Tiga Tersangka Korupsi Laboratorium UNM Ditahan

Pembangunan Laboratorium FT UNM Terbengkalai

Pembangunan Laboratorium FT UNM Terbengkalai

Makassar, KABAROKE — Penyidik Polda Sulsel menahan tiga tersangka kasus dugaan korupsi pembangunan gedung Laboratorium Terpadu Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar (UNM), Selasa, 23 Mei. Mereka adalah rekanan proyek yakni Direktur Utama PT Jasa Nusantara, Edy Rachmad Widianto; Team Leader Manajemen Konstruksi PT Asta Kencana Arsimetama, Yauri Razak; dan pejabat pembuat komitmen UNM, Profesor Mulyadi.

Kepala Bidang Humas Polda Sulsel Kombes Dicky Sondani mengatakan ketiga tersangka ditahan usai memenuhi panggilan penyidik untuk pemeriksaan. “Polda Sulsel menahan tiga tersangka dalam kasus dugaan korupsi UNM. Sebenarnya ada empat tersangka, tapi satu tersangka lainnya yakni Johny Anwar (Tim Teknis UNM) meninggal dunia dalam proses penyidikan,” kata Dicky, Selasa, 23 Mei.

Dicky menjelaskan para tersangka yang ditahan telah menjalani serangkaian pemeriksaan. Penyidik juga telah mengambil keterangan sejumlah saksi untuk memperkuat adanya perbuatan melawan hukum dalam perkara tersebut. Kesimpulan awal, mereka dinyatakan secara bersama-sama membuat laporan progres pekerjaan proyek yang tidak sesuai dengan realisasi di lapangan. “Laporan itu dibuat sebagai dasar pengajuan pembayaran sehingga negara mengeluarkan uang untuk membiayai,” terangnya.

Berdasarkan hasil perhitungan dari tim ahli konstruksi dari Universitas Hasanuddin (Unhas), progres pekerjaan sebenarnya baru 61,37 persen. Sedang, pembayaran yang dilakukan negara sudah mencapai 75,29 persen. Setelah kembali dilakukan penghitungan oleh BPKP Sulsel, didapati adanya kerugian negara mencapai Rp4 miliar lebih pada pembangunan Laboratorium Terpadu Fakultas Teknik UNM.

Para tersangka terjerat pasal 2 ayat (1) UU RI No.31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi dengan ancaman kurungan penjara maksimal 20 tahun.(tyk)

Begini Kronologi Ditembak Matinya Napi Berjuluk Kolor Ijo

Jenazah Iqbal alias Kolor Ijo di RS Bhayangkara Makassar

Jenazah Iqbal alias Kolor Ijo di RS Bhayangkara Makassar

Makassar, KABAROKE — Setelah 12 hari kabur dari Lapas Makassar, Ikbal alias Kolor Ijo, tewas ditembak di tengah hutan di Kecamatan Mangkutana Kabupaten Luwu Timur, Kamis, 18 Mei 2017. Petugas gabungan dari Polda Sulawesi Selatan yang melakukan pengejaran terpaksa menembak karena Ikbal melakukan perlawanan.

Lokasi persembunyian Ikbal, kata Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani, ditemukan petugas gabungan pada Rabu, 17 Mei 2017 lalu, setelah menyusuri hutan. Ikbal pun ditemukan, namun berhasil melarikan diri karena melihat kedatangan petugas.

Ketika melarikan diri, Ikbal yang membawa sebilah parang sempat ditembak oleh petugas. Namun, meskipun timah panas telah bersarang di tubuhnya, Ikbal tetap lolos dari pengejaran.

“Beberapa jam petugas melakukan penyisiran, Napi (Ikbal) ini tidak ditemukan. Pencarian pun dihentikan sementara, dan dilanjutkan keesokan harinya,” kata Dicky ketika dihubungi, Jumat, 19 Mei 2017.

Keesokan harinya, Kamis, 18 Mei 2017, tim Resmob Polda Sulsel, Jatanras Polrestabes Makassar dan Unit Khusus Polsek Mangkutana Polres Luwi Timur kembali menelusuri jejak pelarian Ikbal di dalam hutan. Petugas pun menemukan narapidana itu ketika bersembunyi.

