Video Ahok ‘Sesumbar Masuk Surga’ Diputar di Pengadilan, Hakim Tanyakan Ini

Sidang Lanjutan Kasus Penodaan Agama yang Menjerat Ahok

Sidang Lanjutan Kasus Penodaan Agama yang Menjerat Ahok

Jakarta, KABAROKE – Jaksa Penuntut Umum (JPU) kembali memutar video sebagai barang bukti dalam persidangan kasus dugaan penistaan agama. Kali ini jaksa memutarkan video saat terdakwa yang juga gubernur non-aktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama melakukan rapat pimpinan (rapim).

Dalam video itu Ahok terlihat marah kepada anak buahnya dan menyinggung soal iman. Video itu juga diedit dengan pengulangan pada beberapa kata.

“Aku ingatin berkali-kali, orang kasih tausiyah tausiyah, tausiyah, tausiyah, kekuasaan punya Tuhan. Kalau saya ditentukan dengan kekuasaan Tuhan mau kasih ke saya, lu mau jungkir balik tetep gua gubernur lu. Santai aja. Ga usah khawatir. Kita orang beriman, orang beragama semua toh. Saya beriman sama Tuhan,” kata Ahok dalam video tersebut di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (4/4).

Bahkan nyawa saya, saya tidak pernah takut. Karena saya tahu ke mana saya akan pergi kalau saya mati. Itu namanya iman. Bukan cuma ngomong doang iman. Masih ngomong iman iman, sembayang apa iman iman, sembayang apa iman iman, sembayang apa iman iman. Imannya apa? Gua kasih tau lu iman seperti apa. Kenapa saya tidak pernah takut kehilangan jabatan karena saya tahu jabatan itu Tuhan kasih. Kenapa saya ga pernah takut saya mati, karena saya tahu saya pasti masuk surga, dan dapat rumah, dapat makan. Itu jaminan nabi saya. Saya pengikut Nabi Isa, saya pengikut Nabi Isa, saya pengikut Nabi Isa. Jelas janjinya,” lanjut Ahok dalam videonya.

Video tersebut juga diedit dengan penambahan narasi yang mengkritik sikap Ahok yang marah saat itu

“Pejabat pemprov yang hadir saat itu dia pasti mayoritas muslim. Tentu itu bukan pada tempatnya (Ahok marah). Kalau itu diberikan silakan. Tapi kenapa disampaikan dalam rapat pemprov DKI dalam nada emosional. Menurut saya beliau termasuk penganut kristen yang sesumbar bahwa dengan iman dia paling benar,” kata seseorang dalam narasi video itu.

Ketua Majelis Hakim Dwiarso Budi Santiarto mengkonfrontir kepada Ahok apakah dalam video itu benar dirinya. Ahok pun membenarkan. Namun Ahok langsung menegaskan bahwa video itu telah diedit. Ia pun menceritakan alasannya marah dalam video yang ditayangkan.

“Sebetulnya saya lagi marahin mereka yang korupsi. Saya bilang yang masih korupsi ga usah sembayang, ga usah solat, ga usah ngaku bersih karena masih curi orang rakyat,” jelasnya.

“Dipotong ya?,” tanya hakim kembali.

Ahok kembali menegaskan dirinya saat itu marah untuk memotivasi agar para pegawai negeri sipil (PNS) yang beriman tidak melakukan korupsi.

“Ya saya marah. Lalu saya mendorong orang, mari kita dengarkan yang baik. Kalau orang beriman tidak curi uang rakyat, tidak mengharapkan jabatan. Itu saya sampaikan,” pungkas Ahok.

Jaksa Sebut Banyak Bukti Video Penodaan Ahok

Gubernur DKI Jakarta, Basuki T Purnama alias Ahok

Gubernur DKI Jakarta, Basuki T Purnama alias Ahok

Jakarta, KABAROKE — Ketua Tim Jaksa Penuntut Umum kasus penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) Ali Mukartono mengaku pihaknya membawa banyak video dalam sidang lanjutan kasus penodaan agama dengan agenda pemeriksaan terdakwa dan barang bukti.

