru, Irjen Polisi Muktiono dan Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto turut hadir pada kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.00 Wita tersebut. (Yasir)

Ahok Cerita Tentang Ibu Angkatnya di Sidang Perdana

Gubernur DKI Jakarta, Basuki T Purnama (Ahok) (dok-net)

Gubernur DKI Jakarta, Basuki T Purnama (Ahok) (dok-net)

Jakarta, KABAROKE — Gubernur DKI Jakarta non-aktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menceritakan tentang ibu angkatnya yang beragama Islam, Hj Misribu binti Acca, saat membacakan tanggapan sidang perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

Dalam pembacaannya, Ahok mengungkapkan pesan dari ibu angkatnya yang menginginkannya menjadi Gubernur DKI Jakarta.

“Masih terus saya ingat dan akan saya ingat. Kata beliau, saya tidak rela mati sebelum kamu menjadi gubernur, anakku. Jadilah gubernur yang melayani rakyat kecil,” kata Ahok saat membacakan tanggapan di depan Majelis Hakim PN Jakarta Utara, seperti dilansir Antara, Selasa, 13 Desember.

Ia juga mengungkapkan cintanya terhadap orangtua angkatnya yang berasal dari Islam Bugis, sehingga menurutnya tidak mungkin ia melakukan penghinaan terhadap agama Islam dan para ulama. Menurut dia, dengan menista agama Islam sama saja menista orangtua angkat dan saudara-saudara angkat.

Ahok bercerita, di hari pencoblosan Pilgub 2012, ibunya yang sedang sakit berat dalam perjalanan ke rumah sakit meminta mendatangi tempat pemungutan suara untuk memilih Ahok sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta mendampingi Joko Widodo sebagai Gubernur.

Setelah Joko Widodo resmi menjadi Presiden pada 2014, ibu angkat Ahok meninggal dunia dengan doa yang terkabul, yakni Ahok secara otomatis maju menjadi Gubernur DKI Jakarta.

“Ternyata Tuhan mengabulkan doa Ibu angkat saya. Beliau berpulang tanggal 16 Oktober 2014, setelah ada kepastian Bapak Jokowi menjadi Presiden, dan saya juga sudah dipastikan menjadi gubernur,” ungkap Ahok.

Calon Gubernur DKI Jakarta bernomor urut dua tersebut menambahkan ia rutin berziarah ke makam ibu angkat di TPU Karet Bivak. Bahkan, Ahok tidak mengenakan sepatu atau sendal saat berziarah untuk menghargai keyakinan dan tradisi orang tua dan saudara angkatnya.

Sidang perdana Ahok di PN Jakarta Utara telah dimulai sejak pukul 09.00 WIB dengan agenda pembacaan dakwaan oleh jaksa penuntut umum. Sementara itu, suasana di luar sidang terlihat ratusan massa dari berbagai organisasi Islam menyerukan Ahok segera ditahan. (***)

Berstatus Terdakwa, Ahok Pasrah Bila Jabatannya Dicopot

Gubernur DKI Jakarta, Basuki T Purnama alias Ahok

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok

Jakarta, KABAROKE — Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, pasrah bila jabatannya selaku Gubernur DKI Jakarta harus dicopot setelah menyandang status terdakwa kasus penistaan agama. Ahok diagendakan menjalani sidang perdana, Selasa, 13 Desember. Adapun, statusnya saat ini pun non-aktif sebagai kepala daerah lantaran mengambil cuti kampanye.

Ahok mengaku kurang mengetahui mengenai statusnya nanti saat menjalani sidang dan berstatus terdakwa. “Saya nggak tahu, itu kan tergantung ini kasus apa, apakah ini pidana khusus ataukah ini pidana apa,” kata Ahok usai menghadiri acara maulid Nabi Muhammad SAW di halaman Masjid Al Huda, Menteng, Senin, 12 Desember.

Ahok mengatakan Kemendagri adalah pihak yang berwenang dalam menentukan status jabatannya. “Jadi tergantung Kemendagri seperti apa, kan ini bukan korupsi. Saya nggak tahu,” sebutnya.

Sebelumnya diberitakan, mengacu pada Undang-undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, setiap kepala daerah atau wakil kepala daerah yang didakwa dengan ancaman pidana minimal lima tahun, maka yang bersangkutan diberhentikan sementara.

Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri yang juga pelaksana tugas (PLT) gubernur, Soni Sumarsono membenarkan aturan di undang-undang tersebut. Namun menurutnya, pemberhentian kepala daerah harus menunggu register perkara dari pengadilan.

“Nanti pasti ada perintah dari pengadilan. Kita tunggu implikasi putusan pengadilan. Tetap harus melalui proses hukum, karena negara ini berdasarkan hukum,” katanya. (Iqbal)

Peringatan Maulid, Ahok Minta Umat Islam Bukakan Pintu Maaf Sebesar-besarnya

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok [dok net]

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok [dok net]

Jakarta, KABAROKE — Gubernur DKI Jakarta nonaktif, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kembali meminta maaf kepada seluruh umat Islam. Permintaan maaf itu disampaikannya saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar relawan Ahok di Jalan Talang, Jakarta Pusat.

“Untuk para kiai, ustaz, alim ulama yang hadir di tempat ini, juga tentu ibu-ibu yang hadir khususnya umat Islam di seluruh Indonesia, saya juga minta dibukakan pintu maaf sebesar-besarnya untuk saya,” ujar Ahok, Senin, 12 Desember.

Ahok mengaku sebagai manusia biasa, tentunya tak luput dari kesalahan. Sehingga, ia berharap umat Muslim memaafkannya. “Saya juga sebagai manusia yang penuh kekurangan,” kata Ahok.

Permintaan maaf Ahok ini terkait dugaan penistaan agama yang kini menjerat dia. Ahok pun meminta kepada ustaz dan alim ulama agar memberikan bimbingan dan tuntunan kepadanya. “Agar saya menjadi gubernur yang amanah yang sesuai dengan sifat teladan Nabi Muhammad,” tandas Ahok. (***)

Penerapan Pasal ‘Kolonial’ untuk Ahok Dipertanyakan

Gubernur DKI Jakarta, Basuki T Purnama (Ahok) saat berada di kantornya. (foto dok-net)

Gubernur DKI Jakarta, Basuki T Purnama Ahok ) saat berada di kantornya. (foto dok-net)

Jakarta, KABAROKE — Ketua Setara Institute, Hendardi, mempertanyakan kelayakan proses hukum terhadap Gubernur DKI nonaktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Dia menilai, dakwaan Kejaksaan, yakni Pasal 156 dan atau Pasal 156a KUHP, terkait penistaan agama sudah tidak punya kekuatan lagi. Pasalnya, khusus untuk Pasal 156a KUHP tersebut dinilai hanyalah produk masa kolonial Belanda.

“Jadi itu (Pasal 156a KUHP) konteksnya masa lalu, sudah tidak punya kaki lagi,” kata Hendardi di Cikini, Jakarta, Sabtu (10/12).

Dia menegaskan, pasal tersebut bakal menjadi bumerang bagi jaksa sendiri. Karena hal itu bisa saja dipakai oleh Kuasa Hukum Mantan Bupati Belitung Timur tersebut untuk membebaskan dirinya dari jeratan tersebut.

“Saya kira ini akan menjadi pembelaan Ahok di pengadilan,” katanya. (Iqbal)

1 2 3 4 12