“Akhirnya ditemukan oleh Personil gabungan, kemudian dikepung. Tapi dia (Ikbal) menyerang petugas menggunakan parang. Terpaksa tindakan tegas harus dilakukan. (Ditembaknya) Kena bagian dada, langsung meninggal,” kata Dicky.

Saat ini, jenazah Ikbal sudah berada di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar yang tiba hari ini. Parang yang dibawa Ikbal dan tenda biru yang digunakan sebagai gubug di tengah hutan, di amankan sebagai barang bukti.

Sebelumnya, tiga narapidana Lapas Klas 1 Makassar, yakni Ikbal (30 tahun), Rizal Budiman (22) dan Muhammad Tajrul (31) kabur pada pukul 03.00 wita, Minggu, 7 Mei 2017 lalu. Polisi sudah berhasil menangkap Rizal Budiman di Poso beberapa hari yang lalu, sementara Ikbal telah tewas tertembak.

Saat ini pengejaran masih dilakukan untuk mencari keberadaan Muhammad Tajrul. (Yasir)

BI dan Polda Sulsel Siap Tertibkan Money Changer Liar

BI Sulsel Menggelar Pemusnahan Uang Palsu untuk Pertama Kali

BI Sulsel Menggelar Pemusnahan Uang Palsu untuk Pertama Kali

Makassar, KABAROKE — Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulsel, Wiwiek Sisto Widayat, menegaskan Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank (KUPVA BB) alias money changer liar bisa dijerat pidana. Karena itu, pihaknya mengimbau agar pemilik usaha money changer taat dan tertib administrasi maupun hukum. Bila memang belum mengantongi izin dari BI, pihaknya menyarankan segera melakukan pengurusan.

“Jalan terakhir, BI bisa menggandeng kepolisian untuk membawanya ke ranah hukum,” kata Wiwiek, usai melakukan penandatanganan nota kesepahaman BI dan Polda Sulsel di Makassar, Rabu, (17/5/2017).

Menurut Wiwiek, setelah batas akhir masa peralihan ketentuan money changer yang baru berakhir pada 7 April, BI memang memang berkewenangan untuk mengambil langkah tegas. Namun, pihaknya masih mengedepankan upaya persuasif. Ia menyebut money changer liar yang didapatinya masih diberikan kesempatan untuk segera melakukan pengurusan. Langkah awal, pihaknya sebatas melakukan penegahan alias mencegah terjadinya transaksi valuta asing. Bila masih tetap bandel, BI bersama kepolisian akan melakukan penutupan yang bisa berlanjut pada proses hukum.

Sejauh ini, tercatat hanya ada empat money changer resmi yang beroperasi di Sulsel. Wiwiek menyatakan ada dua money changer lain yang sedang diproses untuk beroperasi. Masing-masing, satu money changer baru yang melakukan ekspansi usaha ke Sulsel dan satu money changer lama yang ingin kembali aktif. “Jadi totalnya nanti akan ada enam money changer resmi di Sulsel. Adapun untuk penindakan pada money changer ilegal akan dilakukan bersama kepolisian. BI kan tidak mungkin sendirian bertindak, apalagi untuk sampai ke penutupan dan proses hukum,” terang dia.

Pelibatan kepolisian, menurut Wiwiek, menindakalnjuti kerjasama di tingkat pusat. Bahkan, penertiban money changer liar tersebut juga akan melibatkan BNN dan PPATK. Adapun untuk di Sulsel, kerjasama penertiban money changer tidak berizin juga dituangkan dalam nota kesepahaman terbaru. Diakui Wiwiek, untuk penertiban tahap pertama masih difokuskan di wilayah kerja Kantor Pusat BI dan Kantor Perwakilan BI di Sumatera Utara, Bali dan Siantar. “Untuk Sulsel memang belum, tapi kami sudah lakukan pemetaan,” kata dia.