Menurut dia, salah satu contoh video itu adalah pidato saat kunjungan Ahok di Kepulauan Seribu September 2016 lalu.

“Kami membawa banyak banget, karena apa yang disita penyidik itu menjadi tanggung jawab kami untuk dikonfirmasi kepada terdakwa. Misalnya video dari saksi pelapor kan hampir semua sama kemudian dari Dinas Kominfo Pemprov DKI dan sebagainya,” kata Ali di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (4/4/2017).

Selain bukti video, Ali menyatakan JPU juga membawa dokumen cetak, salah satunya dari buku Ahok berjudul “Marubah Indonesia”.

“Kami juga bawa flashdisk. Kan intinya itu pembicaraan beliau di Kepulauan Seribu,” ucap Ali.

Ia memastikan sidang ke-17 Ahok digelar dengan dua agenda yaitu pemeriksaan terdakwa dan dilanjutkan dengan pemeriksaan barang bukti.

“Hari ini rencananya dua agenda, pemeriksaan terdakwa dan kalau ada waktu dilanjutkan pemeriksaan barang bukti untuk dicocokkan dengan keterangan terdakwa. Itu sesuai agenda dari pengadilan atau hakim, kita tunggu hasilnya,” tuturnya.

Ahok dikenakan dakwaan alternatif yakni Pasal 156a dengan ancaman 5 tahun penjara dan Pasal 156 KUHP dengan ancaman 4 tahun penjara.

Menurut Pasal 156 KUHP, barang siapa di muka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

Perkataan golongan dalam pasal ini dan pasal berikutnya berarti tiap-tiap bagian dari rakyat Indonesia yang berbeda dengan suatu atau beberapa bagian lainnya karena ras, negeri asal, agama, tempat asal, keturunan, kebangsaan atau kedudukan menurut hukum tata negara.

Sementara menurut Pasal 156a KUHP, pidana penjara selama-lamanya lima tahun dikenakan kepada siapa saja yang dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia. (***)

Ini Jawaban Ahok Saat Ditanya Tentang Video Penodaan Agama

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok [dok net]

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok [dok net]

Jakarta, KABAROKE – Terdakwa kasus dugaan penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengakui bahwa dirinya tidak ditunjukkan video secara penuh oleh penyidik saat di berita acara pemeriksaan (BAP).

Hal itu bermula ketika Ketua Majelis Hakim Dwiarso Budi Santiarto menanyakan apakah benar yang ada pada video berdurasi satu jam 47 menit itu merupakan dirinya.

“Ini benar saudara? Sampai di situ BAP nya?” Tanya Dwiarso di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (4/4)

Meski membenarkan, bahwa yang ada dalam video itu dirinya tapi tidak keseluruhan video diperlihatkan penyidik saat di BAP.

“Waktu di BAP enggak dikasih liat (video sampai habis). BAP saya hanya sampai meletakkan mic (selesai pidato) tanya jawabnya enggak ada,” jawab Ahok.

Hingga saat ini sudah ada empat video yang ditayangkan majelis hakim.

Keempat video tersebut terdiri dari: satu video pendek berdurasi sekitar 30 detik tentang pidato Ahok di Kepulauan Seribu yang menyinggung surat Al-Maidah Ayat 51, satu video panjang pidato Ahok, satu video ketika Ahok menyapa warga dan wawancara dengan wartawan, dan satu video partai Nasional Demokrat (NasDem) dimana Ahok juga menyinggung surat Al-Maidah.

Saat ini Ahok berstatus sebagai terdakwa dalam perkara dugaan penodaan agama. Pernyataannya terkait Surat Al-Maidah Ayat 51 membawanya ke meja hijau. Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwa Ahok dengan dakwaan alternatif antara Pasal 156 a KUHP atau Pasal 156 KUHP. (***)

Sidang Lanjutan Ahok Diawali Pemutaran Video

Suasana Sidang Lanjutan Ahok

Suasana Sidang Lanjutan Ahok

Jakarta, KABAROKE – Sidang lanjutan kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama diawali dengan pemutaran barang bukti berupa video dari pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU).