Kerjasama BI-Polda Sulsel sendiri diketahui mencantumkan sejumlah poin kesepahaman untuk disinergikan. Pertama, penanganan dugaan tindak pidana money changer liar dan penanganan dugaan pelanggaran kewajiban penggunaan rupiah di NKRI maupun dugaan tindak pidana terhadap rupiah. Kedua, pemeliharaan keamanan dan ketertiban dalam negeri yang meliputi pengamanan dan pengawalan barang berharga milik negara.

“Termasuk pembinaan dan pengawasan terhadap Badan Usaha Jasa Pengamanan yang melakukan kegiatan usaha kawal angkut dan pengelolaan rupiah,” terang Wiwiek.

Kepala Polda Sulsel Irjen Muktiono menegaskan komitmen Polri untuk mengawal kebijakan BI, termasuk penertiban money changer liar dan penindakan terhadap kejahatan perbankan. “Kami akan terus mendukung tugas BI selaku otoritas monoter dan otoritas sistem pembayaran. Itu penting agar BI bisa fokus dalam bekerja menjaga stabilitas nilai rupiah,” pungkasnya.

Getolnya BI menyampaikan pentingnya perizinan money changer memang dimaksudkan untuk memudahkan pengawasan sebagai upaya antisipasi kejahatan perbankan. Diketahui banyak money changer di Indonesia yang ditengarai disalahgunakan oleh pengelolanya untuk melakukan penipuan dan pencucian uang alias money laundring. (***)

BI Sulsel Musnahkan 3.604 Lembar Uang Palsu

BI Sulsel Menggelar Pemusnahan Uang Palsu untuk Pertama Kali

BI Sulsel Menggelar Pemusnahan Uang Palsu untuk Pertama Kali

Makassar, KABAROKE — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulsel untuk pertama kali menggelar pemusnahan uang palsu, Rabu, 17 Mei. Pemusnahan 3.604 lembar uang palsu tersebut disaksikan dan turut dilakukan oleh perwakilan kepolisian, kejaksaan dan pengadilan setempat di Kantor Perwakilan BI Sulsel Lantai IV, Jalan Jenderal Sudirman, Kota Makassar. Ribuan lembar uang palsu yang dimusnahkan telah melalui proses hukum di pengadilan dan berstatus inkracht alias memiliki kekuatan hukum tetap.

Kepala Kantor Perwakilan BI Sulsel Wiwiek Sisto Widayat mengungkapkan pemusnahan uang palsu dilakukan pihaknya menyusul adanya kebijakan baru yang memperbolehkan kantor perwakilan memusnahkan uang palsu yang telah berkekuatan hukum tetap. Kebijakan tersebut diterbitkan pada 2016 dengan tujuan untuk efisiensi dan efektivitas pemberantasan uang palsu. Dulunya, kata Wiwiek, pemusnahan uang palsu hanya menjadi domain kantor pusat.

“Kebijakan desentralisasi, termasuk soal pemusnahan (uang palsu) di daerah dilakukan demi efisiensi dan efektivitas penghapusan uang palsu. Kebijakan ini berlaku sejak 2016 dan untuk pertamakali kami melakukan pemusnahan uang palsu pada hari ini. Intinya, pemusnahan bisa kami lakukan sepanjang telah melalui pengadilan dan memiliki kekuatan hukum tetap,” kata Wiwiek, seusai acara pemusnahan 3.604 lembar uang palsu di Makassar, Rabu, 17 Mei.

Dari pantauan awak media, pemusnahan ribuan lembar uang palsu tersebut dilakukan menggunakan empat mesin penghancur kertas. Beragam pecahan uang palsu tampak dimasukkan satu per satu dalam mesin tersebut. Adapun uang palsu yang dimusnahkan berasal dari temuan dan laporan berbagai bank maupun masyarakat. Uang palsu yang dimusnahkan adalah temuan periode Desember 2015 hingga Maret 2017 lalu.

Berdasarkan catatan BI, tercatat 2.288 lembar uang palsu yang ditemukan di Sulsel sepanjang 2016. Kebanyakan ditemukan di Kota Makassar. “Kebanyakan memang di Makassar, bahkan mencapai 90 persen. Lalu diikuti Parepare (5,9 persen), Bone (2,5 persen), Pinrang (1,14 persen), Bulukumba (0,08 persen) dan lainnya. Semakin banyaknya temuan uang palsu mengindikasikan masyarakat kian cerdas mengenali rupiah,” terang Wiwiek.

Kepala Polda Sulsel Irjen Muktiono mengungkapkan peredaran uang palsu merupakan ancaman dan kejahatan serius yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Karena itu, pihaknya senantiasa menjalin koordinasi dengan BI terkait pemberantasan uang palsu. Kepolisian juga siap membantu BI dalam mensosialisasikan ciri keaslian rupiah. Terlebih, otoritas monoter Indonesia tersebut baru saja mengeluarkan rupiah baru emisi tahun 2016.

Muktiono juga meminta peran media untuk membantu mensosialisasikan ciri keaslian rupiah dan memberantas uang palsu. Salah satu caranya dengan memberikan edukasi bahwa temuan uang palsu tidak ada nilainya sehingga tidak perlu dituliskan nominalnya. “Cukup jumlah lembarannya saja karena uang palsu itu tidak ada nilainya. Lalu soal rupiah emisi baru, kita bersama-sama mesti mensosialisasikan agar semua masyarakat tahu dan tak tergiring isu sesat, seperti logo mirip palu arit dan lain-lain,” tuturnya.

Lebih jauh, Muktiono menjelaskan untuk memberantas peredaran uang palsu yang biasanya kian marak menjelang Ramadan, pihaknya siap membentuk tim khusus dengan melibatkan BI. Sepanjang 2016, Polda Sulsel sendiri menangani setidaknya delapan kasus temuan uang palsu. Namun, pihaknya tidak menyebut adanya penetapan tersangka lantaran sebatas temuan yang langsung diteruskan ke BI. Kepolisian sendiri ditegaskannya siap melakukan penegakan hukum bila ditemukan bukti terkait pemalsuan rupiah maupun kejahatan perbankan lain. (tyk)

Pernah Perkosa 30 Perempuan, Napi Makassar yang Kabur Dijuluki Kolor Ijo

Ilustrasi

Ilustrasi

Makassar, KABAROKE — Salah seorang narapidana dari tiga narapidana Lapas Klas 1 Makassar yang berhasil kabur, Minggu dini hari kemarin, merupakan pembunuh yang dikenal sadis. Bahkan, karena pernah memerkosa 30 perempuan, Ikbal (30 tahun) alias Bala juga dijuluki Kolor Ijo dari Luwu Timur.

Kabid Humas Polda Sulawesi Selatan, Kombes Pol Dicky Sondani menjelaskan, tindak kriminal yang dilakukan Ikbal dengan memperkosa 30 perempuan itu mengakibatkan dua diantaranya meninggal dunia. Mirisnya, kata dia, alat vital dua korban dari Kolor Ijo itu bahkan sobek karena ditusuk menggunakan pisau.

Aksi sadisnya itu terhenti setelah pihak kepolisian meringkus Ikbal pada 21 November 2015 lalu. Sidang Perdananya digelar di Pengadilan Negeri Malili, Luwu Timur, pada April 2016 lalu. Ikbal dijerat pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dan dijerat hukuman seumur hidup.

Ikbal diketahui merupakan warga Jalan Dusun Kampung Baru, Desa Sido Agung, Kecamatan Kalanea, Kabupaten Luwu Timur, Sulsel. Sementara dua narapidana lainnya, yakni Rizal Budiman alias Ical (22), warga Jalan Apo Bengkel, Jaya Pura Utara, Papua, serta Muhammad Tajrul Kilbareng Bin Kalbaren alias Arun (31) warga Jalan RA Kartini (Bengkel Pani Motor), Kelurahan Rutrei Distrik Sorong Wijaya Distrik Jaya Pura Utara, Papua.