“Sekarang kita akan periksa bukti atau surat rekaman dari JPU baru ke penasehat hukum,” kata Ketua Majelis Hakim, Dwiarso Budi Santiarso dalam persidangan di Auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta, Selasa (4/4).

Video pertama yang diputar dalam persidangan yakni potongan video ketika Ahok berpidato di Kepulauan Seribu pada 27 September 2016 lalu. Video itu merekam Ahok saat mengutip surat Al Maidah ayat 51.

Setelah itu, JPU kembali memutarkan video Pemprov DKI tertanggal 7 Oktober 2016. Video itu menampilkan saat pertama kali Ahok dimintai tanggapannya oleh wartawan terkait pernyataan di Kepulauan Seribu tersebut.

Selama persidangan majelis hakim sempat bertanya kepada Ahok apakah yang dalam video itu betul adalah dirinya.

“Betul, ini gambar saudara?” tanya Dwiarso kepada Ahok.

“Betul, Yang Mulia,” jawab eks Bupati Belitung Timur itu.

Ahok hari ini kembali duduk di kursi panas Auditorium Kementan, Ragunan, sebagai pesakitan kasus dugaan penistaan agama yang menyeretnya. Sidang ini adalah muara dari polemik pidato Ahok mengutip surat Al Maidah ayat 51 saat kunjungan kerja ke Kepulauan Seribu akhir tahun lalu.

– Sidang lanjutan kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama diawali dengan pemutaran barang bukti berupa video dari pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU).

“Sekarang kita akan periksa bukti atau surat rekaman dari JPU baru ke penasehat hukum,” kata Ketua Majelis Hakim, Dwiarso Budi Santiarso dalam persidangan di Auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta, Selasa (4/4).

Video pertama yang diputar dalam persidangan yakni potongan video ketika Ahok berpidato di Kepulauan Seribu pada 27 September 2016 lalu. Video itu merekam Ahok saat mengutip surat Al Maidah ayat 51.

Setelah itu, JPU kembali memutarkan video Pemprov DKI tertanggal 7 Oktober 2016. Video itu menampilkan saat pertama kali Ahok dimintai tanggapannya oleh wartawan terkait pernyataan di Kepulauan Seribu tersebut.

Selama persidangan majelis hakim sempat bertanya kepada Ahok apakah yang dalam video itu betul adalah dirinya.

“Betul, ini gambar saudara?” tanya Dwiarso kepada Ahok.

“Betul, Yang Mulia,” jawab eks Bupati Belitung Timur itu.

Ahok hari ini kembali duduk di kursi panas Auditorium Kementan, Ragunan, sebagai pesakitan kasus dugaan penistaan agama yang menyeretnya. Sidang ini adalah muara dari polemik pidato Ahok mengutip surat Al Maidah ayat 51 saat kunjungan kerja ke Kepulauan Seribu akhir tahun lalu. (Iqbal)

Ahok Hadirkan 7 Saksi Ahli

Gubernur DKI Jakarta, Basuki T Purnama alias Ahok

Gubernur DKI Jakarta, Basuki T Purnama alias Ahok

Jakarta, KABAROKE – Tim Kuasa Hukum terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dijadwalkan menghadirkan tujuh saksi ahli dalam lanjutan sidang kasus penodaan agama di Auditorium Kementerian Pertanian di Jakarta Selatan, Rabu (29/3).

“Ada tujuh saksi ahli yang rencananya dihadirkan. Dua orang saksi ahli yang sudah ada di BAP dan lima lainnya yang belum masuk di BAP,” kata Humas Pengadilan Negeri Jakarta Utara Hasoloan Sianturi saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu (29/3).

Dua orang saksi ahli yang sudah masuk di BAP, yakni ahli Psikologi Sosial yang juga Direktur Pusat Kajian Representasi Sosial dan Laboratorium Psikologi Sosial Eropa Risa Permana Deli dan ahli bahasa sekaligus Guru Besar Linguistik Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta Bambang Kaswanti Purwo.