Kini, Ikbal bersama dua rekannya dari Lapas Klas 1 Makassar berstatus buron dan dalam pengejaran tim khusus Polda Sulawesi Selatan serta Polrestabes Makassar. Sebelumnya, sembari menunggu waktu eksekusi humuman mati, Ikbal bersama dua rekannya yang merupakan narapidana dengan hukuman seumur hidup berhasil kabur pada pukul 03.00 wita, Minggu kemarin, 7 Mei 2017.

“Sejak kemarin kami sebar foto dan profil mereka. Kita juga langsung bentuk tim khusus untuk mengejar mereka. Kami yakin pelarian mereka ini tidak akan lama,” kata Dicky ketika dihubungi, Senin, 8 Mei 2017.

Dicky menjelaskan, wilayah pencarian tidak hanya difokuskan di wilayah hukum Kota Makassar saja, melainkan ke seluruh wilayah di Sulawesi Selatan. Apalagi, tahanan yang kabur itu baru diketahui tiga jam setelah mereka berhasil kabur.

“Kita sudah bentuk tim dan akan dikejar kemanapun. Lembaran DPO-nya juga sudah disebar agar masyarakat tahu. Kami sarankan lebih baik kalian menyerahkan diri saja. Kalau mereka melawan, ya terpaksa kami melakukan tindakan tegas,” ujarnya. (Yasir)

 

Polda Sulsel: Cara Napi Kabur Bak Adegan Film Action Hollywood

Ilustrasi Tahanan Kabur

Ilustrasi Tahanan Kabur

Makassar, KABAROKE — Rizal Budiman (22 tahun), Tajrul Kilbareng (31), dan Iqbal alias Bala (31) berhasil kabur dari Lembaga Pemasyarakat (Lapas) Klas 1 Makassar, Minggu dini hari kemarin, 7 Mei 2017.

Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani menyebut, cara tiga narapidana yang kabur itu bagaikan adegan film hollywood. Apalagi, kata dia, pelarian tiga napi kasus pembunuhan itu lambat disadari oleh petugas lapas.

Ia menjelaskan, cara kabur para napi bermula ketika mereka menggergaji besi penutup lubang ventilasi udara di kamar mereka. Mereka kemudian menyusuri ventilasi udara tersebut hingga berhasil keluar dari blok kamar mereka.

Setelah itu, ketiganya merayap menyusuri gorong-gorong saluran pembuangan air, menuju tembok pembatas. Menggunakan sarung yang telah diberikan besi pemberat, mereka kemudian berhasil memanjat tembok. Sarung itu juga yang mereka gunakan untuk turun dari tembok.

Lokasi mereka memanjat, kata Dicky, tepat disebuah menara pos penjagaan. Hanya saja, pada pos itu, tak ada petugas yang berjaga.

“Mereka loncat, kemudian mereka lewat gorong-gorong air, lanjut mereka loncat ke pos, pos yang tengah, kebetulan pos tersebut tidak ada orang. Banyak pos tidak ada orang, Sabtu malam itu yang jaga cuma delapan orang di LP ini,” kata Dicky ketika mintai tanggapannya, Senin, 8 Mei 2017.

Pihak kepolisian telah menyita sejumlah barang bukti dari alat yang digunakan para napi untuk kabur. Diantaranya, gergaji berukuran kecil, besi berbentuk jangkar dan sarung.

“Dari pos itu, mereka loncat, tapi kita temukan juga, ada paku-paku ini dibengkokkan seperti jangkar, kalau kita liat, seperti difilm-film action hollywood itu, ketika mau loncat di dinding pakai jangkar itu. Kemungkinan mereka bisa turun pakai itu,” bebernya.

Ia menyatakan pihaknya telah membentuk satuan khusus untuk mengejar tiga narapidana itu.

“Kita sudah bentuk tim, kita akan kejar. Kita gini saja, saya sarankan lebih baik menyerahkan diri saja, kita udah bentuk tim. Kalau mereka melawan terpaksa kami akan lakukan tindakan tegas. Kita akan kejar kemanapun, lembaran DPO-nya juga sudah kita sebar,” ujarnya. (Yasir)

Fenomena ‘Serbuan’ Karangan Bunga Juga Ada di Markas Polda Sulsel

Karangan Bunga di Markas Polda Sulsel

Karangan Bunga di Markas Polda Sulsel

Makassar, KABAROKE — Setelah ribuan karangan bunga dikirim untuk Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat atau Ahok-Djarot ke Balai Kota DKI Jakarta, kemudian sampai ke Istana Negara melalui gedung Sekretariat Negara, kini giliran Markas Polda Sulawesi Selatan mendapatkan hal serupa, Jumat, 5 Mei 2017.

Berdasarkan pantauan Kabaroke.com, jumlah karangan bunga tersebut sebanyak 72 buah. Pesannya beragam, mulai dari ucapan bertuliskan “NKRI Harga Mati” hingga ucapan terima kasih karena jajaran Polri dinilai mampu memberantas terorisme.

Karangan bunga itu banyak dijumpai di halaman Mapolda Sulsel. Di bawah tulisan itu tertera banyak nama pengirimnya. Ada karangan bunga yang dikirim atas nama Pecinta Warkop Makassar dan ada juga dari sejumlah perusahaan.

Bahkan, ada yang mengatasnamakan Pemerintah Kabupaten Bone hingga Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar. Tampak, ada juga mengatasnamakan Sekda Maros.

Kepala Bidang Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani mengungkapkan, sejak Jumat pagi tadi, jumlah karangan bunga di kantornya terhitung 61 buah. Namun, kata dia, itu akan terus bertambah. Sebab karangan bunga disebut datang satu persatu sejak Kamis kemarin.

“Ini sejak kemarin. Ada yang mencantumkan nama, ada juga yang tanpa pengirim. Mungkin masih ada yang menyusul,” kata Dicky di Makassar, Jumat, 5 Mei 2017.

Dicky menjelaskan pihaknya menerima baik kiriman karangan bunga tersebut. Sebab, menurutnya, itu dianggap sebagai bentuk dukungan masyarakat kepada institusi penegak hukum. Karangan bunga juga jadi motivasi tersendiri bagi para aparat.

“Yah meskipun terkesan ikut-ikutan seperti yang ada di Polda Jabar kemarin, kami tetap mengucapkan terima kasih atas apresiasi yang ditunjukkan masyarakat,” ucapnya.

Sebelumnya, ribuan karangan bunga mengalir ke Balai Kota DKI. Isinya  beragam, mulai dari menyatakan simpati kepada Ahok-Djarot usai kalah di Pilkada DKI Jakarta hingga meminta Ahok dibebaskan dari hukuman dalam kasus dugaan penodaan agama.

Kemudian, karangan bunga juga datang ke Mabes Polri. Intinya memberi dukungan dan terima kasih kepada Presiden, Polri dan TNI karena telah mampu menjaga keutuhan NKRI.  (Yasir)

Seperti di Istana Negara, Karangan Bunga Juga Ada di Polda Sulsel

Markas Polda Sulsel

Markas Polda Sulsel

Makassar, KABAROKE — Setelah ribuan karangan bunga dikirim untuk Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat atau Ahok-Djarot ke Balai Kota DKI Jakarta, kemudian sampai ke Istana Negara melalui gedung Sekretariat Negara, kini giliran Markas Polda Sulawesi Selatan mendapatkan hal serupa, Jumat, 5 Mei 2017.

Berdasarkan pantauan Kabaroke.com, jumlah karangan bunga tersebut sebanyak 72 buah. Pesannya beragam, mulai dari ucapan bertuliskan “NKRI Harga Mati” hingga ucapan terima kasih karena jajaran Polri dinilai mampu memberantas terorisme.

Karangan bunga itu banyak dijumpai di halaman Mapolda Sulsel. Di bawah tulisan itu tertera banyak nama pengirimnya. Ada karangan bunga yang dikirim atas nama Pecinta Warkop Makassar dan ada juga dari sejumlah perusahaan.

Bahkan, ada yang mengatasnamakan Pemerintah Kabupaten Bone hingga Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar. Tampak, ada juga mengatasnamakan Sekda Maros.

Kepala Bidang Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani mengungkapkan, sejak Jumat pagi tadi, jumlah karangan bunga di kantornya terhitung 61 buah. Namun, kata dia, itu  akan terus bertambah. Sebab karangan bunga disebut datang satu persatu sejak Kamis kemarin.