Sementara lima saksi ahli yang belum masuk di BAP, yaitu ahli Agama Islam yang juga Wakil Ketua Mustasyar Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), Hamka Haq, ahli Agama Islam sekaligus Wakil Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Masdar Farid Mas’udi, dan ahli Agama Islam yang juga dosen tafsir Al Quran UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Sahiron Syamsuddin.

Selanjutnya, ahli hukum pidana yang juga praktisi hukum serta pensiunan Wakil Ketua Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Muhammad Hatta dan ahli hukum pidana sekaligus dosen hukum pidana Universitas Udayana I Gusti Ketut Ariawan.

Sidang ke-16 Ahok sendiri dijadwalkan dimulai pada pukul 09.00 WIB.

Sementara arus lalu lintas di depan Gedung Kementerian Pertanian Jakarta Selatan tepatnya di Jalan RM Harsono baik yang mengarah ke Ragunan maupun Mampang Prapatan sudah ditutup oleh pihak kepolisian baik untuk jalur umum maupun Bus Transjakarta. (Iqbal)

Ini Kesaksian Ahli Linguistik dalam Sidang Ahok

Basuki T Purnama (Ahok)/dok net

Basuki T Purnama (Ahok)/dok net

Jakarta, KABAROKE – Ahli linguistik Rahayu Surtiati Hidayat mengatakan terdapat enam klausa dalam pidato Ahok yang menyinggung Surat Al Maidah Ayat 51.

Pernyataan itu dilontarkan Rahayu menanggapi pertanyaan Ketua Majelis Hakim Dwiarso Budi Santiarto dalam sidang ke-15 Ahok di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (21/3).
“Dalam rangkaian kalimat itu punya arti tidak?” tanya Ketua Majelis Hakim Dwiarso Budi Santiarto.

“Pasti punya karena ini kalimat yang terdiri dari beberapa klausa yang mempunyai hubungan satu sama lain,” kata Rahayu.

Kluasa pertama, kata Rahayu, “jangan percaya sama orang”, kedua “kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu enggak bisa pilih saya, dan ketiga “karena dibohongin pakai Surat Al Maidah 51 macem-macem gitu lho”.

Selanjutnya, keempat “itu hak bapak ibu, ya”. Kelima “jadi kalau bapak ibu perasaan enggak bisa pilih nih, dan keenam “saya takut masuk neraka dibodohin gitu ya, enggak apa-apa, karena ini kan panggilan pribadi bapak ibu”.

Lebih lanjut, Hakim Dwiarso menanyakan kata “pakai” dalam pidato Ahok itu sama artinya dengan kata “menggunakan”.

“Sama saja, jadi “dibohongi menggunakan Surat Al Maidah” sama dengan “dibohongi pakai Surat Al Maidah”,” jawab Rahayu yang juga Guru besar Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia itu.

“Apakah arti dalam kalimat ini?” tanya Hakim Dwiarso.

“Al Maidah itu tidak berbohong hanya dijadikan alat untuk membohongi. Jadi, ada orang yang menggunakan Al Maidah 51 untuk membohongi orang lain,” jawab Rahayu.

Dalam lanjutan sidang Ahok kali ini, terdapat tiga ahli yang rencananya akan hadirkan, yakni ahli agama Islam yang merupakan Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jakarta dan sebagai dosen Fakultas Syariah IAIN Raden Intan, Lampung Ahmad Ishomuddin.

Selanjutnya, ahli bahasa yang merupakan Guru besar linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Rahayu Surtiati Hidayat dan yang terakhir ahli hukum pidana yang merupakan dosen Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan, Bandung C. Djisman Samosir. (Iqbal)

Massa Aksi Kawal Sidang Ahok Menyusut

Massa Kawal Sidang Ahok Menurun

Massa Kawal Sidang Ahok Menurun

Jakarta, KABAROKE — Jumlah massa Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI yang mengawal jalannya sidang kasus dugaan penistaan agama di depan Gedung Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan semakin menyusut.

Pantauan kabaroke.com di lokasi, massa GNPF MUI yang meminta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) itu segera dipenjara, hanya berjumlah puluhan. Terlebih, cuaca di lokasi yang cukup terik membuat massa tak terlalu bersemangat meneriakan aksi.