“Ini sejak kemarin. Ada yang mencantumkan nama, ada juga yang tanpa pengirim. Mungkin masih ada yang menyusul,” kata Dicky di Makassar, Jumat, 5 Mei 2017.

Dicky menjelaskan pihaknya menerima baik kiriman karangan bunga tersebut. Sebab, menurutnya, itu dianggap sebagai bentuk dukungan masyarakat kepada institusi penegak hukum. Karangan bunga juga jadi motivasi tersendiri bagi para aparat.

“Yah meskipun terkesan ikut-ikutan seperti yang ada di Polda Jabar kemarin, kami tetap mengucapkan terima kasih atas apresiasi yang ditunjukkan masyarakat,” ucapnya.

Sebelumnya, ribuan karangan bunga mengalir ke Balai Kota DKI. Isinya  beragam, mulai dari menyatakan simpati kepada Ahok-Djarot usai kalah di Pilkada DKI Jakarta hingga meminta Ahok dibebaskan dari hukuman dalam kasus dugaan penodaan agama.

Kemudian, karangan bunga juga datang ke Mabes Polri. Intinya memberi dukungan dan terima kasih kepada Presiden, Polri dan TNI karena telah mampu menjaga keutuhan NKRI. (Yasir)

Polda Sulsel Amankan 4,3 Ton Pupuk Oplosan di Gowa

Konferensi Pers Polda Sulsel Pengungkapan Praktik Peredaran Pupuk Oplosan

Konferensi Pers Polda Sulsel Pengungkapan Praktik Peredaran Pupuk Oplosan

Makassar, KABAROKE — Polda Sulawesi Selatan merilis pengungkapan 4,3 ton pupuk non subsidi yang diduga oplosan di Kabupaten Gowa. Adapun jenis pupuk yang diamankan sebagai barang bukti itu yakni pupuk padat merk Poppro dan Super Kompos.

“Pupuk ini merupakan pupuk oplosan. Pelaku mencampur produk mereka ini dengan batu kapur, kemudian dicampur ke dalam ember, lalu dimaksukkan pupuk bersubsidi. Kemudian mereka berikan pewarna makanan, aduk, campur lalu dikemas,” kata Wakapolda Sulsel Brigjen Pol Gatot Eddy Pramono dalam keterangan persnya, di Rumah Toko Usaha Dagang Harapan Tani, Gowa, Rabu, 19 April 2017.

Eddy menjelaskan, pengungkapan 4,3 ton pupuk oplosan tersebut setelah penyidik Direktorat Reskrimsus Polda Sulsel melakukan penyeledikan menindaklantuji laporan masyarakat. Sebanyak dua orang diamankan, yakni pemilik toko, inisial SL (51 tahun) dan satu orang yang diketahui sebagai produsen pupuk berinisial MB.

“Keduanya belum kami tetapkan sebagai tersangka, karena saat ini kami masih melakukan penyelidikan. Tapi setelah hasil laboratorium sudah keluar, statusnya akan kami naikkan menjadi penyidikan,” kata Eddy.

Menurutnya, terhadap produsen pupuk tersebut, pihaknya telah menyegel pabrik pupuk milik MB. Dugaannya, kata dia, pupuk yang diproduksi itu tidak sesuai dengan komposisi ataupun mutu yang telah dianjurkan dinas pertanian.

“Pupuk ini kemudian diedarkan oleh pedagang SL di Kabupaten Gowa kepada masyarakat atau kelompok tani,” ucapnya.

Barang Bukti Pupuk Oplosan di Gowa

Barang Bukti Pupuk Oplosan di Gowa

Jumlah barang bukti, Eddy menyebut, pupuk merk Poppro ada sebanyak 2,7 ton dan merk Super Kompos sebanyak 1,6 ton. Untuk merk Poppro, SL menjualnya seharga Rp30.000 per kardus sedangkan untuk Super Kompos seharga Rp17.500 per 16 kilo gram.

Sementara itu, Kepala Seksi Pupuk dan Pestisida Dinas Pertanian Sulsel, Uvan Shagir menjelaskan, dari hasil uji sampel, pupuk tersebut sangat tidak dianjurkan untuk diedarkan. Zat kandungannya, kata Uvan, tidak sesuai dengan anjuran dari dinas pertanian.

“Kalau pakai pupuk ini, petani malah rugi. Bukannya hasil panen banyak, melainkan malah mengurangi hasil panen,” kata Uvan.

Menurutnya, produk pupuk tersebut juga tidak memiliki izin produksi sejak tahun 2006 lalu. Menurut Uvan, seharusnya produsen melakukan pembaharuan izin dalam waktu lima tahun sekali.

“Selama 11 tahun terakhir tidak pernah daftar ulang. Pupuknya palsu atau tidak nanti kita uji kandungannya. Hasil yang kami dapatkan di gudang ternyata dia campur dengan kapur, pewarna makanan, urea subsidi, merusak hara tanah bisa juga karena kandungannya,” jelasnya. (Yasir)

Ini Alasan Polisi Bubarkan Paksa Tabligh Akbar HTI

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Dicky Sondani

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Dicky Sondani

Makassar, KABAROKE — Tabligh Akbar Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) bertajuk Masirah Panji Rasulullah di Lapangan Karebosi dan Menara Bosowa Makassar, Sulawesi Selatan, akhirnya dibubarkan, Minggu.

Alasan pembubaran itu karena pihak kepolisian tidak mengeluarkan izin resmi terkait dengan kegiatan tersebut termasuk mendapat penolakan dari Organisasi Masyarakat (Ormas) lainnya karena dianggap ideologi Khalifah tidak sesuai dengan ideologi Pancasila.

“Kami tidak ingin terjadi benturan dan berujung konflik nantinya. Bukan hanya Makassar daerah lainnya juga ditolak kegiatan sejenis ini. Kami berharap tidak sampai terjadi,” kata Kabid Humas polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani di sela pengamanan jalan Jenderal Sudirman, seperti dilansir Antara, Ahad, 16 April.

Dirinya menjelaskan, dalam aturan Undang-undang harus ada penanggung jawab, tetapi dari ormas HTI tidak mampu diberikan. Sehingga polisi berkewajiban untuk melakukan pelarangan agar konflik tidak terjadi.

“Kemarin sudah ada benih konfik, GP Ansor akan menghalau bila tabligh akbar itu tetap digelar, makanya kita mengamankan jangan sampai ada benturan antaragama, kasihan warga kota bila konflik itu terjadi, sehingga harus dicegah,” paparnya.

Berdasarkan pantauan, di sepanjang jalan Jenderal Sudirman berdekatan dengan Lapangan Karebosi dan Menara Bosowa massa HTI sudah memadati lokasi itu, namun diseberang jalan dekat Monumen Mandala, massa GP Ansor juga bersiap untuk membatalkan kegiatan itu.

Namun meski dicegah, kericuhan tetap pecah, saat massa HTI sebelumnya berorasi di jalan Sudirman dan meninggalkan lokasi tersebut, lalu di hadang massa GP Ansor dan Basernya dibantu Front Pemberla Islam (FPI) Sulsel.

Saling dorong tidak dapat dihindarkan setelah bendera serta umbul-umbul yang dibawa HTI diturunkan massa aksi lainnya yang bersebrangan, kontak fisik pun tidak dapat dihindari.

Melihat kejadian itu, aparat yang sudah berjaga-jaga membubarkan dua massa aksi yang berseteru tersebut. Kendati polisi bersenjata lengkap awalnya kewalahan membubarkan dua kelompok bersitengang itu karena keduanya ngotot, namun tetap dibubarkan paksa.

Kedua kelompok ini kemudian menarik diri, saat polisi mulai refresif menekan massa. Usai bentrokan polisi melakukan pengawalan ketat kepada dua kelompok yang berseberangan itu pulang untuk meninggalkan lokasi kejadian. Kondisi lalu lintas pun kembali normal. (***)

1 2 3 4 5 19