Namun, hal itu tak berlaku bagi orator yang berada diatas mobil komando. Ia tetap bersemangat dan meneriakan orasinya agar Gubernur DKI Jakarta nonaktif itu segera dipenjara.

“Kita siap mati, siap kawal kasus ini, asal jangan agama kita dihina,” teriaknya dari atas mobil komando, Selasa (21/3).

Pemandangan serupa terjadi di massa pro Ahok. Jumlah mereka pun semakin menyusut dibanding sidang-sidang sebelumnya. Namun, mereka tampak lebih santai dalam mengawal jalannya persidangan sambil memutarkan lagu-lagu dari mobil komando.

Gemu famire serta poco-poco menjadi lagu yang kerap terdengar dari massa pendukung terdakwa penista agama tersebut.

Meski jumlahnya menurun, jalan di RM Harsono, Jakarta Selatan tetap ditutup. Kawat berduri serta beberapa mobil taktis kepolisian juga tetap disiagakan di antara kedua massa pendukung. (Iqbal)

JPU Sebut Keterangan Saksi Ahok Tidak Konsisten

Suasana Sidang Lanjutan Ahok

Suasana Sidang Lanjutan Ahok

Jakarta, KABAROKE – Keterangan yang diungkapkan saksi fakta Juhri, dalam persidangan terkait selebaran yang bersifat provoaktif dan Sara, saat pilkada Bangka Belitung 2007 silam menuai protes dari pihak Jaksa Penuntut Umum, karena keterangan yang disampaikan tidak konsisten.

Ketua jaksa penuntut umum (JPU) Ali Mukartono menilai keterangan yang diberikan oleh saksi fakta Juhri tidaklah konsisten.

Ali menyoroti mengenai selebaran yang banyak disebarkan dalam rangka Pilkada Bangka Belitung dimana saat itu Basuki Tjahaja Purnama mencalonkan diri sebagai gubernur.

“Ada yang tidak konsisten dengan keterangan saksi mengenai selebaran di Kabupaten Belitung. Dikatakan tadi pertanyaan hakim bahwa dari selebaran itu tidak ada tindak lanjut dan konfirmasi,” ungkapnya di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (14/3).

Juhri mengatakan selebaran disimpulkan oleh Panwaslu kabupaten telah dilaporkan ke Panwaslu Provinsi dengan dugaan pelanggaran pidana.

“Itu hasil rapat pleno. Kesimpulan kita (atas selebaran) harus diteruskan ke Provinsi. Yang memutuskan di provinsi. Administrasi dan pidana. Selebaran itu masuknya pelanggaran pidana,” jawab Juhri.

Ali kembali bertanya darimana kesimpulan Juhri yang menyatakan selebaran itu masuk dalam pelanggaran pidana. Ia pun melanjutkan apakah pelanggaran itu sudah disampaikan ke pengadilan.

“Belum,” jawab Juhri.

Ali heran, pasalnya dalam berita acara pemeriksaan (BAP) Juhri adanya perbedaan keterangan dengan kesaksiannya.

“Dari BAP Saudara, huruf 7F, apakah panwaslu menindaklanjuti pelangaran tersebut. Dilaporkan panwas kabupaten ke provinsi, dan terhadap pelangagran tersebut sudah diproses, namun berdasarkan hasil kajian panwas provinsi menyebutkan hasil dari laporan tersebut belum ada pelanggaran pidana. Nah yang benar yang mana?,” tanya Ali.

“Ada pidana,” ujar Juhri.

“Artinya, yang di BAP ini salah?,” tanya Ali lagi.

Juhri lalu menjelaskan bahwa menurut laporan dari hasil rapat pleno disebutkan adanya pelanggaran pidana dari selebaran itu. Ia membenarkan adanya kesalahan dalam BAP-nya yang menyebut tidak ada tindak pidana dalam selebaran itu.

“Kita semua himpun laporan termasuk dari timsesnya pak Basuki dalam rapat tersebut, dan setelah kita bawa ke kepolisian hasilnya tidak ada tidak pidana. Jadi di BAP itu salah,” pungkasnya. (Iqbal)

Majelis Hakim Tegur Saksi Ahok

Saksi dari Ahok dalam Sidang Lanjutan Dugaan Penistaan Agama

Saksi dari Ahok dalam Sidang Lanjutan Dugaan Penistaan Agama

Jakarta, KABAROKE – Suyatno supir Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat di Belitung Timur dihadirkan menjadi saksi oleh Tim Kuasa hukum Ahok untuk meringankan, tapi ada yang berbeda diperlihatkan oleh saksi dalam persidangan yang membuat majelis hakim menegur beberapa kali.

Ternyata dalam persidangan, Suyanto ditegur oleh mejelis hakim lantaran dia kerap melirik ke arah Ahok saat memberikan keterangannya.

“Enggak usah lirik-lirik (ke arah Ahok) Pak. Masih ada di situ kok,” kata Majelis Hakim kepada Suyanto yang tampak grogi, di gedung Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (14/3).

Mendengar pernyataan majelis hakim, sontak seluruh isi ruang sidang tertawa. Majelis hakim pun mengingatkan Suyanto agar tak takut memberikan keterangannya meskipun dia bawahan Ahok.

“Enggak usah takut, Anda bersaksi di bawah sumpah. Jadi enggak usah lirik-lirik ya. Emang atasan Anda sering marah-marah?” tanya Hakim yang disambut tawa peserta sidang.

Dalam persidangan, Suyanto ditanya soal keseharian Ahok selama ia menjadi sopir pribadi mantan Bupati Belitung Timur tersebut.

Suyanto mengatakan bahwa Ahok berhubungan baik dengan umat muslim yang menjadi agama mayoritas di Belitung Timur. Dia pun mengetahui terkait adanya selebaran-selebaran penolakan terhadap pemimpin nonmuslim.

“Saya tahu dari warung kopi, ada yang bilang jangan pilih pemimpin nonmuslim,” tuturnya.

Suyanto menuturkan bahwa selama bekerja bersama Ahok, Gubernur DKI Jakarta itu sangat perhatian kepadanya untuk menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim.

“Pak Basuki bilang waktu itu ‘Sudah kamu salat dulu, saya tunggu di mobil’,” ucap Suyanto meniru ucapan bosnya itu. (Iqbal)

Sidang Lanjutan Ahok, Majelis Hakim Minta Saksi Tidak Berspekulasi

Suasana Sidang Lanjutan Ahok

Suasana Sidang Lanjutan Ahok

Jakarta, KABAROKE – PNS Pemprov Bangka Belitung, Juhri menjadi saksi fakta pertama yang meringankan terdakwa kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dalam sidang tersebut Juhri membeberkan selebaran bernada provoaktif dan Sara pada pilkada 2017 lalu.

Selebaran tersebut, menurut Juhri sempat menjadi polemik dalam pilkada Bangka Belitung 2007 karena dalam selebaran itu mengutip sejumlah Al-Qur’an diantaranya Al-Maidah ayat 51, Al-Imron ayat 28, An-nisa ayat 144, Al-Maidah ayat 57, dan Al-Mumtahanah ayat 1.

Menurut dia selebaran itu muncul lantaran calon yang akan maju adalah non-muslim, “Selebaran ini muncul di daerah kita kalo ada kandidat yg beragama non muslim (maju menjadi calon),” kata Juhri di Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (14/3)

Juhri yang saat itu menjabat sebagai ketua Panawaslu kabupaten pun mengecek selebaran tersebut dimana terdapat alamat dan nomer telepon. Bahkan pihaknya telah melakukan penelusuran dengan mendatangi alamat yang tercantum maupun menghubungi ke nomer yang ada.

“Begitu kita cek ke alamat ini, tidak kita temukan. Di telepon juga gak diangkat. Jadi kita anggap black campaign,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, ketua majelis hakim Dwiarso Budi Santiarto meminta Juhri untuk tidak berspekulasi.

“Jadi dugaan ya. Jangan langsung ambil kesimpulan begitu. Bisa saja (selebaran) dibuat oleh kelompoknya,” tegasnya. (Iqbal)

1 2 3 4 5 10